Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
73. Kekuasaan dan Wanita


__ADS_3

Daniel pingsan dan bocah itu dikelilingi oleh beberapa pria. Seseorang lantas menyiramnya dengan seember air.


Suara mendesis mulai terdengar. Mata yang semula memejam karena pingsan kini perlahan membuka.


Saat ini Daniel hampir kehilangan rasa sakitnya. Setelah siksaan berat yang ia alami, seluruh tubuhnya tampak mati rasa.


Tidak peduli berapa banyak Daniel disiksa, bocah kecil itu tidak sekalipun menyerah atau meneteskan air mata.


Sebagai gantinya, Daniel mengeluarkan aura dingin dan menakutkan.


“Hei bocah, apa yang kamu lihat?”


Daniel terkikik dengan menantang dan menyindir. Daniel memandang mereka seolah-olah mereka adalah lalat.


“Tampaknya kamu belum cukup menderita. Kamu belum menyerah.”


Pria menamparnya lagi, wajah Daniel kembi membengkak.


Tiba-tiba Daniel menguatkan dirinya dan mengayunkan kakinya tinggi-tinggi dan memberikan tendangan ganas ke anggota vital pria itu.


“Sial! Ikat kakinya dan cambuk seratus kali.”


“Bisakah kita tidak mencambuknya. Anak ini akan mati jika kita terus menyiksanya.”


“Apakah kamu takut? Anak ini masih bisa menendangku, dia tidak akan mati jika hanya dicambuk.”


“Tidak penting seberapa tangguhnya dia. Dia tetaplah anak kecil.”


Pria itu langsung mengulurkan tangannya.


“Aku tidak berharap kamu begitu kuat.”


Dia dalam sel, Liana secara perlahan mulai sadar. Ia memaksa dirinya untuk segera bangun. Ia mencoba untuk membuka matanya.


Saat penglihatannya mulai jelas, ia begitu terkejut melihat anak kecil dipukul dan dicambuk.


Liana mengerutkan alisnya, ketika ia bisa melihat dengan jelas wajah anak itu. Ia langsung bangkit dan bergegas ke depan.


“Daniel. Berhenti! Berhenti memukulnya!” liana berteriak sekuat tenaga.


Daniel dikejutkan oleh suaranya. Ia langsung berbalik dan melihat ibunya.


“Ibu!”


Saat Daniel memanggil Liana, cambuk mendarat dengan renyah di bahunya. Rasa sakit berhasil mengoyak dagingnya.


Saat Liana melihat semuanya, hatinya terasa terkoyak.


“Berhenti! Jangan memukulnya!”


Lalu salah seorang pengawal berbisik pada temannya.


“Jika anak ini meninggal, hal itu akan terjadi pada kita.”


Ikatan tangan dan kaki Daniel dilepaskan. Begitu pula dengan Liana. Pintu sel pun terbuka.


Daniel langsung berlari dan memeluk ibunya. Daniel hanya bisa mengubur wajahnya di dada Liana.


“Ibu...”


“Ibu ada di sini.”


“Ibu, maafkan Daniel tidak bisa menjaga ibu.”


Mendengar ucapan Daniel, jantung Liana terasa tertusuk. Tangannya gemetaran memeluk Daniel. Air matanya mulai menetes.

__ADS_1


“Seharusnya ibu yang minta maaf karena tidak bisa melindungimu.”


Daniel langsung mengangkat wajahnya. “Bu, jangan menangis.”


Pengawal di sana berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun. Lalu ada salah satu pengawal yang kembali dengan membawa obat merah dan kasa.


Dia melemparkannya begitu saja tanpa kata dan berlalu pergi.


Hanya butuh beberapa menit, Liana mengobati luka yang ada di tubuh Daniel.


Daniel masih mempertahankan posisinya memeluk ibunya dengan erat.


“Apakah terasa sakit?”


“Tidak. Tapi aku kedinginan bu.”


Liana segera memeluknya dengan erat.


“Apakah kamu masih merasa kedinginan?”


“Sedikit.”


Daniel mengigil di pelukan Liana.


...♡♡♡...


Damian awalnya berencana untuk menyelamatkan ibunya dan saudaranya dengan pengawal yang ia miliki.


Namun ia masih berpikir sampai akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sama dengan ayahnya.


Damian dilema sehingga ia memanggil ayahnya.


“Damian.”


“Ayah, kamu dimana?”


“Tidak perlu, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja.”


Panggilan terputus, Gideon menatap layar ponsel yang mati lalu memandang jauh pemandangan yang ada di depannya.


Saat ini ia tengah berdiri di dekat jendela. Ia sedang menunggu. Ia sedang menunggu dengan sabar.


Semakin musuhnya membuatnya gelisah dan gelisah, semakin Gideon perlu tetap tenang.


Damian dengan cepat tiba di kantornya. Damian mengetuk pintu sebelum berjalan ke dalam.


Bocah kecil itu memperhatikan ayahnya yang berdiri di dekat jendela dengan wajah tanpa emosi.


“Ayah.”


Gideon berbalik dan langsung disambut oleh senyum Damian.


Gideon berjalan dan membawa Damian dalam pelukannya.


Damian mengerti apa yang sedang dialami oleh ayahnya. Damian mengerti bahwa orang terkuat pun mempunyai kelemahan.


Meskipun ayahnya tidak menunjukkannya tapi Damian cukup sensitif untuk menangkap kegelisahan dan rasa bersalah pria itu.


Mungkin karena ayahnya menyalahkannya dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi keluarganya..


“Damian, aku minta maaf. Ayah gagal melindungi kalian semua.”


Gideon selalu membanggakan diri karena kemampuannya merencanakan satu langkah ke depan dan karena menjadikan orang yang mengendalikan situasi.


Sekarang, titik lemahnya sedang dicengkeram oleh orang lain.

__ADS_1


“Ayah tidak perlu minta maaf. Ayah tidak bisa memprediksi kejadian apa yang akan terjadi di masa depan jadi ini semua bukan salahmu.”


“Damian.”


“Ayah, sebenarnya apa motif mereka?”


Gideon membawa Damian berjalan menuju ke jendela.


“Apa yang mereka inginkan adalah kekuasaan keluarga Cross.”


“Ayah mempunyai banyak saham terbanyak di grup Cross. Tentu saja banyak orang mengincarmu dan mereka melakukan tindakan sekarang.”


Gideon tersenyum ke arah Damian. “Kamu memang cerdas.”


“Lalu jika ayah harus memilih antara kekuasaan dan ibu. Ayah akan pilih yang mana?”


“Tanpa aku, CGI group tidak akan berkembang. Dan aku tanpa CGI group, aku tidak akan punya apa-apa. Baik itu kekuatan atau kekayaan jika aku tidak bisa melindungi keluargaku sendiri, maka aku tidak membutuhkannya.”


“Jadi jika ayah disuruh untuk menyerahkan CGI untuk ibu...?”


“Aku akan melakukannya.”


Pintu tiba-tiba di dorong dari depan membuat Damian dan Gideon terjingkat kaget.


“Maafkan aku. Presdir, Tuan Besar sudah melewati masa krisis.”


Gideon dan Damian bergegas ke rumah sakit. Namun setelah Gideon sampai di bangsal tempat kakeknya di rawat inap. Wajah Gideon berubah saat melihat pria yang duduk dengan tenang di samping ranjang kakeknya.


Ekspresi ayahnya membuat Damian mengalihkan pandangannya ke arah pria itu.


Kevin perlahan berbalik dengan senyum misterius yang mengambang.


“Gideon, kamu di sini? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”


“Mengapa kamu di sini?”


“Aku di sini untuk melihat kondisi kakek.”


Gideon langsung berjalan lebih dekat dengan ranjang.


“Kondisi kakek semakin buruk.”


“Itu semua karena kamu ada di sini.”


“Ha aha ha ha. Kamu sama seperti dulu.”


Kevin tertawa sebelum matanya tertuju pada wajah pucat kakeknya yang terbaring tidur. Ada keheningan di sana untuk beberapa saat.


“Apakah ada yang ingin kamu katakan padaku?” tanya Kevin tiba-tiba.


Mata Damian menyipit dalam kewaspadaan. Ia mengangkat kepalanya ke arah ayahnya lalu menatap tajam ke arah pria di seberang mereka.


“Dimana mereka?”


“Apa maksudmu?”


“Aku bertanya dimana mereka?”


“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan?”


Gideon dengan gesit mengambil pistol di pinggangnya lalu mengarahkannya pada dahi Kevin.


“Dimana mereka?” tanya Gideon tajam dan penuh.


“Ha ha ha ha aha ha.”

__ADS_1


Kevin tiba-tiba tertawa dingin. Pria itu tertawa tanpa akhir.


“Sepertinya kamu kehilangan ketenanganmu.” Kevin berhenti tertawa dan suaranya dalam. “Tentunya kamu tahu jika kamu menembakku dan aku mati, mereka juga akan mati.”


__ADS_2