Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
66. Hak Asuh Damian


__ADS_3

Simon Cross mengangkat kepalanya saat mendengar suara ketukan. Simon Cross sedang memeriksa laporan keuangan dengan matanya.


“Kakek ini aku, Ruona. Bolehkan aku masuk? Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”


Simon merenung sejenak sebelum mengesampingkan laporan itu.


“Masuklah!”


Mendorong membuka pintu, Ruona berjalan lurus ke arahnya dan meletakkan teh yang ia buat ke depan kakek.


“Kakek, aku menemukan anak itu”


“Anak?”


“Iya, saudara kembar Daniel. Aku menemukan keberadaan anak itu. Haruskah kita membawanya kembali ke keluarga Cross?”


Darah Ruona seakan membeku ketika Simon hanya tertegun memandanginya. Simon mengangkat suaranya tepat pada waktunya.


“Dimana dia? Bawa aku padanya. Kita akan membawanya sekarang dan segera membawanya kembali.”


“Sekarang? Sekarang sudah larut malam, kakek.”


Jelas bahwa Simon Cross terlihat bahagia. Itu tampak dari ekspresi puas di wajahnya.


“Atur sekarang dan panggil orang untuk menemani kita membawa anak itu.”


Ruona tersenyum patuh. “Ya, kakek.”


Tengah malam mobil sedan hitam membelah jalanan. Duduk di mobil dengan tongkatnya di tangan. Simon Cross memandang keluar jendela dengan cemas.


Kelahiran Daniel telah memberinya suka cita tujuh tahun lalu. Sebagai kepala keluarga Cross, sangat senang melihat penerus garis keturunan mereka.


Namun dengan berita baru bahwa ibu pengganti keluarga Cross sebelumnya menyembunukkan salah satu dari si kembar, Simon tidak bisa menahan amarahnya.


“Niat apa yang dimiliki wanita itu? Apakah dia bermimpi bahwa dengan memanfaatkan putranya. Dia bisa menjadi Nyonya Muda? Memangnya dia pikir dia siapa?”


Simon tidak bisa menenangkan amarahnya pada pemikiran ini. Hanya ketika Simon ingat bahwa anak itu akan kembali ke Keluarga Cross barulah ia tenang.


Mobil hitam itu tepat berhenti di depan vila kediaman Liana dan Damian tinggal. Simon Cross dan Ruona masih tinggal di dalam mobil.


“Bawa anak itu. Hati-hati jangan sampai menyakitinya,” ucap Simon Cross pada dua pengawal yang ada di depannya.


Beberapa pria berpakaian hitam dari mobil yang ada di belakangnya dan menyerbu masuk ke vila.


“Siapa mereka?”


Suara dingin dan acuh tak acuh terdengar dari kegelapan.


Sebelum mereka bereaksi, mereka menemukan beberapa orang bersenjata lengkap yang menjaga pintu dan menjauhkan mereka dari rumah.


Pengawalnya terkejut. Salah satu dari mereka menantang.


“Siapa kamu?”


Pengawal Damian hanya menatap mereka dengan dingin.


“Enyahlah!”


Mereka berdiri di satu tempat. Saling bertukar pandang dalam pemahaman diam-diam.


Para pengawal dari Simon memutuskan untuk masuk ke vila. Namun ada sosok gelap lagi yang muncul mengeluarkan belati tajam dari pinggangnya dan melesat bergerak.

__ADS_1


Beberapa erangan lembut terdengar sebelum pengawal Simon Cross jatuh satu persatu.


Semuanya terjadi hanya dalam rentang beberapa menit.


Simon Cross yang hanya melihatnya di dalam mobil ikut merasakan kekejaman para pengawal itu.


“Apa yang terjadi?”


Bibir Ruona bergetar ketika melihat apa yang terjadi. Ternyata semuanya persis dengan apa yang dikatakan Kevin. Vila Liana dijaga ketat dan tidak ada yang diizinkan masuk.


“Kakek, apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Apakah orang-orang ini dikirim oleh Gideon untuk melindungi wanita itu? Anak itu melakukan hal yang bodoh! Dia sudah kehilangan akalnya karena wanita yang tak jelas itu.”


Simon marah dan mengetukkan tongkatnya ke lantai mobil beberapa kali.


“Kakek, apa yang harus kita lakukan? Aku pikir orang-orang itu tidak akan membiarkan kita masuk.”


Simon mendengus. Lalu pria tua itu membuat panggilan ke pengawal khusus untuk membantu.


Lalu sekelompok orang berseragam langsung datang.


Damian menyaksikan beberapa pengawal khusus dengan seragam yang mencolok berdiri di depan vila mereka.


Damian tidak tahu niat dibalik kehadiran mereka namun jauh di lubuk hati hatinya, Damian tahu bahwa ia dan ibunya dalam bahaya.


Liana yang berada di belakang Damian merasa terkejut. Keributan membuat Liana merasa gelisah.


Pengawal khusus dari Simon Croas mengelilingi sepenuhnya vila itu. Ruona dan asisten Adam turun dari mobil kecuali Simon Cross.


Liana langsung mengendong Damian erat. Ruona dan asisten Adam berhasil masuk ke dalam vila dan menyapu semua ruangan hingga mereka menemukan keberadaan Liana dan Damian.


Liana terkejut melihat Ruona. Liana mencoba melawan namun sekuat apa pun ia melawan itu tidak sebanding dengan pengawal khusus yang didatangkan oleh Simon.


“Ruona! Apakah kamu yang mengjrim mereka?”


Liana menyapu semua orang yang mengelilinginya dan merasa takut serta cemas.


“Aku diperintah kakek untuk membawa pulang keturunan keluarga Cross. Kamu menandatangani kontrak dengan keluarga Cross di masa lalu dan kontrak itu dengan jelas menyatakan bahwa kamu tidak punya hak asuh anak-anak. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu menyembunyikan putra Gideon selama bertahun-tahun. Kamu harus mengembalikan anak itu kembali pada keluarga Cross!”


Liana semakin memeluk Damian erat.


“Kamu tidak boleh membawanya! Dia anakku!”


Liana bukannya menolak untuk membiarkan keluarga Cross mengakui Damian namun ia khawatir bahwa Ruona akan menyakiti Damian begitu Damian kembali ke keluarga Cross.


“Kamu menolak? Kamu jelas-jelas sudah membaca dan menandatangani surat kontraknya.” Ruona lantas mencibir.


“Jangan bilang bahwa kamu ingin memanfaatkan putramu untuk mendapatkan status dan kekayaan? Kamu benar-benar ambisius untuk naik tangga sosial.”


“Diam! Apakah kamu pikir aku sepertimu? Yang ambisius itu adalah kamu!”


“Tutup mulutmu.”


Rasa permusuhan menyambar bagaikan petir diantara mereka.


“Kamu pikir aku ingin membawa anak itu kembali? Huh! Ini perintah kakek, jadi berikan anak itu padaku.”


“Dalam mimpimu.”


Saat Liana mundur satu langkah, Ruona akan maju dua langkah.

__ADS_1


“Berikan anak itu.”


Ruona mengulurkan tangannya untuk mengambil Damian.


“Jangan berani-berani mendekati anakku! Jauhkan tangan kotormu darinya.”


Liana langsung menampar wajah Ruona sebagai pertahanan diri. Ruona yang tidak siap, wajahnya langsung merasakan panas yang menyambar di pipinya.


“Beraninya kamu!”


Wajah Liana dipenuhi dengan kebencian yang amat dalam. Ruona telah mengambil banyak begitu hal darinya namun dia masih ingin mengambil putranya darinya. Ruona benar-benar serakah.


“Orang yang tidak tahu malu adalah dirimu, jika anakku kembali ke keluarga Cross seharusnya kamu juga kembali ke tempat asalmu. Jangan serakah dan akui kejahatanmu.”


Ruona berteriak seperti orang kesurupan.


“Diam! Kamu menyembunyikan pewaris keluarga Cross dan kamu masih berani padaku.”


“Wanita gila, jangan berani-berani berteriak di delan ibuku.”


Damian menatap Ruona dengan dingin. Jelas ia sangat marah dan benci. Ia dapat menarik kesimpulan bahwa insiden tembak saat di sekolah adalah ulah Ruona.


“Bantu aku ambil anak itu!”


Para pengawal khusus langsung bertindak. Ruona mengulurkan tangan untuk menarik Damian. Damian pergelangan tangannya dan menggigitnya.


“Ahhh.”


Damian terus menggigit tanpa ampun. Damian menolak untuk melepaskannya.


“Damian jangan menggigitnya. Tangannya kotor.”


Dengan itu Damian langsung melepaskannya. Damian langsung melap bibirnya.


“Bawa anak itu!”


Liana langsung dikawal oleh dua pengawal khusus hingga Damian terlepas darinya.


Meskipun Damian berusaha memukul bahkan menendang tapi kekuatannya tidak sebanding.


Liana melawan mereka dan ingin kembali merebut putranya namun kedua tangan Liana langsung diikat dan ia didorong.


“Ibu! Jangan berani menyakiti ibuku! Aku tidak akan memaafkan kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian pergi dengan mudah.”


Damian tidak seperti Daniel yang dari kecil sudah menerima latihan khusus. Tidak peduli seberapa Damian berjuang, ia tidak setangguh itu.


Jika kalian bertanya dimana Daniel. Daniel berada di rumah Simon Cross. Ya, Daniel tidak selamanya tinggal di Vila. Hal ini dilakukan agar Simon Cross tidak curiga. Sekolah Damian dan Daniel juga berbeda.


Ruona langsung mencengkeram tenggorokan Liana dengan kuat. Liana terasa tercekik.


“Tidak! Lepaskan ibuku! Kamu tidak diizinkan menyentuh ibuku.”


Ruona ingin membunuh Liana di sini, Ruona meningkatkan kekuatannya sehingga Liana berada diambang kesadarannya.


“Hentikan!”


Ketakutan sesaat, Ruona langsung melonggarkan cengkeramannya tanpa sadar.


Liana langsung meringkuk ke lantai. Ia segera meraup udara banyak dan terbatuk-batuk.


Simon Cross berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Ruona langsung cemas. Ia takut jika Simon Cross akan melihat wajah Liana dan mengenali kesamaan dalam fitur Liana dan Ariana.


__ADS_2