
Mata Liana langsung membesar. Liana dengan penuh semangat melemparkan dirinya ke pelukan Gideon. Memeluk pinggangnya, Liana melompat dan melompat seperti anak kecil.
Bahkan Gideon tak bisa menahan dari dari bahagia yang ditularkan oleh Liana.
Melihat senyumannya yang indah, Gideon tidak bisa menahan perasaan di hatinya.
“Apakah kamu benar-benar bahagia?” pria itu terkekeh dan menggosok rambut Liana.
“Ya!”
...♡...
Wajah Liana benar-benar sudah tegang. Ia menggigit bibir bawahnya dan tangannya semakin mengerat.
Terkadang ia menutup matanya. Ia sudah tak kuat lagi, ia sudah tak tahan lagi.
“Aaaah....”
“Bukankah ini seru.”
“To-to-tolong se-selamatkan aku. Berhenti! Ah, ah, tidak, tidak, tidak, sampai puncak! Ah!”
“Ini tingginya 56 meter dari permukaan tanah. Kalau diberhentikan di sini bukankah akan lebih menyeramkan?”
“Ti-ti-tidak mau! Turunkan aku!”
“Katanya mau naik wahana.”
“Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau! Tidak! Tidak! Tidak! Aku benar-benar tidak suka. Aaaaahhhhhhhhhh!!!!!!! Kenapa kamu begitu tenang? Aaahhhhhhh!”
Di tengah langit malam yang gelap, yang terdengar hanya lah suara teriakan Liana.
“Tanganmu gemetar.”
Botol air minum yang dipegang Liana ikut bergetar sesuai dengan ketukan getaran tangannya.
“Apakah bagimu wahana itu tidak menakutkan?”
“Iya, wahana itu tidak menakutkan. Rasa takut yang sebenarnya tidak bisa didapatkan hanya dengan menaiki wahana itu,” ucap Gideon.
“Lalu apa yang kamu takuti?”
Dengan wajah yang penasaran, Liana menatap Gideon dengan matanya yang bulat.
“Rahasia.”
Liana menghembuskan napas dengan kesal. “Aku menyesal bertanya.”
Liana duduk di bangku taman depan wahana roller coaster dan menundukkan kepalany. Badanya terus gemetar.
Getaran tubuhnya yang tidak kunjung berhenti adalah efek samping dari ketinggian dan kereta berkecepatan tinggi yang baru saja ia rasakan, ditambah lagi pada saat itu udara cukup tinggi.
Tiba-tiba terasa perasaan hangat serta aroma yang menyenangkan menyelimuti bahu Liana.
“Ah..”
Jas Gideon sangat besar dan hangat. Liana merasa seperti berada di dalam pelukan Gideon. Wajahnya berubah menjadi merah merona.
Liana sesaat menenangkan hatinya dan akhirnya mengangkat kepalanya.
“Apa kamu ingin pergi? Katanya mau naik korsel?”
Mendengar perkataan Gideon, Liana merasa senang dan tersenyum kembali. Ia menatap tangan Gideon yang terulur dan dengan sigap menggenggamnya.
Liana berjalan sambil memegang tangan Gideon, Liana yang sedikit tertinggal di belakang secara tidak sadar tertawa kecil melihat punggung Gideon.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Aku hanya berpikir andai anak-anak bisa ikut. Bukankah akan menyenangkan?”
__ADS_1
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin menikmati waktu hanya berdua denganmu. Kamu tahu saat di festival tadi, aku bahkan tidak berkesempatan memegang tanganmu. Damian dan Daniel tidak ingin terlepas darimu.”
“Jangan cemburu dengan anak-anakmu sendiri.”
Liana menaiki korsel sendirian meninggalkan Gideon yang tidak mau naik korsel karena terlalu kekanak-kanakan baginya.
Beberapa kali Liana menaiki korsel hingga akhirnya ia merasa pusing dan mual.
“Berhenti!”
Liana lalu turun dari korsel dengan berjalan sempoyongan layaknya orang yang sedang mabuk.
Sementara itu, Gideon masih berdiri di tempatnya dengan tenang sambil menunggu Liana.
Gideon berdiri di tempatnya dengan tenang sambil membawakan tas Liana.
“Rasanya kepalaku pusing.”
Liana berjalan perlahan ke sebelah Gideon. Ia mengamati Gideon yang tampak kedinginan.
“Apakah kamu merasakan kedinginan?”
“Bagus sekali kamu bertanya. Sejak tadi aku sangat kedinginan, rasanya seperti mati. Sekarang peluk aku!”
Liana tersenyum dan langsung melemparkan dirinya ke pelukan Gideon.
Lampu-lampu yang bersinar dan berkilauan, sara organ dan aroma parfum yang tercium semakin kuat, dilengkapi dengan kehangatan pelukan Gideon yang rasanya bisa membuat Liana tertidur dengan lelap.
Cukup lama mereka berpelukan sampai akhirnya Liana melontarkan kalimat yang kurang menyenangkan.
“Sampai kapan kita akan berpelukan? Kakiku rasanya pegal jika berdiri terus.”
Liana terkekeh sambil mengulurkan tangan dan dengan tenang menggenggam kembali tangan Gideon. Sepanjang jalan meninggalkan tempat itu, Liana tidak sekalipun melepaskan tangan Gideon.
... ♡
...
Liana mulai merasakan ada sesuatu yang aneh sesaat setelah meninggalkan tempat itu. Seperti Gideon memiliki tujuan yang pasti.
Sudah tiga kali Gideon melihat jam tangannya. Ia tampak memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang.
“Kita akan kemana?” tanya Liana
“Pulang.”
Liana sedikit terkejut. “Tidak mau.”
“Ini sudah malam.”
“Aku tidak mau.”
“Apakah kamu tidak mengantuk?”
“Aku sudah melewati tidur siang terpanjang hari ini jadi aku tidak mengantuk. Gideon jangan pulang sekarang ya? Ya ? ya?”
“Panggil aku dengan benar.”
“Sayang,” ucap Liana dengan nada manis.
“Aku tidak bisa menolakmu jika kamu bersikap seperti itu.”
Ada sungai terkenal di daerah sini. Mereka saling berpegangan tangan dan menikmati suasana malam itu.
Liana berhenti berjalan ketika, Gideon berhenti di jalurnya. Liana langsung membalikkan badannya dan menatap wajah Gideon.
__ADS_1
“Ada apa?”
Tiba-tiba wajah Gideon terlihat bersinar dan menyilaukan.
Duar! Duar!
Bersamaan dengan suara memekakkan telinga, kembang api warna-warni mulai bermunculan di langit.
“Ini...”
Liana terlalu terpesona dengan hal mengagumkan di hadapannya. Liana tidak bisa berkata apa-apa.
Kembang api berukuran kecil dan besar yang muncul di langit tampak seperti bunga yang bermekaran.
Melihat kembang api yang muncul secara bergantian di langit, Liana tidak bisa menutup mulutnya yang menganga karena terkagum.
Rasa senang Liana terlihat dari tingkahnya yang berubah menjadi anak kecil yang kegirangan.
“Sangat cantik.”
“Ah...”
Ekspresi Gideon berubah kosong.
“Bukankah kembang api itu terlihat sangat cantik?”
“Hm...iya, cantik.”
Mata Gideon tidak tertuju pada kembang api yang bersinar tapi pada wajah Liana. Pandangan Gideon tidak beranjak dari wajah Liana.
“Aku berharap malam ini tidak akan berakhir.”
Gideon tersadar dari lamunannya dan menatap ke langit.
Sayangnya, karena Gideon terlalu mendadak memberikan perintah , para pegawainya tidak bisa mendapatkan lebih banyak kembang api.
Sebuah kembang api besar berbentuk hati meledak di tengah-tengah langit malam. Itu adalah tanda kembang api yang terakhir.
“Waahh...”
Gideon langsung mengambil tangan Kinara menyeretnya lebih dekat dan mendaratkan ciuman manis di sana.
Suasana menjadi sepi dan mereka menikmati kesepian itu. Cukup lama mereka saling bertaut, pada akhirnya Gideon melepaskannya.
Napas mereka saling beradu. Liana mendongak dan menatap Gideon.
“Kakak Gideon...”
Mereka berbalik, Inge dan temannya berdiri di belakang mereka, menatap pasangan itu.
Senyum di wajah Liana menegang. Yang Liana lihat adalah Inge yang melihat Gideon dengan air mata yang siap untuk jatuh.
“Bagaimana dia bisa melakukan ini?” suara Inge pelan.
Inge tambah lebih marah ketika melihat Gideon mencium Liana dan membelai rambutnya dengan penuh kasih.
Inge cemburu. Ia merasa bahwa dadanya sesak kemasukan air dan tenggelam ke palung laut.
Ketika Gideon melihat Inge, senyumnya tiba-tiba luntur.
Inge mengalihkan pandangannya ke Liana. Mata itu menatapnya dengan tajam ke arah Liana. Jika mata bisa membunuh, Liana mungkin sudah mati saat ini.
“Kak Gideon, kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?”
Inge mengambil beberapa langkah lebih dekat dengannya.
Tatapan Inge saat dingin saat Gideon mengencangkan genggamannya di tangan Liana.
Kecemburuan yang membara di hatinya, benar-benar akan meledak saat ini.
__ADS_1