Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
35. Hadiah


__ADS_3

Liana terbangun dini hari. Ia mengamati wajah Gideon yang tampan bak dewa suaminya. Sesekali ia tersenyum ketika ia mendengar dengkuran kecil keluar dari Gideon.


Liana melirik jam besar yang terpanjang di tembok. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia memutuskan untuk menuju ke dapur untuk mengambil air minum karena tenggorokannya kering.


Saat ia menyibakkan selimutnya, tanpa sengaja ia melihat pintunya terbuka. Dari ranjangnya ia melihat sosok pria kecil sedang mengintipnya.


Dari perawakannya, Liana paham betul bahwa pria kecil itu adalah Damian.


“Damian?”


Sosok itu kemudian membuka pintu lebih lebar dan melihat ke arah Liana.


“Kenapa kamu berdiri di sana? Kemarilah!”


Damian langsung berlari kecil menuju ke arah Liana. Ia langsung menaiki ranjang dan memeluk ibunya.


Damian memeluk ibunya dengan sangat erat. Kelopak matanya tiba-tiba terasa perih. Segalanya tampak redup di depannya ketika kabut menggenang di matanya.


“Bu, apakah ibu berhenti menyayangi Damian?”


Damian cemberut kesal saat air mata mulai menetes.


“Itu tidak benar. Ibu sangat menyayangi Damian.”


Di sisi lain, rupanya sosok lain muncul dari depan pintu. Sosok itu berdiri di sana sambil melihat adegan ibu dan anak yang saling berpelukan.


Mata Daniel terlihat terluka.


“Bu, jika mereka merebut perhatianmu. Aku tidak ingin ayah dan aku tidak ingin adik laki-laki. Aku hanya ingin ibu.”


“Damian jangan mengatakan hal itu.”


Daniel tercengang dan seolah disambar petir. Pria kecil itu merasa tubuhnya menjadi dingin dan kaku.


Adapun Gideon yang masih berbaring di ranjang sebenarnya sudah terbangun. Hanya saja melihat tindakan Damian.


Damian sangat posesif dengan Liana.


“Aku mencoba menerima mereka sebelumnya tapi aku tidak bisa sekarang. Aku hanya menginginkan ibu. Ibu, Damian akan melindungi, merawat dan mencintai ibu.”


“Damian.”


Liana menguraikan pelukannya. Ia menghela napas panjang sambil menyentuh surai rambut lembut Damian. Liana belum pernah melihat Damian sepanik ini sebelumnya.


“Damian. Pria yang ada di sampingmu adalah Ayahmu dan Daniel adalah kakak laki-lakimu. Mereka sangat menyukaimu dan akan melindungimu.”


Damian langsung menggelengkan kepalanya. “Aku tidak butuh mereka.”


“Jika Damian terus bersikap keras kepala. Ibu akan marah!”


“Ibu jahat!”


“Kamu berani melawan ibu.”

__ADS_1


Damian belum pernah melihat ibunya terlihat marah sebelumnya.


“Damian akan berhenti memedulikan ibu. Damian benci ibu!”


Begitu Damian mengatakan itu, bocah kecil itu berlari keluar dari kamar Liana. Saat ia tepat akan keluar. Damian melihat Daniel ada di sana. Damian langsung merengut dan berlari ke kamarnya.


Liana yang melihat kepergian Damian tanpa sengaja melihat keberadaan Daniel.


“Daniel.”


Daniel langsung berjalan menuju ke arah Liana.


“Bu, apakah Damian kesal karena aku?”


Liana tersenyum. “Tidak. Di sama sekali tidak kesal.”


“Tapi dia... bu, sebenarnya saat aku datang ke sini. Aku membawakannya hadiah. Tapi aku belum sempat memberikannya. Bu, bisakah kamu memberikannya?”


.........


Tanpa ragu Liana mengetuk pintu kamar Damian lalu ia membukanya dengan pelan. Dilihatnya Damian yang menggelung di bawah selimutnya.


“Damian,” panggil Liana dengan lembut namun Damian tak menghiraukannya.


“Apakah kamu masih marah dengan ibu? Apakah kamu masih membenci ibu?” tanya Liana dengan sedih. “Huh? Hati ibu jadi sedih.”


Segera setelah, suara pintu perlahan menutup terdengar. Damian mengeluarkan kepalanya dari selimutnya.


“Ibu!”


“Peluk!”


Liana langsung memeluk erat Damian dan memberikan kecupan di puncak kepala Damian. Mata Damian yang semula bengkak kini menjadi bulan sabit saat senyum tanpa sadar menghiasi bibirnya.


“Jadi, apakah Damian masih membenci ibu?”


“Bagaimana bisa Damian membenci ibu? Ibu yang terbaik.”


“Ah, benar ibu ada sesuatu untukmu. Daniel memberikan hadiah khusus untukmu.”


Damian langsung memegang hadiah tersebut. Hadiah itu dibungkus dengan indah.


“Ibu penasaran dengan apa yang dia berikan padamu.” Liana sengaja menguji Damian. “Kenapa kita tidak membukanya dan melihatnya?”


“Tidak! Bungkusnya sangat indah.”


Sebenarnya Damian sangat menyukai hadiah itu. Ini adalah pertama kalinya, ia mendapatkan hadiah dari saudara laki-lakinya namun ia tidak bisa mengekspresikannya.


Liana mencubit pipi Damian dengan gemas. “Ibu mencintaimu. Tempat Damian dalam hati ibu tidak pernah bisa digantikan oleh siapa pun.”


“Damian juga mencintai ibu. Tidak! Damian sangat mencintai ibu.”


Liana mendaratkan ciuman manis di dahi Damian. “Tidurlah.”

__ADS_1


“Baiklah.”


.........


Ketika pagi hari, Ruona terlihat sangat lesu. Ia menutup matanya kembali setelah meletakkan ponselnya. Selama beberapa terakhir, Ruona sama sekali tidak keluar dari rumah.


Simon Cross bersikeras agar Ruona tidak terlalu banyak beraktivitas. Semua makanan dan kegiatannya selama kehamilan diawasi, agar bayi yang ada di kandungannya sehat.


Membuka matanya, Ruona mengulurkan tangannya untuk membelai perutnya yang masih rata. Sebenarnya ia tahu, bahwa bangkai yang disimpan serapat mungkin pada akhirnya akan tercium juga.


“Aku harus segera bertindak. Aku tidak tahu bukti apa yang sudah disiapkan oleh Gideon.”


Tiba-tiba sebuah nada pesan terdengar dari ponselnya. Ia langsung mengambil ponselnya dan langsung membuka pesan tersebut.


Sebuah file terlampir di sana. Entah dorongan apa, Ruona langsung membukanya. Saat melihat dan membaca isinya, wajah Ruona berubah pucat pasi. Ia terlihat ketakutan.


Jari-jarinya gemetar, matanya membulat dengan sempurna.


“Apa ini? Bagaimana bisa? Siapa yang mengirimkan ini?”


Detik berikutnya ia mendapatkan sebuah alamat. Ia juga mendapatkan sebuah pesan ancaman.


...‘Jika kamu tidak datang, jangan salahkan aku jika tersebar.’...


Saat Ruona mencoba menelepon nomor yang mengirim file tersebut, rupanya nomor tersebut sudah tidak aktif. Ruona hanya bisa menggertakkan giginya.


Ruona mencengkeram ponselnya dengan sangat erat dan menyipitkan matanya.


Butuh waktu yang lama untuk Ruona memutuskan apakah ia harus pergi atau tidak. Atas pertimbangannya ia mengelabui Simon Cross dan juga pelayan untuk bisa pergi keluar.


Ruona sudah tiba di tempat yang dituliskan pada pesan. Itu adalah kawasan elite. Ruona tiba di salah satu restoran yang mewah dan megah.


Bibirnya sedikit gemetar. “Siapa orang ini?”


Sebelumnya, file yang diterima oleh Ruona adalah file yang berisi tentang kehamilannya. Jika file itu sampai masuk ke telinga keluarga Cross tentu saja Ruona tidak bisa membayangkan nasibnya ke depannya.


Saat ia memasuki restoran itu, semua tampak sepi. Ia berjalan masuk. Mengambil napas dalam-dalam. Ruona mengedarkan pandangan di sekelilingnya.


Di salah satu meja terdapat beberapa tumpukkan dokumen. Ia memberanikan diri untuk mengambilnya.


Dengan hati-hati ia melihatnya dan seketika itu pula tubuh Ruona langsung membeku. Isi dokumen-dokumen tersebut berisi identitasnya. Dokumen tersebut sangat terperinci.


“Bagaimana bisa ini muncul kembali? Aku sudah menyuap orang untuk menghapusnya.”


Ruona membolak-balikkan dokumen tersebut. Semakin jauh ia membuka dan membaca, semakin jauh pemikirannya.


Wajahnya memucat seketika. Tangannya gemetar sehingga ia tidak sanggup memegang dokumen tersebut mengakibatkan dokumen tersebut jatuh berhamburan di lantai.


Ia memegang dadanya karena deru napasnya yang tiba-tiba tak terkendali. Ruona sampai berjuang untuk mengendalikan emosinya.


Ia tiba-tiba berjongkok dan mencoba mengambil lembar kertas yang berserakan untuk segera menghancurkannya.


“Terkejut melihat dokumen ini?”

__ADS_1


Sepasang sepatu kulit yang mengilat berada tepat di depan Ruona. Dari sepatunya ia bisa melihat bahwa dia adalah seorang pria. Dengan perlahan mata Ruona mengamatinya dari bawah perlahan menuju ke atas.


Celana bahan yang pria itu kenakan terlihat mahal. Ruona tak berani untuk melihat wajahnya. Karena dari cara pria itu berdiri, sudah menunjukkan aura aristokrat yang kuat.


__ADS_2