
Lili melihat villa Liana yang benar-benar besar dengan halaman yang luas.
Melihat Sam di sampingnya dan kemudian memikirkan Gideon yang telah dilihatnya di hari itu. Lili begitu iri dengan Liana.
Bisakah aku benar-benar menikah dengan keluarga kaya dan naik tangga sosial?
Lili dan Sam duduk sofa setelah Liana mempersilahkannya duduk. Tak berselang lama, para pelayan datang dan memberi hormat pada Liana. Pelayan itu pergi ke dapur dan beberapa menit kemudian muncul kembali dan menuangkan teh untuk Sam dan Lili.
“Terima kasih.”
“Apa yang ingin kalian katakan?” tanya Liana.
“Pertemuan reuni kemarin ...kita memiliki kesalahpahaman.”
“Liana, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Kamu bisa mengatakan aku orang jahat. Bukankah semuanya sudah selesai. Bukankah baik jika membiarkannya yang sudah berlalu.”
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu maksud?”
“Ayahku bekerja sama dengan CGI corp namun proyeknya langsung dibatalkan...”
Sam menceritakan seluruh masalahnya.
Kening Liana mengerut. Ternyata Gideon tersinggung oleh hal-hal yang telah mereka katakan. Hanya Gideon tidak mengatakan apa pun bukan berarti Gideon melepaskan mereka. Gideon sangat tidak suka dengan tindakan dan kata-kata mereka.
Liana melirik Lili dan Sam, keduanya memiliki wajah pucat. Mereka berbicara dengan tampak sedih.
Ada jejak kekhawatiran di mata mereka. Sam khususnya.
Liana sama sekali tidak tahu tentang masalah ini. Ia tidak pernah berharap suaminya memberikan pukulan keras untuk keluarga Sam.
“Kamu...kamu akan membantu kami kan?”
Liana terdiam. Setelah keheningan Liana, Sam langsung berlutut di ubin yang dingin. Tindakannya mengejutkan Lili. Lili merasa malu.
Sam berlutut dan memohon. “Aku salah sebelumnya dan aku orang yang harus bertanggung jawab. Tolong, jangan libatkan keluargaku atas kesalahan yang aku perbuat. Aku mohon padamu jangan libatkan keluargaku. Ayahku sudah tua dan sekarang ia terbaring sakit di tempat tidur. Liana, bisakah kamu memaafkan kami.”
Sam mengangkat wajahnya dan menangis. Sementara Lili benar-benar malu dan ia menutupi wajahnya yang kesal.
“Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku. Aku akan melakukan apa pun yang kamu suruh bahkan nyawaku akan kuserahkan, tapi tolong jangan libatkan keluargaku. Selamatkan mereka.”
Meskipun Liana tampak tak berekspresi sebenarnya ia bersimpati dan tidak tega melihat Sam yang memohon.
“Kamu tidak harus berlutut di depanku. Bangunlah dan duduk dengan benar.”
“Jadi apakah kamu akan mengampuni keluargaku. Kamu akan membantu keluargaku?”
“Aku akan mencoba berbicara padanya.”
“Apakah itu berarti kamu akan memaafkanku? Liana aku salah. Kamu orang yang baik.”
“Cepat bangun.”
__ADS_1
Baru kemudian Sam berdiri dan wajahnya akhirnya bisa tersenyum lega.
Liana langsung menatap tajam Lili. “Aku mungkin akan memaafkanmu tapi tidak dengan pacarmu.”
Kata-katanya mengejutkan Lili. Wanita itu ingin mengatakan sesuatu namun Liana sudah berdiri.
“Sebaiknya kalian pergi sekarang.”
Sam dan Lili keluar dari villa Liana. Lili langsung cemberut dan langsung menarik lengan Sam.
“Sam, apa maksudnya?”
“Kamu tahu maksudnya.”
...♡♡♡...
Langit sudah menampilkan senja. Itu pertanda bahwa malam akan segera tiba. Liana mengintip kedua putranya yang sedang serius belajar.
Damian terus saja mengomel saat ia mengajari Daniel. Villa mereka jauh lebih hidup karena kehadiran mereka.
“Bagaimana bisa kamu masih tidak mengerti pertanyaan ini? Aku sudah mengajarimu berulang kali.”
Daniel menoleh dan menatap Damian dengan mata berkaca-kaca seolah-olah ia akan menangis.
Liana menghela napas dan menutup kembali pintu.
Liana bertekat untuk berbicara dengan Gideon mengenai Sam. Ia akan membujuknya dengan makanan untuk memanjakan perut Gideon dan juga memanjakan tubuh Gideon yang lainnya.
Liana bergegas ke dapur dan memasak makanan kesukaan Gideon. Tangannya sibuk menyiapkan bahan makan malam mereka.
Gideon muncul di ambang pintu dapur tak lama kemudian.
Liana tidak menoleh karena sibuk mengetes rasa kuah sup yang sedang diaduknya tapi ia tahu Gideon sedang berjalan ke arahnya.
Ia terkesiap ketika lengan Gideon melingkari perutnya. Pria itu menariknya hingga tubuh bagian belakang Liana menempel di tubuh kokoh Gideon.
Liana merasakan geli saat gigi-gigi pria itu di daun telinganya. Tangan yang kuat kini mengusap perutnya.
“Cepat mandi lalu panggil anak-anak untuk makan malam.”
“Sebelum itu bisakah kamu menunjukkan ucapan selamat datang pada suamimu.”
Liana mematikan kompornya dan berbalik menatap Gideon sambil tersenyum.
“Selamat datang suamiku.”
Gideon tergelak singkat sambil menggeleng pelan.
Liana berjinjit dan mendaratkan kecupan manis di bibir Gideon.
“Selamat datang suamiku.”
__ADS_1
Gideon langsung tersenyum.
Setelah makan malam, keluarga kecil itu tengah bersantai di ruang tengah. Mereka saling melempar janda apalagi Damian dan Daniel.
Setelah lewat pukul sembilan, Liana memasuki kamarnya. Ia berdiri di balkon sambil melihat bulan yang begitu cantik. Terpaan angin halus mengayunkan anak rambut Liana.
Tak berselang lama Gideon memasuki kamarnya. Ia berjalan mendekat dan memeluk Liana dari belakang.
“Apakah anak-anak sudah tidur?”
“Ya.”
“Gideon.”
“Hm?”
“Sam datang ke sini tadi.”
Gideon sedikit mengangkat alisnya. “Untuk apa dia datang ke sini? Apakah dia mencarimu?”
“Tidak, dia mencarimu.” Liana berbalik dan menatap mata Gideon dengan dalam. “ Lepaskan keluarganya. jangan membuat masalah.”
“Mengapa? Apakah kamu merasa kasihan dengannya? Apakah hatimu merasa sakit saat melihatnya?”
Nada Bicara Gideon berubah dingin.
Liana menggeleng. “Aku hanya berpikir hukumannya keterlaluan.”
“Apakah kamu memaafkannya begitu saja?”
“Aku mungkin memaafkan Sam tapi tidak dengan Lili. Aku tidak akan ikut campur dengan apa yang kamu lakukan dengannya tapi keluarga Sam tidak bersalah.”
Gideon melihat matanya yang jernih dan cantik. Ia tidak bisa mengabaikan permintaan Liana. Hatinya benar-benar luluh.
“Baiklah, aku akan membiarkan Sam pergi tapi tidak dengan wanita itu.”
Liana tersenyum dan mengangguk. Saat Gideon akan mencium Liana tiba-tiba Liana merasa mual.
“Apa yang salah?”
Sebelum Liana bisa menjawabnya, ia menutupi mulutnya, Liana berlari ke kamar mandi.
Tatapan Gideon berubah. Saat makan malam tadi Liana juga tidak terlihat nafsu makan. Pria itu tiba-tiba menyadari bahwa gejalanya tampak menunjukkan bahwa Liana hamil.
Gideon langsung menyusul Liana. Pria itu langsung berdiri di sisi Liana. Cermin memantulkan senyumannya yang aneh.
“Apakah kamu tidak enak badan?”
“Aku merasa ada yang salah dengan tubuhku.”
“Apa yang salah?” Gideon bertanya dengan nada berbisik. Sementara Liana gagal menangkap kegembiraan di mata Gideon.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu.”
“Apakah kamu hamil?”