
Damian berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Bocah kecil itu sedang menunggu ibunya. Sedangkan Daniel, ia masih ada kelas ekstrakurikuler.
Saat Damian sedang berjongkok untuk memperbaiki tali sepatunya, tiba-tiba matanya melihat sepasang sepatu di depannya.
Dari model sepatunya, Damian bisa melihat bahwa pemiliknya adalah seorang gadis seumuran dengannya.
Damian lantas berdiri dan melihat senyum semringah wajah perempuan itu.
“Dimana orang tuamu? Apakah kamu pulang sendirian?”
Damian lantas mengalihkan pandangannya dan mengabaikan keberadaan perempuan itu. Damian terus menjauh dan gadis kecil itu dengan setia mengikuti kemana Damian berjalan.
“Aku bisa menemanimu.”
Damian langsung berbalik “Jangan mengikutiku!”
“Aku tidak mengikutimu. Apakah tempat ini milikmu? Bukan kan?”
“Kamu sangat menjengkelkan.”
“Terima kasih atas pujiannya.” Gadis kecil itu tersenyum cantik namun Damian justru merasa mual.
“Damian.” Teriak seseorang, Damian langsung mendongak.
“Ibu!”
Damian langsung berlarian menuju ke arah Liana. Sementara gadis kecil itu hanya terpaku di tempatnya sambil memandangi Damian.
“Jadi namanya Damian.”
“Ibu, ayo kita pulang.”
Damian segera memegang tangan Liana untuk segera pergi dari sana.
“Kenapa terburu-buru? Dan siapa gadis cantik itu?”
“Aku tidak tahu,” ucap Damian singkat karena memang Damian benar-benar tidak tahu dan dia tidak ingin mencari tahu.
“Ibu kira dia temanmu.”
“Bukan!”
.........
Hari sudah mulai sore namun Gideon masih saja duduk di dalam kantornya. Ia sedang memikirkan sesuatu. Di seberangnya sudah ada Alan yang sedang berdiri sambil memegang sebuah buku tentang psikologi seseorang.
Beberapa menit yang lalu mereka sedang mendiskusikan sesuatu. Hal yang menarik bagi Gideon.
“Tidak perlu gugup bos. Aku di sini sedang membacakan buku bukan sedang menagih hutang.”
Gideon langsung menatap Alan dengan dingin. “Sekarang kamu berani denganku?”
Tubuh Alan langsung membeku menyadari kesalahannya.
“Tidak bos.”
“Baca lagi yang keras untukku,” perintah Gideon.
Alan langsung menelan ludahnya dan kembali membaca.
“Itu dinamakan rasa cemburu. Berikut adalah bentuk dari rasa kecemburuan. Pertama, tidak percaya diri. Kedua, keegoisan.”
“Keegoisan?”
“Ya.”
“Lanjutkan!”
“Keegoisan sendiri seperti tuduhan tanpa dasar pada pasangannya.”
“Kamu sedang menyindirku?”
“Tidak Presdir, tapi ini yang di tulis dalam buku.”
“Alan.”
“Iya, Presdir.”
“Apakah normal bagi pria untuk cemburu pada wanita?”
__ADS_1
Alan merasa terkejut, ia segera menundukkan kepalanya dan memperbaiki letak kacamatanya. Jari-jarinya dengan cepat-cepat membuka halaman demi halaman demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan presdirnya.
“Dapat.”
“Cepat katakan!”
“Cemburu dalam sebuah hubungan adalah hal wajar. Tingkat kecemburuan seseorang berhubungan erat dengan tingkat cinta seseorang.”
“Itu berarti, saat wanita bersama orang lain dan pria itu merasa mempunyai saingan. Bisa dikatakan pria itu sebenarnya peduli dengan wanita itu.”
“Bisa dibilang seperti itu.”
Alis Gideon mengerut. Tangannya ia usap-usap di dagunya. Tiba-tiba ia menatap Alan.
“Alan.”
“Iya, Presdir.”
“Apakah kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?”
“Apa? Aku?” Alan langsung menggeleng lemas.
“Sudah aku duga,” ucap Gideon sambil melihat penampilan Alan.
“Bagaimana seorang wanita menunjukkan kecemburuannya?”
Alan buru-buru melemparkan halaman demi halaman ke sisi kiri.
“Pertama, wanita akan mengabaikan pasangannya.”
“Dia sudah melakukannya bahkan nomorku di blacklist.”
“Kedua, wanita akan menunjukkan rasa ketertarikan.”
“Dia bahkan mengabaikanku.”
“Ketiga, wanita akan kehilangan ketenangannya seperti marah-marah.”
“Terus.”
“Keempat, wanita akan menutup diri dan berbicara sarkastis. Wanita akan membandingkan dirinya sendiri dengan wanita lain.”
Gideon buru-buru mengubah posisi duduknya. “Dia melakukannya, semua itu adalah tanda-tanda cemburu. Cemburu sama dengan cinta.”
Senyum tampan terbit di wajah Gideon. Es yang beku perlahan mencair. Alan melihat wajah Presdirnya cerah dan merasa terkejut.
Gideon buru-buru kembali ke dirinya seperti semula, dingin saat Alan melihatnya dengan mata telanjang.
“Lanjutkan baca!”
“Seorang pria harus menjaga emosinya. Cemburu boleh namun jangan berlebihan. Seorang pria harus ingat bahwa wanitanya bukan milik pribadinya...”
“Dia adalah milikku. Jadi milik pribadiku.”
Gideon mengoreksinya karena merasa tidak senang.
“Seorang wanita berhak menjalin hubungan dengan orang lain meskipun dengan lawan jenis.”
“Dia tidak berhak menjalin hubungan dengan orang lain terutama dengan pria lain.”
Aura penindas yang Gideon keluarkan membuat Alan terbungkam untuk waktu yang lama.
“Apakah wanita selalu menuntut pernikahan?”
Alan kembali membuka halaman demi halaman.
“Presdir di sini tidak ada.”
“Cari yang benar. Pernikahan hanyalah selembar kertas mengapa seorang wanita menjadikannya sebuah keharusan?”
“Aku rasa, jika wanita dinikahi mereka akan jauh merasa lebih aman dan sah. Terlebih mereka mempunyai bukti yang mengikat. Mereka terikat oleh janji Tuhan, keluarga dan negara.”
.........
Saat ini Liana sedang mencuci peralatan masaknya dan juga peralatan makan sementara Damian sedang berada di kamarnya entah sedang apa.
Saat Liana menaruh piring pertamanya, suara bel rumah dari depan berbunyi. Liana sedikit menoleh untuk melihat apakah Damian keluar dari tempatnya.
“Damian, buka pintunya!” suruh Liana.
__ADS_1
Liana kembali melanjutkan aktivitasnya berharap pintu itu sudah dibuka oleh Damian. Namun sepertinya Damian tidak melakukannya karena suara bel terus saja berbunyi.
“Apakah Damian sudah tidur?”
Liana melepas sarung tangannya dan bergegas keluar dari dapur. Hal pertama saat Liana membuka pintu. Matanya melihat seorang pria yang dekat dengan Gideon Cross.
“Alan, apa yang kamu lalukan di sini?”
“Presdir memintaku untuk menjemput Nona Liana?”
“Gideon Cross? Dimana dia? Apa yang dia inginkan sekarang?”
“Nona Liana akan tahu setelah ikut denganku tapi sebelumnya Nona harus mengganti baju dengan ini.”
Alan menyerahkan sebuah gaun berwarna hitam dengan pita di dadanya.
Liana memperhatikannya tanpa berniat untuk segera mengambilnya.
“Ini dipilih langsung oleh Presdir.”
“Aku tidak menginginkannya dan aku tidak akan pergi!”
Alan buru-buru panik. “Nona Liana, Presdir menyuruhku untuk membawamu dan Nona harus memakai baju ini. Jika tidak, dia akan membunuhku.” Wajah Alan begitu memelas satu-satunya harapannya adalah semoga Liana bersimpati padanya.
“Apakah dia benar-benar akan membunuhmu?”
Kepala Alan langsung menganguk-angguk.
“Baiklah.”
Alan tersenyum semringah.
Sepanjang perjalanan Liana tak henti-hentinya bertanya mereka sedang menuju kemana? tempat seperti apa yang akan mereka tuju? Gideon sedang merencanakan apa?
Alan hampir kelepasan untung saja Alan langsung menyadarinya saat ujung bibirnya hampir membuka.
“Sudah sampai.”
Liana mengamati gedung di sampingnya. Itu adalah sebuah gedung pencakar langit dengan restoran yang terkenal cukup mahal tapi itu setara dengan rasa masakannya dan pemandangan yang disuguhkan.
“Kamu yakin ini tempatnya?”
“Ya. Mari Nona Liana, Presdir sedang menunggu.”
Mereka langsung memasuki gedung itu dan Alan langsung membantu mengarahkan Liana untuk masuk ke dalam lift.
Alan menekan tombol paling tinggi gedung itu. Saat pintu Lift terbuka. Alan langsung memberikan isyarat bahwa ruangan yang akan Liana masuki berada di sisi kanannya.
Liana langsung memasukinya dan matanya langsung terkejut melihat ruangan itu. Di tengahnya ada meja panjang dengan penuh makanan.
Yang tak kalah menakjubkan adalah pemandangan yang disuguhkan. Dengan kaca yang besar dan transparan, Liana mampu melihat pemandangan kota yang penuh dengan gemerlap sorot lampu yang sangat indah.
“Apa niatnya melakukan ini?”
Liana mencari-cari keberadaan seseorang namun ia tidak bisa menemukan pria yang ia cari.
Saat Liana berbalik ia menabrak dada yang kokoh. Saat ia mendongak mata Liana bertubrukan dengan mata Gideon.
Gideon sekarang berdiri di depannya. Mengenakan kemeja hitam dengan rambut yang di sisir. Sebagian poninya di sibakkan. Aura maskulin dan harum mentol khas lelaki.
Sangat tampan, sangat menggoda dan sangat seksi.
“Suka?” deep voice Gideon keluar dari bibirnya.
Untuk sesaat Liana merasa bodoh.
“Kamu tidak suka?”
Liana melirik tangan Gideon yang sedang memegang sebuah liontin kemudian Liana menggelengkan kepalanya.
“Karena kamu tidak suka aku akan membuangnya.”
Sebelum Liana bisa menjawab, Gideon sudah pergi ia membuka kaca dan berdiri di balkon. Tangannya melemparkan liontin begitu saja fi sana. Dalam sekejap mata liontin itu sudah menghilang entah kemana.
Liana buru-buru menghampiri Gideon dan langsung menundukkan kepalanya melihat ke bawah.
“Kenapa kamu melakukannya?”
“Apa yang aku lakukan?”
__ADS_1
Gideon bertanya dengan wajah polos.