Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
65. Masalah Yang Ditimbulkan Ruona


__ADS_3

Entah kenapa Liana ingin melihat Damian dan Daniel. Perasaannya merasa tidak enak.


Begitu Liana tiba di sekolah. Liana menemukan beberapa polisi yang berbaris untuk berjaga di beberapa meter dari gerbang sekolah.


Kerumunan mulai berteriak di gerbang sekolah dan semuanya adalah orang tua wali murid.


Polisi terus menerus membawa siswa dan guru keluar dari sekolah. Wajah semua orang tegang begitu pula dengan Liana.


Liana tidak mengetahui betul situasi yang terjadi. Liana hanya begitu panik.


Tidak tahu apa yang terjadi, Liana meraih lengan orang tua wali.


“Maaf, apa yang terjadi?”


“Ada insiden penembakan. Anakku tadi meneleponku bahwa sekolah berakhir lebih awal.”


Liana tertegun lalu detik berikutnya, Liana buru-buru meninggalkan tempat itu. ia bergegas untuk menuju gerbang sekolah.


Lengannya tiba-tiba dicengkeram. Berbalik, Liana menyadari bahwa orang itu adalah Anji.


Anji menggendong putranya dengan selimut yang membungkusnya dengan erat.


"Kepala sekolah?”


“Ikuti aku.”


Anji mengantarnya ke mobilnya. Pria itu hanya menatap segera mereka masuk ke dalam mobil.


Liana segera mengambil putranya. Wajah Damian terlihat pucat. Jelas bocah itu sangat terkejut. Seluruh tubuhnya gemetar.


Liana memeluknya erat.


“Jangan takut sayang. Ibu ada di sini.”


“Bu...”


Tangan Damian tiba-tiba mengencang di pinggang Liana dan membenamkan wajah kecilnya di dada Liana.


Kronologinya adalah hari ini adalah pelajaran bahasa inggris. Melihat bahwa guru bahasa inggris belum datang setelah Damian mengeluarkan buku pelajarannya.


Bocah kecil itu meletakkan kepalanya dia atas meja. Tepat pada saat ia menundukkan kepalanya dan itu hanya sepersekon. Peluru tiba-tiba menembus jendela, meraung melewati rambutnya dan menembus kulit teman sebangkunya.


Damian dikejutkan oleh suara keras yang tiba-tiba dan merasakan wajahnya ternoda saat ia menyekanya. Ia melihat tangannya berwarna merah.


Teman sebangkunya adalah gadis kecil yang cerdas. Wajah gadis malang itu tidak bersalah ketika semua ini terjadi.


Jelas peluru itu akan mengenai Damian jika Damian tidak meletakkan kepalanya di atas meja karena mengantuk.


Polisi berspekulasi bahwa pembunuh adalah pembunuhan berantai. Pembunuh itu meretas sistem keamanan sekolah dan menghancurkan kamera pengawas. Jelas itu adalah pembunuhan berencana.


Ketika mobil sampai di vila, Liana langsung membawa Damian ke kemarnya.

__ADS_1


“Jangan takut, tidak apa-apa. Ibu di sini bersamamu.”


Memeluknya dengan erat, Damian membenamkan wajahnya kecilnya di pelukan Liana. Akhirnya Damian bisa lebih santai dan dapat mengatur napasnya.


Meskipun jelas dimatanya dipenuhi dengan rasa takut yang masih ada. Ketakutan dan amarah semakin menggerogotinya.


Jelas target yang sebenarnya adalah Damian dan target selanjutnya adalah ibunya.


Saat malam tiba, Liana dan Damian dengan tenang tertidur. Perlahan-lahan Damian membuka matanya dalam kegelapan.


Damian menoleh untuk melihat wajah ibunya yang tidur dengan damai. Damian memegang wajah ibunya dan memberinya kecupan ringan. Segera Damian membebaskan diri dari pelukannya.


Damian meninggalkan kamar tidurnya dan memanggil Anji lewat sambungan telepon.


Saat panggilan terhubung, Damian mendengar suara khawatir dari Anji.


“Bos kecil...”


“Sekretaris Anji, kirimkan aku orang-orangmu untuk menjaga di sekitar vila.”


“Baik.”


“Bagaimana dengan hasil investigasinya?”


“Aku belum mendapatkan apa pun. Pembunuh ini tidak sesederhana yang aku bayangkan. Dia sangat terampil dan tidak ada jejak yang tertinggal.”


“Aku curiga target utamanya adalah ibu dan aku. Aku bisa lolos kali ini tapi tidak tahu jika hari esok.”


“Bos kecil, apakah kamu akan mempertimbangkan bergabung dengan B.A.P group?”


Suatu organisasi misterius menghubunginya suatu hari dan menyatakan keinginan untuk membelinya desain itu.


Organisasi misterius itu adalah B.A.P Group yang memiliki hubungan erat dengan mafia dan perdagangan senjata api.


“Baiklah, kita akan bergabung. Aturlah penerbangan besok. Aku akan ke markas mereka.”


Di tempat terpisah, Ruona masih dengan setia melihat berita di kamarnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Ruona sedikit kesal karena sudah mengganggu konsentrasinya. Saat Ruona melihat layar ponselnya.


Itu panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Namun ia sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya.


“Apakah dia mencari tahu tentang apa yang aku lakukan hari ini?”


Ruona menghirup udara dalam-dalam sebelum menjawab panggilan tersebut.


Setelah panggilan tersambung, suara Kevin langsung menggelegar marah.


“Apa yang kamu lakukan? Kamu benar-benar berani ya mengirim seseorang untuk membunuh Damian tanpa sepengetahuanku."


Ruona terkejut, Ruona menelan salivanya sebelum menjawab, “Ini tidak akan terjadi jika kamu cepat untuk bertindak. Bukankah kamu berjanji untuk menyingkirkan Liana dan Damian untukku. Aku sudah menunggunya sejak lama tapi kamu masih belum ada tindakan. Aku sudah tidak punya waktu yang tersisa.”

__ADS_1


“Apa yang kamu takutkan? Tidak bisakah kamu menahannya sebentar!”


“Gideon akan mengadakan konferensi pers! Tahukah kamu apa artinya itu? Itu berarti aku akan benar-benar dalam masalah jika mereka berdua tidak segera disingkirkan!”


“Aku tahu bahwa kamu sama sekali tidak percaya padaku.” Suara dingin itu terdengar berbahaya. “Jika kamu bertindak gagabah lagi...”


Tangan Ruona yang memegang ponselnya tiba-tiba gemetaran.


“Kak Kevin, kapan kamu akan menyingkirkan mereka?”


“Kenapa kamu terlalu terburu-buru? Damian itu masih ada gunanya. Dia bukan anak yang sederhana.”


“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti?” tanya Ruona, dahinya mengernyit.


“Kamu tidak perlu tahu. Aku memberitahumu jika kamu tidak merusak rencanaku, situasinya tidak akan menjadi sulit untukku. Vila bocah itu saat ini dikelilingi dan dijaga oleh orang-orang bersenjata.”


“Apa? Orang-orang bersenjata?”


Ruona terlihat terkejut dan tidak percaya.


“Karena keadaan sudah seperti ini, kita harus membawa anak itu kembali ke keluarga Cross. Hanya saat itulah kita memiliki kesempatan untuk bertindak."


Mengingat situasi yang sudah terjadi, itulah satu-satunya cara. Bocah itu pasti bisa dibawa jika Simon Cross yang bertindak.


Ruona menutup sambungna teleponya dengan gigi terkatup dan menghirup udara dingin yang dalam.


Sekejap rasa marah melintas di wajah Ruona. Ia ingin menyingkirkan bocah itu namun Kevin menyuruhnya untuk mengajak bocah itu ke keluarga Cross.


Ruona berputar ke tempat tidur. Ia masih memikirkan sesuatu. Ia tidak bisa berhenti berpikir.


Ruona seperti mati rasa beberapa hari berikutnya. Setiap hari mengingat kembali perintah Kevin dan menegaskan kembali bahwa ia melakukan apa yang harus ia lakukan.


“Tahan Ruona, kamu harus menahannya untuk beberapa hari saja.”


Ruona mendesah dan memberanikan diri untuk pergi menemui Simon Cross di ruang kerjanya.


Ruona mengambil napas panjang-panjang sebelum mengetuk pintu.


“Siapa?”


Simon Cross mengangkat kepalanya saat mendengar suara ketukan. Simon Cross sedang memeriksa laporan keuangan dengan matanya.


“Kakek ini aku, Ruona. Bolehkan aku masuk? Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”


Simon merenung sejenak sebelum mengesampingkan laporan itu.


“Masuklah!”


Mendorong membuka pintu, Ruona berjalan lurus ke arahnya dan meletakkan teh yang ia buat ke depan kakek.


“Kakek, aku menemukan anak itu”

__ADS_1


“Anak?”


“Iya, saudara kembar Daniel. Aku menemukan keberadaan anak itu. Haruskah kita membawanya kembali ke keluarga Cross?”


__ADS_2