Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
78. Rapat Direksi


__ADS_3

Dewan Direksi tadinya berpikir Gideon hanya bercanda. Namun melihat kesungguhan Gideon, semua direksi menjadi gelagapan.


“Apakah kamu akan melangkah sejauh ini?”


“Aku benar-benar ingin melihat wanita itu dan mencari tahu siapa dia sebenarnya. Bagaimana bisa ia membuat Presdir Gideon begitu konyol.”


Bibir Gideon melengkung di wajah tampannya. Ia terus diam tidak menanggapi keluhan dan kata-kata yang terus membabi buta.


Gideon tetap tenang karena pada kenyataannya, Liana sudah ada di bawah perlindungannya. Adapun dua anaknya sudah lolos dari Kevin.


“Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh memberikan saham pada Kevin. Kamu harus tahu, betapa pentingnya kamu bagi CGI Group.”


“Apakah menurut paman aku melakukan sesuatu tanpa perencanaan?”


“Aku tahu kamu mempunyai kemampuan tapi kamu harus bertanggung jawab.”


Wajah Gideon tanpa ekspresi dan dingin. Ia mempertahankan ketenangannya.


“Tidak bisa. CGI Group hanya mempunyai satu CEO dan itu hanya kamu. Kamu tidak bisa membiarkan seorang wanita mempengaruhimu.”


Gideon mengerutkan alisnya. Wajahnya berubah sedingin es.


Gideon melihat sekeliling. Ia menunjukkan seorang penguasa pada direksi-direksi yang hadir.


“Berbicara tentang ini, aku punya sesuatu yang ingin aku umumkan pada semua orang. Sebelumnya, CGI Group akan melakukan konferensi namun itu ditunda karena beberapa alasan. Setelah masalah ini diselesaikan, terlepas aku tetap menjadi CEO atau tidak. Aku akan mengumumkan pernikahanku.”


Semua orang tercengang.


“Pernikahan?”


“Siapa yang ingin kamu nikahi?”


“Tentunya bukan dia kan? Liana?”


“Ya, aku akan mengumumkan pernikahanku dengannya.”


“Bagaimana bisa? Apakah Tuan besar sudah setuju?”


Gideon langsung duduk di kursinya lagi. Ia membuka lacinya dan menunjukkan sebuah lambang keluarga Cross.


Lambang keluarga Cross adalah sebuah naga. Ini adalah tanda warisan keluarga Cross.


Memiliki stempel ini berarti kekuatan terbesar ada pada tangannya.


Pamannya yang hadir di sana langsung terkejut.


"Bagaimana bisa? Kapan kamu mendapatkannya?”


“Aku mempunyai otoritas tertinggi, paman.”


Gideon mengangkat dagunya dengan sikap yang sombong tak terbantahkan.


Tatapan dingin Gideon menyapu pada mereka.


“Apakah kamu keberatan dengan pernikahanku? Terutama kamu paman?” tanya Gideon.


“Apa yang terjadi saat rapat dewan nanti? Apakah kamu akan memberikan saham padanya?”


“Aku rasa pendengaranmu masih berfungsi..”


Gideon kembali berdiri dari kursinya.


“Aku masih punya banyak hal untuk dihadiri, jadi aku pergi dulu. Jangan berani menyentuh mereka di bawah tubuhku.”


Gideon kemudian melangkah keluar dari ruangan tanpa memandang ke belakang. Pintu ditutup dengan suara keras.


Ketika Gideon sudah pergi, salah satu dewan langsung mengamuk sementara paman Gideon tetap tenang. ia terlalu kecewa karena keponakannya.

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


...♡♡...


Seorang wanita berjalan masuk ke vila mewah dengan tergesa-gesa. Ada seorang pria yang berjalan di belakangnya.


“Liana, perhatikan langkahmu.”


Liana terus berlari tanpa mendengarkan ucapan Gideon. Liana langsung menaiki tangga dan membuka pintu kamar dimana Daniel tidur.


Saat Liana datang, Daniel baru saja terbangun.


Liana langsung berlari ke samping Daniel. Ia memeriksa wajah Daniel dengan hati-hati.


“Daniel.”


Suaranya yang dipenuhi kesenduan terdengar di sana. Dengan mata merah, Liana langsung memeluknya.


“Bu...”


Jantungnya berdenyut-denyut menyakitkan dan air mata sedih mengalir dari matanya.


“Aku minta maaf...”


“Bu, aku sudah kembali sekarang.”


Liana memeluknya semakin erat.


“Daniel, ibu sangat merindukanmu.”


Daniel yang semula menahan air matanya, tidak bisa lagi melakukannya. Air matanya yang ia bendung pada akhirnya merembes juga.


“Ibu, Daniel merindukan ibu.”


Gideon perlahan berjalan dan duduk di samping mereka. Tangannya merengkuh mereka.


“Ayah.”


Daniel mendongak dan Gideon melihat jagoan pertamanya ini. Ia melihat wajah Daniel yang pucat dengan perasan campur aduk.


“Kamu melakukannya dengan baik.”


Daniel tidak bisa menahan senyum karena terkejut dan memperlihatkan gigi kelincinya.


“Apakah ayah baru saja memujiku?”


“Bagaimana menurutmu?”


Meskipun mata Gideon melotot menggoda, ada rasa pengakuan di sana. Gideon tidak bisa menahan diri untuk menggosok rambutnya dengan penuh kasih.


“Kamu istirahatlah. Ibu akan menemanimu.”


Daniel sangat senang mendengarnya. Wajahnya sedikit memerah. Kata-kata ibunya adalah kejutan yang seperti mimpi.


Daniel hidup dalam kemewahan. Pada dasarnya saat ia menginginkan sesuatu, ia dapat langsung memilikinya.


Daniel lahir dari keluarga sendok emas. Namun adakalanya ia sangat iri dengan teman-temannya.


Ia iri pada teman-temannya setiap kali melihat teman-temannya berlari ke gerbang sekolah dengan kedua orang tuanya.


Ayahnya tidak mempunya banyak waktu untuknya.


Harapannya dari dulu adalah ayahnya menghabiskan sedikit lebih banyak waktu bersamanya.


Sekarang ia mempunya ibu. Ibunya akan menemaninya dan dengan sabar merawatnya sambil mengupas buah dan juga membeli makanan penutup favoritnya dan memberinya suapan.


Daniel diam-diam senang membayangkan ibunya menemaninya dalam beberapa hari.

__ADS_1


“Ibu yang terbaik. Ibu yang paling aku cintai.”


Liana terkekah dan tidak bisa menahan mencubit pipinya.


Gideon mendapati dirinya diabaikan. Pria itu langsung memeluk Liana dari belakang.


“Ayah, lepaskan ibu! Ibu milikku.”


“Dia milikku.”


“Dia milikku.”


“Milikku.”


Daniel memberinya tatapan merajuk. Daniel saat ini seperti anak kucing yang baru saja dibuang. Namun Gideon tidak luluh dengan tatapan itu.


Pria itu semakin memeluk Liana dengan erat sebagai deklarasi kepemilikannya.


Liana yang berada di tengah hanya terdiam.


“Berhenti main-main.”


“Bu, aku haus.”


Liana segera berdiri dan mengambilkan Daniel segelas air. Bocah itu meminumnya sampai tandas.


Daniel tiba-tiba merasakan kehadiran orang. Ia mengangkat kepalanya dan matanya terbelalak.


“Kakek buyut...”


Liana terkejut dan berbalik. Matanya berkedip untuk sesaat. Kedatangan Simon tiba-tiba mengakhiri suasana hangat di ruangan itu.


“Kakek, mengapa kamu tidak istirahat?” tanya Gideon.


“Aku tidak enak terus berbaring. Aku bertanya pada asisten keberadaan Daniel. Aku ingin melihatnya.”


Liana tetap diam di tempatnya.


“Daniel, kakek di sini untuk melihatmu. Kamu menderita luka dan aku ingin menemanimu.”


“Kakek buyut, aku baik-baik saja.”


Liana menatap Daniel dan berdiri. Liana langsung keluar. Saat ia berpapasan dengan Simon. Pria itu menghentikannya.


“Liana...”


Simon mencoba meraih tangannya namun Liana menghindari tangannya dan pergi.


Gideon tertegun saat melihat ini. Ia berjalan maju untuk menjemput Liana.


“Kakek jaga Daniel.”


“Ya.”


...♡♡♡...


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Gideon ketika melihat Liana berada di taman.


“Aku masih takut padanya.”


“Dan kamu akan terus menghindarinya?”


Liana langsung menatap Gideon.


“Aku ingin bertemu dengan Damian.”


“Dia ada di vila lainnya. Aku sengaja memisahkan mereka agar Kevin tidak bisa menemukannya."

__ADS_1


Liana mengangguk.


__ADS_2