
Liana membuang napas perlahan sambil menghindari berbagai pikiran menyiksa yang menghantui benaknya.
Matanya menatap Damian yang menata bubur di mangkuk.
“Ibu, ayo makan.”
Liana langsung memegang mangkuk tersebut dan memakannya dengan lahap.
“Ibu makanlah dengan perlahan-lahan. Aku tidak akan minta punyamu.”
“Tenang saja. Ini cara makan yang paling lambat.”
Damian sudah tidak menggerakkan sendoknya dan hanya diam-diam memperhatikan Liana. Damian menatap Liana dengan senyuman.
“Ibu, bisakah aku bertanya?”
“Hm.”
“Ayahku...”
Damian belum selesai dengan kata-katanya tapi Liana sudah tersedak. Ia terbatuk-batuk. Damian dengan senyum mendorong segelas air ke arah Liana.
Liana dengan cepat meminumnya sampai tandas. Ia melihat Damian dengan ekspresi terkejut. Liana panik dan itu jelas di wajahnya.
“Apakah kamu tahu sesuatu?”
Damian melihat kepanikan dalam matanya dan dengan senyum polos, Damian menjawab, “Aku tidak tahu.”
Liana menghela napas lega. Ia menurunkan punggungnya yang sempat menegang. Sebelumnya, Damian sudah mengajukan pertanyaan yang sama mengenai ayahnya. Tapi pada saat itu, Liana hanya menjawab asal untuk menutupi masa lalu. Ia tidak bisa mengingat jawaban di masa lalu.
Jika jawabannya sekarang berbeda dengan sebelumnya. Itu akan menunjukkan bahwa Liana sedang berbohong.
“Ah, sayang. Kenapa tidak melanjutkan makananmu? Makanlah yang banyak. Kamu masih dalam masa pertumbuhan.”
Damian menghela napas. “Apakah ibu tidak bisa memberitahuku?”
Damian bangkit dari kursinya dan duduk di samping Liana. Damian melihat wajah Liana dan merasa curiga.
Sementara Liana menjadi waswas. Liana gagal menyembunyikan kepanikannya.
“Ibu, ketika aku menelepon ibu. Ada paman yang menjawabnya. Siapa paman itu?”
“Paman itu apakah mengatakan sesuatu? Apakah menanyakan namamu?”
“Tidak. Bahkan jika paman itu bertanya, aku tidak akan memberitahukannya. Ibu yang mengajarkanku.”
“Kamu benar-benar pintar!” Liana terlihat sangat senang.
Damian dengan lucu menopang dagunya dengan tangannya dan tersenyum. “Tapi Damian meminta paman itu, untuk menaikkan gaji ibu.”
“Damian tidak akan pernah meninggalkan ibu kan?” tanya Liana dengan hati-hati.
“Kenapa ibu bertanya seperti itu lagi? Damian tidak akan meninggalkan ibu.”
Liana bertanya dengan hati-hati dan sedikit ragu. “Jika...” Liana menelan ludahnya sendiri. “Jika suatu hari, ayahmu datang dan mencoba membawamu pergi...”
“Tidak! Damian adalah anak ibu. Damian hanya akan mencintai ibu.”
Ketika mendengar ini, hati Liana menjadi terharu. Ia langsung memeluk Damian dengan erat. Kecemasan dan ketakutan yang ia rasakan di hatinya tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Damian melepaskan pelukan ibunya dan menelisik wajah Liana. Tangannya yang kecil menelusuri wajah Liana dan berhenti pada bibirnya.
“Ibu, ada apa dengan bibirmu?”
Mata Liana bergerak-gerak sambil memikirkan alasan yang pas.
“Oh, saat ibu makan. Ibu tidak sengaja menggigit bibir ibu sendiri.”
Damian menatap Liana dengan curiga.
“Ibu benar-benar tidak sengaja menggigit bibir ibu sendiri.”
Mata Damian menyipit “Siapa yang menggigit ibu?”
Liana menjadi sakit kepala karena ulah Damian.
Gen mereka sangat merepotkan. Kenapa ayah dan anak ini begitu mirip?
“Ibu tidak sengaja menggigitnya.”
Damian seolah cemberut, “Ibu katakan saja siapa yang mengganggumu? Aku akan melindungimu.”
Tawa Liana meledak seketika saat mendengar ucapan Damian. Ia begitu takjub dengan imajinasi Damian.
Melihat ibunya tertawa lepas, Damian tak kuasa untuk ikut tertawa. Ia begitu mengagumi ibunya. Ia begitu menyangyangi ibunya.
Damian menyematkan senyum hangat di wajahnya namun hatinya sakit saat melihat kilas balik perjuangan ibunya untuk membesarkannya.
Liana menyelesaikan pendidikannya dan harus bekerja ditambah ia harus mengurusnya. Ia bekerja sampai rasa sakit tak dihiraukannya.
Damian sedih saat melihat ibunya menjadi harus kuat. Ada disaat Damian ingin memberitahukan pada ibunya bahwa dia bisa mengurus biaya hidup mereka dan untuk melindunginya.
.........
Siang ini, Liana membuka emailnya berharap akan ada balasan dari setiap lamaran yang ia kirim. Namun sayangnya tidak ada balasan satu pun dari mereka.
Liana menyerah dan meletakkan ponselnya di meja. Ia menoleh saat bel pintu berbunyi.
Liana langsung bangkit dan membuka pintu. Saat pintu terbuka tidak ada orang di sana. Liana menoleh ke kanan dan kiri tetap saja tidak menemukan jejak orang yang menekan bel rumahnya.
Saat Liana hendak akan menutup pintu, ia tanpa sengaja melihat seonggok kertas di depan pintu.
Liana langsung mengambilnya dan melihat dari siapa pengirim tersebut.
Liana langsung menutup pintu dan menuju ke ruang tengah. Ia duduk di sana sambil membuka amplop tersebut.
Rupanya amplop tersebut adalah tagihan yang belum dibayar bulan lalu. Ketika Liana membuka masing-masih dari mereka.
Liana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Gaji yang dia dapatkan dan sisa-sisanya bahkan tak bisa menutup tagihannya.
“Ibu ada apa?” tanya Damian yang baru saja keluar dari kamarnya.
Liana langsung menoleh ke arah Damian dan memperbaiki mimik wajahnya. “Tidak apa-apa.”
Damian tahu bahwa ibunya berbohong lantas matanya langsung menuju ke kertas yang ibunya pegang.
Damian langsung mengetahui apa yang Liana coba sembunyikan.
__ADS_1
Damian langsung duduk di samping Liana.
“Ibu, aku yakin kita akan bisa melewati kesulitan ini,” ucap Damian dengan kelembutan di matanya.
Liana tersenyum dan membuang kertas yang ada di tangannya. Matanya melengkung seperti bulan sabit.
.........
Di malam hari Liana dan Damian mengunjungi Sanjaya. Liana mendapatkan kabar bahwa ayah tirinya itu sudah pulang dari rumah sakit.
Liana mengetuk pintu lalu melihat ke bawah untuk melihat Damian.
Saat pintu terbuka Liana langsung disuguhi sepasang mata dingin milik Luna. Luna menatap wajah Liana dengan jijik.
“Untuk apa kamu di sini?”
“Aku ingin menemui ayah.”
“Untuk apa kamu menemui ayahku dengan buah busukmu itu.” Luna menatap buah yang dibawa Damian.
“Aku ingin bertemu dengan ayah. Aku dengar dia sudah pulang dari rumah sakit.”
Liana mencoba menerobos masuk namun langsung dihadang oleh Luna bahkan dia berani untuk mendorong Liana.
“Berani kamu memasuki rumahku, aku akan membunuhmu.”
“Aku ingin melihat ayah bukan untuk bertengkar denganmu.”
“Tapi saat melihatmu, aku ingin menamparmu.”
Pa
Suara tamparan terdengar di sana. Luna dengan bangga menyeringai karena ia berhasil mendaratkan tamparan pada Liana.
Pa
Suara tamparan kali lebih keras dari yang pertama. Luna menatapnya dengan tatapan kosong. Ia merasakan panas pada pipinya.
Luna segera berteriak, “Kamu berani menamparku!”
“Ya.”
Luna tertegun, ia tidak bisa percaya bahwa Liana yang pengecut dan penakut sekarang berani memukulnya.
“Kamu! Aku akan membunuhmu.”
Sebelum tangan Luna berhasil menyentuh pipinya. Liana sudah menangkapnya dan Liana secepat kilat langsung mendorong Luna hingga jatuh.
Kemarahan Luna meledak. Ia merasa diejek. Ia bergegas untuk berdiri dan ingin memukul Liana. Luna melayangkan pukulannya namun lagi-lagi pergelangan tangan Luna langsung dimatikan pergerakannya oleh Liana.
“Apa yang kalian berdua lakukan?”
Teriakan Sanjaya terdengar di sana.
Liana langsung menoleh ke arah Sanjaya. Mata yang semula dingin kini berubah menjadi sepasang mata yang tak berdaya.
“Ayah, Luna sudah bertindak terlalu jauh...”
Liana mencoba untuk menangis seolah-olah ia baru saja mendapatkan masalah besar. Liana terlihat lemah dan tak berdaya.
__ADS_1
Luna yang melihatnya tak bisa menyembunyikan ekspresi bodohnya.