
Keduanya saling menatap dengan tatapan siap membunuh. Bahkan tangan Kingston mengepal siap untuk menghantam wajah Gideon.
“Apa yang kamu lakukan padanya?”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Kamu!” Kingston langsung melemparkan pukulannya pada wajah Gideon.
Gideon tak terkejut dengan pukulan Kingston dengan tiba-tiba. Ia menggerakkan wajahnya ke samping dan pukulan Kingston sama sekali tak menyentuh wajah tampan Gideon.
“Pukulanmu lumayan.”
Gideon menegakkan tubuhnya dan Kingston terkejut. Pria itu mundur saat Gideon dengan angkuh maju di depannya.
“Aku tidak mengerti, kenapa seorang Kingston bisa kehilangan akal hanya karena seorang wanita.”
“Gideon, bukankah kamu juga kehilangan akal hanya karena seorang wanita? Bahkan kami menggunakan cara jahat untuk mendapatkannya,” ucap Kingston. Ia benar-benar kehilangan kendali sehingga ekspresinya penuh dengan keberingasan.
Gideon memperingatkan Kingston dengan matanya yang tajam.
“Aku adalah pengusaha kaya raya. Apa yang aku inginkan bisa mendapatkannya. Dia adalah wanitaku jadi aku tidak akan membiarkan orang lain membawanya.”
Tubuh Kingston membeku. “Jadi saat di butik. Kamu memaksa untuk melepas gaun merah itu karena kamu tidak ingin dia pergi dengan pria lain.”
“Ya.”
“Dia bukan barang dan dia bukan milikmu. Apakah kamu lupa, kamu sudah punya Ruona sebagai wanitamu.”
Bibir Gideon tersenyum melengkung. “Dia tidak penting bagiku.”
Mata Kingston menyala dengan jejak keraguan. “Tidak penting?”
“Liana adalah ibu kandung Daniel Cross. Jadi tidak ada yang salah untuk menjaga ibu dari anakku.”
Kingston sangat terkejut. Otaknya seakan mati dan ototnya mengalami kekakuan. Kingston terdiam sejenak sebelum mantap untuk menatap Gideon.
“Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Dia tidak akan pernah jatuh cinta padamu.”
“Dia akan jatuh cinta padaku,” ucap Gideon dengan nada penuh tekad.
Setelah mengatakan itu Gideon langsung pergi meninggalkan Kingston yang masih dalam keadaan linglung.
Gideon berjalan dengan sangat tampan dan berkelas. Ia memamerkan keagungannya.
“Ayah! Ayah!.”
Gideon melihat putra kecilnya. Wajahnya yang sangar dan dingin berubah menjadi lebih lembut.
“Apa?”
“Ayah, kapan pesta akan dimulai? Aku sangat bosan.”
“Ingin minum jus?”
“Ya, aku ingin minum jus jeruk.”
“Ok.”
Jika ini menyangkut permintaan Daniel, Gideon selalu paling responsif.
Ruona yang melihat mereka langsung maju sambil memamerkan senyumannya.
“Pesta akan segera dimulai. Ayo kita ke sana.”
.........
Mata yang terpejam perlahan membuka. Wanita itu melihat keadaan sekitar. Ia mengumpulkan nyawanya sambil merasakan tubuhnya kesakitan.
Ia berusaha untuk duduk dengan percobaan beberapa kali. Setelah beberapa hening, ia teringat sesuatu dan segera berlari ke depan cermin.
Ia berdiri dengan jubah mandi. Ia mengamati tubuhnya dan ada banyak tanda di sana. Ia menghela napas lelah. Pikirannya kacau. Ia terjatuh di lantai.
“Nona Liana.”
Liana langsung mendongak dan melihat Alan dengan beberapa pelayan.
“Nona Liana, apakah kamu baik-baik saja?”
Liana langsung berdiri dia memperbaiki rambutnya. “Ya.”
“Jika kamu merasa lelah. Presdir memerintahkanku untuk mengantarkanmu pulang.”
Liana langsung menggeleng. “Tidak, seseorang menungguku.”
“Nona, Presdir mengirimkan gaun ini untuk Nona Liana. Pelayan akan membantu nona.”
Saat Liana melihat gaun yang dibawa Alan. Alis Liana berkerut. “Gaun ini...?
Liana terdiam di jalannya dan membiarkan pelayan membantu memakainya. Saat sudah selesai. Alan kembali dengan membawa sebuah kalung yang sangat cantik.
Kalung dengan rubi merah di tengahnya dan berbentuk bunga mekar. Terlihat mewah dan elegan.
“Kalung ini di disebut bunga mekar merah. Ini adalah kenang-kenangan pribadi Presdir Gideon.”
“Kenapa dia memberiku ini?”
__ADS_1
“Jika Presdir memberikan ini pada seseorang itu berarti keberadaannya sangat penting.”
“Pembohong.”
“Nona Liana, aku akan memakaikan kalung ini. Tolong jangan bergerak.”
“Tidak! Aku tidak mau.”
“Nona Liana, tolong jangan mempersulit diriku dan dirimu,” ucap Alan dengan sedih.
Liana memperhatikan Alan dan menjadi tidak tega.
“Baiklah.”
Liana melihat kalung tersebut bertengger di lehernya. Itu benar-benar cantik kecuali jika tidak ada tanda ungu di leher sebelah kananya.
Meskipun sudah ditutupi dengan foundation tetapi masih ada jejak samar yang terlihat.
“Nona Liana, kamu terlihat cantik.”
“Terima kasih. Jadi bolehkan aku pergi sekarang.”
“Tentu saja.”
Saat membuka pintu, Liana sedikit terkejut melihat Kingston berada di sana. Kingston juga sama terkejutnya melihat Liana.
Kingston pulih dari keterpanaannya dan langsung merasakan sakit.
“Liana.”
“Mengapa kamu ada di sini?” tanya Liana dengan hati-hati.
“Aku mengkhawatirkanmu.”
.........
Damian dan Anji berada di sebuah hotel mewah. Damian melihat hotel tersebut dan mengernyitkan keningnya.
“Apakah pestanya diadakan di sini?”
“Ya.”
“Lalu dimana ibuku?”
“Dia ada di dalam. Di gedung sebelah.”
“Aku ingin segera melihatnya.”
Mereka langsung memasuki hotel tersebut. Damian tak henti-hentinya mengkritik dekorasi hotel tersebut. Pria kecil itu lebih mirip dengan ayahnya. Bermulut pedas.
Sementara Anji hanya melihat anak kecil di sampingnya dan diam-diam berpikir.
“Jika ada yang menggertak ibuku. Apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu saja aku akan menghukum mereka.”
“Ketika ibuku datang, kamu harus memfotonya. Pastikan hasilnya bagus.”
“Ya.”
“Jika hasilnya jelek, aku akan memotong gajimu.”
Anji hendak memprotes namun ia langsung bungkam saat melihat mata Damian terpaku di sana.
Anji langsung melihat ke arah yang Damian lihat. Di tengah kerumunan ia melihat Gideon sedang berjalan berdampingan dengan Ruona. Tangan Gideon memegang tangan kecil Daniel.
Fitur ayah dan anak begitu sama. Mereka sama-sama tampan dan berkuasa.
“Pria itu adalah ayahnya. Gideon.” Gumam Anji.
“Tidak buruk,” ucap Damian.
Anji yang di sampingnya langsung menoleh, “Apa maksudmu?”
“Dia menjadi ayahku tidaklah buruk. Apakah anak itu benar-benar saudaraku? Asisten Anji, apakah dia mirip denganku?”
Keringat dingin muncul di dahi Anji. Pria itu sibuk membandingkan Damian dengan Daniel.
“Ya.”
Anji menyadai suatu hal. Mereka memang kembar identik tapi temperamen mereka berbeda.
Daniel memiliki wajah yang tegas namun bertingkah kekanakan. Namun ia memiliki atmosfer yang dingin seperti ayahnya jadi sulit untuk di dekati.
“Dia kekurangan cinta dari seorang ibu.”
“Bukankah aku juga. Aku kekurangan cinta dari seorang ayah. Tapi aku kuat meskipun tanpa cinta ayah.”
“Kamu tampak peduli dengan saudaramu.”
“Siapa? Aku? Jangan salah paham. Ayah dan saudaraku tidak ada di kamus hidupku. Aku tidak merasakan apa pun untuk mereka. Meskipun kami berikatan darah.”
Suara Damian gemetar dalam kemarahan secara diam-diam. Jari-jarinya memegang pembatas untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Meskipun Damian tampak dari luar sangat kuat. Sebenarnya ia merasa kesepian dan merasakan kesakitan di dalam hatinya. Ia merasa iri.
__ADS_1
“Kenapa aku peduli pada mereka? Ketika dia lari dan melepas tanggung jawabnya padaku selama berhari-hari.”
Mata Damian menjadi lebih dalam dan kosong. Seolah ingatan masa lalunya menjadi mimpi buruk baginya. Bagaimanapun sejauh ini, yang ia ingat adalah Damian anak yatim.
“Ibu selalu berkompromi untuk bisa melindungiku. Dia selalu tersenyum untuk menyembunyikan emosi yang sebenarnya.
Ia berpura-pura kuat padahal rapuh. Jadi aku ingin menjadi pria yang kuat dan bertanggung jawab untuk melindungi ibu.”
Damian mendongak dan melihat wajah Anji yang sudah berkaca-kaca. Damian sedikit terkejut.
“Kenapa kamu ingin menangis?”
“Aku teringat ibuku di rumah.”
Damian menoleh dan kembali melihat Daniel. “Tentu saja, aku tidak akan berbagi ibuku denganmu.”
.........
Gideon langsung meninggalkan Ruona. Pria itu tidak peduli dengan Ruona karena ia sibuk mengamati Liana yang saat ini sudah berdiri di samping Kingston.
“Nyonya.”
Ruona langsung berbalik dan mendapatkan Johan di dekatnya. Setelah kejadian penuh panas dan ketegangan. Sebisa mungkin Ruona menghindari Johan dan mengabaikannya.
“Untuk apa kamu ke sini?”
“Nyonya, jika kamu tidak keberatan. Aku bisa menari denganmu.”
“Menari denganmu? Dalam mimpimu.”
Ruona berbalik dan meninggalkan Johan namun pria itu mengikutinya.
“Jangan ikuti aku!”
Johan tiba-tiba mempunyai keberanian untuk memegang pergelangan tangan Ruona.
“Ruona.”
Ruona terlalu terkejut karena cengkeraman Johan dan karena pria itu juga berani menyebut namanya. Jadi ia secara refleks menampar pipi kanan Johan.
“Apa yang kamu lakukan? Dimana sopan santunmu. Sekretaris Jo, kamu harus tahu identitasmu. Aku adalah tunangan Gideon Cross. Jadi tolong beri rasa hormatmu,” ucap Ruona. Sebisa mungkin ia menekan amarahnya.
Saat ia hendak berbalik, pergelangannya kembali di cengkeram dan ia diseret ke tempat yang cukup sepi.
“Lepaskan aku. Kenapa kamu melakukan ini padaku?”
Johan langsung melepaskan Ruona namun pria itu menempatkan Ruona di antara tembok dan dirinya.
“Kenapa kamu menjauh dariku setelah kejadian itu? Kamu anggap apa aku?”
“Kejadian itu, lupakan saja.”
“Kamu ingin aku berpura-pura untuk amnesia? Sementara kamu juga menikmatinya. Jangan bohong, kamu juga menginginkanku , bukan?”
Ruona terdiam. Hari itu memang ia sangat menikmati tapi kemudian ia menyesalinya.
“Apakah karena sekarang kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dan aku sekarang tidak berguna. Kamu membuangku. Kamu tahu, aku menyukaimu. Aku...”
“Diam. Aku tidak bisa meninggalkan Gideon jadi jangan berharap kita akan bersama.”
“Ruona aku tidak memintamu untuk menyukaiku tapi izinkan aku untuk berdiri di sampingmu. Bersamamu.”
“Kamu benar-benar ingin menghianati Gideon?”
Johan sudah dibutakan oleh cinta. Ia bahkan rela menjadi budak cinta bagi Ruona. “Untukmu aku bersedia menjadi senjatamu. Bahkan jika kamu ingin aku menyeberangi lautan, aku akan melakukannya.”
Ruona tersentuh oleh perkataan Johan. Namun sejenak ia berpikir memanfaatkan Johan untuk menyingkirkan Liana.
“Benarkah? Kamu bersedia melakukan apa pun?”
“Ya.”
“Itu bagus.” Ruona mendekati Johan dan ia berpura-pura lemah lembut. “Liana, wanita itu. Aku ingin kamu menyingkirkannya.”
Seolah terhipnotis oleh suara dan mata Ruona tanpa ragu Johan mengangguk.
“Apa yang kamu ingin aku lakukan untuknya?”
Ruona tak lantas menjawab. Ia tersenyum menggoda dan berbalik berjalan. Johan tidak ingin meninggalkan kesempatannya. Ia mengikuti Ruona yang saat ini sudah berada di kamar.
Johan langsung menutup pintu dan disambut oleh tangan Ruona. Mereka langsung bertukar saliva dan pergi ke dunia mereka sendiri.
“Jo, masuki cepat...”
Ruona terengah-engah. Napasnya memburu sambil dadanya naik turun.
“Kirim Liana ke ranjang orang lain. Rekam itu dan sebarkan. Pastikan wanita itu tak bisa berdiri.”
“Tentu.”
Keduanya menikmati pergulatan panas mereka sampai tak sadar bahwa di luar seorang pria berjas sedang menekan pulpennya.
“Presdir benar, Johan sudah lama menjadi penghianat. Bukti ini sudah cukup.”
Setelah selesai pria itu berbalik dan berjalan pergi.
__ADS_1