
“Gi-Gideon?”
Liana tergagap-gagap dan menyumpahi dirinya sendiri.
“Brengsek.”
Gideon tanpa peringatan langsung memberi bogeman pada wajah Kingston.
“Gideon, apa yang kamu lakukan?” teriak Liana.
Liana ingin segera membantu Kingston yang tersungkur.
“Jika kamu menyentuhnya, aku akan membunuhnya.”
Liana terdiam di tempat. Ia langsung menatap Gideon dengan tak percaya. Beberapa menit kemudian ia mengabaikan perintah Gideon. Liana membantu Kingston untuk berdiri.
Kingston melihat Liana yang tak berdaya langsung bangkit dan berdiri dengan memegang tangan Liana.
Kingston tertawa untuk mencela. “Jadi kamu memaksa Liana untuk tetap berada di dekatmu.
“Kamu sungguh membuatku kesal.”
Dua pria itu saling berhadapan. Pertempuran antara es dan api. Sementara Liana berdiri di tengah-tengahnya.
Tatapan mematikan Gideon langsung tertuju pada tangan Kingston yang memegang pergelangan tangan Liana.
“Lepaskan tanganmu darinya.”
Kingston membalas tatapan mematikan Gideon. Ia sama sekali tidak takut dengan ancamannya. Kingston memegang tangan Liana dengan erat.
Bahkan tangan itu meluncur ke bawah dan langsung merapatkan jari-jarinya ke sela-sela jari Liana.
Liana sempat terkejut. Ia memandang Kingston lalu memandang Gideon. Saat melihat wajah Gideon yang suram. Tangan Liana langsung menggeliat minta dilepaskan namun Kingston semakin mempererat.
Tindakan Kingston bisa memicu kemarahan Gideon lebih parah. Ia tidak ingin membuat Gideon lebih marah dan ia juga tidak ingin melibatkan orang yang tidak bersalah.
Liana langsung gemetar. Sungguh ia tidak bisa membayangkan berada dalam situasi rumit seperti ini.
Gideon tersenyum mengejek. Ia melihat Liana sekilas lalu berbalik. Ia mengambil beberapa langkah lalu memutar dan langsung menendang Kingston dengan kakinya.
“Gideon!”
Kingston yang tidak siap langsung kembali tersungkur sehingga pegangannya pada Liana terlepas.
Kingston menabrak aspal dan Gideon langsung mengamuk secara brutal. Gideon beberapa kali memukul wajah Kingston.
Wajah Kingston langsung terpelanting ke samping dan darah segar langsung muncul dari sudut bibirnya.
Kingston yang tak terima langsung melawan. Kingston berhasil menghindar dari pukulan Gideon dan perlahan berdiri.
Ia membalas pukulan Gideon namun Gideon dapat menghindar beberapa kali. Namun pukulan yang terakhir mengenai sudut bibir Gideon.
Kedua pria itu sama-sama kuat namun jelas Gideon lebih kuat karena sejak kecil. Gideon sudah dimasukkan ke dalam kamp militer.
Gideon kembali menendang udara dan tendangan itu tepat berakhir di perut Kingston.
__ADS_1
“Berhenti.”
Ini bukan yang Liana inginkan dan ini bukan yang Liana ingin lihat. Ia tidak bisa lagi melihat kejadian yang mengerikan. Sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi jika mereka terus saja berkelahi.
“Aku mohon berhenti.”
Liana langsung memeluk punggung Gideon agar membuat pria itu berhenti dalam tindakannya.
Hati Gideon langsung menegang. Pukulannya terhenti di udara.
“Berhenti berkelahi. Jangan memukulnya lagi. Jangan melukainya.”
Tangan Gideon langsung ia turunkan.
“Jangan memukulnya lagi?” ulang Gideon.
Gideon mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
“Gideon, Aku mohon jangan marah.”
Gideon langsung berbalik dan memegang kedua bahu Liana dengan erat.
“Jangan marah? Tidakkah kamu pikir itu sudah terlambat bagimu untuk mengatakannya sekarang!”
“Gideon! Jangan memarahi Liana.”
Kingston tidak menyerah ia menggunakan kekuatan yang tersisa namun ia kembali di tendang oleh Gideon.
“Jangan mencoba untuk merebut wanitaku saat aku tidak ada.”
“Berhenti! Sudah cukup! Jangan sakiti dia. Jangan marah lagi. Aku mohon, aku akan jadi penurut mulai sekarang. Oke?”
Gideon langsung berbalik dan mencengkeram tangan Liana. Ia menyeretnya dengan paksa untuk segera pergi.
“Gideon. Jika kamu hanya bermain-main dengannya maka lepaskan dia. Aku tidak percaya kamu bisa melindunginya.”
Gideon mengabaikan ucapan Kingston. Ia mengirim Liana untuk segera masuk ke dalam rumah. Gideon menutup pintu dengan kasar.
Liana langsung berlari ke kamarnya. Saat ingin menutup kamarnya dengan rapat, sebuah tangan menyangkalnya.
Gideon langsung melebarkan pintu yang hampir menutup itu dengan paksa.
Liana langsung melepaskan pegangan pintu dan berbalik namun pinggangnya ditangkap oleh Gideon dan ia merenggut merapat.
“Gideon, Kamu sudah gila! Aku sungguh membencimu.”
“Aku perintahkan kamu untuk menarik perkataanmu!”
Gideon menunduk untuk menatap wajah Liana yang ketakutan.
“A-aku mengambilnya kembali.”
Tatapannya yang sedingin es langsung jatuh pada bibit Liana.
“Apakah dia menciummu di sini?” Jari Gideon mengusap bibir Liana dan matanya menyipit berbahaya.
__ADS_1
“Dia tidak menciumku!”
“Aku melihatnya.”
“Dia hanya meniup mataku yang sedang kelilipan.”
“Persetan dengan alasan itu.”
Gideon langsung menyambar bibir mungil warna merah muda itu dengan rakus. Liana memberontak dalam ciuman yang menggebu.
Liana terhanyut dalam ciuman itu namun saat ingatannya mengantarkannya pada Ruona. Liana langsung menyudahinya.
Liana lalu mundur beberapa langkah. Liana mengepalkan kedua tangannya dan berjuang melawan rasa sakit yang teramat dan kesedihan yang ada di hatinya.
“Gideon, mari sudahi semuanya.”
Perilakunya yang posesif, tirani, kejam dan mengendalikan sangat melelahkan dan mencekiknya. Terlebih Gideon tidak bisa memberi rasa aman.
Gideon langsung menubruk tubuh Liana hingga mereka berdua jatuh ke ranjang. Tubuh Gideon menekan tubuh Liana.
Wajah Gideon, ia benamkan dalam cerukkan leher Liana.
“Menyudahi semuanya? Itu tidaklah mungkin.”
Gideon mengangkat wajahnya untuk bisa menatap wajah Liana. “Jika kamu tidak menginginkanku itu urusanmu tapi apakah aku menginginkanmu atau tidak itu urusanku. Aku menginginkanmu untuk selamanya.”
Gideon kembali menatap tajam ke arah Liana.
“Selain di sini dimana dia menyentuhmu?” tanya Gideon.
“Dia tidak menyentuhku.”
“Jangan mencoba membohongiku. Aku melihatnya. Apakah dia menyentuhmu di sini?” tanya Gideon sambil ujung jarinya menyentuh rahang Liana.
Liana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pria posesif ini.
“Bagaimana kalau di sini?” tunjuk Gideon pada hidung Liana.
Liana terus menggelengkan kepalanya. “Gideon Cross sudah cukup.”
“Tidak cukup! Kamu milikku. Hanya aku yang bisa memelukmu dan menyentuhmu jadi cepat mandi dan bersihkan tubuhmu. Bersihkan dimana dia menyentuhmu.”
Gideon benar-benar frustrasi. Saat ia berada di luar kota selama beberapa hari. Gideon benar-benar merindukan Liana. Ia merindukannya seperti orang gila.
Ia bahkan ingin segera mengikat Liana segera mungkin. Dulu ia tidak begitu memedulikan pernikahan. Namun sepertinya ia sangat ingin mempunyai rumah untuk pulang dan tinggal.
Saat ia menelepon Liana, nomornya berada dalam daftar hitam. Gideon kebingungan sampai ia memutuskan untuk segera memesan tiket pesawat dan kembali. Saat ia ingin memeluknya. Gideon malah melihat adegan yang membakar seluruh sel di dalam tubuhnya.
Gideon cemburu dan mengamuk.
“Lepaskan pelukanmu,” ucap Liana.
Gideon tidak bisa mengendalikan emosinya kembali. Ia menatap tajam ke arah Liana.
“Aku akan membersihkan tubuhku tempat dimana dia menyentuhku jadi lepaskan aku, oke.”
__ADS_1
Gideon langsung bangkit. Ia langsung pergi dan menutup pintu dengan keras hingga membuat vas bunga di laci dekat pintu sedikit bergoyang.
“Apakah aku begitu kotor? Apakah dia tidak menyukaiku disentuh oleh pria lain? Dia menuntutku untuk membersihkan diriku sendiri lalu bagaimana dengannya sendiri? Bisakah dia membersihkan tubuhnya yang telah disentuh oleh Ruona. Dia ingin bersih, baik aku akan mengabulkannya. Aku akan menggosok diriku sampai kulitku merah. Aku akan terus berada di bak mandi sampai buku-buku jariku mengeriput.”