Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
76. Si Kembar Berhasil Kabur


__ADS_3

Mata Liana mendadak terbuka. Selama beberapa menit ia berbaring dengan sekujur tubuh gemetar dan terengah-engah di tempat tidur yang hangat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mimpi buruk.


“Gideon?”


Setelah itu, ada telapak tangan yang menyelimuti punggung tangan Liana. Liana menarik napasnya panjang sambil menunggu detak jantungku melambat.


“Aku di sini,” ucap Gideon lembut.


“Aku memimpikan si kembar dalam bahaya.”


Gideon langsung memeluk Liana dengan erat.


“Jangan takut, itu hanya mimpi.”


Liana menutup matanya. Garis air maya yang samar terlihat dari sudut matanya.


“Aku tidak ingin kehilangan si kembar.”


“Mereka akan baik-baik saja. Liana, ayo kita menikah begitu si kembar kembali”


Liana mengangkat kepalanya dengan bingung. Tampaknya ia sedikit terkejut.


“Aku sudah memikirkannya, mari kita menikah dan hidup bersama. Aku akan menjadikanmu wanita sahku di mata hukum.”


Mata Liana terbuka dengan sempurna. Untuk sesaat sekelebat emosi mengalir d dalam dirinya. Liana merasa sulit untuk percaya apa yang baru saja ia dengar.


Keheningan bertahan beberapa saat. Jelas sekali bahwa Gideon menahan perasaan sedikit gugup.


“Kenapa diam? Apakah kamu tidak mau?”


Liana langsung menggeleng.


“Aku hanya tidak percaya.”


Gideon langsung memberikan kecupan ringan. “Percayalah padaku.”


Di tempat lain.


Damian membersihkan lengannya dan berdiri dengan tenang. Daniel yang duduk di sampingnya melihatnya.


“Jam berapa sekarang?” tanya Damian.


“Mengapa kamu bertanya? Ini jam satu pagi.”


“Oh.”


Damian mengangguk dan pengawal jahat itu mengerutkan keningnya merasa aneh dengan sikap Damian.


“Apa yang sedang kamu mainkan bocah nakal?”


Damian langsung berjalan ke arah pengawal jahat itu. Mereka hanya dibatasi oleh jeruji sel.


“Bagaimana jika kita bermain-main?”


Pria itu terkikik. “Nak, sepertinya kamu tidak bisa membaca situasimu sekarang. Saat ini kamu menjadi sandera. Dan kamu tahu apa artinya itu? Kamu bisa saja mati kapan saja.”


“Kamu harus mati jika kami mati,” ucap Daniel yang ikut berdiri dan membersihkan noda di celananya.


Pria itu terkejut. “Kenapa aku harus bersamamu?”


“Karena aku tidak bisa mati. Jika kami mati, bagaimana bisa bosmu mendapatkan saham di keluarga Cross?”


Pria jahat itu terkejut untuk mengatakan apa pun pada saat itu. Mereka terlalu pintar dan jenius.


“Apakah kamu pikir aku tidak berani?”


“Coba saja jika kamu berani.”


Pria itu pada awalnya khawatir, namun ejekan Damian dan Daniel mengubahnya menjadi marah.


Mengangkat tangannya, pria jahat itu akan memberikan mereka pelajaran. namun sebelum dia bisa menjatuhkan bogemnya. Tubuhnya langsung terpelanting dan jatuh.


Pria itu sepertinya menyadari bahwa ada sesuatu yang menusuk dadanya sebelum ia ditendang.


Ia menggerakkan tangannya dan tangannya dipenuhi oleh darah. Ia ditembak dengan senjata tanpa suara.


Ketika dia jatuh, Julian langsung berdiri tegak dan berwibawa.


Daniel terkejut.

__ADS_1


“Kamu siapa?” tanya Daniel.


“Shh”


“Daniel, dia berada di pihak kita.”


Julian langsung mencari kunci untuk membebaskan Daniel dan Damian.


Daniel keluar dari sel dan jelas ia masih terkejut dengan apa yang barusan ia lihat.


Mereka berjalan keluar. Daniel masih tidak percaya bahwa pengawal jahat itu, kini tergeletak tak berdaya di tanah.


Ada yang tengkurap, ada yang terlentang dan ada dengan posisi yang aneh.


“Sepertinya mereka terbunuh tanpa banyak waktu untuk bertahan.”


Daniel benar-benar terpana.


“Kapan semua ini terjadi? Apakah kamu sendiri yang berurusan dengan mereka?”


Pintu gudang terbuka dengan segera. Daniel langsung terkejut bahwa semua pengawal jahat semuanya mati.


“Apa yang terjadi?”


Tidak ada yang menanggapi keterkejutan Daniel.


Pengawal yang menjawab gudang semuanya telah dibunuh. Dengan mata yang masih tidak percaya, Daniel mengamati sekelilingnya lagi. Matanya terbelalak tidak percaya.


“Tangkap kedua anak itu! Jangan sampai mereka melarikan diri.”


Kepala pengawal Kevin datang dengan pengawalnya. Saat tiba, ia juga terkejut dengan apa yang ia lihat.


Semua pengawalnya sudah dikalahkan. Pengawal Kevin langsung mengarahkan pistol ke arah betis Damian.


Julian langsung berdiri di depan Damian.


Bang.


Pengawal Kevin langsung tumbang.


“Bunuh dia!”


Kevin langsung mengeluarkan pistolnya lagi. Saat ini kedua tangannya sudah dipersenjatai.


“Tembak dia!”


Damian dan Daniel langsung berlari ke tempat aman.


“Hati-hati dengan ucapanmu. Aku adalah pasukan elit. Hati-hati dengan kepalamu.”


Dor.


Pria itu lantas terkulai di tanah.


“Mundur!” ucap Julian.


Lalu pengawal Julian datang.


“Aku serahkan sisanya.”


“Damian! Daniel! Ayo kita pergi.”


Seringai dingin jelas nyata di wajah Julian. Aura membunuhnya terpancar.


“Dia sangat keren,” puji Daniel.


Pengawal Julian dan Pengawal Kevin langsung berperang. Ada yang menggunakan pistol ada yang menggunakan belati.


Damian, Daniel dan Julian sudah masuk ke dalam mobil. Baru saat itulah Daniel memberanikan diri untuk bertanya.


“Siapa kakak ini?” tanya Daniel.’


“Dia rekanku.”


Daniel menatap Damian. Jawaban Damian masih belum bisa mengobati rasa penasaran Daniel.


Daniel ingin tahu lebih banyak.


“Kakak, saat kita sudah kembali ke rumah. Bisakah kamu menjawab pertanyaanku?”

__ADS_1


“Pertanyaan apa?”


“Identitasmu.”


Jawaban Daniel mengejutkan Damian. Damian mengalihkan pandangannya ke Daniel dengan ekspresi yang berbeda.


“Baik, aku akan memberitahumu ketika kita kembali.”


Hati Daniel langsung merasa senang. Ia akan bertanya banyak pada Julian dan akan menjadikannya pelatihnya untuk melatih ketangkasannya.


Namun senyum itu hanya bertahan tiga detik saja, karena pada detik berikutnya bunyi aneh langsung menembus telinganya.


Mereka bertiga langsung berbalik dan melihat ada lubang di kaca belakang.


“Seseorang mengejar kita. Kita harus cepat!” ucap Damian.


Daniel langsung mengulurkan tangannya untuk menundukkan kepala Damian.


“Mobil ini tidak dilengkapi dengan kaca anti peluru. Terus menunduk untuk melindungi kepalamu.”


Ada tiga mobil yang mengejar mereka.


“Sial!” Julian mengumpat.


Julian langsung mempercepat laju mobilnya. Tangannya yang satu langsung menyentuh earpodsnya.


“Lion King. Lion King.”


“Bicara.”


“Ada ekor yang mengikuti kita. Segera habisi.”


“Roger.”


Julian langsung menyetel mobilnya dengan auto pilot. Pria itu lalu mengambil pistolnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Julian saat setiap tindakannya selalu diawasi oleh Daniel.


“Kakak, kamu sangat keren.”


Ini sangat menegangkan dan mencekam.


Prang.


Julian akan melepaskan tembakan ketika peluru masuk dan memecahkan jendela mobil belakang mereka.


“Daniel!”


Daniel tanpa sadar memeluk Damian lebih erat. Akibatnya bahunya terkena pecahan kaca dan darah Daniel keluar.


Julian langsung membalas mereka dengan menembak kaca depan mobil mereka. Ia juga menembak ban depan mereka.


“Bisakah kamu memberikan senjatamu.”


“Kenapa?”


“Aku akan membantumu.”


“Baiklah.”


“Damian terus meringkuk dan patuhlah.”


“Baik.”


Dengan tangan Daniel yang memegang pistol, Daniel menyipitkan matanya. Ia berkonsentrasi penuh bidikannya.


Ban mobil mereka terbidik dan bertabrakan. Mobil itu meledak seketika dan terbalik.


“Lumayan juga.”


Daniel tersenyum atas pujian Julian.


“Apakah kita akan langsung pulang?” tanya Damian tiba-tiba.


“Aku rasa tidak.”


“Kenapa?” tanya Daniel dan DAmian serempak.


“Bahan bakar...”

__ADS_1


“Oh tidak.”


Bensin berceceran di jalanan. Tangki pengisian bahan bakar mobil mereka bocor,


__ADS_2