Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
53. Anak Kucing


__ADS_3

Ruona mondar-mandir di kamarnya. Ia sangat takut untuk keluar dari rumhnya. Pasti akan ada seseorang yang terus mengawasinya.


Pertemuannya dengan Johan tentu saja memicu amarah Kevin. Kevin tidak suka orang lain tidak menaati peraturannya, dia juga tidak suka orang lain bertindak sendiri.


Mereka sangat lah mirip Gideon dan Kevin.


Mengingat tentang Gideon, Ruona sama sekali tidak mengetahui rencana apa yang sudah dipersiapkan oleh pria itu.


Sebentar Lagi Gideon akan mengumumkan pernikahannya pada publik dan tentunya itu tidaklah sederhana. Pasti ada udang dibalik batu.


Saat ini Ruona dalam posisi yang amat genting. Kevin adalah orang yang tidak bisa ia percayai. Pria itu tampak meragukan dan mencurigakan.


“Mengapa dia belum juga melenyapkan Liana dan anaknya?”


Saat dengan cemas memikirkan langkah selanjutnya, ada ketukan pintu dari luar. Suara yang tiba-tiba itu menyentaknya dari lamunan.


Pelayan mendorong pintu tersebut dan memberikan salam.


“Nyonya Muda.”


“Apakah kamu hendak membunuhku? Aku hampir saja terkena serangan jantung karena terkejut!”


Ruona menegur dengan galak.


“Enyah dari sini!”


Terkejut dengan reaksi Ruona, pelayan itu mundur dan menutup pintu kamar kembali. Ia hanya ingin membereskan tempat itu tapi reaksi Ruona sangat berlebihan.


Ruona menghela napas dengan jengkel. Ia berjalan ke jendela dan menatap langit biru yang cerah. Akhirnya ia berani memutuskan keputusan terakhirnya.


Jika Kevin tidak akan mengambil tindakan, ia sendiri yang akan melakukan apa yang ia butuh kan untuk menyingkirkan Liana dan anaknya.


...♡♡♡...


Tengah malam itu, Gideon baru saja pulang karena harus mengerjakan berapa pekerjaan yang sedang deadline.


Begitu sampai di rumah, ia hanya disambut oleh dua bocah kecilnya.


“Apakah ibu kalian masih belum pulang dari rumah bibi Suah?”


Damian dan Daniel menggeleng kompak.


Gideon beberapa menit yang lalu mendapatkan pesan darinya bahwa dia akan pulang segera namun sampai detik ini Liana tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


Gideon lantas menelepon Liana namun nomornya tidak bisa dihubungi. Gideon menunggu beberapa menit lagi.


“Apa kalian sudah makan malam?” tanya Gideon.


“Belum.”


“Kenapa belum? Ini sudah lewat jam makan malam.”


“Kami ingin menunggu ibu kembali dan makan malam bersama.”


Kedua putranya menolak untuk makan malam tanpa ibu mereka. Mereka menunggu di meja makan.


Gideon langsung berdiri dan menuju ke jendela untuk mengamati keadaan di luar. Ia merasa kesal dan khawatir bahwa Liana mungkin akan mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang.


Kompetisi di dunia bisnis adalah kompetisi yang paling sengit. Meskipun CGI corp mempunyai banyak mitra namun tidak menutup kemungkinan CGI Corp juga mempunyai musuh yang banyak.


Gideon tidak bisa berdiri diam di rumah dan menunggu. Ia lantas mengambil kunci mobilnya dan saat ia hendak membuka pintu. Tiba-tiba pintu ditendang terbuka.

__ADS_1


Liana terlihat berlari menuju kamar mandi dengan kardus di tangannya. Wanita itu tampak bahagia.


Gideon yang marah hanya melihat pemandangan itu.


Gideon mengikuti Liana yang masuk ke dalam kamar mandi. Gideon berdiri di pintu sambil mengamati Liana.


Wanita itu mengeluarkan anak kucing yang terlihat kotor dan tidak terurus dari kardus.


“Anak kucing? Kenapa dia membawa anak kucing?”


Dengan mata berbinar, Liana memegang anak kucing tersebut.


“Gideon, lihat anak kucing ini.”


Gideon mengangkat alisnya. “ Dimana kamu mendapakannya?”


“Aku mengambilnya dari pinggir jalan. Lihatlah! Bukankah dia begitu menggemaskan? Itu sangat lucu.”


“Itu terlihat jelek dan kotor.”


Liana mendengus. “Aku akan memandikannya dan ia akan terlihat sangat imut.”


Liana memandikan anak kucing itu dan segera mengeringkan bulu-bulunya. Penampilan anak kucing itu benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda.


Anak kucing itu sudah bersih dan bulunya terlihat sangat lebat.


Liana menggendongnya dengan gemas. Ia kembali meletakkannya ke dalam kardus yang bersih dan memperlihatkannya pada kedua putranya.


“Anak-anak! Liha apa yang ibu bawa.”


Damian dan Daniel yang penasaran langsung berlari. Liana meletakkan kardus tersebut di lantai agar kedua putranya bisa melihat anak kucing tersebut.


“Mirip denganmu,” ucap Damian.


Daniel hanya bisa menatap Damian dengan bibir cemberut.


Liana langsung menatap Gideon yang hanya berdiri mematung.


“Bagaimana menurutmu? Bukankah anak kucing ini menggemaskan? Bagaimana kalau kita adopsi?”


“Tidak.”


Gideon menolak tanpa berpikir. Gideon menjulurkan jari telunjuknya dan jari jempolnya dan mencubit leher bagian belakang anak kucing itu dengan lembut.


Gideon melototnya. “Aku tidak suka dia.”


Anak kucingnya itu sepertinya terganggu dan mengeong untuk minta dilepaskan.


“Ayah! Kamu menyakiti perasaannya.”


Daniel langsung menatap ayahnya dan Gideon kembali meletakkan anak kucing di kardus.


“Aku suka dengan anak kucing ini. Aku akan mengurusnya dan memeliharanya jika kamu tidak mau. Aku tidak peduli.”


“Mengapa kamu menginginkan anak kucing ini?”


“Dia begitu menggemaskan. Aku ingin memeliharanya.”


Liana menunduk memandangi anak kucing yang tampak menyedihkan karena hidup sendirian di luar sana.


Liana tidak bisa membayangkan bahaya apa yang sudah menimpanya. Ia mengulurkan tangannya untuk mengelus bulunya dengan sayang.

__ADS_1


“Buang itu.”


“Ayah!” teriak Damian dan Daniel bersamaan.


“Dia masih kecil. Bagaimana jika di luar sana sebuah mobil tanpa sengaja menabraknya ketika dia menyeberang jalan?”


“Liana.”


“Aku sudah memutuskan untuk memelihara anak kucing ini. Apa yang bisa kamu lakukan tentang itu?”


Kata-kata yang keluar dari bibir Liana dipenuhi dengan sedikit ancaman.


Gideon dengan dingin menatap wajah Liana dan wajah anak kucing secara bergantian.


Sejak kapan dia berani seperti ini?


Gideon menghela napas dan menyerah. “Pelihara, jika itu yang kamu mau.”


“Gideon Cross, aku mencintaimu.”


Liana dan kedua putranya bersorak gembira. Liana yang membawa anak kucing itu di dekapnya mendekat ke arah Gideon namun pria itu buru-buru mengambil langkah mundur.


“Tapi aku punya tiga aturan!”


Liana langsung mengangguk. “Apa?"


Gideon menatap anak kucing tersebut.


“Anak kucing itu harus ada di lantai tiga. Jangan biarkan dia berada di lantai dua yang ada kamar kita atau pun lantai satu. Jadi urusan makan, mandi harus ada di lantai 3. Jangan biarkan bulu kucing itu tersebar di lantai. Jangan sampai dia memecahkan barang atau membuat goresan jika aku melihatnya, segera aku akan membuangnya.”


Liana menggerutu. “Bagaimana bisa kamu tidak berperasaan. Kamu juga ayahnya.”


Gideon meliriknya. “ Genku, sangat normal. Aku tidak bisa memberikan ****** dalam wujud kucing.”


“Woooh, lihat ayahmu Funny.”


“Ibu, apakah itu namany?” tanya Daniel.


“Ya, namanya Funny.”


“Bu, bagaimana kalau besok kita ke klinik hewan untuk memeriksakan Funny.”


“Itu ide yang bagus.”


“Kenapa tidak sekarang? Segera vaksin anak kucing itu.”


“Kamu akan mengantar kami kan?” tanya Liana dengan senyumnya.


“Baiklah.”


Saat mereka tiba di klinik hewan, klinik hewan sudah hampir tutup. Melihat pintu segera ditutup, Liana bergegas turun dari mobil sambil menggendong funny.


“Bisakah aku mendapatkan vaksin untuk anak kucing ini?”


Karyawan klinik itu melihat Liana dan anak kucing tersebut. Karyawan itu ingin menolaknya dan segera menutup pintu namun kata-katanya tersendat saat melihat sosok besar di belakang Liana.


Gideon Cross berdiri di belakang Liana dengan wajah sedingin es. Mata tajamnya menatap lurus karyawan yang akan menutup klinik.


“Vaksin anak kucing ini!”


Kehadiran Gideon sangat menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2