Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
82. End Game


__ADS_3

Liana menaruh ponselnya dengan ekspresi menyedihkan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Gideon.


“Kenapa?” tanya Gideon.


“Aku lapar,” ucap Liana.


“Apa yang ingin kamu makan? Aku akan memerintahkan Alan untuk membelinya.”


Liana mendongak dan memiringkan kepalanya seakan tengah berpikir. Dan Gideon yang gemas dengan tingkah Liana langsung duduk di sampingnya dan mencium pipi Liana.


“Gideon!”


“Ibu!”


Liana mendorong bahu Gideon dan memprotes. “Anak-anak ada di sini.”


“Tidak apa-apa.”


Liana mencibir dengan kesal. Ia lantas melihat ke arah si kembar.


“Untuk makan malam, apa yang ingin kalian inginkan?”


“Damian ingin makan, apa yang ibu inginkan.”


“Aku juga,” ucap Daniel bersemangat.


Liana terdiam beberapa saat sebelum menoleh ke Gideon.


“Apakah kamu punya saran?”


“Aku ikut apa yang ingin kamu makan,” ucap budak nomor satu dengan tatapan lembut.


Liana kembali berpikir. Ini adalah masalah berat untuknya.


“Baiklah aku akan memutuskan.”


Karena pesanan mereka belum datang dan Liana sangat lapar. Liana segera pergi ke dapur untuk memeriksa bahan yang mudah untuk dimasak.


Liana berjalan menuju ke kompor. Ia mengeluarkan panci dan mengisinya dengan air.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Gideon.


Sementara Liana sibuk membuka laci dan kulkas, serta mencari bahan-bahan yang diperlukan.


Tidak ada hal yang bisa Gideon lakukan. Pria itu hanya mengamatinya.


“Aku sedang memasak mie.”


Gideon berjalan menghampiri Liana yang saat ini sedang berdiri di depan kompor, menunggu air mendidih. Gideon berdiri berdampingan dengan Liana dan memandang ke arah panci.


"Kita sudah memesan makanan.”


“Aku memasak untuk mengganjal perutku.”


Ketika Liana merobek bungkus mie, mengeluarkan mie lalu memasukkan mie panci yang berisi air yang sudah mendidih, sedikit air panas terciprat.


Gideon segera menarik Liana dengan kasar ke arah wastafel. Gideon menyalakan keran air dingin dengan cepat lalu menaruh tangan kanan Liana di air dingin yang mengalir dan langsung mengomel.


"Apakah kamu bodoh? Kenapa kamu melemparkan mie begitu saja ke dalam air panas yang mendidih?”


Wajah Gideon memerah karena marah. Setelah kepanikannya sedikit mereda, Gideon mengamati tangan Liana dengan hati-hati.


“Apakah kamu baik-baik saja? Apakah tanganmu masih terasa panas? Mana yang sakit?”


Liana hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan ini.”


Gideon memasang wajah kesal sambil memegang tangan Liana.


“Apa? Sudah terbiasa!”


Gideon kembali memeriksa tangan Liana, apakah ada bagian tangannya yang terluka sambil memijatnya dengan air panas.


“Kamu dilarang memasak!”


Liana menarik tangannya dari genggaman Gideon.


“Tanganku hanya terciprat air sedikit dan kamu langsung melarangku masak. Ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.”


“Liana!”


Liana menggeleng. “Jangan melarangku.”


...♡◇♡...


Langkah Kevin yang baru saja turun dari tangga langsung terkejut dengan tamu yang datang ke rumahnya.


“Siapa kalian?”


“Maaf, tolong ikut dengan kami.”


“Kamu siapa? Kemana kamu akan membawaku?”


“Lebih baik kamu untuk bersama kami.”

__ADS_1


“Siapa yang menyuruhmu?”


“Jangan buang waktu. Ikut kami!”


Kevin tidak berani bergerak tapi juga tidak memiliki keinginan untuk mengikuti mereka.


“Aku tidak ikut denganmu.”


“Kami tidak sedang bernegosiasi denganmu. Kamu harus mengikuti kami.”


“Langkahi dulu penjaga kami.”


“Tidak perlu, penjagamu sudah kami singkirkan.”


“Kamu!”


“Kawal dia.”


Kevin terperanjat dan saat pengawal itu ingin menangkapnya, ia berusaha untuk melawan.


Adu bangku hantam tidak terelakkan lagi. Kevin yang langkah jumlah, pada akhirnya kalah.


Mata pria itu ditutup dan tidak tahu dibawa kemana. Saat tutup mata dibuka. Kevin menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


“Kamu?”


Senyum dingin langsung menyambut Kevin. Gideon duduk tepat di depan Gideon.


“Apakah kamu mencoba menyanderaku?"


Senyum Gideon melengkung ke atas.


“Kita memiliki beberapa masalah yang belum diselesaikan.”


“Apakah kamu tahu alasanku melakukan itu? Aku hanya ingin menjadi ketua di keluarga Cross. Aku hanya ingin aku diakui.”


“Itulah kesalahanmu. Sebenarnya kamu diakui, tapi kamu terlalu serakah.”


“Kamu tidak tahu apa-apa.”


“Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan sekarang. Sudah terlambat, waktunya untukmu memperbaikinya dengan kematianmu.”


Kevin tiba-tiba tertawa dan itu sukses membuat Gideon keheranan.


"Kamu masih bisa tertawa meskipun kamu akan segera mati.”


“Bahkan jika aku harus mati hari ini, aku akan memastikan bahwa keluargamu mati bersamaku.”


Kevin langsung menekan tombol jam tangannya yang bertengger di pergelangan tangannya.


Ekspresi kebencian terlintas di sana. Tindakannya yang tiba-tiba mengejutkan Gideon. Alisnya berkerut tidak mampu memahami situasi.


“Apa kamu bisa menebak ini?”


Gideon mengerutkan alisnya dengan wajahnya yang dingin.


"Jika aku menekan tombol ini, kamu akan kehilangan istri dan anak-anakmu tercinta untuk selamanya.”


“Apa maksudmu?”


Ejekan di mata Kevin terlihat jelas di wajahnya.


“Aku mengerahkan seseorang untuk mengubur alat peledak di rumahmu. Ketika aku menekan tombol kecil ini, boom. Bisa kamu bayangkan? Satu ledakan dan itu bisa menghancurkan seluruh keluargamu.”


Wajah Gideon langsung pucat. Ia mengambil napas dalam-dalam. Semakin ia berpikir keras, semakin hatinya menjadi gelisah.


Terlepas dari kecemasannya, ia mempertahankan ketenangan yang tenang.


Kevin mengamati wajah Gideon dan mencoba melihat tanda-tanda di wajahnya.


“Apakah kamu meragukanku? Karena kamu tidak percaya padaku, akankah aku harus menekan tombolnya?”


Gideon tidak bisa menahan lagi, berteriak. “Berhenti.”


Alan yang berdiri di dekat Gideon langsung berbisik. “Alat peledak yang ada di tangannya adalah palsu. Itu hanya tipuan, presdir.”


Kevin tahu bahwa Liana adalah kelemahan Gideon dan memanfaatkan sepenuhnya.


“Bagaimana jika itu asli?”


“Aku akan menekannya dalam tiga detik.”


Kevin mengeluarkan peringatannya. “Satu... dua...”


“Apa yang kamu inginkan?”


“Aku tidak sabar untuk bernegosiasi denganmu.”


Gideon langsung tertawa dengan terbahak-bahak yang sukses membuat Kevin mengerutkan alisnya.


“Apa yang kamu tertawakan?”


Dor. Suara pistol langsung mengenai jam yang dipakai oleh Kevin. Jam itu langsung terjatuh ke tanah.


Itu adalah alat peledak palsu. Gideon sudah menempatkan penembak jarak jauh. Ia hanya mengulur waktu dan mendapatkan timing yang pas.

__ADS_1


Alan menahan tawa,


“Kamu mencoba menipuku?”


“Ahhhh!


Jeritan melolong kesakitan keluar dari mulut Kevin. Kevin mengerang kesakitan karena pergelangan tangannya ditembus oleh timah panas. Darah berceceran dimana-mana.


Gideon lalu mendengar ledakan kembali. Peluru lain menembus perut Kevin.


Mata kevin terbelalak. Ia merasa kesakitan. Ia ditembak bukan organ yang vital. Jadi ia tidak mati sekaligus tapi merasa kesakitan. Ini jauh lebih buruk.


Gideon langsung berdiri dan ia mengulurkan tangan untuk meminta pistol pada Alan.


Saat pistol di tangannya, Gideon memainkan pistol tersebut.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Sedikit bersenang-senang.”


Wajah Kevin menjadi pucat. Tiba-tiba ia berdiri dan mencoba melarikan diri. Tanpa basa-basi Gideon menarik pelatuknya dan melepaskan tembakannya tepat di kaki kiri Kevin. Kevin mengerang kesakitan.


Peluru itu menghancurkan tulang dan dagingnya. Betapa ia berharap, Gideon langsung saja membunuhnya. Setidaknya ia tidak merasakan kesakitan yang terlalu berkepanjangan.


Sayangnya Gideon tampaknya berharap sebaliknya dan berniat untuk memperpanjang rasa sakitnya yang luar biasa dengan menembak tanpa henti di tempat-tempat yang tidak mengancam jiwa.


Gideon kembali melepaskan timah panas yang membuat Kevin kembali melolong kesakitan.


“Beri...aku...kematian...cepat...” ucap Kevin memohon.


“Aku belum bersenang-senang.”


Gideon kembali melepaskan timahnya lagi dan lagi. Dengan itu tembakan menembus dada sebelah kiri Kevin dan pria itu langsung terkulai tak bergerak. Bukan tepat tapi hampir mengenai jantung Kevin.


Alan langsung maju dan memeriksa kondisi Kevin.


“Dia masih hidup,” ucap Alan.


“Karena dia sangat ingin mati. Penuhi keinginannya.”


...♡◇♡...


Langkah Gideon yang baru turun dari mobilnya menuju ke kamar utama. Langkah Gideon lebih cepat dari biasanya. Suara sepatunya yang bersentuhan dengan marmer, terdengar seperti ritme ringan yang mengagumkan.


Membuka pintu kamar dengan pelan-pelan. Gideon berjalan ke samping Liana. Pria itu naik ke ranjangnya dan memeluknya.


Dengan hati-hati, Gideon menyandarkan kepala Liana ke lengannya dengan lembut.


Matahari tengah menyelinap keluar, cahayanya menyinari kota.


Liana terbangun dengan sendirinya. Liana terkejut saat membuka matanya karena melihat Gideon di sampingnya. Ia tersenyum saat melihat wajah tidur damai Gideon.


Liana tidak tahu jam berapa pria itu kembali ke rumah, apalagi saat ia tertidur tadi malam.


Meskipun Liana sudah terbangun tapi Liana meringkuk padanya dan memperhatikan wajah Gideon.


Pria itu tampak sangat tampan dalam tidurnya. Tatapannya jatuh pada alis Gideon, lalu matanya dan turun pada bibir tipisnya.


Semua fitur wajah Gideon begitu mirip dengan si kembar. Lebih tepatnya, si kembar mewarisi fitur ayahnya.


Liana diam-diam mengulurkan tagannya untuk bermain-main dengan alis Gideon yang lebat dan juga bulu mata Gideon yang lentik.


Liana dengan nyaman bersandar di pelukannya dan dengan malas bermain-main dengan alis Gideon.


Gideon mengerutkan keningnya dalam tidurnya dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkap tangan Liana yang nakal.


Mata Gideon tiba-tiba terbuka.


“Kamu....terbangun?”


“Ya.”


Suaranya serak dan rendah karena mengantuk, terdengar sangat seksi.


“Mengapa bulu matamu begitu lentik, aku begitu iri.”


Begitu Liana selesai bicara, pria itu langsung menjulang tinggi dan menekan di atas tubuh Liana.


Liana menelan salivanya dan jantungnya berdebar-debar. Gideon langsung memeluknya.


Gideon mencium dan menandai Liana lehernya dan menikmati tulang selangka yang begitu seksi.


Liana terengah ketika merasakan jemari Gideon merayap ke belakang tengkuknya.


Lalu Gideon menempelkan bibirnya ke bibir Liana. Ciuman yang membelai dan menggoda.


Ciuman itu begitu dalam dan panjang sehingga membuat Liana hampir kehabisan napas.


Liana memukul bahu Gideon dengan kesal. Namun pria itu tidak memedulikannya.


Pada akhirnya Gideon melepaskan ciumannya dan melepaskan pakaiannya dan pakaiannya sendiri.


Pria itu sedikit bermain-main dengannya. Sebelum hantaman keras menonjok perut Liana.


Liana mendesah hebat seiring gelombang kupu-kupi dan sensasi nikmat menghantamnya.

__ADS_1


Erangannya terendam saat Gideon kembali mendaratkan bibirnya. Gideon kembali bergerak dan Liana mendapati sensasi yang luar biasa.


Suhu dalam ruangan begitu panas ketika aroma gairah mengelilingi dan bertebaran di udara.


__ADS_2