
Jinan mempunyai banyak pikiran berkeliaran di otaknya. Ia melihat Liana dengan serius. Sejak pertemuan awal ia ingin memperjuangkan wanita itu.
Ia adalah pria dengan tipe yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Namun setelah melihat siapa pemilik Liana, ia berpikir bahwa itu akan mustahil dan tidak yakin.
Karena Liana adalah milik Gideon, ia tidak memiliki keberanian.
“Bagaimana bisa aku melawannya?”
Jinan tidak tahu banyak mengenai Gideon, tapi ia tahu bahwa keluarga Cross sangat kuat dan berpengaruh.
“Orang itu adalah sosok yang kuat. Lupakan! Aku akan menunggunya. Orang kaya biasanya tidak mempunyai komitmen dengan satu wanita.”
“Ayo pulang. Ini sudah malam,” ucap Gideon.
Liana hanya mengangguk. Semua orang melihat Liana dengan tatapan iri.
Gideon melangkah pergi sambil memegang tangan Liana.
Setelah kepergian mereka, Lili berbalik dan mendapatkan anggota staf mendatanginya. Lili melihat tagihan itu dan matanya langsung membulat terkejut.
Penglihatannya mulai kabur, kepalanya tiba-tiba pening. Kakinya seperti jeli dan ia jatuh ke lantai.
Di sisi lain Jinan memperkenalkan Suah pada pamannya. Saat itu pamannya merasa senang karena melihat keponakannya mempunyai pacar.
Namun karena sudah mengenal Jinan begitu lama, ia dapat melihatnya hanya sekilas dalam matanya.
Pamannya sedikit mencondongkan tubuhnya dan sedikit berbisik. “Aku hanya memperingatkanmu, jangan menyentuh siapa pun yang menjadi milik Presdir Gideon. Apakah kamu mengerti?”
Matanya tampak serius.
“Aku tahu,” jawab Jinan meskipun dalam hatinya ia mengatakan sebaliknya.
Aku akan menunggu saat dia bosan dengan Liana Tidak mungkin bagiku untuk tidak mengejar wanita yang aku sukai. Tentu saja, paman tidak boleh mengetahuinya.
.........
“Aku sangat lelah.”
Setelah sampai di rumah, Liana menendang hak sepatu tingginya. Ia lantas melemparkan tasnya ke samping dan melemparkan dirinya sendiri ke sofa.
Gideon menutup pintu dan berjalan ke sofa. Liana bersembunyi ke lengan Gideon dan melingkarkan tangannya di pinggang Gideon tepat saat Gideon duduk. Liana mengubur wajahnya di pelukan Gideon yang hangat.
Di tempat lain, si kembar saling memandang dengan wajah terkejut saat mendengar pintu terbuka.
“Apakah ibu sudah kembali?”
“Ayo kita lihat!”
Dua pria kecil itu membuka kamar dan berlari kecil ke ruang tamu. Daniel yang sampai tujuan langsung melihat orang tua mereka yang meringkuk di sofa.
Dengan pintar, ia berbalik dan membawa adiknya untuk kembali ke kamar.
Damian melihat sesuatu yang aneh, namun sebelum ia bisa menyadarinya. Daniel sudah membawanya pergi.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Ayah dan ibu sedang tidak ingin diganggu.”
__ADS_1
Wajah Damian mengatakannya dengan berseri-seri.
“Aku ingin ke sana.”
Damian menahannya. Cemberut, Damian tidak bisa melakukan apa pun.
.........
Liana yang awalnya memejamkan mata langsung membuka matanya dan menatap Gideon. Jarinya dengan lembut menusuk dada pria itu.
“Apakah pertemuan reuni tadi membosankan?”
Gideon berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tidak.”
“Aku sempat khawatir jika kamu bosan.”
“Bukankah itu menyenangkan? Teman-temamu itu menarik.”
Liana terdiam sejenak dan seolah berpikir. Melihat ekspresi Liana, Gideon langsung bertanya.
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Aku berpikir, apakah Lili tadi menjelekkanku saat aku pergi?”
Liana menatapnya lekat-lekat, tidak melepaskan sedikit melepaskan sedikit pun perubahan ekspresinya.
Gideon menggumamkan sesuatu dengan suara rendah.
“Ya.”
“Apakah dia mengatakan bahwa aku pernah menjadi simpanan?”
“Apakah kamu percaya padanya?"
“Bagaimana menurutmu?”
“Aku pikir kamu tidak akan percaya itu.”
“Itu hanya rumor. Hanya orang bodoh yang akan mempercayainya.”
Liana menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. “Ya, kamu benar.”
Gideon langsung menyambar bibir Liana. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Gideon memegang pipi Liana dan terus menciumnya.
Liana mengaitkan lengannya di bahu Gideon dan membalasnya. Keduanya tenggelam dalam romansa indah.
Satu ciuman saja tidak cukup untuk Gideon. Gideon menginginkan lebih. Tubuhnya yang keras menjelaskan semuanya. Ia melepaskan tautan bibir mereka, sedikit terengah ketika menstabilkan napas mereka.
“Liana.”
Mata Liana melebar, ia langsung menarik tangannya saat tangannya dipaksa menempel di tengah tubuh Gideon.
“Jangan di sini.”
“Kenapa?” tangan Gideon sibuk naik turun di sekitar punggung Liana.
“Nanti ada yang melihat.”
__ADS_1
“Tidak akan ada yang melihat, kita ada di rumah. Rumah kita. Rumah pribadi bukan di rumah orang lain.”
Suara Gideon terdengar kasar dan mendesak.
“Bagaimana jika anak-anak terbangun dan melihat kita melakukannya di sini?"
Gideon langsung menggendong Liana.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Jika itu yang kamu takutkan mari kita melakukannya di dalam kamar.”
Liana di dudukan di atas ranjang. Gideon duduk di bawahnya sambil memandangnya dengan tersenyum.
Tangan Gideon terulur untuk menyentuh tangan Liana. Ia mengusap tangan itu. Ia mengusap jari-jarinya dan menatap kepalan di telapak tangannya.
Sepuluh jari Liana ramping. Ujung jarinya di tutupi kapalan. Punggung tangannya juga terlihat pembuluh darah di sana yang menonjol.
Selama ini Gideon tidak menyadarinya.
Liana membelalakkan matanya saat Gideon tertarik pada tangannya. Tangannya tidak terlalu cantik dan tidak seperti tangan wanita pada umumnya yang lembut dan lentik.
Ada saat dimana ia merasa malu karena tangannya seperti tangan pria.
Tatapannya mulai membuat Liana merasa canggung. Ia mencoba menarik tangannya namun Gideon menariknya dan memegangnya dengan erat.
“Mengapa kamu menatap tanganku?”
Gideon terkekeh seolah menggoda Liana. “Tanganmu jelek. Seperti tangan pria.”
Wajah Liana berubah cemberut. “Aku tahu tanganku jelek jadi berhenti menatapnya.”
Gideon lantas tersenyum. “Tapi saat melihat mereka lagi. Tanganmu cantik.”
“Kamu mengkritik tanganku dan sekarang memuji tanganku.”
“Mengapa banyak kepalan? Dan pembuluh darahnya juga terlihat.”
Liana lantas menarik tangannya dan dengan perasaan bangga ia menunjukkan tangannya.
“Ini adalah bukti kerja kerasku. Kamu dilahirkan dengan sendok emas. Bagaimana bisa kamu paham dengan keadaan orang-orang miskin. untuk seseorang yang terbiasa makan enak, bagaimana mungkin bagimu untuk membayangkan bahwa ada orang di dunia ini yang harus kerja kasar dengan imbalan sesuap nasi. Kita hidup di dunia yang berbeda sejak lahir.”
“Itu sebabnya aku bertemu denganmu atas izin Tuhan.”
Liana tertegun.
“Tuhan berpikir kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dan memberikan takdir agar kamu bertemu denganku. Tuhan berpikir ini saatnya untuk memanjakanmu jadi membiarkanmu bertemu denganku. Tuhan juga berpikir selama ini hidupku terlalu nyaman jadi Dia membiarkanku bertemu denganmu agar kamu mengangguku setiap hari.”
Liana langsung tertawa.
“Apakah kamu sedang membujuk seorang anak sekarang?”
“Ya bukankah kamu seorang anak?”
“Tentu saja tidak! Bagaimana seorang anak bisa melahirkan anak-anak? Aku sudah menjadi ibu dari dua anak.”
“Tetap saja di mataku, kamu seorang anak kecil."
__ADS_1
Gideon langsung mencium bibir Liana dan membaringkan wanita itu. Tangannya berkelana dan menggoda.
Desah halus Liana membelai telinga Gideon.