Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
80. Puding Susu


__ADS_3

“Ayah, dimana ibu?”


“Dia ada di kamar mandi.”


“Ayah, aku harus pergi ke kantor. Bisakah kamu


melindungiku dari ibu.”


Gideon mengerutkan keningnya. “Kamu baru saja pulang dan masih terluka. Apa yang ingin kamu lakukan?”


“Aku punya sesuatu yang penting untuk ditangani. Aku belum ingin ibu tahu tentang identitasku.”


“Baiklah.”


“Ayah, aku juga ingin pergi.”


“Kamu di rumah saja, Daniel.”


“Tapi...”


“Kamu di sini saja, agar ibu tidak curiga.”


Liana yang baru saja membuka pintu kamar mandi, sedikit terkejut melihat si kembar yang sepertinya sedang membicarakan hal serius dengan ayah mereka.


“Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya serius sekali,” ucap Liana sambil mengusap-usapkan rambutnya yang sedikit basah.


Mereka bertiga langsung menoleh ke arah Liana. Liana yang ditatap oleh tiga pasang mata langsung berdiri membeku.


“Aku ingin makan kue, bu. Jadi aku mengajak ayah untuk membelinya,” ucap Damian.


“Kue? Bolehkah ibu ikut?”


“Ibu di sini saja menemaniku,” ucap Damian.


Liana ingin mengikuti mereka berdua, namun saat melihat Daniel yang masih terluka ia mengurungkan niatnya.


Gideon membawa Damian pergi ke kantornya. Begitu sampai, Damian menyuruh ayahnya untuk menunggu di luar.


“Tidak, bisakah aku memasuki kantormu, direktur Damian?” Gideon menggoda putranya.


Damian langsung menyilangkan tangannya di depan dada dengan berpura-pura menjadi sombong.


“Tidak. Lagi pula ada beberapa dokumen rahasia.”


Gideon langsung mengusap kepalanya. “Pergilah, aku akan menunggumu di sini.”


“Ya.”


Dengan anggukan, Damian kemudian berbalik dan memasuki kantornya.


Ketika pasangan anak dan ayah kembali ke vila, Daniel sudah tidur. Sementara Liana sedang duduk di sofa tengah sambil melihat siaran televisi.


Gideon bersandar di pintu dan memperhatikan Liana. Liana tidak menyadari kehadiran Gideon.


Pria itu berjalan perlahan ke arahnya. Liana tiba-tiba sadar akan kehadiran seseorang, ia menoleh dan sebuah lengan sudah bertengger manis di bahunya.


Lian terkejut dengan kehadiran Gideon yang tiba-tiba. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya dengan marah.


“Apakah kamu mencoba menakutiku?”


Gideon tersenyum dan langsung mengecup bibir Liana.


Damian yang mereka dari tempat ia berdiri sejenak, bibirnya melengkung sebelum berjalan pergi ke kamar.


Di ruang tengah yang luas, Gideon memeluknya dengan lembut. Ia juga membelai pipi Liana.


Pria itu menatapnya dalam-dalam, bulu matanya yang tebal dan panjang.


Malam yang indah berkembang dengan kelembutan, kehangatan dan pesona.


Gideon membelai wajahnya dan mulai menciumnya dengan lembut. Pria itu memperdalam ciuman itu.


Liana mendorong pelan tubuh Gideon.


“Berhenti...bagaimana jika anak-anak tahu.”


Gideon mendengus. “Mereka sudah tidur.”


Tangan Gideon mulai berkeliaran.

__ADS_1


“Kenapa kamu sangat kurus sekali?”


Liana memang mempunyai tubuh yang mungil. Tidak peduli berapa banyak dia makan, Liana tidak akan menambah berat badan yang signifikan tapi dia bisa kehilangan berat badan sekejap mata.


Cibiran terbentuk di wajah Liana. Wanita itu sedikit sedih juga sebenarnya. “Aku memang sedikit kurus jadi aku tidak perlu diet. Ini adalah tubuh seorang model.”


“Kamu jangan mencoba diet. Kamu lebih baik jika bertambah isi.”


“Jadi menurutmu aku saat ini tidak baik?”


Pria itu tiba bisa menahan diri untuk mencubit pipinya.


“Bukan itu yang aku maksud sayang...”


“Ah sakit!”


Liana langsung memukul pelan tangan Gideon yang mencubitnya.


Gideon tersenyum dan melihat Liana menguap.


“Mengantuk?”


Liana langsung mengangguk.


“Ayo kita istirahat di kamar.”


“Gendong aku!”


“Baiklah, istriku.”


“Siapa istrimu?” goda Liana.


Gideon langsung menunduk dan menggigit telinga Liana. Lalu pria itu berbisik.


“Apakah kamu sedang bermain api sekarang? Kamu akan terbakar.”


Mata Liana langsung berkedip panik.


“Tidak.”


“Lalu apa yang kamu lakukan kalau begitu?”


Seringai jahat menyebar di wajah Gideon. Liana memang lucu dengan tingkahnya.


Lucu dengan sikap Liana, Gideon langsung menggendongnya dan membawa ke kamar mereka dengan hati-hati.


Gideon melepaskan pakaian Liana. Wanita itu langsung menghentikan aksinya.


“Jangan bergerak.”


Liana tidak lagi bergerak. Dan Gideon kembali melanjutkan tindakannya.


Napas Liana memburu. Wanita itu mendorongnya karena malu.


“Gideon, kamu sangat berat.”


Senyum jahat dan menawan muncul di wajah tampannya. Gideon mengulurkan tangannya untuk memeluknya dan tak sedikit pula tangannya berkeliaran.


Api di dalam tubuh Liana langsung menyambar dan berkobar dan membakar rasa malunya.


Jari-jari Gideon mulai menyusuri titik sensitif Liana.


“Gideon.”


“Aku berencana untuk tidak menyentuhmu hari ini tapi kamu menyalakan api, bukankah kamu harus bertanggung jawab untuk memadamkannya?”


Liana meraih tangan Gideon untuk menghentikan tangannya yang tak mau diam.


“Apakah kamu tidak kasihan padaku? Ayo, kita tidur saja. Oke?”


Gideon menghembuskan napas panjang. Gideon berbaring di samping Liana.


Liana memeluk badan Gideon. Wanita itu benar-benar lelah dan ingin beristirahat.


Sayangnya, Gideon tidak bisa tidur dengan tenang. Ia sangat kesal dan tidak bisa menahannya.


“Bagaimana bisa aku tidur dengan cara ini?”


Liana langsung melotot. “Gideon, bisakah kamu bermain sendiri.”

__ADS_1


“Katakan padaku, bagaimana cara bermain sendiri?”


“Bermain dengan tanganmu sendiri.”


Gideon mencubit pinggang Liana dengan gemas.


“Aku tidak bisa.”


Liana membalikkan badannya dan mengeratkan selimutnya.


“Liana?”


“Tidak.”


“Lili...liana.”


Liana mendengus. “Tidak.”


“Istriku...istriku...”


“Hmmmp.”


“Istriku yang baik dan manis.” Serunya manis dan lembut.


Liana berbalik dan mencium pipi Gideon.


“Apakah kamu puas sekarang? Aku benar-benar ingin istirahat.”


“Aku akan mengampunimu malam ini.”


Gideon langsung mematuk dahi Liana.


“Aku akan mengampunimu malam ini. Aku akan mandi, tidurlah.”


Liana melihat kepergian Gideon. Sebenarnya ia cukup kasihan dengan Gideon. Namun rasa kantuknya memukulnya saat kepalanya menyentuh bantal. Dan Liana tertidur di menit berikutnya.


Gideon selesai mandi dan pada saat ia kembali ke ranjangnya. Liana sudah tertidur lelap.


Gideon berbaring di samping dengan hati-hati.


Menyandarkan kepalanya di lengannya. Gideon meliriknya dan mengangkat Liana sepenuhnya ke pelukannya.


Gideon mengulurkan tangan untuk mengusap pipinya.


Menundukkan kepalanya, Gideon menanamkan kecupan kecil di wajah Liana.


“Kamu milikku,” gumam Gideon dalam telinganya.


“Kamu milikku.”


Gideon menarik pinggangnya dan ia tidak bisa menahan kobaran api meskipun sudah ditangani di kamar mandi.


Liana terusik oleh ulah Gideon. Mau tidak mau, wanita itu bermain-main dengan Gideon.


Bermain seperti potongan puzzle yang disatukan.


Keesokan harinya, Liana bangun siang hari. Di sampingnya sudah kosong. Gideon rupanya sudah pergi.


“Dia pergi diam-diam tanpa kata atau suara.”


Liana menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan nyeri-nyeri di sekujur tubuhnya.


“Aku rasa tubuhku akan terbelah.”


Liana bangun dari tempat tidur, ia berjalan js jendela dan menarik tirai. Di luar langit sudah cerah. Suasana hatinya sangat ceria begitu melihat langit yang indah.


Setelah mandi di kamar mandi, Liana melangkah keluar. Dan menemukan Damian dan Daniel yang sibuk di dapur.


“Bu, kamu sudah bangun.”


“Mm.”


“Ayah pergi lebih awal hari ini,” ucap Daniel.


“Apa yang kalian lakukan?”


“Kami sedang membuat puding susu.”


Damian menuangkan puding cair di cetakan dan Daniel meletakkan ke dalam kulkas.

__ADS_1


“Sudah selesai. Butuh berapa lama kita harus menunggu?” tanya Daniel.


“Kita tunggu sampai pudingnya keras.”


__ADS_2