Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
33. Like Son Like Father


__ADS_3

Tangan Liana terulur untuk membelai kepala Gideon. Gideon tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menatap Liana dengan sayang.


“Maaf, maafkan aku karena meragukanmu.” Lirih Liana.


Gideon mengambil tangan Liana untuk digenggam lembut.


“Aku juga minta maaf karena terlambat mewujudkan keinginanmu.”


Liana menggeleng. Gideon yang melihat itu langsung menarik Liana ke dalam pelukannya. Liana tersenyum senang dalam pelukan hangat Gideon. Ia juga membalas pelukan Gideon.


Dalam pelukan Gideon, Liana menelan salivanya sendiri. Ia ragu untuk bertanya.


“Gideon.”


“Aku ingin bertanya.”


“Tidak.”


“Gideon!” Liana melepas pelukan Gideon dengan paksa.”


“Hei, baiklah. Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan.”


“Apakah kamu tahu tentang identitasku?”


“Tentu saja, aku tahu sejak tujuh tahun yang lalu.”


“Bagaimana bisa?” tanya Liana dengan terkejut.


“Tes DNA. Saat kamu menjadi ibu pengganti, bukankah kamu melakukan serangkaikan tes. Dari sana aku mengetahuinya. Kamu adalah yang seharusnya dicarikan oleh kakekku.”


“Bagaimana kalau itu kebetulan?”


“Kalian sangat mirip.”


Liana menundukkan kepalanya sedih. “Aku bahkan sudah lupa wajah ibuku.”


Gideon menundukkan kepalanya untuk melihat Liana.


“Ruona mencuri kalung pemberian ibuku. Ia mengambil identitasku dan mengaku pada keluarga Gideon dan aku baru tahu. Tapi kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa saat kamu mengetahuinya lebih awal?”


“Apakah ini penting? Siapa Ruona dalam hidupku? Identitasnya asli atau palsu terpengaruh padaku.”


Liana mendesis, “Kenapa tidak penting? Jika takdir tidak mempermainkan kita. Kita akan menjadi tunangan lebih awal.”


Gideon tersenyum mendengar ini. Karena Gideon saat masih muda membenci pertunangan yang dipaksa.


“Gideon.”


“Hm.”


“Aku mengetahui Ruona mandul tapi dia sedang hamil. Apakah diagnosis itu karena ulahmu?”


“Ya. Aku mempunyai seseorang untuk memalsukan diagnosisnya.”


“Mengapa kamu melakukannya?” tanya Liana dengan bingung.


Sorot mata Gideon memancarkan cahaya dingin. “Dia adalah bidak. Dia harus mematuhi tuannya dan memerankan perannya.”


“Peran? Maksudmu apa?”


“Saat itu kakek menyuruhku untuk bertunangan dengannya agar mewarisi piramida paling atas keluarga Cross. Sejak ayahku meninggal kursi paling tinggi keluarga Cross kosong dan aku adalah satu-satunya orang yang paling pas mendudukinya namun saat itu aku masih muda.”


Gideon berhenti sejenak seolah memastikan bahwa Liana memahami maksudnya. “Tentu saja untuk saudara yang lainnya aku adalah duri dalam daging mereka. Maka dari itu aku menggunakan pernikahan sebagai tawar menawar.”


“Ruona pasti sangat sedih. Dia sangat mencintaimu.”


“Dia tidak layak untuk dikasihani.” Protes Gideon.


“Ruona saat ini sedang hamil. Anak siapa itu?”


“Yang jelas bukan anakku.”


“Gideon, aku ingin tahu anak siapa yang ada di kandungan Ruona?”


“Apakah itu penting?”

__ADS_1


“Aku hanya ingin tahu.”


“Johan, dia adalah asistenku.”


“Johan?”


“Ya, kamu belum pernah bertemu dengannya.”


Bayangan-bayangan yang telah lama terlupakan kembali ke benaknya.


“Aku pernah melihatnya.”


“Kapan?”


“Beberapa hari yang lalu saat dalam perjalanan.”


“Apa yang dia katakan?”


“Saat itu Ruona bersamanya dan saat itu pula Ruona mengatakan bahwa dia hamil anakmu.”


Gideon langsung membelai pipi Liana dan ia menatap Liana dengan menggoda. “Jadi kamu cemburu.”


Liana mendengus lemah. “Tidak.”


“Kamu cemburu sehingga mendaftarkanku ke dalam blacklist.”


“Tidak!” Liana menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Gideon.


“Jelas kamu cemburu.”


“Aku bilang tidak.”


“Baiklah kamu tidak cemburu kalau begitu,” ucap Gideon sambil terkekeh.


Makhluk arogan adalah Gideon. Benar-benar pria dewasa yang kekanak-kanakan. Pria yang yakin dengan dirinya sendiri.


Liana langsung menatap wajah Gideon lalu ia tertawa.


“Apa yang kamu tertawakan?”


“Hei itu tidak masuk dalam hitungan. Wanitaku adalah kamu bukan dia. You are mine. Yang aku lindungi adalah kamu.”


“Apakah kamu mencoba melindungiku saat kamu mengetahui identitas lebih awal tapi kamu tidak membawaku ke dalam keluarga Cross?”


Gideon memeluk Liana dengan erat dan sisi posesifnya mulai menguasainya.


“Aku punya alasan untuk itu. Dan aku tidak akan membawamu ke dalam keluarga Cross saat semuanya belum stabil. Aku akan melindungimu dan juga Damian.”


Liana sedikit mengurai pelukannya. Ia lantas mendongakkan kepalanya untuk menatapnya.


“Tiba-tiba aku ingin melihat Damian.”


Gideon tersenyum.


Saat Liana akan membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba ia berhenti di jalurnya dan berbalik untuk melihat Gideon.


“Gideon, bisakah kamu ajak Daniel untuk menginap di sini?”


“Tentu saja.”


“Terima kasih. Aku mencintaimu,” ucap Liana dengan buru-buru sementara Gideon seolah kehilangan akal saat mendengar pengakuan cinta dari Liana.


.........


Dengan perlahan Liana menuju ke kamar Damian. Namun ia sedikit mengerutkan keningnya saat pintu Damian sedikit terbuka dan lampu masih menyala.


Ia berhenti di jalurnya untuk melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam satu pagi namun sepertinya Damian masih terjaga.


“Ada apa?” tanya Gideon saat tubuh pria itu sudah sejajar dengan Liana.


Liana tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya menatap pria itu dan dengan pelan-pelan membuka pintu kamar Damian.


Sementara Damian yang berada di kamarnya masih tidak menyadari keberadaan Liana dan Gideon.


Bocah kecil itu masih sibuk dengan layar komputernya dan sibuk mengetik tuts yang ada di papan keyboard. Damian benar-benar tenggelam dalam dunianya.

__ADS_1


Dalam layar itu tiba-tiba muncul lambang sebuah perusahaan dan senyum terbit di wajah tampan Damian.


Di sudut layar terdapat sebuah layar kecil yang menunjukkan seorang pria dan itu adalah Anji.


“Ya ampun, direktur! Bagaimana bisa kamu membobol pertahanan mereka dalam satu klik saja?” Anji benar-benar tidak percaya dengan kegeniusan yang dimiliki Damian.


“Mereka berani memblokir ruteku berarti mereka sedang mencari kematian.”


Di layar tiba-tiba Anji terdiam dan Damian mulai merasakan perubahan suasana. Damian langsung membalikkan kursinya.


“Bu...”


Damian sangat terkejut sampai-sampai jantungnya seperti berhenti berdetak. Damian secara refleks turun dari kursinya. Ia melihat mata Liana dan langsung buru-buru mematikan layar komputernya.


Bocah kecil itu ketakutan namun detik berikutnya ia langsung mengubah ekspresi wajahnya.


“Ibu, apa yang kamu lalukan di sini?”


“Seharusnya, ibu yang bertanya. Apa yang kamu lakukan sehingga belum tidur selarut ini?”


Damian langsung menelan salivanya. “Aku tidak melakukan apa pun.”


Damian melihat ibunya lalu tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan ayahnya.


“Aku tahu apa yang kamu lakukan,” ucap Gideon tanpa suara.


“Aku mendengarmu—“


“Bu, aku baru saja bermain game. Game perang pubg. Ya, aku sedang menyusun strategi.”


Damian langsung melihat ke arah Liana lalu le arah Gideon.


“Benarkah?”


“Apakah ibu tidak percaya dengan Damian?”


Liana menghela napas. “Ini sudah malam Damian, kamu harus tahu batas untuk bermain game. Apakah selalu selarut ini untuk bermain game?”


“Tidak bu! Ini pertama kalinya dan Damian menyesal. Maaf bu, lain kali—“


“Tidak ada lain kali,” tegur Liana.


Damian menundukkan kepalanya seolah menyesal.


“Cepat bersihkan mejamu lalu pergi tidur,” ucap Liana sambil mengusap kepala Damian sebelum pergi.


Di dalam ruangan itu kini hanya tersisa Gideon dan Damian. Ayah dan anak itu saling bertukar pandang.


Pria itu menundukkan kepalanya untuk menatap putranya.


“Kamu sedang berbohong kepada ibumu sendiri.”


“Aku tidak berbohong. Aku sedang bermain game.”


“Aku benar-benar memperhatikanmu. Mungkin ibumu bodoh dan percaya padamu begitu saja tapi aku tidak.”


“Ibuku tidak bodoh!”


Gideon langsung menyeringai. “Baiklah. Bisakah kamu memanggilku ayah. Aku belum pernah mendengarmu memanggilku ayah.”


“Tidak mau.”


Gideon menggelengkan kepalanya, “Sangat keras kepala. Jika kamu tidak mau. Aku akan memberitahu pada ibumu bahwa putranya adalah bos pemilik perusahaan terkenal.”


Kedua alis Damian berkerut. Ia memikirnya dengan hati-hati.


“Apakah kamu mengancamku?”


“Apakah kamu ingin mencoba? Coba tebak. Apa yang terjadi jika ibumu mengetahui bahwa kamu berurusan dengan senjata api dan penyelundupan barang ilegal?”


Damian terlihat melongo.


“Bagaimana kamu tahu? Sejauh mana kamu tahu mengenaiku?”


“Aku tidak akan memberitahumu.”

__ADS_1


“Kamu sepertinya tahu banyak.”


__ADS_2