Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
60. Acara Televisi


__ADS_3

Saat langit sudah gelap. Suasana sangat tenang. Angin yang ringan bertiup dengan sangat lembut.


Daniel berjinjit membuka pintu kamar. Bocah kecil itu menjulurkan kepalanya untuk melihat keadaan sekitar. Ia melihat dan mendengar dengan saksama sebelum ia menoleh ke arah saudaranya.


Damian berdiri di dekat jendela.


“Aman. Ayah dan ibu sudah tidur.”


“Kunci pintunya.”


“Ya.”


Daniel langsung menutup pintu kamar mereka dan menguncinya lalu Daniel berjalan ke arah Damian.


Damian membuka jendela kamarnya. Kedua bocah kecil itu menyelinap dari vila melalui balkon dan menuju halaman belakang.


Di pintu masuk vila, sekretaris Anji menunggu mereka.


“Apakah ini aman?”


“Ya.”


“Bagaimana jika ayah tahu?”


“Mungkin kita akan dimarahi.”


“Aku sangat suka suasana seperti ini. Sangat menegangkan,” ucap Daniel.


Saat mereka tepat di samping sebuah mobil hitam. Damian langsung membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang bersama Daniel.


“Apakah paman ini orangmu?”


“Ya.”


Daniel mengangguk dan kagum dengan saudaranya.


“Tuan Kecil, kemana kita akan pergi?”


Bos kecilnya dengan santai bersandar di kursi dengan tangan terlipat di dadanya.


“Ke Raja Bar.”


“Untuk apa kita ke sana?”


“Kamu hanya bertugas mengemudi.”


Daniel di sampingnya dengan dingin terkekeh.


“Paman, kita tidak mempunyai banyak waktu.”


Sudut bibir sekretaris Anji berkedut dan ia segera menginjak pedal gas dan mobil melaju dengan kecepatan rata-rata.


Sampai ke tempat tujuan, sekretaris Anji merasa terkejut, bingung dan ketakutan. Dia merasa terkejut karena ia tiba di sebuah bar yang sangat terkenal.


Dia merasa bingung saat Damian dan Daniel membuka pintunya dan turun. Dan dia merasa takut saat mereka disambut oleh tatapan sadis preman.


“Tuan kecil, kamu mau kemana?”


“Tunggu di mobil. Jangan ikuti kami,” perintah Damian.


Si kembar berjalan mendekat. Saat Dewa melihat keduanya, pria itu menyambut mereka dengan senyum.


“Tuan kecil, kamu di sini.”


“Mengapa ada banyak orang?” bisik Daniel.


“Mereka adalah orangku. Jangan khawatir.”


Damian tanpa ekspresi membuka dompetnya. Damian bukanlah anak yang sederhana. Damian membawa uang banyak untuk dirinya sendiri.


Ia tahu bahwa uang dapat membeli segalanya bahkan kekuatan.


“Apakah kamu mengeluh karena ini terlalu banyak?”

__ADS_1


“Tidak! Tidak sama sekali.”


Damian menulis beberapa nominal di dalam cek yang ia bawa dari rumah.


“Mengapa cek itu tidak ditandatangani?”


“Setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu. Kami akan segera melakukan transaksi.”


“Baik, apa yang harus kami lakukan?”


...♡♡♡...


Sedan hitam melaju di sepanjang jalan. Saat Dewa menyetir, matanya terus melirik kaca spion.


Damian duduk di kursi penumpang, sementara Daniel duduk di kursi belakang dan di sampingnya adalah Inge yang tak sadarkan diri tergeletak di sana.


Wanita itu berbaring lemah di kursi dengan tangan dan kakinya diikat dengan tali, mata dan mulutnya ditutupi dengan kain.


Penjahat itu sangat terkejut karena anak seusia Damian dan Daniel berani menculik seseorang.


“Apakah masalah ini tidak akan menyeret polisi?”


“Apa yang kamu takutkan? Bagaimana kamu bisa menjadi gangster?”


Dewa langsung terdiam.


“Jangan khawatir, aku akan melindungimu.”


Dewa diam-diam dikejutkan oleh aura pangeran yang ia deteksi dari kata-kata Damian.


Duduk di belakang, Daniel berubah menjadi fans Damian. Ia suka Damian dengan gayanya yang mirip dengan ayahnya.


Sementara Damian, bocah itu berbalik untuk melihat wanita yang tak sadarkan diri itu dan mendengus. Damian tidak suka penganggu yang mengganggu ibunya.


Mobil itu dengan cepat mencapai jalan ke arah timur dimana sebuah peternakan berada.


Setelah mereka turun, Inge dibawa ke kandang babi dan langsung dilemparkannya ke sana dengan kasar.


Inge masih dalam pengaruh alkohol dan belum sepenuhnya sadar.


Daniel dengan tegas berkata, “Menjijikkan.”


“Berkat dia, ibu kita memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya. Hari ini, biar babi yang melakukannya padanya.”


“Tangan kita akan kotor jika melakukannya sendiri,” ucap Daniel.


Selama beberapa hari kemudian, berita tentang seorang wanita yang ditemukan di kandang babi menjadi heboh dan menjadi headline.


Apalagi diketahui wanita itu adalah dari keluarga terpandang.


Damian dan Daniel tertawa cekikikan sambil mengunyah camilan buah yang disiapkan oleh Liana.


“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Liana saat berjalan menuju ke arah mereka.


“Tidak ada,” ucap Damian.


Liana menatap Damian dan Daniel dengan curiga.


“Kami hanya melihat televisi dan acaranya lucu sekali,” ucap Daniel.


“Baiklah, waktu menonton televisi sudah habis. Kalian harus pergi les sekarang.”


“Bu, tidak bisakah kami bolos sekali saja.”


“Tidak ada.”


“Bu, ayolah.” Daniel merengek.


Liana menggeleng dengan tegas.


Sore harinya, Liana hanya sendiri di rumah. Setelah memberi makan kucingnya. Liana beres-beres rumah dan berakhir meringkuk di sofa dengan televisi dinyalakan.


Tidak ada kegiatan lagi selain melihat acara drama yang disukainya.

__ADS_1


Liana mempunyai hati yang hangat dan gampang tersentuh dengan kejadian-kejadian yang menyentuh.


Ia seolah terhanyut oleh drama yang ia lihat dan berakhir menangis karena terbawa suasana.


“Kasihan sekali dia. Dasar pria itu jahat sekali.” Liana mendumel.


“Siapa yang jahat?”


“....”


Liana terkejut saat mendengar suara Gideon. Wanita itu langsung menoleh dan di sampingnya sudah ada Gideon.


Liana langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


“Kapan kamu pulang?” tanya Liana.


“Baru saja,” ucap Gideon lalu memberikan bungkusan yang ia beli dari luar.


“Apa ini?” tanya Liana.


Liana langsung membukanya dan melihat martabak manis. Liana langsung tersenyum dan melihat ke arah Gideon.


“Ada apa?”


“Kamu benar-benar manis,” ucap Liana dan Gideon mengambil satu suap martabak manis dan menyuapkannya pada Liana.


“Hm ini enak.”


Gideon mengabaikannya dan terus memberinya makan.


“Bagaimana bisa kamu tahu bahwa aku sangat ingin makan martabak?”


“Kontak batin.”


Liana mencibir lalu teringat bahwa si kembar belum pulang dari lesnya.


Tak berapa lama, Damian mendorong pintu hingga terbuka dan melihat ayahnya menyuapkan makanan.


Damian langsung tersenyum. Syarat mutlak menjadi ayahnya adalah menjadi lembut, pengertian, kuat, kaya dan menjadi budak cinta istrinya.


“Ibu!”


Daniel yang berada di belakang Damian sebelumnya langsung berlari ke sisi Liana diikuti oleh Damian yang tak ingin kalah.


Si kembar tergantung pada masing-masing lengan Liana. Mereka seperti koala.


Gideon yang melihatnya merasa terasingkan dan tidak tahu harus berkata apa.


“Ibu...”


Damian mendongak ketika memanggil nama Liana dan berhenti berbicara ketika melihat wajah Liana. Ia menangkap sesuatu yang tidak beres.


Damian menyentuh wajah Liana tanpa berkedip.


Melihat putranya menatapnya tanpa henti, Liana mengerjapkan matanya.


“Sayang ada apa? Kenapa kamu menatap ibu seperti itu?”


“Bu, mengapa matamu bengkak? Bu, apakah ayah menggertakmu?”


Gideon yang kebetulan di belakang Damian merasa terkejut dengan prasangka putranya.


Liana terkekeh tidak mengangguk dan tidak menggelengkan kepalanya. Sementara Gideon melotot karena Liana tidak membelanya.


Damian langsung menyilangkan kepalanya menoleh sebentar ke arah ayahnya lalu beralih kembali menatap ibunya.


“Bu, katakan padaku jika ayah menyakitimu. Jika dia melakukannya, aku tidak akan membiarkannya pergi.”


“Sayang, ayah tidak menggertak ibu. Ibu hanya menonton tv dan ibu terlalu hanyut dalam cerita drama itu.”


Damian langsung menembak tajam ke arah ayahnya. Dan Gideon merasa diserang oleh anaknya sendiri.


“Berarti aku harus menghancurkan televisinya,” ucap Damian. “Daniel, hancurkan televisinya yang berani membuat ibu menangis,” tambah Damian dengan santai.

__ADS_1


“Damian!”


“Aku hanya bercanda bu.”


__ADS_2