
Daniel dan Damian langsung berlari ke dalam kamar Liana. Pandangan mereka langsung tertuju pada ranjang.
Rupanya ibu mereka sedang meringkuk di sana. Liana yang semula terpejam kini langsung membuka mata saat mendengar langkah kecil yang menderu.
“Ibu apa yang terjadi padamu?” tanya Damian menunduk melihat ibunya. Ia mendapati perban di dahi ibunya dan merasa khawatir.
“Ibu tidak apa-apa.”
“Wajah ibu tidak bisa berbohong. Apa yang terjadi pada ibu? Katakan pada kami.” Kali ini Daniel yang berseru. “Luka ini?”
Liana mengusap kedua pipi kedua putranya. “Ibu hanya merasa sedikit lelah lalu tanpa sengaja terjatuh.”
“Ibu selalu ceroboh,” ucap Damian.
“Biarkan ibu kalian beristirahat.”
Damian dan Daniel langsung berbalik dan menemukan ayah mereka.
“Kalian ganti baju lalu pergi makan.”
Suara Liana lembut seperti biasanya namun seperti ada yang ditutupinya.
“Tapi ibu...”
“Ibu tidak apa-apa. Cepat ganti baju lalu makan,” ucap Liana.
Damian dan Daniel pun keluar. Otak Damian masih memikirkan apa penyebab ibunya yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
“Apa? Ada apa?” tanya Daniel saat melihat langkah Damian berhenti.
“Aku rasa ada yang salah dengan ibu.”
“Kamu juga merasakannya?”
“Ayo kita cari tahu,” ajak Damian.
“Apa? Bagaimana?” tanya Daniel bingung.
“Ayo ikut aku keluar.”
Damian langsung menyeret Daniel namun Daniel sedikit ragu.
“Ayah dan ibu menyuruh kita untuk ganti baju lalu makan.”
“Apakah setelah kita ganti baju dan makan kita akan mendapatkan jawaban? Baiklah sepertinya kamu akan di sini. Aku akan pergi sendiri.”
Damian langsung pergi keluar dan Daniel hanya melihatnya dengan bingung. Daniel mulai bertanya-tanya apakah ia harus ikut saudaranya atau mematuhi perkataan ayahnya.
Setelah diserang rasa kebimbangan yang luar biasa. Daniel berlari untuk menemukan Damian.
“Hei tunggu aku!”
Saat ini Damian dan Daniel sudah duduk di sebuah mobil.
“Kamu kenal orang itu?” tunjuk Daniel pada orang yang sedang mengemudi.
“Dia orang ku.”
Daniel sedikit tertegun namun ia sudah mulai tenang. Namun setelah beberapa waktu, Daniel kembali panik. Jika ayahnya mengetahui bahwa mereka menyelinap keluar. Ayahnya akan menghukum mereka. Ayah mereka sangat tegas dan disiplin. Daniel gelisah memikirkan itu.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Damian.
Pertanyaan Damian yang tiba-tiba membuat Daniel terkejut. Jantung Daniel berdetak kencang.
“Tidak ada.”
Mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah gedung yang tinggi.
__ADS_1
“Apakah kamu sudah menyelidiki apa yang dikerjakan ibu hari ini dan dengan siapa ibu bertemu?”
“Iya.”
“Bagus.”
Anji langsung membawa Damian dan Daniel masuk ke gedung dan langsung menuju ke lift untuk menaiki lantai teratas.
Mereka semua masuk ke dalam ruangan. Untuk pertama kalinya Damian pergi ke kantornya sendiri.
Bocah kecil itu langsung menduduki kursinya. Sementara Daniel tengah sibuk menilik setiap sudut ruangan tersebut.
Anji memberikan setumpuk dokumen berisi informasi.
“Apakah semuanya ada di sini?”
“Ya.”
“Dengan siapa terakhir ibuku bertemu seseorang? Dan siapa yang berani menyakiti ibuku?”
“Itu...”
Anji sedikit melirik ke arah Daniel.
“Itu Ruona.”
Mendengar nama Ruona, jelas saja Daniel langsung berbalik dan mendekati saudaranya.
“Mama menyakiti ibu?”
“Kamu masih menyebutnya mama setelah berani menyakiti ibu?”
“Tidak...maksudku...”
Damian kembali fokus pada dokumen yang ada di tangannya. Daniel juga ikut membaca dokumen tersebut.
Damian membolak-balikkan lembaran demi lembaran.
“Ya,” jawab Anji.
“Benarkah?” tanya Daniel terkejut.
“Apa yang kamu ketahui tentang ibu?” ledek Damian.
“Tidak ada,” jawab Daniel lesu.
Kedua bocah itu masih kembali fokus pada informasi tersebut. Lalu pandangan mereka terkunci pada sebuah foto.
Foto gadis yang menghadap pada kamera dengan tatapan kosong. Bajunya lusuh dengan wajah pucat.
“Apakah ini ibu ketika masih muda? Kenapa ibu kurus sekali?” tanya Daniel tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Apa yang terjadi pada ibu saat itu?” tanya Damian.
Wajah Damian mengeras seperti beton. Tatapannya berubah menakutkan.
Melihat ekspresi Damian yang berubah membuat suara Anji tersedat dan ia berdehem.
“Saat itu, ibu kalian mengalami depresi.”
Kata-kata itu tidak dipahami oleh Daniel pada awalnya, “Depresi?”
“Ibu kalian mengalami depresi karena dituduh mencuri. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan mogok makan. Pada akhirnya ibu kalian mengalami anoreksia dan dilarikan ke rumah sakit."
“Eksekusi dia.”
“Damian.”
__ADS_1
“Aku bilang eksekusi.”
Damian melihat ke arah Daniel.
“Kamu sebaiknya pulang.”
Daniel langsung menolak usulan Damian. “Tidak! Aku ingin ikut denganmu.”
“Jika kita berdua tidak di rumah dalam waktu yang lama ayah dan Ibu akan curiga. Sebaiknya kamu di rumah dan memberikan alasan yang bagus saat aku tidak terlihat.”
Damian dan Anji pergi ke tempat eksekusi sementara Daniel kembali ke rumah. Suasana di dalam mobil begitu hening sampai Anji harus menelan ludahnya dengan susah payah.
Aura gelap yang dipancarkan Damian benar-benar menakutkan.
Saat ia berada di dalam ruang eksekusi. Anji langsung menyuruh dua penjaga berkata-kata.
Damian langsung duduk di depan pria yang sedang diikat.
“Siapa kamu? Kenapa kamu berbuat seperti ini padaku?”
“Kamu tidak perlu identitas kami. Kami akan mengajukan dua pertanyaan jika kamu bersikap kooperatif, aku akan membebaskan,” ucap Damian di tengah kegelapan sehingga pria itu tidak bisa melihat Damian.
Damian langsung memberi instruksi pada Anji. Anji mengerti dan langsung menyerahkan dua foto pada tahanan tersebut.
Pria itu langsung melihat foto tersebut dan langsung mengenalinya.
“Rina."
“Bagaimana dia bisa berada di dalam keluarga Cross? Apakah kamu mengetahuinya?”
“Tentu saja. Simon Cross sendiri yang menjemputnya.”
“Mengapa dia diambil oleh keluarga Cross?”
“Dia memiliki kalung dengan liontin yang sangat langka dan unik. Tuan Simon Cross memiliki salah satunya yang mirip. Aku ingat saat itu Tuan Simon Cross memberitahuku bahwa dia adalah kerabatnya yang hilang.”
“Apakah itu adalah kenang-kenangan yang diberikan oleh keturunan Cross.” Damian tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia mengeratkan pegangannya pada kursinya.
“Berbicara dengan kalung. Aku ingat sesuatu.”
Damian menyipitkan matanya. “Apa? Bicaralah!”
“Setiap anak yang masuk ke dalam panti akan memiliki catatan khusus barang apa yang mereka miliki. Rina atau Ruona, awalnya tidak memiliki kalung tersebut.”
“Apakah itu berarti keluarga Cross mengambil anak yang salah?” tanya Anji.
“Bisa dibilang seperti itu.”
“Dia mengambil kalung dari orang lain dan menempati tempat yang seharusnya bukan miliknya di keluarga Cross. Jika kamu mengetahuinya sejak awal, kenapa kamu tidak mengatakannya pada waktu itu?”
“Rina atau Ruona adalah gadis manis. Dia disukai oleh guru dan teman-temannya. Tidak ada yang mengira bahwa dia mencurinya dari orang lain.”
Damian lalu menyuruh Anji menunjukkan foto yang lainnya.
Pria itu mengerutkan keningnya mencoba mengeruk memorinya.
“Aku tidak ingat anak ini.”
Damian mengerutkan keningnya sambil melihat pria di depannya. “Lihat baik-baik.”
“Aku ingat sekarang. Namanya Lili, dia juga anak di panti asuhan. Kalung Ruona diambil dari anak ini.”
“Jadi kalung itu, diambil dari anak ini."
Sorot mata Damian lebih dingin lagi. Damian langsung berdiri dari kursinya dan pergi. Perasaannya begitu campur aduk.
“Ruona telah merebut posisi ibu. Semua yang dimilikinya seharusnya milik ibu,” ucap Damian.
__ADS_1
“Jadi tunangan Gideon Cross adalah Liana,” ucap Anji. “Bagaimana kita berurusan dengan Ruona?”
“Tidak ada pengampunan bagi siapa pun yang menyakiti ibu."