
Tongkat yang selama berada di genggaman Simon Cross kini berayun dengan dahsyat ke arah Gideon.
Tongkat kayu itu mengenai punggung Gideon yang lebar. Untuk pertama kalinya tongkat itu kembali digunakan untuk memukul setelah sekian tahun lamanya.
Gideon berhenti di jalurnya dan membalikkan badan menatap kakeknya sendiri. Ia mengetahui kakeknya akan marah tapi ia tak bisa menduga bahwa kakeknya akan memukulnya dengan tongkat itu hingga patah.
Simon Cross juga merapalkan kata-kata kasar dan Gideon diancam akan dicoret dari keluarga Cross jika ia berani memutuskan pertunangan.
Simon Cross benar-benar menggunakan warisannya untuk mengancam cucunya.
Mata Gideon menyipit saat mendengar ancaman ini. Cara ini juga yang dilakukan untuk mengancam mendiang ayahnya, Peter Cross.
“Kakek menggunakan warisan untuk mengancamku? Ini menggelikan. Apakah kakek masih percaya bahwa aku masih peduli tentang warisan Cross? Aku bukan lagi Gideon yang masih berumur lima belas tahun. Kakek bisa memberikan warisan Cross pada orang yang kakek suka.”
Kata-katanya terdengar tenang namun seakan menggema di aula besar itu. Bahkan Ruona terkejut mendengarnya.
Sementara kakeknya jelas ia tidak berharap untuk mendengar ini.
“Kamu benar-benar ingin melawan kakek mu sendiri. Apakah kamu benar-benar ingin menyerahkan warisanmu demi wanita rendahan itu?”
Gideon tersenyum mengejek. Gideon yang angkuh dan keras kepala tidak pernah tunduk pada ancaman apa pun. “Saham CGI Corp akan turun menjadi nol jika aku pergi.”
Wajah Simon tenggelam dalam kesengsaraan. Ia hanya menggertak cucunya. Ia tidak serius menghapus Gideon dari warisannya. Ancamannya hanya untuk menakutinya namun sekarang ancamannya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
“Dan satu lagi kakek. Dia bukan wanita rendahan. Dia adalah wanita yang aku cintai.” Setelah jeda, Gideon menatap Ruona dengan tatapan mengejek. “
Gideon kembali menambahkan, “Kakek aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan. Yang jelas, aku akan mengumumkannya.”
Gideon ingin segera pergi dari rumah itu namun suara seorang wanita menghentikan langkahnya.
“Gideon.”
Gideon langsung berbalik dan menatap Ruona. Pria itu menampilkan smirknya yang membuat Ruona terheran-heran.
“Kakek, Apakah kamu yakin wanita ini yang kamu cari?”
“Apa maksudmu?”
“Lihatlah dengan benar kakek! Apakah ada kemiripan dengan wajah wanita yang kakek hargai itu?”
__ADS_1
Jantung Ruona langsung meledak. Ia merasa gugup. Tangannya ia kepalkan. Ruona melihat wajah Gideon dan ia bisa membaca ekspresi pria itu. Gideon telah kehilangan kesabarannya.
Ia lantas melihat Simon yang rupanya melihatnya juga. Ada kecurigaan di mata kakeknya. Ruona mundur tanpa sadar. Napasnya lemah dan tak berdaya.
“Tidak mungkin, dia adalah putri Jay. Kita sudah membuktikannya dengan tes DNA. Jangan hanya karena kamu tidak ingin bertunangan dengan Ruona, kamu menjadikan alasan yang tak masuk akal ini.”
Wajah Ruona menjadi sedih. Wanita itu mendekati Simon dan meraih tangan keriput itu.
“Kakek, karena Gideon ingin mengakhiri pertunangan ini. Biarkan saja, aku menerimanya karena memang aku tidak ada tempat di hatinya. Tapi kakek, aku tidak punya tempat lagi, aku hanya berharap kakek tidak mengusirku. Aku hanya ingin tinggal di sisi kakek, menjaga kakek. Satu-satunya keinginanku adalah berbakti pada kakek.”
Simon merasa bersalah, di sisi lain ia mengalami sakit hati. Tangannya yang keriput langsung memegang tangan Ruona. Setetes air mata mengenai tangannya. Rupanya Ruona menangis.
“Ada apa?” tanya Simon.
“Kakek, apa yang harus aku dan anakku lakukan?”
Simon merasa terkejut. Ia bingung. Ia belum bisa mencerna ucapan Ruona sementara Gideon, matanya menyipit. Untuk sesaat Gideon tidak tahu apa yang sedang Ruona rencanakan.
Dengan berderai air mata dan suaranya yang bergetar. Ia mengatakan dalam kesedihan. “Kakek, aku awalnya tidak percaya tapi ini adalah kenyataan. Aku awalnya berniat untuk menyampaikan berita baik ini tapi...”
Ruona mengangkat wajahnya hanya untuk melihat Gideon. “Gideon tidak menginginkanku. Aku baik-baik saja dengan itu namun anak yang ada di perutku, bukankah di menginginkannya.”
“Dia hamil?” Gideon masih tak percaya. Wajahnya menjadi dingin. “Wanita ini, trik apa yang sedang dimainkannya.”
“Kamu mengandung anak dari cucuku. Bukankah kamu...bagaimana bisa kamu hamil?”
“Aku tidak pernah menyentuhmu. Ruona jangan berpura-pura!” Gideon berkata dengan jijik.
“Kakek, sebenarnya aku ingin mengatakan kabar baik ini namun Gideon memutuskan pertunangan. Ini menjadi kabar buruk.”
Gideon menatap Ruona dengan tajam. Pada akhirnya ia menyadari sejauh mana Ruona tidak tahu malu. Lalu bayangan Liana bergetar di otaknya.
Ketika Gideon berada di luar kota. Ruona pasti memamerkan bayinya di depan Liana dan mengatasnamakan bahwa bayi itu adalah bayi Gideon.
“Jadi dia mempercayai wanita gila ini. Dia memblokir nomorku dan bertindak acuh denganku karena percaya dengan wanita gila ini,” gumam Gideon.
“Ruona jangan khawatir. Kakek percaya denganmu. Jangan menangis lagi dan duduklah,” ucap Simon Cross.
“Aku belum pernah menyentuhmu tapi kamu berani menyatakan bahwa bayi itu adalah anakku. Ruona, Apakah kamu tidak takut? Begitu anak itu lahir aku melakukan tes DNA. Ah atau kamu tidak berencana membiarkan anak itu lahir?”
__ADS_1
“Apa yang kamu katakan? Ruona sedang mengandung tapi kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal dan menyakiti hatinya. Apakah kamu ingin menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab?” teriak Simon.
“Kakek sudah aku katakan, aku tidak menyentuhnya sama sekali. Bahkan jika dia hamil, bayi yang ada kandungannya bukan milikku.”
Ruona langsung tersentak. Ia langsung menutupi ekspresi wajah terkejutnya dengan kesedihan dan tangisan yang menderu. “Kakek karena Gideon tidak menginginkan bayi ini. Biarkan saja.”
“Gideon apakah kamu tidak berani mengakui bayi ini? Jika bayi ini bukan milikmu lalu milik siapa?”
“Itu--"
Sebelum Gideon menyelesaikan kalimatnya Ruona langsung memotong pembicaraan Gideon.
“Gideon benar-benar anak dari bayi ini. Kenapa kamu tidak mengakuinya.”
Simon langsung menenangkan Ruona yang menangis meraung.
“Tenang Ruona. Tidak ada yang perlu ditakuti selama kakek di sini. Jagalah kesehatanmu dan tidak perlu khawatir.”
“Kakek.”
Gideon mengangkat alisnya saat melihat akting Ruona yang menjijikkan.
“Aku ingin melakukan tes DNA,” ucap Gideon.
“Baiklah, Jika kamu menginginkannya. Tunggu sampai anak ini lahir.”
“Tidak, aku ingin tes DNA segera.”
Simon langsung menatap tajam Gideon. ”Tidak mungkin. Tes DNA saat bayi masih berada di dalam rahim bisa menyebabkan keguguran. Kamu sudah kehilangan akalmu.”
“Kakek, Aku akan baik-baik saja. Jika Gideon ingin mengkonfirmasi bayi siapa yang ada di perutku. Aku akan melakukannya, agar dia tidak ragu padaku.”
“Ruona, Apakah kamu juga ikut tidak waras. Ini adalah kehamilan pertamamu. Kamu tidak boleh mengambil risiko berbahaya itu.”
“Biarkan aku keguguran kalau begitu. Toh, jika anak ini lahir. Dia pasti sakit hati karena ayahnya menyangkal keberadaannya.”
“Abaikan dia! Kakek tidak akan membiarkanmu mengambil risiko berbahaya itu.”
Ruona langsung menyeka sisa air matanya. Ia menunduk di sana lalu senyum terbit di wajahnya. Ruona tersenyum menakutkan tanpa diketahui oleh kedua pria di depannya.
__ADS_1
Tak jauh berbeda, Gideon juga menampilkan senyum sinisnya. “Dia begitu naif. Apakah dia berpikir aku tidak bisa mendapatkan bukti lain atas tindakannya,” gumam Gideon.