Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
18. Ayah dan Anak


__ADS_3

Damian langsung bergegas saat pintu diketuk dari luar. Senyumnya mengembang tatkala ia membuka pintu. Namun detik berikutnya senyum itu menghilang.


“Dimana ibumu?”


“Ibu tidak ada di rumah.”


“Jika ibumu pulang, suruh ibumu datang ke rumah.”


“Untuk apa?” tanya Damian.


“Saat ini Luna berada di rumah sakit. Kakek tidak ingin melakukan ini tapi kakek tidak punya pilihan selain meminta bantuan ibumu.”


“Ibuku tidak bisa membantu kalian.”


“Damian, kamu anak kecil. Dimana sopan santunmu sebagai cucu,” ucap Susi.


“Apakah kamu menganggapku sebagai cucu? Apakah kamu menganggap ibuku sebagai putrimu? Ku rasa tidak.”


“Beraninya kamu. Selama ini siapa yang membesarkan ibumu?”


“Pergi dari sini.”


“Damian.”


“Pergi.”


Damian berteriak dan menutup pintunya. Bocah kecil itu duduk di sofa dan tiba-tiba merasakan bahwa dadanya terasa sakit.


“Ibu.”


Keringat dingin muncul di dahinya. Rasa sakit membuatnya jatuh ke sofa. Ia berusaha untuk menjangkau ponselnya untuk memanggil Liana.


Tangan Damian gemetar saat menekan kontak ibunya.


“Ibu.”


Namun nomor ibunya tidak bisa dihubungi. Pada akhirnya ia menekan kontak Anji.


Damian tidak bisa menahan rasa sakit akibatnya ia kehilangan kesadarannya.


Liana langsung membuka pintu mobil begitu ia sampai di depan gedung apartemennya. Ia mendongak untuk melihat unit apartemennya. Lampu masih menyala.


“Kamu akan pergi begitu saja?”


“Apalagi yang kamu inginkan?” tanya Liana berbalik.


Ia tidak punya waktu untuk berdebat dengan Gideon karena ia sudah lama tidak melihat Damian. Liana langsung berlari ke arah Gideon dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi.


“Puas?”


Liana langsung berlari sementara Gideon tersenyum. Ia keluar dari mobilnya. Bersandar di sana sambil menikmati sebatang rokok. Ia juga melihat unit apartemen Liana.


“Damian.”


Liana memanggil Damian begitu ia membuka pintu. Namun tidak ada suara yang menjawab. Liana mencari-cari Damian di segala sudut rumah.


“Damian, jangan bercanda dengan ibu. Dimana kamu?”


Liana begitu khawatir. Ia kembali ke ruang tengah dan menemukan ponsel Damian tergelatak di sana.


Ponsel itu tiba-tiba berbunyi. Liana langsung menjawabnya. Begitu sambungan telepon dimatikan. Ia buru-buru mengambil tasnya dan menutup pintu apartemennya.


Liana langsung berlari begitu melihat mobil Gideon masih ada di sana. Ia langsung memasuki mobil tersebut.


“Damian ada di rumah sakit. Antar aku ke sana,” ucap Liana dengan begitu khawatir.


Gideon tak mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu langsung menancapkan gasnya.


Di tempat lain, Damian sudah mendapatkan perawatan medis yang baik. Ia kini sudah duduk dan membuka majalah.


“Apa yang ibu katakan?”


“Dia langsung menutup ponselnya. Aku rasa ia dalam perjalanan ke sini.”


Damian menutup majalahnya dan menyilangkan kedua tangannya.


“Saat ibuku datang, lakukan seperti apa yang aku katakan. Buat dia sangat menyesal. Jika dia bertanya tentang kondisiku, pastikan kamu melebih-lebihkannya.”


“Damian bukankah kamu yang merasa tertekan jika ibumu merasa khawatir?”


“Dia sudah meninggalkan beberapa hari sudah seharusnya dia mengkhawatirkanku?” Damian mengeluh. “Seharusnya kamu mengatakan bahwa aku hampir mati.”


“Damian.”


Damian langsung berbaring di ranjangnya.


Liana langsung membuka pintu bangsal tersebut dengan menangis.


“Damian.”


“Kenapa kamu baru datang? Dia tidak dalam kondisi yang baik tadi dan hampir kehilangan nyawanya.”


Jantung Liana seperti diperas. Ia memegang tangan kecil Damian.

__ADS_1


“Syukurlah dokter menanganinya dengan cepat.”


“Terima kasih.”


“Aku pergi dulu.”


Gideon ingin masuk ke dalam bangsal tepat ketika Anji ingin keluar. Gideon menatapnya dengan tidak senang.


“Kamu tidak diizinkan masuk.”


Gideon mengerutkan alisnya dan mendorong Anji sehingga ia bisa masuk. Anji terkejut melihat aura Gideon.


“Aku rasa aura Damian diturunkan darinya.”


Liana terus menerus menyentuh wajah Damian. Ia juga terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


“Damian.”


Gideon berdiri di belakang Liana. Ia melihat pria kecil yang berbaring di sana. Hatinya begitu hancur. Setelah sekian lama ia tidak melihatnya. Ia sulit untuk menggambarkan suasana hatinya.


Di masa lalu saat ia tahu bahwa Liana akan melahirkan putranya. Ia tidak bisa berkonsentrasi dan selalu membuat masalah ketika rapat. Ia bergegas ke rumah sakit begitu Daniel lahir.


Untuk pertama kalinya, ia menjadi ayah.


Damian membuka matanya. Begitu Liana mengetahuinya, Liana langsung memeluk Damian.


“Bu, kamu di sini. Aku kira, ibu akan meninggalkan Damian.”


“Tidak! Ibu tidak akan meninggalkan Damian. Maafkan ibu.”


Tangan Damian bergerak di leher Liana. Ia bersembunyi di sana mencari kehangatan. Damian bersandar di bahu Liana dengan nyaman.


Begitu ia membuka mata dan mendongak ia melihat Gideon. Ayah dan anak ini saling memandang.


“Bu, kenapa ibu tidak pulang? Damian sendirian di rumah.”


Saat melakukan aksi suaranya yang manja, matanya menatap tajam ke arah Gideon.


“Maafkan ibu. Ibu tidak akan pernah meninggalkanmu.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Kalau begitu, ibu harus tidur bersama Damian setiap malam dan menceritakan cerita dongeng,” ucap Damian seolah pamer dengan Gideon.


“Baiklah.”


Damian melepaskan pelukannya dan menatap Gideon.


Liana mengambil napas dalam-dalam. Ia tidak tahu harus menjelaskannya. Sementara Gideon menanti Liana untuk menjelaskannya.


“Dia... dia adalah bos ibu di tempat kerja. Ibu sekarang mempunyai pekerjaan baru.”


Mendengar penjelasan Liana, Damian mengangguk sementara Anji hanya tersenyum di samping.


“Ibu dan anak ini luar biasa. Anaknya memperkenalkanku sebagai gurunya. Sementara ibunya memperkenalkan ayahnya sebagai bosnya. Ayah dan anak juga sama saja. Mereka sudah tahu identitas masing-masing tapi tetap saja menutup mulut.”


“Oh dia bos ibu.”


Gideon tak bisa menahan tawa.


“Bu, aku sangat lapar.”


“Ibu akan mencari makan di luar. Apa yang kamu inginkan?”


“Tapi ini sudah malam. Guru An, bisakah kamu ikut dengan ibuku?”


“Tidak. Ibu bisa sendiri. Lagi pula guru An harus pulang dan beristirahat.”


“Ibu, bagaimana jika seseorang menculikmu. Guru An, bisa melindungimu.”


“Ya, bu Liana. Aku bisa menemanimu membeli makanan setelah itu aku akan pulang.”


Begitu kata itu terucap dari mulut Anji. Sepasang mata langsung menatapnya tajam. Membuat Anji menyeka keringat yang muncul di dahinya.


“Terima kasih Guru An.”


Saat Liana hendak keluar. Ia ditarik oleh tangan Gideon.


“Kembalilah lebih awal. Aku tidak suka kamu menghabiskan waktu dengan pria lain.” Bisik gideon.


“Jaga Damian untukku.”


Setelah pintu ditutup. Ayah dan anak saling bertatap muka. Wajah lembut Damian membeku begitu Liana tidak ada.


Melihat wajah dingin Damian seolah Gideon melihat dirinya sendiri. Gideon tidak bisa untuk tidak tertawa. Pria itu mengambil langkah untuk duduk di tepi ranjang, menghadap ke samping.


Gideon perlahan mengangkat tangannya dan membelai lembut pipi Damian. Tubuh Damian tiba-tiba membeku. Sepersekon ia baru tersadar dan menampar tangan Gideon.


“Jangan menyentuhku.”


Gideon mengerutkan alisnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu datang ke sini? Seharusnya saat ini kamu bersama tunanganmu, Gideon.”


“Seharusnya kamu memanggilku ayah.”


“Kenapa aku harus memanggilmu ayah?”


“Karena darahku mengalir di tubuhmu.”


“Kamu pikir karena aku berhubungan dengan darahmu. Aku harus memanggilmu ayah. Ingat kamu menelantarkanku dan ibuku.


Kamu melepaskan tanggung jawabmu sebagai seorang ayah.


Apakah kamu tidak malu memintaku untuk memanggilmu ayah?”


“Dalam beberapa tahun ini, aku tidak tahu kalau putraku yang lainnya masih hidup.”


“Aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu bahwa ayahku masih ada. Sampai suatu ketika aku melihatmu di majalah. Sejujurnya aku merasa senang, bersalah dan menyesal.”


“Damian, kenapa kita tidak bersama?”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Karena aku tidak menyukaimu.”


“Tapi aku menyukaimu.”


Kalimat itu sepertinya memiliki kekuatan magis. Dalam sekejap kegelisahan Damian lenyap. Namun ia mengatur mimik wajahnya kembali dingin.


“Aku tidak ingin kamu menyukaiku. Aku hanya perlu ibu menyukaiku.”


“Damian.”


Gideon kembali mengusap pipi Damian namun kali Damian tidak menyentaknya.


“Aku sangat terluka. Apakah kamu tidak ingin keluarga yang lengkap? Dimana ada ayah dan saudara laki-laki?”


“Keluarga lengkap saja tidak cukup jika tidak ada cinta di dalamnya. Apakah kamu mencintai ibuku?”


Gideon terdiam. Sebenarnya ia juga tidak jelas tentang perasaannya. Dalam hal emosi, sebenarnya ia hanya selembar kertas kosong tanpa warna.


Ia tidak tahu apa itu cinta? Yang ia tahu hanya hidup dan bekerja bagaikan boneka.


Apakah aku mencintainya? Aku tidak tahu. Aku hanya ingin memilikinya tapi bukan berati itu cinta.


“Aku pikir kamu tidak mencintai ibuku jadi untuk apa kamu masih di sini?”


“Kamu mempunyai saudara laki-laki,” ucap Gideon tiba-tiba.


“Aku tahu.”


“Namanya Daniel. Dia setinggi dirimu.”


“Hm.”


“Dia selalu memimpikanmu.”


“Hm.”


“Aku ingin memberinya keluarga lengkap dan ada kamu di dalamnya. Damian, apakah kamu tidak ingin keluarga yang lengkap?”


Dalam sekejap perasaan yang tak bisa dijelaskan melonjak di hati Damian.


Rumah yang lengkap dimana ada ayah, ibu dan saudaranya. Aku menginginkannya juga.


Namun ketika ia membuka mulutnya, itu bertentangan dengan apa yang ada di hatinya.


“Aku tidak ingin.”


“Jika suatu hari aku berkata padamu bahwa aku mencintai ibumu dan ingin menikahinya apakah kamu—“


“Memberitahuku bahwa kamu mencintai ibuku tidaklah cukup. Itu harus kamu buktikan dengan perilakumu.”


Gideon merasa seolah ia kewalahan menghadapi Damian.


“Jika kamu ingin bersama ibuku. Kamu harus memiliki perasaan yang sama.”


“Apakah kamu memberiku kesempatan?”


“Ya.”


Gideon langsung merentangkan tangannya. “Bisakah aku memelukmu?”


Damian ragu-ragu. Ia membasahi bibirnya yang kering. Setiap anak tidak bisa menahan pelukan hangat dari ayahnya begitu pula dengan Damian.


Di dalam hatinya sebenarnya ada rona kegembiraan.


Gideon tanpa ragu memeluk Damian yang masih membeku. Damian menyusut dan terlihat canggung.


“Aku memelukmu tapi aku membayangkan wajah ibuku.”


Gideon tersenyum. Ia memeluknya dengan erat. Kepala Damian terkubur di dalam dadanya.

__ADS_1


Damian bisa merasakan detak jantung Gideon dan entah kenapa ia merasa aman. Ia tanpa sadar tertidur dalam pelukan Gideon.


__ADS_2