
Saat ini mereka sedang menikmati hidangan yang disajikan. Lili menarik anak rambutnya dan disematkan ke telinganya.
Kilauan berlian bertabrakan dengan lampu yang ada di atasnya sehingga menimbulkan kilauan yang luar biasa.
“Astaga, cincinmu sangat indah sekali.”
“Terima kasih,” ucap Lili
.
“Itu pasti sangat mahal.”
“Tidak, ini tidak mahal.”
“Wah, aku pasti sangat bahagia jika memiliki itu.”
“Itu sebabnya menikah dengan lelaki yang mapan itu adalah impian bagi setiap wanita,” ucap Lili sambil melirik Liana.
Lili kembali mengatakan, “Cincin dan gaun pengantin adalah impian bagi semua wanita. Aku sangat beruntung tidak seperti orang di luar sana yang menggunakan kata sederhana hanya untuk menutupi bahwa mereka tidak mampu.”
Kata-kata itu jelas ditunjukkan pada Liana.
“Liana, apakah saat kamu menikah kamu juga memakai gaun pengantin?”
“Dia bilang pernikahannya sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat saja, bagaimana ia bisa memakai gaun pengantin?”
Liana hanya diam dan menikmati makanannya, kenyataannya memang begitu. Tidak ada pesta yang meriah, bahkan pernikahan mereka disembunyikan oleh khalayak.
“Kenapa dia tidak bisa? Dia bisa menyewanya.”
“Pacarnya hanya karyawan biasa.”
“Apa salahnya menjadi karyawan biasa?” Suah tidak terima Liana dipermalukan.
Liana menatap Gideon sejenak, jelas sekali pria itu akan meledak sesaat.
“Berhentilah berdebat dengan urusan orang lain. Ini acara reuni.”
Liana menyesap minumannya perlahan, nyaris tersedak saat tiba-tiba Lili dengan heboh menyapa pacarnya.
Lili langsung memeluk lengan pacarnya dan memperkenalkan pada semua orang.
“Ini pacarku, ah bukan haruskah aku menyebutnya dengan calon suamiku, Sam. Kami akan segera menikah. Kami akan mengundang kalian semua ke acara pernikahan kami.”
Lili sengaja pamer. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sam. Teman-teman Lili langsung bersorak.
Liana menaikkan alis dan melirik Sam. Penampilannya sanggat rapi.
“Lihatlah, Lili menggunakan reuni kelas untuk ajang pamer pacarnya yang kaya,” ucap Suah berbisik dengan Liana.
“Jangan membuat keributan. Biarkan dia bersenang-senang.”
Saat Sam duduk, pria itu langsung membuka bungkus rokok dan membagikannya pada pria yang lainnya.
Saat rokok itu tiba di depan Gideon. Pria itu dengan wajah dingin tidak menyentuhnya. Bahkan Gideon tidak meliriknya sama sekali.
“Kenapa? Kenapa tidak mengambilnya?” tanya Sam.
Gideon mengangkat pandangannya dan menatap Sam dengan acuh tak acuh. “Aku tidak merokok.”
“Bagaimana seorang pria tidak merokok?”
“Liana tidak suka aku merokok, jadi aku tidak merokok.”
Sam tertawa. “Rupanya kamu tipe pria takut wanita. Lelaki harus sedikit keras.”
“Aku hanya takut kehilangan dia.”
Kerumunan langsung terperangah apalagi para wanita. Hati mereka langsung meleleh.
“Ngomong-ngomong, apa yang kamu sukai dari Liana?”
“Dia sangat cantik,” ucap Gideon sambil memandang wajah Liana yang membuat pipi wanita itu bersemu merah karena malu.
“Suamimu memang pria yang baik. Aku sangat iri,” ucap Lia.
“Pria baik apa? Apakah seperti ini pria yang baik? Seorang pria yang baik pertama-tama harus memiliki kemampuan menghidupi keluarganya. Membiarkan wanita itu makan enak dan berpakaian dengan baik,” ucap Sam.
“Sam sudah cukup! Kalian belum berkenalan kan. Dia adalah suami Liana. Ia bekerja sebagai karyawan perusahaan.”
__ADS_1
“Karyawan?”
Sam tertawa, wajahnya penuh penghinaan. Mereka tidak tahu karyawan yang disebut di sini adalah bos besar konglomerat. Seorang presdir juga seorang karyawan sebuah perusahaan.
Lili bertukar pandang dengan Sam. Ada sebuah kode di sana dan Sam langsung mengerti.
“Kamu bekerja dimana?” tanya Sam.
“CGI.”
“CGI?”
“CGI sangat menghargai bakat, mereka yang masuk di perusahaan itu adalah orang-orang terpilih.”
Lili langsung menyikut siku Sam.
“Aku sangat mengenal presdir CGI. Aku beberapa kali melihatnya. Lain kali jika aku bertemu, aku akan merekomendasikan dirimu.”
Liana langsung terkejut mendengar itu. Ia menatap Gideon dan berbisik.
“Apakah dia benar-benar melihatmu sebelumnya?”
“Tidak! Aku tidak kenal dia. Aku bahkan tidak ingat pernah melihat orang ini.”
Cara bicara Sam seakan-akan akrab dengan Presdir CGI. Padahal Presdri CGI duduk di depannya dan dia tidak mengenalnya.
Sam hanya membual.
“Kamu pernah bertemu dengan Presdir CGI?” tanya Suah.
“Ya, kamu beberapa kali bertemu dan sering bermain golf.”
“Ah, kalau tidak salah nama Presdir CGI adalah Gideon kan?” Suah mencoba memancing.
Sam mengangguk dengan sombong. “Ya, aku memiliki hubungan yang baik dengannya.
Gideon merengut.
“Liana.”
“Ya.”
Liana lantas menatap Gideon dan kembali menatap Lili.
“Apa yang kamu maksud?”
“Saat dia masuk ke sini, dia bertindak sangat tinggi dan kuat. Dia mengabaikan kami saat kami berbicata dengannya.”
Liana hanya tertawa, “Dia memang mempunyai sifat seperti itu.”
“Liana, selain wajah tampan. Dia tidak punya apa-apa. Apa gunanya mempunyai wajah yang tampan. Bisakah dia memberi makan keluarga. Lihatlah kamu makan dengan lahap! Apakah di rumah kamu tidak dikasih makan?”
Liana langsung tersedak. Gideon yang di sampingnya langsung khawatir. Ia langsung menyodorkan air minum pada Liana.
“Apakah kamu sudah selesai?”
Gideon mengangkat matanya yang dingin. Suaranya yang dingin mengisyaratkan kesombongan.
“Kamu ingin aku membungkuk dan berterima kasih pada pacarmu kan?”
Tatapan dingin mendarat tepat di wajah Sam.
“Hei ada apa dengan kalian? Ini adalah acara reuni. Jarang sekali orang dapat berkumpul,” ucap Jinan.
“Jarang sekali Liana ikut bergabung dengan reuni kelas. Kamu jangan menakutinya,” ucap Suah.
“Makanan di sini sangat enak,” ucap Lia.
“Pesan makanan yang kalian inginkan. Jangan lihat harganya,” ucap Lili.
“Wah apa tidak apa-apa kamu menghabiskan uang untuk kami.”
“Kita jarang sekali berkumpul jadi seharusnya aku menghabiskan banyak uang.”
“Hore.”
Gideon mengambil buku menu dan membalik-balikan halaman. Senyum dalam melintas di mata Gideon.
Gideon memesan makanan paling mahal. Saat makanan itu disajikan, Sam tidak bisa lagi tertawa. Wajah Sam langsung berubah pucat.
__ADS_1
Itu sangat mahal.
Saat melihat makanan yang dipesan oleh Gideon. Lili juga ikut memesan. Sam langsung menatap Lili dengan mengerikan.
“Ada apa denganmu?” tanya Lili.
Gideon langsung tersenyum samar melihat ekspresi Sam. “Aku memesan itu karena kamu mengatakan bahwa kita bisa memesan apa pun.”
“Ya...ya itu yang aku katakan.”
Sam langsung berbisik pada Lili.
“Jangan memesan lagi.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu berapa harga menu yang dipesan pria itu?”
“Berapa?”
“Rp. 37. 240.000.”
“Apa?”
Lili terkejut sehingga ia menyeru sampai orang lain terkejut.
“Lili ada apa?”
“Tidak ada.”
Gideon kembali memesan minuman red wine.
“Ambilkan aku wine Krug.”
Anggur Krug 1928 menjadi salah satu wine terbaik, terenak dan termahal di dunia. Untuk mendapatkan wine yang satu ini setidaknya harus membayar Rp. 295 juta.
Sam kembali keringat dingin. Di kepalanya ia berpikir apakah ia tabungannya akan mencukupi. Ia kembali melihat Lili dan membicarakan harga wine tersebut.
Saat pelayan membuka wine itu, jantung Sam berdebar-debar. Ia tidak tahu apakah ia mampu membayar botol wine itu bahkan jika ia menjual semua asetnya. Sam jelas sangat marah.
“Apakah dia sengaja melakukannya?”
Gideon tidak memedulikan Sam. Ia fokus pada Liana.
“Cobalah ini.”
Gideon menyodorkan craftsteak’s wagyu ribeye steak.
Liana langsung membuka mulutnya. Begitu daging itu masuk ke dalam mulut Liana. Wanita itu langsung bersorak dalam hati.
“Hem. Ini sangat lembut sekali.”
“Minumlah ini.”
Gideon menyodorkan segelas wine. Liana langsung menolak.
“Aku tidak minum, semua wine rasanya sama.”
Lili sangat marah. “Bagaimana bisa rasanya sama. Sebotol ini harganyan 295 juta.”
“295 juta.”
Semua langsung tercengang.
“Liana, suamimu sangat tidak sopan. Meskipun kami meminta untuk memesan apa pun yang ada di sini setidaknya kalian harus tahu malu. Bagaimana bisa kalian memesan makanan dan minuman paling mahal di sini?”
“Apakah 295 juta sangat mahal bagimu?” tanya Suah.
“Apakah kamu bisa membayar uang sebanyak itu hanya untuk red wine?”
“Aku tidak tahu bahwa Sam tidak mampu membayar itu?”
Liana langsung memandang wajah Gideon dengan cemberut sementara Gideon memasang senyum tipis.
“Apakah aku tidak mampu untuk membayar? Apakah kamu pikir aku sepertimu? Tidak ada alasan aku tidak bisa membayar?”
Suah terkekeh. “Maka dari itu, bisakah kamu memberitahu pacarmu jika masalah ini jangan dibesarkan.”
Lili mengatur napasnya yang naik turun. Secara alami mereka saling mengobrol dan Sam sesekali bergabung dalam pembicaraan.
__ADS_1
Liana tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Ia sibuk mencicipi makanan.