
Pulau pribadi terpencil. Villa mewah dengan fasilitas yang terbaik. Pantai berpasir merah muda dengan teluk mungil. Sebuah yatch untuk menyusuri keindahan laut sekitar.
Ditemani seorang wanita seksi yang kebetulan adalah wanitanya dan juga dua jagoannya yang kebetulan adalah anaknya.
Ini adalah momen yang luar biasa. Apa yang diperoleh Gideon jauh melebihi nominal yang dikeluarkan kantongnya.
Membawa Liana ke tempat ini adalah ide yang cemerlang.
Liana tidak tahu niatnya sebelumnya. Awalnya, wanita itu diberitahu oleh dokter bahwa ia masih harus rawat inap selama tiga hari.
Namun belum sampai tiga hari, saat membuka matanya. Liana dihadapkan oleh hamparan air biru yang luas.
Saat ini Liana dalam balutan pakaian renang. Kardigan putih berenda menutup bikininya. Daniel dan Damian bermain pasir sementara Gideon sedang berbaring di kursi pantai.
“Apakah ini pulau pribadi?” tanya Damian.”
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya begitu.”
“Sepertinya ibu menyukai tempat ini,” ucap Damian sambil melihat Liana. “Haruskah aku membeli pulau pribadi untuk ibu? Pemandangan di sini tidak buruk. Pulau pribadi tidak mungkin semahal itu.”
Gideon membawa mereka ke sini untuk berlibur tanpa penjelasan. Damia
n langsung melihat ke arah Gideon dengan tatapan curiga.
“Apa yang kamu lihat?”
Gideon menenggakkan punggung dari kursi pantai tempatnya berbaring ketika Liana melangkah mendekat.
Wanita itu kini menjulang di atasnya. Senyumnya sangat cerah.
Gideon bergeser sambil menepuk tempat yang baru saja dikosongkannya saat rasa posesif yang berlebihan menguasai dirinya.
“Kemarilah!” tatapan Gideon melekat di wajahnya.
Liana pasti bisa membaca apa yang ada dalam benaknya. Kalau masih belum jelas, tonjolan di celana pendek Gideon mengungkapkan sisanya.
“Tidak! Aku akan menemai anak-anak bermain.”
Baru saja Liana ingin berbalik, ia tiba-tiba terkesiap saat Gideon meraih pergelangan tangannya. Menarik pelan hingga Liana mendarat di sebelahnya.
Gideon langsung mengalihkan pandangannya pada Daniel. Merek saling bertukar pandang. Seakan Gideon memberikan pesan tersirat untuk Daniel.
Karena itu Damian langsung menghampiri Damian.
“Ayo kita main voli di sana.”
“Aku tidak mau.” Tolak Damian.
“Kamu tidak mau karena takut kalah?” Damian memutar matanya dan menyembunyikan senyum di belakang tangannya.
“Siapa yang akan kalah? Jangan menangis jika kamu kalah dariku.”
“Lalu, cepat buktikan.”
“Ayo siapa takut.”
Segera Damian berdiri dan berjalan ke arah yang ditunjukkan Daniel. Sebelum Damian menyusul Daniel, bocah laki-laki itu memberi acungan jempol pada ayahnya.
Sepeninggal Damian dan Daniel. Gideon kembali meraih pergelangan Liana dan menekan telapak tangan itu ke tengah perutnya yang sixpack sementara lengannya yang lain mulai merangkul wanita itu.
“Gideon.” Liana mencoba memprotes. Lengannya yang bebas terangkat seolah ingin menghentikan aksi Gideon.
“Apa?” tanya Gideon.
Mata Liana melebar memprotes dan Gideon hanya tersenyum.
“Apa kamu menyukainya?”
Liana langsung melotot dengan pertanyaan ambigu.
“Apa yang sedang kamu pikiran? Aku bertanya dengan pulaunya.” Goda Gideon.
Liana bernapas panjang karena imajinasinya ternyata terlalu liar.
“Aku suka. Sungguh cantik.”
“Jika kamu suka, maka tempat ini adalah milikmu mulai hari ini.”
Liana langsung menatap Gideon. “Apa maksudmu?”
“Pulau ini ad
alah hadiahku untukmu.”
“Kenapa?”
“Apanya?”
“Kenapa kamu memberikannya untukku? Ini adalah milikmu.”
__ADS_1
“Bukankah milikku juga milikmu.”
“Apa yang barusan kamu katakan?”
“Liana, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Apa pun milikku adalah milikmu secara otomatis.”
Liana membelalakkan matanya karena terkejut.
Melihat semburat ekspresi bingung nan lucu dari Liana membuat Gideon langsung menyambar bibir wanita itu. Gideon menyusuri bentuk bibir Liana untuk sejenak.
“Sebagai gantinya kamu adalah milikku. Liana milikku. Titik!”
Gideon membungkamnya dan mengulumnya lagi. Perlahan lidahnya menjelajah dan membelainya dalam.
Gideon memejamkan mata untuk menikmati ciuman tersebut, mengencangkan jemarinya di rambu Liana untuk menahan lonjakan gairah.
“Liana,” suara Gideon setengah mendengus. Tangan Gideon menangkap tangan Liana, tidak membiarkannya melawan.
Gideon seakan menggiring Liana ke dalam gairahnya dengan sentuhan yang berapi-api.
Liana yang mulai sadar langsung membuka matanya dan menatap sepasang mata tersebut.
“Gideon.”
“Apa?”
“Bisakah kamu melakukan hal lain?”
“Tidak.”
“Kita baru saja turun dari pesawat dan kamu...”
“Lalu kenapa?”
Liana memiringkan kepalanya, “Gideon.”
“Sst Liana berhentilah berbicara. Semakin banyak kamu berbicara semakin aku akan semakin tersiksa.”
“Ibu!”
Liana langsung beranjak dari Gideon dan menangkap Damian yang berlari ke arahnya.
“Lelah karena bermain?” Liana mencubit wajah kecil Damian.
“Ya tapi itu sangat membosankan.”
“Jika kamu lelah, istirahatlah dulu. Tidur siang.”
“Aku akan menemanimu.”
Senyum di mata Damian pudar begitu Daniel mengajukan diri untuk menemaninya.
Damian ingin menolaknya namun ia tak tega melihat ekspresi Daniel yang menatapnya dengan mata berbinar.
Damian menghela napas panjang. “Baiklah.”
Damian langsung beranjak dari tempatnya. Kekecewaan jelas tampak di matanya namun sudut matanya sejenak melengkung tak dapat menolak.
“Ibu akan pergi menemani Damian.”
“Baiklah. Panggil ibu jika terjadi sesuatu.”
“Ehm.” Daniel mengangguk.
Saat Daniel tiba di kamar ia melihat Damian tidur dengan menutupi seluruh wajah dan tubuhnya dengan selimut.
Daniel langsung menaiki ranjang dan menarik selimut itu.
“Jika kamu tidur seperti itu, kamu akan susah bernapas.”
“....”
“Apakah kamu sudah tidur?”
Daniel kembali menarik selimut Damian dan saat ini terlihat wajah Damian yang kesal.
“Apakah kamu haus?”
“Tidak.”
Damian membalikkan tubuhnya membelakangi Damian dan menutup matanya.
“Kenapa kamu membelakangiku?”
“Daniel.”
“Apa?”
“Bisakah kamu diam sebentar?”
__ADS_1
“Baiklah.”
Lima menit kemudian.
“Damian, apakah kamu sudah tidur?”
“Eh.”
“Kenapa kamu berbicara ketika kamu tidur?”
“Diam!”
Damian tiba-tiba membuka matanya melihat saudaranya tidur di sebelahnya. Ia menghela napas pelan ketika ia menyadari Damian yang menjengkelkan ini akhirnya tenang.
.........
“Apa aku melakukannya dengan baik?”
Senyum muncul di bibir Gideon ketika mendengar pertanyaan tersebut. Mereka sudah kembali ke villa dan saat ini sedang berkutat di dapur.
Liana menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
Gideon mengeratkan rangkulannya pada bahu Liana. Menariknya agar merapat ke tubuhnya. Ia meraih jemari Liana.
“Ya, aku tidak bisa protes.”
“Coba ini.”
Liana mengambil sup dan mendorong sendok itu ke dalam mulut Gideon.
“Enak sekali.”
“Aku akan memanggil anak-anak untuk makan malam.”
Sebelum Liana beranjak dari dapur, sebuah nada pesan terdengar dari ponselnya. Liana langsung mengambilnya dan membuka pesan tersebut.
Setelah membaca pesan tersebut, mata Liana langsung berbinar.
“Ada apa?”
“Lihat ini. Aku diterima bekerja.”
Ekspresi Gideon langsung berubah.
“Bekerja?”
“Ya, aku sudah gagal menjadi aktris. Kamu juga tidak mengizinkanku bekerja di perusahaanmu. Jadi aku iseng melamar menjadi model di perusahaan majalah kecil.”
Sebenarnya bukannya Gideon tidak mengizinkan Liana bekerja di perusahaannya hanya saja ia ingin menjauhkannya dari pria-pria potensial.
Gideon menekan emosinya.
“Kenapa kamu bekerja? Kamu hanya tinggal duduk diam di penthouse dan waktumu hanya untuk aku dan anak-anak.”
Terdengar sedikit arogan namun Gideon tidak peduli.
“Aku merindukan dimana saat aku bekerja.”
“Aku rasa kamu sudah tahu jawaban dariku.”
“Gideon.”
“No.”
Liana langsung cemberut. Ia memikirkan taktik untuk membujuk Gideon.
“Aku akan marah jika kamu tidak mengizinkannya.”
“Dan aku akan tambah marah jika kamu terus membantahku.”
“Aku akan pergi pulang sekarang bersama Damian jika kamu tidak membiarkan aku bekerja.”
“Coba saja jika kamu berani.”
Liana langsung beranjak keluar. Gideon yang melihatnya terlihat terkejut.
“Sial!”
Gideon langsung mengejar dan memegang tangan Liana. Liana ingin membebaskan diri tapi Gideon dengan erat memegang tangannya tidak membiarkannya menarik diri.
“Baiklah, aku akan memerimu izin untuk bekerja.”
Senyum Liana langsung terbit. Sebenarnya ia tidak benar-benar ingin pergi. Ia hanya menggertak Gideon.
Liana langsung berbalik melihat Gideon dengan cemberut.
“Benarkah?”
“Ya.”
__ADS_1
Liana langsung berjingkat kegirangan.
“Terima kasih sayang.”