Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
9. Bertemu Dengan Daniel


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Liana bekerja sebagai asisten kecil untuk artis terkenal. Meskipun pekerjaannya dipandang sebelah mata namun ia bersyukur masih ada yang ingin memperkerjakannya.


Liana hadir di sebuah hotel tempat diselenggarakannya penghargaan bergengsi. Liana tak dapat menyembunyikan kekaguman. Sepanjang ia berjalan, sepanjang itu pula bibirnya bergumam takjub.


Saat ia berada di belokan ia melihat sekelat bocah yang sangat mirip dengan Damian.


“Damian?”


Tanpa pikir panjang Liana langsung mengikuti bocah yang sedang bersama pelayan. Tanpa memikirkan tindakannya. Liana langsung memegang pergelangan tangan bocah tersebut.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Bocah itu berbalik dan Liana merasa ia sangat kebingungan.


“Damian.”


Rambutnya lembut bersinar di bawah sorot lampu. Kulit putih dan pipi kemerahan, hidung mancung dan bibir tipisnya menarik perhatian.


Wajahnya yang tampan sama persis dengan Damian. Satu-satunya perbedaan mereka adalah matanya. Mata Damian memiliki mata yang lembut sementara dia memiliki mata yang dingin.


Anak ini sangat mirip dengan Damian. Akankah dia...


“Lepaskan aku!”


Daniel menyentak tangan Liana hingga genggamannya terlepas.


“Kamu siapa?”


Liana tak menjawabnya. Ia terus menatap Daniel. Daniel memiliki temperamen yang sama persis dengan Gideon.


“Kamu siapa?” tanya Daniel lagi.


Bocah itu mundur satu langkah. Beberapa pelayan yang berdiri di belakangnya dengan cepat berdiri di depan Liana untuk menghadangnya.


“Kamu siapa? Kamu tidak diizinkan untuk mendekati Tuan Muda Kecil.”


“Aku...”


Ia terdiam dan bingung. Tiba-tiba hatinya merasa sakit melihat darah dagingnya sendiri tidak mengenalinya. Hatinya perih namun ia tidak bisa menangis.


Ikatan seorang ibu, hanya mereka yang paham dan mengerti.


“Aku bukan orang jahat. Aku tidak bermaksud menyakiti,” ucap Liana sambil menatap Daniel dan tersenyum.


Daniel merasa hangat dengan senyum lembutnya. Ia belum pernah melihat senyum hangat itu. Meskipun Winter sering tersenyum padanya namun itu sangat berbeda.


“Kamu menarikku dengan tiba-tiba dan aku tidak menyukainya,” ucap Daniel dengan nada dingin.


“Maaf, aku kira—“


“Ada apa?”


Liana tertegun mendengar suara wanita yang baru saja datang entah dari mana. Ia langsung berbalik.


“Liana?”


Ruona sangat terkejut melihat Liana. Ia tidak berharap bahwa ia akan bertemu dengannya. Ruona menggertakkan giginya.


Sejak Ruona mengetahui bahwa Gideon secara diam-diam menyelidikinya, Liana dapat menjadi duri dalam kehidupannya.

__ADS_1


“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke sini? Apakah kamu tamu di sini? Tapi melihat penampilanmu yang murah, sepertinya kamu tidak layak.”


Liana menatap Ruona. Ia merasa wajah wanita yang ada di depannya tampak tak asing.


“Aku seorang asisten artis.”


“Asisten artis? Artis yang mana? Siapa namanya?”


Ruona sangat ingin mengusirnya. Ia tidak ingin Liana muncul lagi di depannya dan di depan Daniel.


“Mama...”


Tanpa sadar Liana berbalik dan memandang wajah Daniel yang sedang menahan tangisan.


Ruona mendorong Liana dengan bahunya dan berjalan di depan Daniel.


“Apa yang salah dengan anak mama?”


Melihat pemandangan ini, Liana jadi teringat beberapa tahun lalu karena dia juga mengambil peran di dalamnya.


Dia adalah tunangan Gideon Cross. Karena dia tidak subur. Keluarga Cross mencari cara untuk tetap mempertahankan garis keturunannya.


Satu-satunya pilihan mereka adalah menyewa ibu pengganti.


“Aku mengantuk, aku ingin pulang,” ucap Daniel.


“Baiklah aku akan meminta bibi Guisha untuk membawamu kembali,” ucap Ruona sambil tersenyum.


Bibi Guisha segera maju dan memegang tangan Daniel. Menuntunnya untuk segera pergi dari sana dan semua pelayan juga mengikutinya.


Satu-satunya orang masih ada di sana adalah Ruona dan Liana.


“Halo Liana, kita bertemu kembali.”


Ruona menyapanya dengan arogan.


“Apakah kamu ingat aku? Aku adalah calon menantu tercinta dari keluarga Cross,” ucap Ruona sambil mendekati Liana.


“Kenapa kamu bertemu dengan anakku? Sepertinya kamu lupa dengan isi kontraknya?”


“Tidak! Maksudku aku tidak pernah lupa dengan isi kontraknya. Jangan khawatir pertemuanku dengan putramu murni hanya ketidaksengajaan. Lain kali tidak akan lagi.”


“Apakah kamu bersungguh-sungguh?”


“Ya.”


Liana menggigit bibirnya. Ia melahirkan putranya tapi ia harus menjadi orang asing. Terdengar kejam memang, tapi ia harus melakukannya.


“Baiklah, anggap saja aku percaya tapi jika kamu melanggar kontrak. Kamu akan menyesalinya.”


Ruona memperingatkan Liana dengan nada dingin.


.........


Sebuah mobil Tesla berhenti di pinggir jalan. Di dalamnya ada dua orang yang diantaranya adalah anak kecil.


Anak kecil itu adalah Damian. Damian duduk dengan santai di kursi penumpang dengan tangannya memegang sebuah ipad.


Sementara pria yang duduk di kursi pengemudi adalah direktur Dani. Awalnya Dani benar-benar tidak percaya bahwa anak yang berusia empat tahun itu merupakan pemegang saham terbesar di Le D Corp.

__ADS_1


Le G awalnya merupakan perusahaan yang bangkrut namun munculnya Damian membuat perusahaan itu bangkit dan berkembang sangat pesat. Bahkan dalam setahun mampu menghasilkan ratusan juta dolar.


Siapa menyangka? Tidak ada.


Sulit dipercaya? Memang.


Damian sedikit menurunkan kaca mobilnya saat matanya tak sengaja melihat bocah yang sangat mirip dengannya.


Damian menatapnya dan mengerutkan aliasnya.


“Dia sangat mirip denganku.”


Awalnya Dani tidak mengerti maksud dari Damian namun saat melihat ke arah yang dilihat Damian. Dani juga terkejut.


“Ikuti mobil itu.”


“Baik.”


Dani langsung menancapkan gasnya dan mulai mengikuti mobil di depannya.


“Kamu sudah mendapatkan informasi yang aku perintahkan beberapa waktu lalu?”


“Ya, ada di sini.”


Dani menyerahkan beberapa dokumen tebal pada Damian.


Damian membuka lembaran demi lembaran. Semakin ia membacanya, semakin matanya terlihat serius.


Mobil mereka memasuki kawasan elite. Hanya orang-orang yang mempunyai kantong besar yang bisa tinggal di sini.


Mobil Damian dicegat oleh beberapa penjaga.


Damian menurunkan kaca jendelanya dan seorang staf penjaga melihatnya.


“Tuan Muda Kecil Cross, sudah kembali.”


Plat mobil Damian tidak dikenal namun karena penjaga mengira Damian adalah Daniel. Mereka diizinkan untuk masuk.


“Damian... ini.”


“Shshs.”


Mobil mereka berhenti tak jauh dari mobil yang mereka buntuti. Dari sana Damian bisa melihat seorang wanita turun dan disusul seorang pria yang memegang tangan bocah kecil yang mirip dengannya.


Mereka terlihat bahagia dan seperti keluarga yang penuh cinta. Apalagi pria itu memberikan hadiah drone pada bocah itu sambil tersenyum.


Pemandangan ini membuat mata Damian menjadi panas. Tangannya mengepal kuat dan ia tidak bisa menghindari aura ekstrem yang terpancar darinya.


“Selama beberapa tahun, aku pikir aku tidak mempunyai ayah. Sekarang dia ada di depanku. Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”


Damian bersandar di kursinya dengan perasaan sepi. “Pergi dari sini.”


Saat Gideon menepuk kepala Daniel dengan lembut. Matanya tanpa sengaja melihat sebuah mobil yang perlahan pergi.


Dia samar-samar melihat anak kecil yang duduk di bangku belakang. Tiba-tiba tenggorokannya kering dan perasaan tidak enak mulai menggerayanginya.


“Ayah ada apa?”


“Tidak ada.”

__ADS_1


__ADS_2