Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
61. Happy With Her


__ADS_3

Inge melewati 24 jam dengan ingatan kabur. Ia menguburkan dirinya dalam kamar. Ia tersentak saat pintu diketuk dari luar.


“Apa yang kamu lakukan di luar? Keluarlah!”


“Tidak!”


“Nak.”


“Tinggalkan aku sendiri!” bentak Inge.


Ia kembali menenggelamkan kepalanya di bantal. Tangannya ia kepal dan membanting di kasur.


Ia sangat marah karena fotonya yang memalukan menyebar luas di internet. Semua orang yang membencinya, mencemoohnya.


“Apakah itu Liana yang melakukannya? Aku benci wanita itu! Jika aku bisa, aku ingin membuatnya hilang dari dunia ini!”


ketukan lagi terdengar dan membuat Inge semakin murka.


“Tinggalkan aku!”


“Ini aku,”


Inge langsung menoleh dan segera bangkit dari ranjangnya. Ia memutar kunci pintu dan mendorong pintu tersebut hingga terbuka.


“Kakak.”


“Kenapa kamu mengurung di kamar?”


“Itu...”


Inge bingung dan langsung menatap kakaknya dan langsung menyeret pria itu masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintu kamar.


“Ibu khawatir tentang.”


“Kakak, bisakah kamu membantuku lagi?” tanya Inge dengan nada memohon.


“Jika ini menyangkut Liana, jawabannya adalah tidak,” jawabnya dengan tegas.


“Kenapa tidak? Aku benar-benar kesal dengannya. Dia berani mengambil Kakak Gideon dariku.”


“Yang kamu tahu hanya kakak Gideon. Aku bahkan tidak tahu bagian mana yang bagus darinya. Aku berpesan padamu jangan mencari gara-gara dengan Liana lagi.”


“Kenapa? Apa kamu membelanya sekarang?”


“Inge, aku tidak membelanya! Aku hanya tidak ingin kamu berharap dengan kakak Gideon. Kalian tidak akan pernah bersama.”


“Mengapa?” Inge mengerang marah.


“Karena dia tidak menyukaimu. Sadarlah! Dia sudah menyukai Liana."


Inge mendengus. “Dia hanya bermain-main dengannya.”


“Aku yakin dia menyukainya.”


“Kakak!” teriak Inge. “Jika dia benar-benar menyukainya. apakah dia akan menyembunyikan wanita itu. Disaat dia bertunangan dengan Ruona? Aku tahu bahwa kakak Gideon tidak menyukai Ruona dan itu berlaku pada Liana juga.”


“Kenapa kamu begitu keras kepala? Ada banyak pria yang baik dari kakak Gideon. Mengapa kamu terus mengejarnya?”


Bibir Inge terangkat untuk membentuk senyuman saat mendengar kakaknya bertanya alasannya mengapa ia bisa menyukai Gideon.


"Kakak Gideon sangat luar biasa. Aku tidak pernah bisa bertemu pria yang lebih baik darinya.”


Inge sebenarnya enggan untuk mengakui bahwa Gideon mungkin benar-benar mencintai Liana. Ia bersikap menolak.


“Terserah padamu. Kakak berusaha memperingatkanmu.”


...♡♡♡...


“Ah kamu payah!”

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar teriakan Damian dari kamarnya. Liana penasaran apa yang membuatnya berteriak sekeras itu.


Liana meninggalkan kamarnya dan menemui kedua putranya.


“Apa yang kalian lakukan?”


“Kami sedang bermain dan Daniel sangat payah sekali.”


“Aku tidak payah hanya saja pertanyaanmu mencebak.”


Liana menatap mereka berdua.


“Ibu ingin mencoba?” tanya Damian.


Liana melihat Daniel dan bocah kecil itu menggeleng seakan berbicara “Jangan lakukan bu.”


“Boleh,” jawab Liana.


Daniel langsung menepuk jidatnya.


“Ibu, kertas hvs warnanya apa?”


“Putih.”


“Awan warnanya apa?”


“Putih.”


“Kapas warnanya apa?”


“Putih.”


“Sapi minum?”


“Susu.”


“HAhahaha ibu salah. Jelas-jelas sapi minum air putih,” ujar Damian.


“Ah benar, ibu kurang fokus karena mengantuk.”


Liana menguap.


“Ibu hanya alasan.”


“Sudah malam sebaiknya kalian tidur.”


“Ibu!” ujar Daniel.


Liana yang awalnya ingin menutup pintu, tidak jadi menutup pintu tersebut.


“Ya.”


“Sudah pulang? Ayah?”


“Ayah masih di luar.”


“Ayah masih di luar?”


Liana mangut-mangut.


“Ibu.” Panggil kedua anaknya, Ariana tersenyum.


“Ya.”


Damian dan Daniel saling sikut menyikut siku mereka mendesak agar ada yang saling berbicara lebih dahulu.


"Daniel saja,” bisik Damian.


“Damian.”

__ADS_1


“Daniel.”


“Damian.”


“Kenapa sayang?”


Damian dan Daniel menatap polos ke arah Liana.


“Selamat malam Ibu. Mimpi indah.”


Gideon pulang ke vila sudah sangat larut malam. Ketika dia masuk ke kamarnya, dia menemukan Liana sudah tertidur pulas di ranjangnya.


Berjalan ke arah ranjangnya. Gideon duduk dan perlahan membelai pipi Liana.


Awalnya Gideon ingin memberikan kecupan singkat di bibirnya namun saat melakukannya pria itu tidak ingin berhenti.


Gelombang panas langsung menjolak di perut bagian bawahnya. Tapi ia Gideon enggan untuk membangunkan Liana.


Karena itu sebelum ia melakukannya jauh, ia sudah bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mendinginkannya.


Saat Gideon baru saja memasuki kamar mandi ia mendengar suara langkah kaki, ia membalikkan tubuhnya dan menemukan Liana yang tengah berdiri di pintu masuk kamar mandi dan menutupnya dengan punggungnya.


“Kamu sudah kembali?”


Suara serak khas bangun tidur langsung terdengar menembus gendang telinga Gideon.


“Apa aku membangunkanmu?”


Liana mengangguk.


“Mengapa kamu pulang terlambat?”


“Ada beberapa pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan,” ucap Gideon yang terus melepaskan pakaiannya.


Gideon membalikkan tubuhnya sementara Liana masih setia melihat Gideon yang kini sudah menyalakan pancuran air.


Liana mengagumi lengan berotot Gideon. Lengan itu memancarkan kekuatan.


Seakan terhipnotis, perlahan dan pelan. Liana mendekat dan mengangkat lengannya untuk melingkari pinggang Gideon. Memberikannya pelukan erat dari belakang.


Tindakan Liana mengejutkan Gideon.


Gideon langsung membalikkan tubuhnya dan menemukan wajah Liana yang tersenyum.


Sementara Gideon yang tinggi, Liana hanya sedadanya. Mereka adalah pasangan yang serasi.


Tindakan Liana, kembali menyalakan kembali api yang ada di dalam diri Gideon.


Dengan dorongan lembut di pundaknya, Gideon mendorong dan menekannya ke dinding.


Liana mengangkat kepalanya untuk memandang wajah Gideon. Wajah tampan pria itu, tercermin di bola matanya.


Terperangkap di antara dinding yang dingin dan tubuhnya yang panas. Sepertinya yang bisa Liana dengarkan hanyalah suara air yang mengalir.


Gideon langsung membungkuk dan mematuk bibirnya dengan ciuman panas yang berapi-api.


*******-******* dan suara-suara penyatuan antara mereka memenuhi kamar mandi. Tidak hanya kamar mandi, mereka juga melakukannya di kamar besar mereka.


Gideon terus saja memberikan Liana rangsangan tanpa henti hingga keduanya sampai pada puncak dan meledak.


Gideon menguburkan kepalanya diceruk leher jejang Liana tanpa menarik diri terlebih dahulu. Ia mengeram puas.


Liana dirantai erat dalam pelukannya yang dominan. Tindakan posesifnya sama sekali tidak memungkinkan Liana untuk melepaskan diri.


Liana yang berada di pelukan Gideon tidak bisa tidur meskipun kelopak matanya terasa berat dan tubuhnya terasa lelah.


Kekhawatiran yang tak perlu dijelaskan menghabisinya. Liana tidak bisa menahan rasa takut bahwa ia akan sendirian lagi begitu ia membuka matanya.


Dengan napas panjang, Liana menutup matanya perlahan setelah waktu yang lama. Ketika tubuhnya tidak bisa menahan lelahnya dan akhirnya tertidur.

__ADS_1


Dalam keadaan mengantuk, Liana merasakan seseorang mencengkeram pinggangnya dan menciumnya. Bibir tipisnya yang hangat menyentuh bibirnya.


Ia merasakan sensasi aneh di dalam tubuhnya dan ia langsung menyambutnya.


__ADS_2