Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
56. Kencan


__ADS_3

Saat kembali ke rumah, Liana langsung menuju ke kamar mandi. Ia menggosok seluruh tubuhnya dan setelah selesai ia mengganti bajunya.


Ia berdiri di depan cermin dan melihat pantulannya sendiri. Ia melihat goresan kecil di sudut mata kanannya. Karena terlibat pertengkaran dengan Ruona.


Luka itu sangat dangkal hanya abrasi saja namun meskipun begitu rasanya agak perih.


Setelah makan malam, si kembar langsung berlari ke halaman untuk bermain bola. Dua bocah kecil kini seperti semakin akrab. Apalagi Daniel, bocah kecil itu suka sekali menempel dekat dengan Damian dan selalu menggodanya.


Liana duduk di sofa tengah yang menampilkan pemandangan halaman villanya sehingga ia bisa mengawasi si kembar.


Wanita itu melihat ke depan namun merasa sangat murung.


Ketika Gideon kembali dari kantor, ia menemukan Liana duduk di sofa sendirian dengan tenang. Wanita itu bersandar di salah satu sudut sofa.


Liana terkejut saat sepasang tangan tengah memeluk lehernya dari belakang.


Liana langsung menoleh dan mendapatkan Gideon. Menyadari bahwa Gideon sudah kembali, ia tersenyum padanya.


“Kamu sudah kembali?”


Gideon melepaskan pelukannya dan beralih duduk di samping Liana.


“Kamu sudah makan?”


“Ya, aku sudah makan dan anak-anak sedang bermain bola.”


Gideon mengangguk dan sedikit melonggarkan dasinya.


“Dimana anak kucingnya?”


“Di halaman, sedang bermain dengan si kembar.”


Duduk di sofa, Liana memperhatikan bahwa Gideon susah untuk membuka dasinya. Maka dari itu, ia mengulurkan tangannya untuk membantu.


Saat dasi sudah bisa di lepaskan, Liana menatap mata Gideon dan tiba-tiba teringat apa yang terjadi hari ini.


Ia memiliki keinginan untuk bertanya namun ia tidak mempunyai keberanian. Ia merasa bingung tentang bagaimana untuk memulai pembicaraan tentang masalah itu.


Gideon menangkap gelagat aneh Liana. Ia mengangkat alisnya. “Apa yang salah? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?”


Liana membuka dan menutup mulutnya beberapa kali akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggeleng dan tersenyum.


Liana memilih untuk percaya pada Gideon dan ia akan percaya. Meskipun ia tidak tahu motif Gideon mengadakan konferensi, Liana menolak untuk percaya bahwa Gideon akan mengumumkan pernikahannya dengan Ruona.


Karena Gideon tidak membicarakannya, ia memilih untuk tidak bertanya.


Liana mengangkat kepalanya dan tersenyum.


“Aku merasa bosan. Ayo kita pergi jalan-jalan.”


Gideon adalah orang yang sibuk dan jarang mempunyai waktu luang untuk jalan-jalan. Jadi ia tidak bisa melewatkan kesempatan ini.


Mereka berjalan kaki di tepi sungai yang ada di ibukota. Itu sangat luar biasa. Bersama pria tampan posesif di sampingnya dan protektif di setiap saat, Liana merasa terlindungi.


Liana melihat banyak pasangan muda yang duduk di bangku panjang sambil tertawa. Pemandangan yang romantis. Tiba-tiba ia sadar bahwa mereka jarang memiliki kencan.


“Ayo berkencan.”


Gideon menatap Liana dan tertawa. “Kita sudah menikah namun kamu masih ingin berkencan seperti anak-anak?”


Liana langsung cemberut. “Aku masih muda. Lagi pul siapa yang sudah menikah denganmu? Kita belum pernah berkencan seperti pasangan lain sebelumnya.”


“Baik, kamu menginginkan kencan yang seperti apa?”


“Mengapa jatuhnya aku yang memaksamu untuk pergi berkencan?”


Gideon terhibur dengan wajah Liana.


“Jadi Nona Liana Cross, apakah kamu bersedia berkencan denganku?”

__ADS_1


Liana tersenyum. “Baiklah.”


Liana sangat bahagia bisa berkencan di malam hari seperti pasangan normal lainnya. Sepanjang jalan, Liana tersenyum.


“Kenapa kamu semakin merapati ku?”


“Oh benar saja! Apa kamu tidak melihat para pria di sini? Mereka memperhatikanmu! Seakan-akan kamu adalah objek di sini.”


“Mereka sudah mempunyai pasangan.”


“Meskipun begitu mata mereka jelalatan.”


Hingga mereka sampai di mana ada bangku kosong di sana. Liana langsung menarik Gideon untuk mengikutinya.


Liana melihat pemandangan di sekitarnya, dan matanya jatuh pada satu pasangan yang saling memeluk erat dan terlibat ciuman panas.


Dengan cahaya yang temaram dan tidak ada yang memedulikan mereka, keduanya berperilaku sangat intim.


Liana merasa malu dan segera membuang muka.


“Ayo kita pergi.”


“Kemana?”


“Aku ingin es krim.”


Liana memegang tangan Gideon dan memasuki toko kecil. Ketika mereka melangkah masuk, mereka melihat seorang anak laki-laki yang tampak sedih.


Seorang berambut pendek memandanginya dan mencubit pipinya tanpa daya.


“Jangan mengambil itu, ibu tidak bisa membayar. Taruh di tempatnya semula.”


Liana melihat ekspresi wajah bocah itu.


“Anakmu sangat imut,” ucap Liana.


“Jangan tertipu dengan penampilannya sekarang. Aku sakit kepala saat dia bertingkah.”


Wanita itu sedikit terkejut. “Kamu tidak terlihat seperti seseorang yang sudah memiliki anak.”


“Benarkah? Kami sudah memiliki dua putra.”


“Apakah dia istrimu?”


“Ya, dia adalah istriku.”


Liana mengambil es krimnya dan juga mengambil kue yang diinginkan anak kecil itu. Liana dan Gideon keluar toko.


Liana memakan es krimnya dengan lahap.


“Apakah itu enak?” tanya Gideon.


“Hm, kamu mau?”


Gideon langsung menunduk namun ia tidak melahap es krim melainkan melahap bibir Liana. Ia mampu merasakan sisa es krim di sana.


Ciuman tak terduga membuat Liana berdiri terpaku di tempat dan tidak bisa berkata-kata.


“Hm, rasanya sangat manis. Aku mau lagi.”


Saat Gideon menundukkan kepalanya lagi, Liana menyodorkan es krimnya ke bibir Gideon.


“Makan itu.”


Liana tertawa dan berlari kecil.


“Beraninya kamu.”


Gideon berlari untuk mengejar Liana. Mereka berlari bersama dan tertawa. Gideon langsung merangkul Liana saat sudah dekat dengan jangkauannya.

__ADS_1


“Tunggu sebentar.”


Liana mengangkat ponselnya dan membuka kamera.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Mengambil foto bersama.”


Gideon mengangkat alis dan melihat Liana.


“Jangan melihatku, lihat ke kamera.”


Gideon menghadap ke lensa kamera dengan ekspresi kaku.


“Jangan terlihat serius. Sangat menakutkan. Senyum.”


Gideon mengubah ekspresinya menjadi tersenyum tapi yang ia tunjukkan adalah senyum dingin.


Liana melihat foto yang baru saja diambilnya.


“Senyumnya sangat jahat.”


“Jahat?”


Liana memilih salah satu foto yang lumayan dan mengunggahnya di medial sosial.


“Apakah kamu mempunyai akun media sosial?”


“Aku tidak punya,” ucap Gideon.


“Kamu sangat ketinggalan jaman.” Liana mengkritiknya.


“Ayo buat. Kamu tidak akan rugi membuatnya.”


“Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu.”


“Kenapa tidak tertarik?” tanya Liana.


“Itu merepotkan.”


“Aku akan membantu membuatkannya.”


“Akun media sosial sangat membosankan. Aku tidak melihat kesenangan di dalamnya.”


“Presdir Gideon Cross...”


Liana tampak tak bisa melanjutkannya kata-katanya dan hanya menghela napas. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


“Apakah kamu menikmatinya?” tanya Gideon.


“Huh? Apa?”


“Kencan pertama kita.” Gideon merapikan poni Liana dengan tersenyum. “Sudah hampir tengah malam, akankah kita kembali sekarang?”


“Kita berjalan sebentar lagi.”


Gideon menatapnya dengan dingin dan mengulurkan tangannya untuknya agar Liana dapat melihat waktu di arlojinya.


“Jam berapa sekarang?”


Melihat arlojinya, Liana dengan patuh menjawab. “Jam sebelas malam.”


“Ini sudah hampir tengah malam dan besok aku harus pergi ke kantor.”


Senyum Liana langsung membeku.


“Bisakah kamu...tidak pergi ke kantor?”


Tatapan Gideon sedikit berubah saat Liana memandangnya. Liana langsung memeluk pinggang Gideon.

__ADS_1


“Aku ingin kamu menemaniku. Jangan pergi ke kantor, tetap di rumah bersamaku. Oke?”


__ADS_2