Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
57. Penghinaan


__ADS_3

Di pagi hari, sinar matahari belum benar-benar menampakkan sinarnya. Liana terbangun oleh gerakan dari sisinya.


Pada saat membuka matanya, Gideon sudah mengenakan setelan sempurna. Liana masih lelah namun pria itu sudah bersemangat di pagi hari.


Melihat Liana sudah terbangun. Gideon duduk di sampingnya.


“Kenapa kamu sudah bangun? Tidurlah.”


“Apakah kamu akan pergi ke kantor sekarang?”


Gideon langsung mencium kening Liana.


“Ya, dan kamu harus melanjutkan tidurmu.”


Gideon berdiri dam siap untuk pergi.


“Apakah kamu akan pulang malam ini?”


“Aku akan pulang lebih awal.”


Setelah itu Gideon benar-benar pergi. Pria itu menutup pintunya dan suara langkah sudah tak terdengar lagi.


Liana menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan tidurnya lagi. Liana terbangun beberapa jam kemudian.


Ia membuatkan sarapan untuk kedua putranya dan mengantarkan mereka ke sekolah setelah itu pulang ke vila.


Liana melewati harinya dengan menyibukkan diri, menata lemari dan laci-laci. Ia juga kembali menata ruang kamar tidurnya.


Di siang hari ia kehabisan pekerjaan dan mulai gelisah. Ia memberi makan anak kucing dan bermain dengannya sebentar.


Ketika Liana sedang membereskan ruang anak kucingnya. Tiba-tiba ponselnya yang diletakkan di nakas bergetar.


Ia mengambil teleponnya dan menjawab telepon itu. Rupanya itu dari guru si kembar. Guru memberitahukan bahwa ada ekstrakurikuler tambahan sehingga anak-anak akan pulang sedikit terlambat.


Panggilan tersebut berakhir dan Liana memutuskan untuk pergi ke lantai satu.


Saat menuruni anak tangga, terdengar bunyi bel dari depan. Liana sedikit mengernyitkan dahinya dan detik berikutnya Liana tersenyu.


“Apakah itu dia? Dia mengatakan akan pulang lebih awal.”


Liana bergegas menuruni anak tangga dan membukakan pintu namun yang ia lihat adalah sosok perempuan yang tidak ia kenal.


“Kamu siapa?”


Liana terkejut sesaat namun ia melihat Ruona berdiri di samping wanita itu. Selain itu ada pria asing di samping mereka.


“Aku keponakan Gideon, namaku Inge. Ternyata kakak Gideon menyembunyikanmu di sini.” Inge berucap dengan dingin.


Dan setelah itu ia menendang pintu sampai pintu terbuka lebar dengan kakinya dan berjalan masuk dengan Ruona.


Liana mundur beberapa langkah. Mereka bersikap dengan tidak ramah.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Liana, ekspresinya berubah dingin.


Inge langsung menatapnya dengan sengit. Wanita itu langsung meraih lengan Liana dengan kekuatan penuh sampai mampu meninggalkan bekas merah.

__ADS_1


Ruona yang melihatnya melakukan hal yang sama sehingga Liana tidak mampu bergerak dengan leluasa.


“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!”


“Kamu kemarin menjambak rambutku dan tanpa malu merayu Gideon yang jelas-jelas sudah bertunangan denganku dan kami akan segera menikah. Beraninya kamu menindasku!”


“Masuk ke rumah tanpa permisi. Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan?”


“Menurutmu apa yang ingin kami lakukan?”


Inge terlebih dahulu menampar wajah Liana. Inge sama sekali tidak ragu untuk menampar wajah Liana. Ia melakukannya dengan kekuatan penuh. Wajah Liana langsung merah.


Kepalanya menoleh dan rambutnya tampak acak-acakkan.


Inge bahkan menampar Liana beberapa kali. Liana merasakan kesakitan yang menyengat di wajahnya.


“Berhenti! Apa yang sedang kamu lakukan?”


Liana mengangkat kepalanya dan menjerit. Matanya langsung menatap Inge dengan dingin.


Ruona segera meringkuk pada tatapannya yang membunuh namun itu tidak berlaku pada Inge.


“Wah, tatapanmu begitu menakutkan. Apakah kamu akan melahap kami?” ejek Inge. Wanita itu dengan sengaja menginjak kaki Liana.


Melihat Inge yang benari. Ruona juga ingin memberikan balasan. Ia menampar wajah Liana.


“Menamparmu hanya akan mengotori tanganku."


Terlepas dari kata-katanya, nyatanya Ruona melakukan tamparan beberapa kali.


Liana tertawa mengejek. Ia tidak ingin terlihat lemah. “Dua lawan satu. Seberapa kemampuanmu?”


Liana langsung menyentaknya dan genggaman Ruona terlepas. Liana beralih ke Inge dan yang masih mencengkeramnya.


Ia menyentak tangan Inge dan mendorongnya. Pria yang selama ini hanya mengamati tindakan mereka kini bertindak.


Pria itu langsung merengkuh Liana dan memegang kedua tangan Liana agar Liana tidak bisa bergerak.


“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!”


Inge yang melihatnya bertindak seperti layaknya seorang putri sombong yang memandang rakyat jelata.


“Kamu adalah orang yang pertama yang berani mendorongku. Kamu pikir, kamu siapa bisa menggertakku? apakah kamu berpikir dengan mengandalkan cinta dari kakak Gideon, orang sepertimu akan kebal dengan hukum? Apakah kamu tahu siapa aku? Beraninya kamu memukulku.”


Liana tertawa. “Apakah kamu menggertakku dengan menggunakan kekuatanmu?”


“Tentu saja tapi aku akan membiarkanmu pergi dan tidak akan lagi mengganggumu jika kamu berlutut dan meminta maaf padaku,” ucap Inge.


“Kenapa aku harus melakukan itu? Bukankah kamu yang seharusnya melakukannya?”


“Jangan pernah berpikir karena kakak Gideon menyayangimu, kamu menjadi tak tahu malu. Apakah kamu tidak tahu latar belakang keluargaku?”


“Hanya karena kamu memiliki sedikit latar belakang, apakah kamu bisa seenaknya menghina dan menginjak-injak martabat orang lain.”


Liana langsung memukul paha pria di belakangnya. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan menyerang anggota vital pria itu.

__ADS_1


Ruona yang melihatnya langsung menjambak rambut Liana. Liana langsung kembali menjambak rambut Ruona dan menginjak kakinya.


Ia mendorongnya sampai ke kursi sudut dan menamparnya.


Saat Ruona berjuang melawannya, Inge bergabung dalam perkelahian. Ruona dengan kejam menjambak rambutnya. Sementara Inge dengan kejam menamparnya.


Sudut bibirnya tergores oleh cincin logam yang Inge kenakan.


keduanya seperti orang gila yang sedang mengamuk.


Liana benar-benar marah dan menatap Inge dengan tajam. Kekuatannya dan kemarahannya bisa membebaskannya dari kedua wanita gila itu.


Liana langsung membalas Ruona dengan menjambaknya dan tangan yang lainnya digunakan untuk menampar Inge.


Ketika keadaan terbalik, pria yang tadinya mengaduh kesakitan langsung menolong kedua wanita itu.


Pria itu langsung meraih pergelangan tangan Liana dan menyeret Liana lalu mendorongnya sehingga Liana terjatuh ke lantai.


“Apa yang kalian lakukan?”


Damian dan Daniel melihat adegan yang menyayat hati mereka. Mereka sangat marah.


“Apa yang kalian lakukan pada ibuku?”


Daniel langsung berlari dan menendang pria itu. Tendangan Daniel begitu menyakitkan tidak seperti tendangan bocah pada umumnya.


Ia berdiri di depan ibunya dan melihat wajah yang berani mengganggu ibunya.


Damian berlari untuk membantu ibunya.


“Bu...”


Inge terkejut melihat Damian yang wajahnya sama dengan wajah Daniel. Ia menata ulang pikirannya dan dengan cepat menyimpulkan teorinya.


“Kakak dia mempunyai anak lagi. Apakah dia anak kakak Gideon. Dia menyembunyikan pewaris Cross untuk menaiki tangga sosial. Kakak Gideon pasti sudah ditipu denganmu,” ucap Inge.


“Diam,” ucap Daniel.


“Adik, apakah kamu melihatnya? Setelah menjadi ibu pengganti. Dia menyembunyikan anak yang lainnya untuk menjadi nyonya muda di keluarg Cross. Dia memanfaatkan anak itu,” ucap Ruona yang tampak sedih.


Damian yang sudah tidak tahan lagi. Menatap mereka dengan sengit. Ia berdiri dan berjalan sampai ke samping Daniel.


"Ini rumahku! Kalian tidak diizinkan membuat masalah di rumahku!”


Pada saat itu, Inge dapat melihat Gideon dalam dirinya. Tatapan dingin dan arogan sangat identik dengan Gideon.


“Keluar!” tambah Daniel.


“Pergilah sebelum kesabaranku habis. Jangan muncul di depan ibuku lagi, kalian begitu menjijikkan.”


“kamu berani mengatakan itu padaku,” ucap Inge. Wanita itu akan memukul Damian namun tangannya segera dicekal oleh Daniel.


Kemarahan tak tertahankan muncul dari Daniel. Inge meringis kesakitan. Daniel mencengkeram tangan itu sampai terkilir.


Lalu baru melepasnya. Inge ingin menamparnya namun dia tidak berani karena Daniel adalah anak Gideon.

__ADS_1


Setelah itu mereka pergi.


Liana yang masih terduduk di lantai menundukkan kepalanya dan dengan keras kepala menahan isakan tangisnya karena mencoba menahan penghinaan dan keluhannya.


__ADS_2