Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
55. Kepercayaan Tanpa Syarat


__ADS_3

Niat Lia untuk menghubungi Liana adalah untuk meminta kemurahan hati Liana untuk Lili.


Gideon akan membiarkan Sam begitu saja namun ia tidak membiarkan Lili pergi dengan mudah.


Lili sebenarnya dari keluarga sederhana. Ia berasal dari desa. Setelah berpacaran dengan Sam, di bawah pengaturan keluarga Sam. Ayah Lili ditunjuk sebagai sekretaris desa.


Sayangnya baru-baru ini, ayahnya dilaporkan secara anonim karena mengeksploitasi otoritasnya, menggelapkan dana subsidi pemerintah untuk orang miskin dan menerima suap.


Situasi ini membuat ayahnya ditangkap. Beberapa aset mereka diambil dan ayah Lili harus mendekam di penjara.


Kondisi ini mempengaruhi mental ibunya. Beberapa kali ibunya pingsan dan jatuh stroke sehingga harus di bawa ke rumah sakit.


Ibunya harus mendapatkan perawatan lanjutan dan tentunya mahal padahal semua asetnya sudah dialihkan.


Lili kebingungan dan berakhir menghubungi Sam. namun Sam menolaknya karena mereka sudah putus. Lagi pula keluarga Sam juga hampir bangkrut karena ulah Lili yang tak mau kalah saing dengan Liana.


Di hari berikutnya, Lili diberitahukan tentang besaran biaya ibunya.


Satu-satunya harapannya adalah Liana namun ia tak sanggup memintanya sendiri sehingga ia meminta bantuan Lia.


Lia awalnya menolak namun Lili mengancam bahwa ia akan bunuh diri karena tak sanggup melihat ayahnya berakhir di penjara dan ibunya yang sakit-sakitan.


“Liana apakah kamu pernah mendengar kabar Lili sekarang?” tanya Lia.


“Tidak, memangnya kenapa dia?”


“Aku mendengar bahwa ayahnya dilaporkan melakukan korupsi dan penyuapan dan dia sekarang ditahan untuk penyelidikan. jika terbukti bersalah, kemungkinan ayah Lili akan masuk penjara.


Ibunya tak lama mendengar suaminya dipenjara lalu jatuh sakit dan terkena stroke. Karena semua asetnya dibekukan. Dia tidak bisa membayar biasa pengobatan...”


“Sebentar, apa maksudmu membicarakan masalah keluarga Lili? Denganku?”


“Aku hanya merasa penderitaan yang Lili hadapi sekarang menyedihkan. Meskipun dia salah bukankah hukuman ini terlalu berlebihan? Liana aku sangat mohon padamu untuk—“


“Tunggu duli! Hukuman? Menyedihkan? Lia, jika ayahnya tidak melakukan kejahatan, bagaimana dia bisa dilaporkan tanpa alasan. Jika ayahnya jujur kenapa harus takut.”


“Itu...”


“Apakah kamu mencurigaiku, bahwa aku membayar orang untuk membuat kejahatan pada mereka?”


“Tidak! Aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya merasa kasihan padanya. Kamu jangan terlalu banyak berpikir.”


“Lia, aku tahu kamu kasihan dengan Lili namun kamu juga harus memikirkan dari sudut pandangku juga. Jika kamu disakiti, apakah kamu akan memaafkan dengan mudah? Mungkin aku sudah memaafkannya namun aku tidak melupakan hal-hal yang ia lakukan padaku. Dan satu hal lagi, aku sama sekali tidak melakukan apa pun dengan keluarga Lili. Jika keluarga Lili melakukan kesalahan maka mereka harus mendapatkan konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.”


“Maaf Liana, aku hanya memohon belas kasihanmu atas permintaannya.”


Setelah Lia meminta


maaf, ia mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Liana mendesah dan meletakkan ponselnya ke atas meja.


“Apakah Lia meneleponmu meminta bantuan atas nama Lili?” tanya Suah.


Liana berusaha tidak mendesah ketika menjawab, “Ya, benar.”


Suah menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Dia memang wanita tidak tahu malu.” Suah bersedekap, sebal dengan sikap Lili yang menyebalkan.


“Menurutmu apa yang terjadi dengan keluarga Lili bukan kebetulan saja kan?”


“Ya, sepertinya ada campur tangan dari...”


Suah tidak berani melanjutkannya melainkan ia melihat ke arah Liana.


“Aku tidak peduli dengan kejadian yang dialami oleh Lili tapi aku merasa tidak nyaman.”


Suah segera menanggapi. “Mereka memanen apa yang mereka tanam.”


Liana mengangguk pelan.


Mereka melanjutkan percakapan mereka sampai dua jam. Lalu Liana melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


“Sebaiknya aku pergi sekarang.”


“Sekarang?”


“Ya.”


“Lain kali saja,” ucap Liana ia menggeser kursinya agar ia bisa keluar namun tanpa sengaja kursi itu mengenai seseorang.


“Aduh! Kamu punya mata atau tidak sih.”


“Maafkan aku,” ucap Liana meminta maaf dengan sopan.


“Liana?”


Liana mendongak dan melihat Ruona berdiri di depannya dengan sikap yang angkuh dan sombong.


Liana terlalu malas dan acuh tak acuh untuk terus meladeni Ruona. Liana langsung berbalik dan bersiap untuk pergi.


Ketidakpedulian Liana membuat Ruona marah.


“Tunggu dulu!”


Ruona mencekal pergelangan tangan Liana. Liana mau tak mau berbalik dan melihat tangannya yang dipegang Ruona.


“Lepaskan tanganmu.”


Ruona melepaskannya dan berbalik pergi.

__ADS_1


“Apa kamu tidak tahu bahwa Gideon akan mengadakan konferensi pers untuk merilis berita pernikahannya denganku?” teriak Ruona dan sukses membuat Liana berdiri membeku di tempatnya.


Ruona yang melihat reaksi Liana langsung tersenyum miring.


“Jangan omong kosong,” ucap Suah yang sudah berdiri.


Ruona hanya melirik Suah. “Aku bicara yang sebenarnya. “


Ruona lantas mendekati Liana dari belakang.


“Gideon akan mengadakan konferensi pers untuk mengumukan berita tentang pernikahannya denganku. Gideon akan segera menikah denganku. Jika dia benar-benar mencintaimu, apakah dia akan menikah denganku? Kamu hanya burung yang berada di dalam sangkar. Dia hanya bermain-main denganmu begitu dia muak denganmu, dia akan membuangmu dengan menyedihkan. Kamu pikir dia adalah duniamu tapi dia hanya berpikir kamu adalah mainannya. Apakah dia peduli denganmu? Tentu saja tidak.”


Liana hanya diam. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Gideon akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pernikahannya dengan Ruona.


Liana mengepalkan tangannya untuk menguatkan hatinya. Tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas sebelum ia berbalik untuk melihat wajah Ruona yang sombong.


“Kenapa aku harus percaya dengan kata-katamu?”


“Apa?”


Ruona dikejutkan oleh reaksi Liana.


“Apakah kamu tahu, bagaimana dia memperlakukanku? Apakah kamu, perasaannya padaku? Aku percaya padanya.”


Ruona tertawa dalam kemarahannya. "Ha ha ha kamu benar-benar wanita yang menyedihkan. Aku benar-benar menantikan hari dimana kamu akan menghadapi kenyataan yang menyedihkan.”


“Mari kita tunggu dan lihat nanti,” ucap Suah diantara mereka.


Ruona melirik tajam ke arah Suah.


“Ayo Liana, kita sebaiknya pergi.”


Suah mengajak Liana pergi dan itu sukses membuat api tersulur dari dalam Ruona. Ia ingin mempermalukan Liana tapi malah sebaliknya ia yang malah dipermalukan.


Ruona langsung menjambak rambut Liana dari belakang.


“kamu adalah wanita yang merayu pria dengan wajah licikmu. Kamu adalah rubah. Sihir apa yang kamu gunakan huh?”


“Ahh. Lepaskan tanganmu dariku.”


“Aku tidak mau.”


“Lepaskan dia!” teriak Suah yang langsung menjambak rambut Ruona.


"Ahh kenapa kamu menjambakku?” teriak Ruona.


Liana mau tak mau juga menjambak rambut Ruona. Ruona yang diserang dua orang benar-benar kesakitan.


Kepalanya sungguh nyeri.

__ADS_1


“Ahh lepaskan tangan kalian dariku.”


__ADS_2