
Sebenarnya Liana ingin pulang namun ia tidak enak hati dengan Kingston. Alhasil ia berdansa dengan Kingston untuk memberi wajah pada pria itu.
Liana berusaha mengikuti langkah Kingston dan menyeimbangkan lagu dengan gerakannya. Namun sepertinya Liana tidak berbakat untuk dansa. Beberapa kali ia menginjak kaki Kingston.
“Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Kamu akan terbiasa. Kamu menikmatinya?”
“Ya.”
Kingston menekan tubuh Liana kuat-kuat ke tubuhnya. Ia ingin mendeklarasikan bahwa ia bisa merebut dia dari tangan Gideon.
Sementara Gideon dari tadi mencoba menahan amarahnya. Kini amarahnya memuncak. Ia dengan segara bangkit dari kursinya.
Ia tidak mengucap ajakannya pada Liana secara sopan ataupun beramah-tamah dengan Kingston. Pria itu langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Liana. Sementara tangan lain sudah menggenggam tangan Liana.
Gideon memeluknya dengan erat dan membimbingnya dengan perlahan. Sementara itu, Kingston menatap Gideon dengan murka. Ia kehilangan kesempatannya lagi.
Saat dansa Gideon tidak mengucapkan apa-apa. Liana tidak perlu berkata-kata.
“Nona Liana, tarianmu begitu kaku.”
“Aku tidak terlalu pandai berdansa. Jadi bisakah kita selesaikan ini lebih cepat.”
Gideon menyipitkan alisnya tapi kemudian ia melengkungkan bibir tipisnya.
“Kenapa? Kamu mengejekku? Kamu mengejek wanita lemah sepertiku?” ucap Liana.
“Kamu bukan wanita lemah melainkan wanita yang penuh dengan duri.”
“Seperti bunga mawar?”
“Tidak tapi lebih tepatnya seperti landak. Landak betina.”
“Landak betina? Jika aku landak betina lalu kamu apa? Kuda liar.”
“Kuda liar?”
Musik berhenti kemudian namun Gideon tidak melepaskan Liana. Pria itu masih menggandeng lengan Liana dan membimbingnya dengan salah satu pintu yang menuju teras.
Liana mengikuti langkah Gideon tanpa ragu. Mereka melintasi teras dan jalur sempit. Liana hendak memprotes namun sebelum wanita itu bisa memprotes, Gideon memeluknya dan mengayunnya agar duduk di salah satu kursi.
“Kakimu lecet.”
Liana menyipitkan matanya. “Bagaimana bisa kamu tahu? Ini sepatu baru tentu saja kakiku jadi lecet.”
“Aku melihatmu melepaskan sepatu sebelum kamu berdansa dengan dia.”
Gideon mengangkat gaun Liana lalu mengangkat tungkainya. Dilepaskannya sepatu dengan hak tinggi yang tidak nyaman dari kaki ramping wanita itu lalu memijatnya dengan jemari yang lentik.
Lelaki itu menyeringai, mengabaikan gerakan refleks otomatis Liana yang akan menarik kakinya.
Keduanya berdiam diri dalam keheningan yang timbul oleh keakraban yang tak terduga.
“Terpesona oleh ketampananku?”
Liana langsung menoleh ke kanan mengabaikan ucapan Gideon. Ia menjadi salah tingkah karena tertangkap basah menatapnya.
“Tidak, kuda liar seperti tidak sebanding dengan King. King lebih tampan darimu.”
Liana bergerak-gerak gelisah oleh tatapan Gideon yang tajam. Pria itu mengamati Liana. Mulai menatap dari ujung kepalanya dan mengamati wajah Liana turun ke leher dan dadanya.
“Apa? Ada apa?” tanya Liana. Ia mengontrol bibirnya agar tidak gemetar sementara Gideon terdiam dan kembali fokus pada kaki Liana.
“Aku rasa sudah cukup,” ucap Liana lalu menyentakan kakinya. Ia melompat turun dari kursinya sebelum Gideon membantunya memasangkan sepatunya.
“Tidak, tunggu.”
“Apa?”
.........
Anji kali ini menjadi bulan-bulanan Daniel. Bagaimana tidak, setiap ia kesal melihat Gideon menggoda ibunya. Ia akan menginjak kakinya dengan kesal.
Anji mati-matian menahannya. Ia juga langsung menggendong Damian, saat pria kecil itu berusaha masuk ke dalam sana.
“Lepaskan aku.”
“Damian, aku bisa menahan diri untuk tidak mengeluh kamu menginjakkan kakimu. Tapi aku akan mengeluh jika kamu pergi ke sana.”
“Orang itu jelas menggoda ibuku. Aku tidak bisa membiarkannya.”
“Damian tenanglah.”
“Tidak bisa.”
Pada saat itu mata Damian tak sengaja melihat Daniel. Damian tertegun saat Daniel berlari ke arahnya dengan menangis.
Damian langsung bersembunyi di belakang Anji sehingga ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Daniel.
__ADS_1
“Damian, sepertinya dia akan datang kemari.”
“Ayo pergi, jangan pedulikan dia.”
Damian berbalik dan pergi sementara Anji mengikutinya dari belakang.
“Berhenti! Berhenti! Jangan pergi.”
Damian berbalik dan terkejut saat Daniel dengan cepat menyusulnya.
“Kenapa dia lari begitu cepat sekali? Ayo kita lari juga.”
Anji yang memegang tangan Damian bertanya, “Kenapa kita harus lari?”
“Karena aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak mengenal dia.”
Anji tersenyum. “Kamu terlihat imut saat bertindak kekanakan.”
“Katakan lagi dan aku tidak akan pernah membayarmu.”
“Aku lelah, gendong aku.”
Anji langsung membungkuk dan menggendong Damian. Anji bahkan lari lebih cepat untuk menghindari Daniel.
Daniel yang terengah-engah berhenti di jalannya sambil menatap pria yang lari di depannya sampai jauh.
Dia dengan marah memegang pinggangnya dan menginjak-injak lantai.
“Ah, apakah dia saudaraku? Aku yakin dia yang ada di mimpiku. Dia pasti saudaraku.”
.........
Setelah pesta selesai. Semua tamu mulai menikmati pesta minum-minum. Liana sama sekali tak menyentuh alkohol. Ia hanya minum jus jeruk namun visusnya tiba-tiba mulai kabar.
Apalagi sedari tadi ia tidak mendapati Kingston dimana pun. Liana berkeliaran untuk mencari Kingston dan memintanya untuk mengajaknya segera pulang karena ia memikirkan Damian.
“Nona.”
Liana mengamati seorang petugas yang menghentikan langkahnya.
“Apa?”
“Apakah nona ingin pulang? Kami bisa mengantarkan nona pulang.”
“Apakah ini layanan dari hotel?”
“Bisa dikatakan seperti itu.”
Liana sama sekali tak mencurigainya karena yang ada di otaknya hanya ia ingin pulang. Ia masuk ke dalam mobil tanpa ragu.
Dan pelayan itu menyerahkan sebuah alamat pada sopir. Mobil pun melaju ke tempat yang ditunjuk. Sepanjang jalan Liana memejamkan matanya karena kepalanya yang pening.
Jadi ia tidak menyadari bahwa jalur yang mereka ambil salah. Mereka menuju ke salah satu vila pemilik direktur Rick.
Ponsel pelayan hotel itu berbunyi. Rupanya itu dari Johan.
“Bagaimana?”
“Kami mendapatkannya. Kami akan melakukannya sesuai rencana.”
“Bagus. Pastikan tidak ada yang tahu.”
“Aku mengerti.”
Johan langsung menutup teleponnya dan berbalik. Ia melihat Ruona yang sedang memperbaiki bajunya.
“Apakah semuanya berjalan sesuai dengan rencana?”
“Ya, tidak ada masalah.”
“Bagus, aku juga menyiapkan beberapa wartawan di sana. Besok akan ada berita bagus.”
.........
Liana masih memejamkan matanya. Sementara pelayan hotel itu menoleh ke belakang dan mendapati sebuah mobil mengikutinya. Tak sampai di sana. Sorot lampunya dinyalakan untuk membuat mereka silau.
“Apakah mobil itu mengikuti kita?”
“Tetap mengemudi.”
Mobil sport yang mengikuti mereka menyalakan lampu lebih tajam. Mobil itu langsung menancapkan pedal gasnya dan memblokir mobil Liana.
“Sial.”
Seorang lelaki jangkung keluar dari mobil tersebut. Gideon pergi ke sisi mobil tersebut dan langsung membuka pintu mobilnya. Ia mendapati Liana di sana.
“Apa yang kamu lakukan?”
Pelayan hotel tersebut turun dan memblokir jalan Gideon.
__ADS_1
“Wanitaku ada di dalam. Jelas aku akan membawanya.”
“Siapa? Dia? Apakah kamu bercanda?”
Gideon tidak mempunyai kesabaran lama. Ia langsung menodongkan pistolnya.
“Kamu siapa?” tanya pelayan hotel dengan takut.
“Kamu akan tahu.”
Gideon langsung membawa Liana pergi.
“Alan, urus sisanya.”
“Baik, Presdir.”
Alan langsung menyuruh anak buahnya. Ia sendiri langsung membukakan pintu mobil untuk Gideon.
“Presdir, kita mau kemana?”
Gideon melihat wanita yang meringkuk di lengannya sambil berkata, “Rumah.”
Gideon menghela napas panjang. Saat melihat Liana yang begitu ceroboh dan begitu saja percaya dengan orang lain dan itu membuatnya hampir celaka.
Gideon yang kesal langsung mengacak-acak rambut Liana.
Liana yang merasakan sesuatu di rambutnya langsung membuka dan mendongak.
“Jangan menyentuhku.” Liana langsung memukul dada Gideon dengan kuat.
Gideon tersenyum dan jarinya terulur untuk menyentuh bibir Liana yang mengerucut karena kesal.
Liana mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menggigit jari Gideon.
“Lili, kamu.”
Liana tersenyum. “Kamu jahat jadi kamu pantas mendapatkannya.”
Gideon yang gemas langsung mencubit hidung Liana.
“Akh, kamu menghancurkan hidungku.”
Liana sedikit membuka matanya dan meletakkan kedua tangannya di pipinya. Kepalanya ia miringkan sambil melihat Gideon lama.
“King...”
Wajah Gideon langsung memudar dan kaku. Suasana di dalam mobil langsung turun drastis.
“Siapa? Siapa aku?”
Gideon mencubit dagu Liana sehingga Liana mengaduh kesakitan.
“Lepaskan.”
“Katakan siapa aku?”
Liana langsung mengangkat kedua tangannya dan ia daratkan ke pipi Gideon.
“Siapa kamu? Aku tidak tahu.” Liana menggeleng pelan sambil tersenyum.
Gideon tidak bisa membantu tetapi mencibir karena kebodohan Liana.
“Perhatikan wajahku baik-baik atau aku akan menggigitmu. Siapa aku?”
Liana memperhatikan wajah Gideon dengan hati-hati. Matanya yang kecil berkedip untuk menelisik setiap senti wajah Gideon.
Wajah mereka sangat dekat dan hampir hidung mereka bertabrakan.
Ia tersenyum manis namun setelahnya ia menggeleng. “Aku tidak tahu.”
“Kamu ingin bermain denganku?”
Wajah Gideon langsung tertuju pada leher Liana. Ia menggigit di sana.
“Akh berhenti! Apakah kamu seorang vampir?”
Gideon berhenti saat mendengar nada memohon dari Liana.
“Kamu menggigitku.”
“Panggil namaku, aku tidak akan menggigitmu.”
Liana menangis dan cemberut.
“Gi...”
“Apa?”
“Gideon. Gideon Cross.”
__ADS_1
Gideon yang merasa namanya dipanggil langsung menundukkan kepalanya dan menargetkan bibir Liana yang kenyal dan lembut.