
Gideon langsung berjalan menuju ke ruang makan dan menemukan dua jagoannya sudah duduk.
“Apa tidur kalian nyenyak?” tanya Gideon pada kedua putranya.
“Ayah, aku ingin ranjang bertingkat.”
“Kenapa? Aku lebih suka satu ranjang,” ucap Daniel.
“Tapi aku tidak suka.”
“Kenapa?”
“Kamu tertidur dengan mendengkur dan cara tidurmu sungguh-sungguh berantakan.”
“Ayah, apakah tidurku seperti itu?” tanya Daniel.
“Ya, terkadang.”
Daniel langsung merenggut. Damian menggaruk-garukan pelipisnya dan ia menatap ayahnya.
Gideon langsung menatap Damian.
“Apa? Apakah ada yang kamu inginkan lagi?” tanya Gideon.
“Ayah, dimana ibu?”
“Ibu akan sedikit terlambat jadi kita sarapan saja dulu.”
“Tidak! Kami akan menunggu ibu.”
“Baiklah.”
Setelah merenung sejenak, Damian tidak menahan diri untuk berkata, “Ayah, ada pertanyaan yang sudah lama aku tanyakan padamu.”
“Pertanyaan apa?”
Damian tertawa misterius, bocah itu mencondongkan tubuh ke depan sambil tersenyum. “Dari mana aku berasal?”
Gideon tiba-tiba bingung dengan pertanyaan.
Daniel mendesak ayahnya dan membantu Damian.
“Ayah, apakah pertanyaan ini sulit dijawab? Katakan pada kami! Katakan pada kami!”
Gideon menatap mereka berdua.
“Kalian keluar dari perut ibumu.”
Setelah mendengar jawaban ayahnya yang ambigu, Daniel maupun Damian tidak dapat memahaminya sepenuhnya. Mereka benar-benar tidak mengerti.
“Lalu bagaimana bisa kami masuk ke dalam perut ibu?” tanya Daniel.
Gideon langsung membeku. Ada keheningan sesaat.
“Kamu akan tahu ketika kamu dewasa."
"Apa?" tanya Damian.
“Ayah, aku sudah dewasa sekarang,” ucap Daniel.
“Katakan pada kami! Katakan pada kami! Bagaimana kami bisa masuk?” Daniel terus mengoceh.
Dengan alis melengkung, Gideon datang dengan jawaban misterius. “Karena aku menanam benih di perutnya.”
“Apakah kami berasal dari biji?” tanya Damian.
Ketika Liana berjalan ke ruang makan, ia menemukan kedua putranya mengganggu ayahnya. Melemparkan pertanyaan tanpa henti.
“Ayah, bagaimana kamu bisa menanamku dan Damian ke perut ibu?”
Pertanyaan itu langsung masuk ke telinga Liana begitu ia sampai di ruang makan. wajahnya langsung memerah karena malu.
Liana menatap pria itu.
“Kamu sudah pernah disuntik?”
“Ya, aku pernah.”
“Begitulah cara masuknya.”
Liana langsung terdiam dan ia diam-diam menggeser kursi untuk ia duduki.
“Apakah ayah menggunakan jarum suntik untuk menyuntikkan benih?” tanya Daniel.
“Lalu bagaimana aku dan Daniel keluar dari tubuh ibu?”
“Nak, bisakah kamu bertanya pertanyaan lain yang cocok dengan usia kalian?”
__ADS_1
Liana langsung berdehem.
“Ibu sudah bangun.”
Senyum hangat mencerahkan wajahnya. "Ya, apakah kalian lama menunggu ibu?”
“Tidak juga.”
“Ibu, kami memiliki pertanyaan tapi ayah tidak bisa menjawabnya.”
“Ayah sudah menjawabnya namun kamu kurang tanggap dalam menangkapnya.”
“Itu karena penjelasan ayah yang kurang. Jadi jangan salahkan kami,” ucap Damian.
“Ibu bagaimana bisa kami—“
Liana langsung mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada di depannya.
“Wah, sepertinya enak. Ayo kita sarapan.”
Liana langsung mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa lauk dan nasi.
“Ibu, aku ingin duduk di samping ibu.” Damian berkata dengan tingkah yang lucu.
Liana langsung menepuk tempat duduk yang ada di sampingnya, “Duduklah di sini.”
Damian dengan segera duduk di samping Liana. Daniel yang melihatnya juga ingin duduk di samping ibunya.
Bocah kecil itu lantas menatap ayahnya.
Gideon yang ditatap langsung memberikan reaksinya. “Kamu duduk di sana saja.”
“Ayah!” Daniel merengek.
“Ibu, ayah tidak ingin mengalah.” Daniel kembali merengek pada ibunya.
“Mengalahlah pada anakmu.”
“Tapi—“
Liana langsung menatap Gideon dan pria itu langsung tidak bisa berkutik.
“Baiklah, kamu bisa duduk di samping ibumu dan ayah tidak bisa duduk di samping istri ayah karena dirimu.”
Liana langsung menggelengkan kepalanya melihat Gideon yang juga ikut merajuk.
Mereka makan dengan harmonis.
“Bagaimana rasanya?” tanya Liana.
“Enak bu.”
Damian yang ada di samping Liana langsung menatapnya dan Liana langsung menoleh ke arah Damian.
Damian langsung mendaratkan ciuman di pipi Liana. Damian terlihat bahagia makan bersama ibunya.
Daniel juga tak mau kalah, Daniel juga melihat ibunya dengan penuh dengan cinta. Liana langsung menoleh ke arah Daniel.
“Ada apa?” tanya Liana.
Daniel tersenyum dan ikut mendaratkan ciuman di pipi Liana.
Gideon yang melihat tingkah mereka tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
“Ibu.”
“Ya.”
“Bagaimana bayi dibuat?” tanya Daniel.
“Kenapa bertanya? Menurutmu bagaimana?”
Daniel langsung terdiam dan berpikir keras.
“Benih ibu dan ayah bersatu,” ucap Damian.
Liana langsung menoleh ke arah Damian
“Bagaimana bisa kamu mempelajarinya?”
“Itu ayah yang mengajarinya.”
“Kamu benar sekali.”
“Aku kira ayah Cuma bercanda,” ucap Daniel. “Ternyata itu benar,” lanjutnya.
“Apa yang harus dilakukan agar punya benih seperti ayah yang kuat dan sehat untuk bisa masuk?” tanya Daniel.
__ADS_1
Liana mengerjapkan matanya lalu memandang Gideon sekilas.
“Coba ibu pikirkan, makan sehat dan olahraga.”
“Daniel apa kamu ingin punya adik?” Tanya Gideon.
“Aku sudah mempunyai adik, yaitu Damian tapi jika aku mempunyai adik lagi. Aku akan bertambah bahagia dan menyenangkan.”
Gideon menganggukkan kepalanya lantas bertanya pada putranya yang satunya.
“Damian, apa kamu ingin mempunyai adik?”
“Adik?”
“Ya.”
“Entahlah tapi aku rasa punya adik bukan sesuatu yang buru.”
“Benarkah?”
“Ayah, butuh berapa lama untuk mendapatkan adik?” tanya Daniel.
“Bayi perlu waktu sekitar sembilan bulan untuk tumbuh di dalam perut.”
Daniel dan Damian langsung terkejut.
“Sembilan bulan? Ibu. Apakah aku dan Damian juga berada di perut ibu selama sembilan bulan?”
“Selama itu juga kalian berada di perut ibu.”
Damian dan Daniel mendapatkan cercahan dari Liana. Liana mendengus kemudian tersenyum.
Liana meminta anak-anaknya melanjutkan makanannya.
Liana yang menyuapkan makanannya tiba-tiba tersentak. Saat kaki Gideon bermain-main dengan kakinya di bawah meja.
Liana langsung mendongak dan menatap ke arah Gideon.
“Sebuah kode”
Liana melemparkan tatapan tajam yang dibalas Gideon dengan seringaikan.
...♡♡♡...
Usai membawa tidur anak-anak mereka, Liana dan Gideon juga berniat tidur. Mereka memosisikan diri di ranjang agar tidur mereka nyenyak tapi di antara mereka belum ada yang menutup mata.
“Kamu belum tidur?” tanya Gideon.
“Belum, kamu juga kenapa belum tidur?”
“Karena aku ingin memandangi wajah cantikmu.”
Liana mendengus lalu ia kembali menatap langit-langit.
“Anak-anak akan semakin besar dan kita akan semakin tua. Aku merasakan kita harus memperbanyak quality time untuk keluarga, terutama dirimu.”
Gideon tersenyum.
“Akan kuusahakan untuk keluarga kita.”
Liana mengubah posisinya miring menghadap Gideon. Gideon mengelus wajah Liana.
“Kita tidak tahu tentang sisa waktu kehidupan kita tapi yang jelas aku sangat tidak ingin berpisah dengan kalian.”
“Waktu kita masih panjang jadi tolong jangan bicarakan tentang waktu.”
Liana tersenyum.
“Kamu sangat cantik. Aku beruntung memilikimu. Kamu istri dan ibu terbaik untuk kami. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu tanpa batas waktu.”
Liana tersenyum haru kemudian memeluk Gideon. Pria itu juga membalas pelukan Liana.
“Aku mencintaimu.”
Liana semakin terisak.
“You are the best my lovely and supermom.”
Mereka adalah pasangan yang sempurna begitu pun dengan keluarga kecil mereka.
...~Tamat~
...
Terima kasih banyak para readers yang masih setia dengan cerita ini sampai akhir.
Damian dan Daniel Cross mengucapkan banyak2 terima kasih.
__ADS_1
Jangan lupa intip karya yang lainnya yaaaaaaaa.....