
“Hentikan!”
Ketakutan sesaat, Ruona langsung melonggarkan cengkeramannya tanpa sadar.
Liana langsung meringkuk ke lantai. Ia segera meraup udara banyak dan terbatuk-batuk.
Simon Cross berdiri di depan pintu.
Ruona langsung cemas. Ia takut jika Simon Cross akan melihat wajah Liana dan mengenali kesamaan dalam fitur Liana dan Ariana.
“Kakek kenapa turun?”
“Aku khawatir jadi aku datang untuk melihat anak itu. Dimana dia? Bawalah kemari, aku ingin melihatnya.”
Pengawal khusus membawa Damian. Namun tatapan Damian hanya tertuju pada ibunya. Ia merasakan kesakitan saat melihat penderitaan ibunya.
Tatapan Simon sangat puas. Damian memang persis dengan Daniel tapi jika dilihat secara mendetail ada perbedaan di sana.
Damian langsung menoleh dan melihat Simon. Ia segera mengangkat tangannya dan memukul tangan Simon saat tangannya terulur untuk menyentuh Damian.
“Jangan menyentuhku!”
“Dia kakek buyutmu! Jangan kasar padanya.”
Simon malah tertawa. “Ha ha ha anak ini pemberani seperti ayahnya.”
“Kakek jangan memanjakannya. Anak ini perlu diberi pelajaran yang baik.”
“Ruona jangan katakan itu. Dia cukup baik bagiku. Tidak seperti anak lain yang gemetar dan takut-takut, dia tidak kenal takut dan pemberani.”
Ruona ingin memprotes namun tidak berani.
“Siapa namamu?”
Damian mengabaikan pertanyaan Simon. Simon pun kembali tertawa.
“Kamu punya nyali rupanya.”
“Turunkan aku!”
“Turunkan dia, jangan sakiti anak itu.”
Damian berjuang untuk melepaskan diri. Begitu ia berhasil, ia langsung berlari menghampiri ibunya.
Damian langsung membuka ikatan tangan ibunya dan melompat ke pelukannya.
“Ibu...Ibu..”
Damian memeluk ibunya dengan erat.
Simon ingin melihatnya namun dicegah oleh Ruona.
“Kakek jangan pergi. Aku takut wanita itu akan menyakitimu.”
“Ruona...
“Aku akan mengambil anak itu. Kakek sebaiknya kembali ke mobil.”
Dengan itu, Ruona langsung berbalik dan menuju ke Liana.
“Serahkan anak itu.”
Liana mengeratkan pelukannya dan mengedarkan pandangannya.
“Simon Cross?”
__ADS_1
Liana dapat mengenalinya. Liana ingin mengakuinya dan membongkar semua kedok Ruona.
Aku harus membongkar identitas Ruona jika tidak. Tidak ada peluang lagi. Inilah harapan untuk bisa melindungi Damian dan aku.
Sambil menggertakkan gigi, Liana berjungan untuk berdiri dengan Damian berada di pelukannya.
Ruona langsung mendorong Liana ke samping.
“Kakek...kakek...”
Ruona mencekiknya dengan keras sehingga itu mempengaruhi suara Liana sekarang.
Simon menyipitkan matanya saat mendengar kata-kata yang tidak jelas. Ia ingin melihat wanita yang ada di lantai. Namun Ruona menghalangi pandangannya.
Kesan Simon terhadap Liana sangat buruk ketika cucunya berhubungan dengannya berulang kali bahkan tanpa status. Karena itu Simon tidak ingin melangkah maju meskipun sangat penasaran.
Ruona kembali mendorongnya ke lantai hingga Liana tersungkur.
“Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa kamu bisa menjadi Nyonya Muda Cross setelah melahirkan dua anak? Dalam mimpimu.”
Ruona langsung mengambil Damian dan menyerahkannya ke pengawal khusus. Sementara Ruona melompat dan menarik rambut Liana dan memberikan pukulan.
Liana memberikan perlawanan dan Ruona kesulitan menangani Liana yang marah.
Melihat Ruona disakiti. Simon merasa marah. Ia maju dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
Jantung Liana berdetak kencang saat matanya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia menutup matanya dan menahan napas. Suara renyah langsung terdengar namun Liana tidak merasakan sakit apa pun.
Liana membuka matanya. Damian berbaring di atasnya dan melindunginya.
“Damian!”
Simon terkejut. Ia membuang tongkatnya dan langsung memeluk Damian yang pingsan.
Ia berjuang mati-matian namun percuma.
...○●□■...
Pintu utama terbuka lebar. Simon Cross tampak cemas dan khawatir. Di belakangnya ada beberapa dokter yang mengikutinya.
Dalam pelukan Simon, Damian tampak lemah.
Tepat ketika Daniel hendak tidur, bocah itu dikejutkan oleh suara bising dari lantai bawah.
Memiliki Indera pendengaran yang tajam, suara yang terdengar kecil. Daniel akan bangun segera.
Menggosok matanya, Daniel membuka pintu. Tepat saat itu, kakeknya membawa anak kecil ke kamar yang ada di sebelah kamarnya.
Daniel berdiri tertegun, tak mampu mempercayai penglihatannya. Jantungnya berdetak kencang, meskipun Daniel tidak melihat dengan jelas siapa bocah yang digendong kakeknya namun Daniel melihat gelang yang dipakai anak itu.
“Damian? Kenapa dia ada di sini?”
Karena Daniel sudah lama tidak pergi ke kediaman Cross dan Daniel terus tinggal bersama Kinara.
Kakeknya meneleponnya dan mendesak mengunjunginya. Baru kemudian Daniel kembali dan tinggal beberapa hari. Itu juga karena ayahnya melakukan perjalanan bisnis.
Jadi Daniel tidak bisa membuat alibi.
“Dam...”
Daniel langsung berlari kemudian terjatuh ke lantai dan segera bangkit untuk meraih baju kakeknya.
“Kakek...dia siapa? Kenapa dia persis denganku?”
__ADS_1
“Daniel. Tunggu di kamarmu. Aku akan menjelaskanmu nanti.”
Dengan itu, Daniel melihat kakeknya masuk ke dalam kamar dengan Damian. Beberapa dokter juga ikut masuk dan menguncinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Daniel kembali bergegas ke kamarnya dan mengunci kamarnya.
Daniel duduk di tempat tidur dan menelepon ibunya dengan jam pintarnya yang dapat melakukan panggilan.
Panggilan itu masuk tapi tidak ada yang mengangkatnya.
Daniel melompat berdiri. Sambil menggertakkan giginya. Daniel memanggil ayahnya hanya untuk menunjukkan bahwa teleponnya mati.
“Ya ampun, ayah!!!!”
Khawatir dan gelisah, kembali keluar kamar dan menunggu di luar kamar sebelahnya.
Ia hanya mondar-mandir di sana. Daniel tidak tahu sudah berapa lama ia menunggu.
Membutuhkan waktu yang lama sebelum pintu terbuka. Daniel langsung menerobos masuk dan ia bertabrakan dengan para dokter yang hendak keluar.
“Kakek!”
Pandangan Daniel langsung tertuju pada Damian. Daniel berjalan ke arahnya dan matanya jatuh pada bahunya yang terluka.
Simon ingin memperbaiki letak baju Damian namun anak itu segera menepisnya.
“Jangan sentuh aku!”
Nada suara Damian terdengar dingin.
“Kakek, biar aku yang melakukannya.”
Daniel langsung memperbaiki letak baju Damian.
“Bocah kecil kamu cukup marah padaku dan kamu cukup menurut pada Daniel.”
Tangan Daniel langsung terhenti dan setelah selesai, ia langsung pergi ke sisi kakeknya agar tidak dicurigai.
“Siapa namamu?”
“Kenapa aku harus memberitahumu?”
“Karena aku kakek buyutmu. Jadi kamu harus memanggilku kakek buyut.”
“Aku tidak mau.”
Damian menatap Simon Cross. Matanya sedikit menyipit. Wajahnya menunjukkan arogansi.
Simon Cross tersenyum karena merasa Damian sangat menarik.
“Sepertinya kamu ingin menawarkan sesuatu. Bagaimana itu?”
“Lepaskan ibuku.”
“Tidak!”
“Kenapa kamu menahan ibuku? Apa hakmu?”
“Karena ibumu sudah melanggar isi kontraknya. Dia membawamu pergi dan menyembunyikanmu dari kami selama bertahun-tahun. Bagaimana aku bisa memaafkannya. Dia harus menerima konsekuensinya.”
“Dia ibuku yang melahirkan dan membesarkanku terlepas dia sudah melanggar kontraknya. Kakek, kamu tidak bisa menahannya.”
Simon Cross tercengang.
__ADS_1
“Aku memanggilmu kakek karena aku menghormati ayahku. Tapi aku juga punya batasan sendiri. Jika kakek melanggar batasanku juga, aku juga bisa membuatmu menyesal.”
“Apakah kamu mencoba mengancamku?”