
Ruona memandang Johan dengan dingin.
“Aku sama sekali tidak menyukaimu. Kamu sebaiknya menghilang dari pandanganku dan jangan pernah muncul lagi.”
Kata-kata Ruona begitu kejam. Ia lantas membalikkan badan dan berjalan menuju mobilnya. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin.
Matanya menatap wajah Johan yang tampak murung dan lesu dari kaca spion.
“Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri yang terlalu jatuh cinta padaku.”
Saat Ruona akan melajukan mobilnya, suara tembakan tiba-tiba terdengar. Ia langsung melihat kaca spionnya dan melihat Johan sudah bersandar di tembok sambil memegang dadanya.
Tangannya tampak berlumuran darah.
Ruona langsung membulatkan matanya melihat kejadian yang mengerikan. Ruona langsung membuka pintu mobilnya dan berdiri tegang di samping mobilnya.
“Aaaaa.” Terdengar jeritan teredam dari Ruona.
Ia membungkam mulutnya sendiri tak percaya dengan apa yang ia lihat. Melihat Johan yang tergopoh-gopoh ke arahnya lalu berakhir dengan jatuh ke tanah. Tangan Johan terulur ke arahnya seakan meminta pertolongan namun Ruona bingung di tempatnya.
Ruona ingin melangkah namun ponselnya berdering. Dengan keadaan gelisah ia menelan salivanya sebelum menjawab telepon.
“Halo.”
“Ini aku. Johan mengetahui segalanya tentangmu. Jika ia menyerahkan diri dan ditangkap Gideon, itu bisa merusak rencanaku jadi aku menyingkirkannya.”
“Kak Kevin...”
Wajah Ruona langsung pucat. Matanya tiba-tiba melihat keadaan sekeliling. Pikirannya saat ini semakin kacau. Ia sangat ketakutan.
“Aku dengar kakek sibuk menyiapkan pernikahanmu dengan Gideon. Sebelum kakek menyerahkan wewenangnya, kamu harus cepat bertindak sesuai rencanaku.”
“Ya.” Ruona mencicit.
Ruona menjatuhkan ponselnya saat sambungan teleponnya terputus. Ia mengepalkan kedua tangannya di setir kemudi. Ia lantas menginjak pedal gas dan melesat dengan cepat.
.........
Mata yang semula terpejam kini membuka perlahan. Ketika penglihatannya mulai jelas, Liana melihat pria dan merasa terkejut.
Damian yang berada di pelukan Liana terbangun karena pergerakan Liana.
“Ayah, “ ucap Damian.
“Aku kangen kalian, “ ucap Gideon lantas membawa Damian ke dalam pelukannya dan ikut berbaring di sana.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Gideon.
“Ya.”
Suara gemuruh datang dari balik pintu. Pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Daniel.
“Damian, bisakah kamu membantuku?”
“Tidak.”
“Kenapa?” tanya Daniel sedikit cemberut.
“Aku tidak bisa membantumu.”
“Sebenarnya, ini hanya masalah kecil. Kamu bisa dengan mudah mengerjakannya.”
Damian menatap langit-langit rumah seakan sedang berpikir.
“Baiklah aku akan membantumu tapi kamu harus mentraktirku makan.”
__ADS_1
“Sepakat.”
Daniel lalu menuju ke arah Damian dan menyerahkan bukunya.
“Bantu aku mengerjakan soal matematika hehehe.”
Ketika Daniel tertawa polos, Liana seakan terhibur. Ia pun ikut tertawa. Dua pria kecilnya sangat menarik dan menggemaskan.
Sementara Gideon tertegun di tempatnya. Ia merasa gagal mengajari Daniel. Ia begitu malu dengan dirinya sendiri.
Saat Damian membuka buku Daniel. Ia merasa takjub dengan soal-soal di sana. Ia lantas mengambil pensil dari tangan Daniel. Melihat Damian dengan serius melihat bukunya, bibir Damian membuka.
“Aku paling benci matematika. Itu sama sekali tidak menarik.”
Daniel menggosok kepalanya. Setengah hari ia gunakan untuk menghitung dan rasanya kepalanya terasa sakit seakan terbelah.
“Itu karena kamu bodoh.” Damian menjawab dengan dingin.
“Aku tidak bodoh hanya sedikit lambat dengan matematika.”
“Selesai.”
“Kamu menghitungnya dengan cepat? Wow itu sangat luar biasa,” seru Daniel.
“Aku tidak sepertimu.”
Liana merasa terkejut dan ia memberikan pujian. “Damian, kamu sangat pintar.”
“Tentu saja, aku jauh lebih pintar dari kakak.”
“Ya, akui kamu sangat pintar.” Daniel mengangguk- angguk.
“Apakah kalian tidak lapar?” tanya Gideon sambil menarik Damian ke arahnya.
“Ya, aku sangat kelaparan. Damian, ayo kita pergi makan. Aku akan mentraktirmu.”
Gideon merasa terheran melihat tingkah mereka.
“Bagaimana kamu bisa melahirkan dua setan kecil itu. Yang satu dingin dan tampan tapi sebenarnya lucu. Yang satunya tampak lembut dan lucu tapi sebenarnya tsundere.”
Gideon langsung memeluk Liana. Liana mendengus geli. “Itu semua diturunkan dari sifatmu.”
Tatapan pria itu jatuh pada Liana yang berbaring di lengannya. Tatapannya semakin dalam dan sukses membuat Liana salah tingkah.
Gideon langsung mematuk bibir Liana. Liana menarik sedikit diri dan menatap pria itu kesal. Gideon merengut.
“Aku kangen kamu.”
Mata Gideon menyapu tubuh Liana yang masih ditutupi piyama. Saat tatapan pria itu semakin dalam. Gideon mengulurkan tangannya dan membuka kerahnya.
Liana segera menghentikan aksi Gideon. Ia berdehem. “Apa kamu tidak lapar? Sebaiknya kita makan.”
“Aku sangat lapar dan aku ingin segera makan.”
“Ayo.”
“Kamu makananku.”
Wajah Liana langsung merah padam.
“Gideon, jangan mesum di sini.”
“Aku tidak,” ucap Gideon menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana nanti kalau anak-anak datang ke sini?”
__ADS_1
“Tidak akan.”
“Kamu sangat yakin?” tanya Liana sambil memicingkan matanya.
“Aku sangat yakin.”
“Ah, aku tahu. Kamu sudah merencanakan ini dan memanfaatkan Daniel yang polos?”
Kecupan di ujung hidungnya membuat Liana terkejut.
“Kamu terlalu banyak berpikir.”
Liana mendengus pelan dan mendorong pelan Gideon. Gideon menariknya kembali dengan satu sentakan cepat dan menekannya ke ranjang.
Liana dengan mudah terjebak dalam kendali Gideon.
Menurunkan kepalanya, Gideon menekan dahinya dengan kepalanya. Dalam kedekatan ini, napas segar tercium sangat menyegarkan.
“Aku merindukanmu.”
Liana memalingkan wajahnya karena wajahnya merah padam. Ia sulit sekali menolak suara baritonnya yang sangat memabukkan.
“Apakah kamu merindukanku juga?”
“Tidak.”
“Bohong! Katakan yang sebenarnya. Apakah kamu merindukanku juga?”
Liana diambang dilema. Ia memberanikan diri untuk melihat wajah Gideon. Ia melihat matanya semakin gelap dan ia tidak berani lebih jauh bercanda dengannya.
“Ya.”
“Ya, apa?”
“Aku merindukanmu.”
Pria itu sangat puas dengan jawaban Liana. Ia tidak bisa menahan hasratnya lagi.
“Baiklah, ayo kita mandi bersama.”
“Gideon,” protes Liana.
“Apa?”
“Aku bisa mandi sendiri. Jadi...”
“Tidak! Aku merindukanmu dan aku ingin melakukan mandi bersamamu.”
Gideon tanpa komentar lagi langsung membawa Liana ke dalam kamar mandi. Liana sangat lelah berdebat dengan Gideon sehingga ia membiarkan pria itu membawanya ke bak mandi.
Karena percuma, meskipun Liana mengomel bahkan mengeluh. Gideon akan tetap dalam pendiriannya.
Bak mandinya begitu besar sehingga muat untuk berdua.
Liana duduk di sana sementara Gideon menyelinap masuk dan memeluk dari belakang di tengah kabut beruap aroma terapik dan juga lembutnya busa.
Dalam sesi mandi, Gideon memberikan kelembutan pada bibirnya dan sangat jelas bahwa Gideon menginginkan lebih.
Gideon melirik jari-jari Liana. Ia pun meletakkan telapak tangannya di bawah telapak tangan Liana dan membandingkannya.
Gideon tersenyum dan ia mengunci jari-jarinya. Memeluk Liana erat. Memeluknya seperti ini, jantungnya yang gelisah langsung tenang.
“Cinta...”
“Apa yang kamu katakan?” tanya Liana karena tidak begitu jelas mendengar apa yang Gideon katakan.
__ADS_1
“Tidak ada.”