
Rahang Gideon dikatupkan kuat-kuat. Matanya terpaku di jalan. Setelah mengantarkan Liana ke rumah sakit, ia langsung bergegas ke rumah kediaman Cross.
Gideon langsung memarkirkan mobilnya dan langsung memasuki ruang tengah. Rupanya di sana sudah ada Simon Cross, kakeknya dan juga Ruona.
“Kamu akhirnya tahu jalan pulang.”
“Kakek,” sapa Gideon lalu ia duduk di seberang.
“Kemana kamu pergi beberapa hari ini? Apakah kamu tahu ini masih rumahmu?”
“Aku sibuk.”
“Sibuk dengan apa? Wanita?”
“Kakek, jangan marah. Gideon pasti sibuk dengan perusahaannya.” Ruona membela Gideon.
“Ruona kamu selalu baik tapi apakah dia memperlakukanmu dengan baik? Jangan melindunginya.”
Suasana menjadi sedikit badai namun Gideon tidak terlalu memikirkannya. Ia dengan cara bermartabat mencicipi kue di hadapannya. Melihatnya seperti ini, Simon semakin marah.
“Kepada siapa kamu memberikan Villa yang kamu beli di kawasan Royal Palcae?”
Alis Gideon dirajut. “Benar saja, semua tindakanku diawasi.” Gideon mengejek dengan sarkasme.
“Tidak ingin bicara.” Simon yang duduk tegak lalu menjatuhkan beberapa file di depan Gideon. “Setidaknya jelaskan ini padaku!”
Gideon tanpa ekspresi mengambil file tersebut. Di sana ada beberapa informasi dan juga beberapa foto.
Ruona yang penasaran, ia juga mengambilnya. Tapi ketika ia melihatnya. Ia hampir tersedak karena asam lambungnya naik. Mulutnya begitu kering sehingga bibirnya melekat pada bibirnya.
Jantungnya segera berpacu dengan cepat. Ia tidak mengira bahwa Simon akan menyelidiki Damian.
“Jika kakek menyelidiki Damian, dia juga akan menyelidiki Liana. Pada saat itu, kakek akan mencari tahu kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu, “ Ruona bergumam dengan pelan. Pikirannya kacau balau.
“Apakah kamu menyelidiki anak ini?” tanya Simon Cross.
“Tidak,” ucap Gideon sambil melihat Ruona.
“Aku bisa melihat bahwa anak ini seumuran dengan Daniel. Darah keluarga Cross tidak bisa diabaikan. Bawa dia ke rumah.”
Leher Ruona tercekat ketakutan. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Kakek, anak itu belum diselidiki keseluruhannya. Jangan terburu-buru mengambil tindakan.”
“Anak itu tampak seperti Daniel. Hal itu saja, sudah cukup bahwa anak itu memiliki garis keturunan dari keluarga Cross.”
Tentu saja Gideon ingin membawa Damian ke dalam keluarga Cross namun tidak sekarang. Ia masih membutuhkan waktu.
“Kakek.”
“Kalian berdua aturlah pernikahan segera mungkin.”
Ketika Simon mengatakan itu, Ruona melirik ke arah Gideon untuk memperhatikan ekspresinya.
“Pernikahan?”
“Kalian sudah bertunangan lama, kalian tidak bisa menunda pernikahan lagi.”
Ruona melihat ekspresi dingin Gideon dan langsung menoleh ke arah Simon. “Kakek kami belum siap...”
“Apa yang begitu sulit dalam mempersiapkan pernikahan? Apakah kamu ingin melihatnya pergi dengan wanita lain?” Simon lalu menatap Gideon. “Aku tidak akan membiarkanmu mengecewakan Ruona lagi. Atur pernikahan kalian segera mungkin.”
Gideon diam untuk waktu yang lama namun detik berikutnya bibirnya melengkung dengan samar. Ia seperti merencanakan sesuatu.
“Kakek, aku mengerti.”
“Bagus.”
Ruona yang mendengarnya terlihat bahagia. Ia kira Gideon akan memberikan seribu alasan untuk tidak menikahinya.
Kegelisahannya kini sudah sirna digantikan oleh kegembiraan yang tiada tara.
.........
Gideon baru saja keluar dari kamar mandinya dengan menggunakan jubah mandi. Tetesan lembut masih menetes membasahi dadanya. Ketampanannya berkali-kali lipat bertambah.
“Gideon.”
Gideon menatap Ruona yang berdiri di depannya dengan jijik.
“Kenapa kamu ada di sini?”
“Kakek menyuruhku untuk tidur di sini, bersamamu.”
“Tidur bersamaku?”
Ruona mengambil langkah ke depan. Ia berusaha menarik minat Gideon.
“Aku tahu kamu belum siap. Aku juga tidak ingin terburu-buru tapi ini adalah keinginan kakek.”
__ADS_1
“Kamu sangat konyol datang ke sini dengan alasan itu.”
Ruona menggigit bibirnya. Ia dengan tekad kuat mengambil langkah maju untuk mendekati Gideon.
“Aku tahu kamu menginginkannya.”
Ruona dengan malu-malu membuka resleting bajunya dan Gideon menatapnya dengan amarah.
“Gideon, aku rela memberikan diriku padamu. Malam ini.”
“Keluar! Jangan repot-repot memamerkan asetmu karena aku tidak tertarik.”
Ruona di dorong sampai jatuh ke lantai. Ruona merasa malu dan terhina. Ia mengepalkan kuat kedua tangannya.
“Wanita seperti apa yang kamu inginkan? Aku bisa mengubah penampilanku. Jika kamu ingin aku mengubah tampilanku seperti Liana. Aku akan melakukannya.”
“Keluar!”
Di luar pintu tiba-tiba ada suara ketukan.
“Ayah, bisakah aku masuk.”
Gideon melihat Ruona dengan murka. “Perbaiki pakaianmu lalu keluar.”
Gideon melewati Ruona begitu saja. Ia membuka pintu dan melihat Daniel.
“Ayah bisakah aku tidur bersamamu.”
“Terdengar bagus.”
Gideon langsung menggendong Daniel.
.........
Damian mendapatkan perawatan yang sangat baik jadi ia pulang lebih cepat. Perawat dan juga dokter yang merawatnya berbaris dan menyalami mereka.
Tentu saja Liana sedikit tidak enak lagi. Lagi pula mereka bukan kalangan masyarakat atas.
Suah secara pribadi mengantar Damian dan juga Liana. Saat taksi memasuki kawasan vila elite. Suah langsung menoleh ke arah Liana.
“Liana, bukankah kita salah jalan.”
“Aku rasa tidak.”
Taksi itu langsung berhenti di vila yang sangat indah. Mereka bertiga langsung turun.
“Bu, ini bukan rumah kita.
Damian sedikit mengernyit namun ketika ia memikirkan sesuatu. Senyumnya langsung terbit. Ia tahu siapa yang memberikannya.
“Liana, bagaimana bisa? Maksudku rumah ini tentu saja tidak murah.”
“Aku mendapatkannya karena seseorang sudah menghina rumah lamaku. Sudahlah, ayo kita masuk. Damian sini ibu gendong.”
Liana langsung menggendong Damian dan berjalan menuju kamarnya. Ia menyelimuti Damian dan mengecup dahi bocah kecil itu.
“Istirahatlah.”
Setelah itu Liana langsung pergi keluar. Saat menutup kamar ia sudah dikejutkan oleh tatapan Suah yang haus akan informasi.
“Jelaskan padaku, sekarang!”
Liana langsung menyeret Suah ke ruang tengah. Setelah mereka duduk, Siah langsung menyilangkan tangannya.
“Jadi apa yang tidak aku ketahui? Katakan padaku, siapa yang membeli rumah ini? Jangan bilang itu dari...”
Liana menatap kecurigaan dari mata Suah. Ia pun mengangguk pelan.
“Luar biasa jadi rumah ini dari pria itu. Bagaimana kamu bisa berurusan dengannya? Apakah dia mengetahui bahwa Damian adalah anaknya?”
“Ya, dia mengetahui.”
“Dia tidak mengambilnya darimu.”
“Tidak.”
“Wah, dia baik sekali. Jadi apa rencanamu sekarang?”
“Rencana? Tidak ada. Tapi aku butuh pekerjaan sekarang.”
“Bukankah kamu sekarang mempunyai pekerjaan.”
“Ya tapi aku keluar.”
“Kenapa?”
“Ceritanya panjang.”
__ADS_1
Liana lalu mengambil ponselnya sementara Suah melihatnya penuh dengan selidik. Ia masih belum puas dengan jawaban Liana.
“Huh?”
“Ada apa?” tanya Suah penasaran.
“Aku tidak pernah menaruh surat lamaranku di perusahaan ini tapi kenapa mereka menyuruhku datang untuk interviu.”
“Mungkin kamu lupa.”
Liana mengernyit. “Mungkin. Suah, bisakah kamu membantuku?”
“Tentu saja.”
“Tolong jaga Damian untukku.”
“Kamu pergi untuk interviu sekarang?”
“Ya, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Liana lantas mengambil tasnya.
“Aku pergi. Jika Damian butuh sesuatu, telepon aku.”
“Ya, semoga berhasil.”
“Terima kasih.”
Tak butuh waktu yang lama untuk Liana bisa sampai ke perusahaan. Ia menatap gedung pencakar langit itu dengan takjub.
“Ini bukan gedung Entertainment kan?”
Liana langsung menarik napasnya panjang sebelum memasuki lobi. Liana langsung menuju ke meja resepsionis.
“Permisi, saya...”
“Apakah anda nona Liana?”
“Ya.”
“Langsung ke lantai paling atas.”
“Apa?” tanya Liana dengan bingung.
“Anda langsung menuju ke lantai paling atas. Presdir sendiri yang akan menginterviu.”
“Ah. Apa? Presdirnya langsung? Tapi aku belum menyiapkan jawaban yang—“
“Mari ikut saya. Saya akan mengantarkan anda langsung.”
Pada akhirnya Liana mengikutinya dari belakang. Mereka berhenti tepat di depan ruang kantor nomor satu.
Liana hendak bertanya namun petugas resepsionis terlanjur pergi. Dengan sisa keberanian dan sedikit keraguan. Liana mengetuk pintu sebelum membukanya.
Sebelum ia bisa mengambil langkah, sebuah suara menyapanya.
“Selamat datang.”
Liana tidak bisa untuk tidak menahan keheranan. “Kenapa kamu ada di sini?”
Gideon tanpa kata menaikkan dagunya dan Liana langsung melihat arah yang ditunjuk Gideon.
Di kursi kesabarannya ia menyandarkan bahunya dengan agung. Kakinya yang ramping disilangkan.
“Aku bosnya di sini.” Gideon mengulurkan jarinya. “Datang kemari!”
Liana menggelengkan kepalanya dan melangkah mundur beberapa kali.
“Semakin kamu melakukan ini, semakin aku sulit aku menahan diri.’
Ketika Gideon hendak berdiri, Liana buru-buru mendekat. Ia tepat di depan Gideon hanya dibatasi oleh meja.
“Ke sini.”
Liana terdiam sejenak sebelum mengitari meja tersebut. Gideon langsung menarik pergelangan tangannya dan menyeretnya ke dalam pelukannya.
“Aku lapar.”
“Huh?”
“Aku bilang aku lapar.”
“Lalu apa yang ingin kamu makan? Asistenmu bisa memesankan untukmu.”
“Kamu?”
“Huh?”
__ADS_1
“Aku bilang aku ingin memakanmu.”
Gideon langsung menutup bibir Liana dengan bibirnya.