Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
19. Mie Instan


__ADS_3

Ruona duduk sendiri di balkon dengan ditemani segelas kopi. Ia masih mengenakan piamanya. Tangannya meremas ponsel yang berada di tangannya.


Matahari masih belum meninggi namun suasana hatinya tak secerah sinar matahari pagi.


“Kenapa dia tidak menjawab teleponku?”


Semua panggilannya selalu terputus di tengah jalan.


“Apa yang terjadi?”


Cukup lama ia berpikir. Pada akhirnya, ia melihat berita hari ini. Tidak satu pun ada berita tentang skandal Liana.


Ruona pikir ia hanya tinggal duduk manis sambil menikmati berita Liana yang meledak. Namun ia rupanya salah menempatkan kepercayaan pada Johan.


“Dia memang tidak berguna.”


Ruona hampir kesal dan marah. Ia langsung bangkit dari kursinya dan mengganti bajunya.


Ruona menuruni anak tangga dan mendapati kakek Simon duduk di ruang makan. Ruona terdiam sesaat sebelum kakinya melangkah ke sana.


“Kakek, selamat pagi,” sapa Ruona.


Wanita itu duduk di depan Simon dengan hati-hati. Ruona memperhatikan Simon sebelum ia mengutarakan tujuannya.


“Apakah dia tidak pulang?” tanya Simon saat melihat Gideon tidak ada di ruang makan.


“Dia tidak kembali. Aku tidak tahu kemana dia pergi.”


“Kamu harus memperhatikannya.”


“Kakek, bagaimana aku harus memperhatikannya. Di saat ia tidak mau mendengarkanku. Aku memintanya kembali lebih awal kemarin tapi sampai pagi ini dia masih tidak kembali. Ini bukan pertama kalinya dia tidak mendengarkanku.” Ruona mulai mengeluh tentang sikap Gideon.


Ruona melihat kembali Simon sebelum ia menelan ludahnya dengan susah payah.


“Kakek, apakah dia mempunyai wanita lain di luar?”


“Apakah dia berani? Jika dia tidak setia padamu, kakek akan mematahkan kakinya. Kamu tenang saja, berilah dia perhatian lebih. Hatinya akan luluh padamu.”


Ruona mengangguk. “Kakek, apakah kakek ingat tentang wanita yang menjadi ibu pengganti?”


“Ya. Kenapa?”


“Aku pikir wanita itu tidak sesederhana itu. Wanita itu ambisius dan licik. Aku tidak tahu persis apa yang dia lakukan tapi kemarin ia ikut dalam pesta. Ia selalu mencari peluang untuk mendekati Daniel.


Daniel tidak terlalu dekat denganku. Aku takut, dia akan mengambil Daniel.”


“Itu tidak akan terjadi.”


“Kakek tapi bagaimana jika ia menggunakan Daniel untuk memasuki keluarga Cross?”


“Dia tidak akan berani. Itu sudah tertulis dalam kontrak jika ia berani melanggarnya. Aku sendiri yang akan menyeretnya ke penjara.”


“Tapi bagaimana jika Gideon melindunginya? Maksudku, bagaimana jika ia memikat Gideon? Maksudku, Gideon sampai tidak pulang pasti dia bersama wanita itu.”


“Ruona jangan pikirkan hal yang tidak mungkin terjadi.”


“Kakek...”


“Kamu panggil Daniel untuk sarapan.”


.........


Damian masih terlelap dalam mimpinya. Gideon memerintahkan Alan untuk menjaganya sementara ia dan Liana kembali ke apartemen Liana untuk mengambil beberapa baju untuk Damian.


Liana buru-buru memasuki kamar Damian dan memasukkan beberapa baju di dalam tas. Sementara Gideon sibuk memperhatikan setiap sudut apartemen Liana.


Sampai akhirnya kakinya membawanya ke ruang belajar Damian. Ia agak sedikit terkejut melihat beberapa peralatan yang berada di atas meja. Ini lebih mirip kantor mini.


Gideon memperhatikan beberapa tumpukan kertas di meja itu.


Di pintu masuk ruang belajar, Liana sedang memegang keranjang kotor dan melihat Gideon memegang benda Damian.


“Gideon, jangan menyentuh barang milik Damian. Dia akan marah.”


Gideon mendongak dan meletakkan kertas itu kembali. Ia pergi dan menuju ke kamar Damian. Di sana terdapat ranjang berukuran sedang dengan seprei berwarna abu-abu.


Gideon duduk perlahan di tempat tidur sambil mengamati rak buku penuh dengan cerita dongeng dan komik.


Gideon perlahan berbaring di sana sambil melipat kedua tangannya. Ia memejamkan matanya menikmati aroma unik yang keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Ketika Liana memasuki kamar Damian, ia melihat Gideon berbaring di sana. Ia ingin segera membangunkan Gideon jadi ia mendekatinya. Siapa sangka Gideon langsung membuka mata dan langsung memeluk pinggangnya dan menariknya.


“Gideon apa yang kamu lakukan?”


“Tidur dengan wanitaku.”


“Apa?”


“Aku ingin tidur denganmu.”


“Tidak bisakah kamu memikirkan hal lain.”


“Tidak.”


Liana berhenti meronta dan berjuang. Percuma saja, Gideon akan selalu bersikap semaunya.


“Wanita lain selalu berjuang untuk mendapatkan perhatianku tapi kamu malah menghindariku.”


“Wanita itu sedang dibutakan. Mereka tidak tahu mana yang baik dan buruk.”


“Mereka buta?” ucap Gideon sambil mengusapkan jemarinya ke wajah Liana.


“Ya.”


Ibu Jemari Gideon mengusap bibir Liana. Sambil bergerak perlahan dipegangnya kepala Liana dengan telapak tangannya dan menekankan tubuh Liana ke tubuhnya.


“Aku mendengar suara guntur atau itu suara debar jantungmu?”


Krucuk. Perut Liana mengeluarkan suara.


“Itu suara perutku.”


Liana mendorong Gideon dengan kuat. Ia kemudian berbaIik dari tempat tidurnya dan meninggalkan ruangannya.


Melihat bayangan rasa malu dari Liana, bibir Gideon tersenyum.


Liana pergi ke dapur dan melihat isi kulkasnya tapi tidak ada banyak bahan di dalamnya. Liana berpikir sejenak. Ia akan memasak bahan makanan yang ada untuk dibawa ke rumah sakit.


Sementara ia akan masak mie dan telur untuk dirinya sendiri.


Keterampilan Liana sangat baik karena ia terbiasa memasak makanan untuk Damian.


Di kamar tidur Gideon mencium aroma yang enak. Ia langsung keluar dari kamar. Sementara Liana sedang memasukkan makanan di dalam kotak bekal untuk Damian. Setelah itu ia menyajikan mie instan kuah pedas.


“Apa ini?”


“Mie instan.”


Seorang Tuan Muda dari keluarga Cross sama sekali belum pernah melihat mie instan rebus dilengkapi dengan telur dan sawi putih.


Liana meletakkan sumpit dan sendok dan Gideon langsung mengambilnya dan langsung mencicipinya.


Gideon terus mencicipinya sementara Liana memperhatikannya sambil menjilat bibirnya. Liana lalu mengambil sumpit lain.


“Itu milikku.”


“Aku hanya mencicipinya.”


Liana langsung mengambil mangkuknya dan melindunginya sebelum direnggut oleh Gideon.


“Kamu sudah makan setengahnya.”


“Aku masih lapar.”


“Lalu buatlah mie instan sendiri.”


“Aku tidak tahu cara membuatnya.”


“Kamu punya banyak koki di rumah. Suruh mereka membuatnya.”


Liana menyeruput mie nya dengan bahagia.


“Enak sekali.”


Gideon mengernyit ketika melihat Liana makan dengan suara berisik. Liana tidak menyadari bahwa Gideon diam-diam bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di samping Liana.


Gideon memegang tangan Liana yang hendak memasukkan mie ke dalam mulutnya. Kemudian ia membungkuk dan mengambil mie tersebut.


Liana tertegun oleh tindakkan Gideon.

__ADS_1


“Ini jauh lebih lezat.”


Liana langsung menelan salivanya dan mendorong mangkuknya ke arah Gideon.


“Makanlah, aku tidak makan.”


Gideon langsung tersenyum dan seperti anak kecil ia langsung melahapnya tanpa sisa. Setelah itu Gideon masuk ke kamar mandi.


Gideon tidak terbiasa dengan makanan pedas jadi perutnya agak terganggu. Saat ia menyalakan kran air hangat. Ternyata itu tidak berfungsi. Pemanas airnya rusak dan ia harus menggunakan air dingin. Jadi saat ia keluar dari kamar mandi. Ekspresinya masam.


“Ayo kita pergi!”


“Kemana?"


“Aku tidak mentolerir wanita dan anakku tinggal di kandang ayam.”


“Kandang ayam? Apartemenku?”


.........


Di dalam kantor real estat manajer penjualan memberikan brosur dan sedikit memberikan gambaran dan penjelasan dengan semangat. Gideon mengambil brosur tersebut dan melihat Liana yang duduk di sampingnya.


“Apakah kamu suka?”


Liana menggeleng.


“Ada yang lain?” tanya Gideon.


“Ya, ada di sini. Bagaimana dengan ini? Ini adalah rumah dengan konsep taman yang luas. Lantai pertama sangat luas dan dirancang mewah.”


“Kamu menyukainya?”


Liana mengangkat kepalanya, “Ya tapi apakah tidak ada yang lebih kecil?”


“Ah Nyonya ini adalah rumah terkecil—“


“Apa tidak ada apartemen?” tanya Liana.


“Kamu tidak suka ini?” tanya Gideon namun Liana hanya diam dan ragu. Sebenarnya rumah itu adalah rumah impian bagi Liana.


“Yang ini,” ucap Gideon.


“Baik, Presdir Cross. Tunggu sebentar.”


Saat manajer penjualan untuk mengurus beberapa hal yang diperlukan. Liana langsung menoleh ke arah Gideon hendak memprotes.


“Aku belum memikirkannya.”


“Apa yang perlu kamu pikirkan?”


“Berapa harga rumah ini?”


“Kamu tidak perlu tanya harganya.”


Saat Liana hendak bertanya lagi manajer penjualan sudah kembali.


“Mengapa tidak? Bagaimana jika aku tidak mampu membayarnya?”


“Nyonya harga rumah ini sekitar 1,3 miliar.”


Liana langsung mematung membeku.


Gideon langsung memberikan isyarat pada manajemen penjualan untuk segera memprosesnya.


“Ini...”


Manajer penjualan langsung memberikan sertifikat pada Liana.


“Kenapa kamu memberikan aku rumah?”


“Aku tidak ingin melihat anakku tidur di kandang ayam.”


Liana hendak ingin memprotes tapi suara panggilan dari ponsel Gideon menahannya.


“Jika aku tidak meneleponmu, apakah kamu masih ingat dimana rumahmu? Apakah kamu tahu berapa kali kami meneleponmu? Apakah kamu masih ingat istri dan anakmu?”


“Kakek, aku belum menikah.”


“Dia adalah tunanganmu, calon istrimu. Jangan membuatku marah! Dua puluh menit kamu harus ada di rumah.”

__ADS_1


Gideon hendak memprotes namun panggilan telepon itu diakhiri secara sepihak. Wajah Gideon menjadi dingin dan suram.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Liana saat melihat perubahan ekspresi Gideon.


__ADS_2