
Sosok wanita yang rapuh kini berbaring di ranjang kesakitan. Wajahnya pucat dan matanya masih terpejam.
Saat fajar tiba, matanya tiba-tiba terbuka dan ia sadar dengan keadaan linglung.
Saat ia mengamati keadaan sekitar, ia sedikit terkejut mendapati sosok pria yang berdiri menjulang tinggi.
Wajahnya langsung ketakutan.
“Akhirnya kamu bangun.”
Ruona menggeleng lalu tanpa sengaja ia merasakan rasa sakit dari perutnya. Wanita itu menundukkan kepalanya. Tangannya dengan perlahan membelai perutnya dengan khawatir.
“Apa yang terjadi?”
Ruona tidak bisa lagi merasakan ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Kilatan panik muncul di wajahnya.
“Anak itu sudah mati.”
Matanya membelalak tidak percaya. Ekspresi aneh langsung melintasi wajahnya.
“Ha ha ha ha.”
Ruona tertawa seolah baru saja mendengarkan lelucon lucu. Tawanya yang keras tiba-tiba menjadi isak tangis.
Jelas ketika Ruona mengetahui tentang kehamilannya pertama kalinya, ia membencinya. Namun seiring berjalannya waktu ia mulai menyukai ada kehidupan baru dalam perutnya.
Ruona ingin melahirkannya dan membesarkannya. Tiba-tiba ia mengerti perasaan Liana saat kehilangan darah dagingnya. Itu sangat menyakitkan.
Ruona akhirnya mengerti rasanya menjadi seorang ibu.
“Apa yang kamu tangisi?”
Ruona menatap perutnya dan air matanya selalu menetes.
“Bukankah kamu selalu ingin menggugurkan anak itu? Keinginanmu sekarang terwujud.”
Ruona menunduk dan bayangan masa lalunya saat ia menyia-nyiakan orang yang mencintainya langsung berputar.
Ia sangat menyesal. Wanita itu tiba-tiba meringkuk dan menangis tanpa daya. Detik berikutnya, lehernya terasa seperti tercekik.
“Ruona, rencanaku hancur karena dirimu.”
“Apa?”
“Kedua anak itu dibawa pergi.”
Tubuh Ruona menegang lalu ia tertawa terbahak-bahak.
“Ha ha ha ha.”
Kevin yang melihatnya terkejut dan marah. “Dasar wanita gila.”
Detik berikutnya, pria itu pergi meninggalkan Ruona yang tertawa liar karena mendapatkan panggilan.
Setelah menjawab panggilan di luar, Kevin kembali masuk ke bangsal. Tempat itu kosong. Di tatapnya ranjang yang kosong dan ada bercak darah di sana. Bercak darah juga ditemukan di lantai menuju ke kamar mandi.
Kevin berlari ke ambang pintu. Ia berhenti mendadak, terpaku kebingungan.
Kevin melihat wanita itu bersandar di bak mandi sambil melukai lengannya sendiri. Darah tumpah dan menodai air dalam bak mandi tersebut.
“Apa yang kamu lakukan?”
Kevin langsung meraih tangannya untuk menghentikan tindakannya yang tidak masuk akal.
Tindakan Ruona berhenti, ia mengangkat kepalanya untuk melihat Kevin. Tatapannya langsung melotot marah.
“Itu kamu,” tuduh Ruona.
“Apa?”
__ADS_1
“Itu semua salahmu! Kamu telah membunuh anakku. Kamu seorang pembunuh, kembalikan anakku!”
Kevin langsung mengambil pisau buah yang dipegang Ruona dan membuangnya jauh. Ia langsung mencengkeram kedua tangan Ruona. Sehingga wanita itu tidak bisa banyak meronta.
“Apakah kamu sudah gila?” teriak Kevin.
“Siapa lagi yang bisa membunuh anakku selain kamu? Kamu membunuh anakku. Kembalikan! Kembalikan dia!”
Ruona membabi buta ke arah Kevin.
Kevin langsung menampar Ruona untuk menyadarkannya kembali ke akal rasionalnya.
“Jangan bertindak seperti orang gila di depanku! Apa kamu pikir aku tidak akan melakukan apa pun padamu hanya karena kamu bertingkah seperti orang gila! Dan satu lagi, aku tidak membunuh anakmu.”
“Siapa lagi yang bisa?”
“Sudahkah kamu lupa, ada Daniel. Tepatnya dia yang membunuh anakmu.”
“Daniel...Daniel...”
“Ya, anak itu.”
“Dia...dia yang membunuh anakku.”
Tiba-tiba Ruona seperti orang kesurupan. Kevin langsung melepaskan tangannya dan berdiri di depan Ruona.
“Dia membunuh anakku....ha ha ha ha aku juga harus membunuhnya.”
Lalu beberapa perawat datang untuk menenangkan Ruona.
“Jangan! Jangan! Jangan sentuh aku.”
Ruona menjerit seperti kehilangan kewarasannya. Semua orang bertukar pandang dan langsung bekerja sama untuk mencengkeram pergelangan tangan Ruona sehingga wanita itu tidak bisa banyak berontak.
“Daniel...itu kamu....”
...♡♡♡...
Pria itu menutup teleponnya dan berbalik untuk melihat Liana. Liana melihatnya dengan penuh harap.
“Apakah anak-anak sudah kembali?”
Gideon mengangguk. “Ya. Mereka aman sekarang.”
Sinar cerah langsung melintasi mata Liana. Ia turun dari tempat tidur dengan gelisah namun Gideon menghentikannya.
“Aku ingin melihat mereka.”
“Aku akan membawamu ke mereka ketika kamu benar-benar sembuh.”
“Tidak. Aku ingin melihatnya, aku sudah sembuh.”
“Liana, jadilah patuh.”
Liana langsung terdiam. Ia melirik Gideon dengan kesal.
“Apakah kamu berbohong padaku? Anak-anak belum aman kan?”
“Aku tidak berbohong padamu. Anak-anak sedikit terluka dan telah dilarikan ke rumah sakit. Mereka pasti akan merasa sakit jika melihatmu karena terlihat lemah sekarang.”
Liana langsung melihat ke bawah dan memang benar, penampilannya sekarang terlihat kuyu dan layu.
“Setelah kamu terlihat lebih baik, aku akan membawamu pada mereka. Oke?”
Liana menatap Gideon curiga untuk sementara waktu.
“Aku tidak bisa istirahat dan makan jika aku tidak segera melihat mereka.”
“Liana, jadilah patuh.”
Gideon mengambil semangkuk bubur di sampingnya dab menyuapinya dengan sabar dan telaten.
__ADS_1
Sejak Gideon kembali ke luar negeri, pria itu jarang tidur. Sekarang penampilan Gideon sedikit berubah. Ada janggut tipis di sana dan lingkaran hitam karena kelelahan tampak jelas.
Liana menatapnya dalam-dalam dan tiba-tiba ia merasakan hatinya sakit. Matanya berkaca-kaca.
Dia pasti lelah daripada aku.
“Ada apa?” tanya Gideon.
“Mulai sekarang, aku akan mendengarmu. Aku akan menjadi patuh.”
Gideon terperangah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit hidungnya.
“Bagus.”
Sambil mengangkat sendok , Gideon berkata, “Biarkan aku menyuapimu.”
“Ya.” Liana mengangguk patuh.
Gideon meniup bubur itu hati-hati untuk memastikan bahwa itu cukup hangat untuk dimakan sebelum menyuapkannya pada Liana.
Liana dengan hati-hati mengambilnya di mulutnya dan menelannya. Kehangatan langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.
Gideon mengulangi tindakannya sampai setengah mangkuk bubur.
“Aku sudah kenyang.”
“Makan saja sedikit lagi.”
Gideon dengan sabar membujuk.
“Bukankah kamu bilang akan menjadi patuh?”
Tidak dapat berkata apa-apa lagi. Liana makan beberapa suap lagi. Begitu selesai, Liana kembali berbaring.
Gideon memperbaiki posisi letak selimutnya.
“Aku akan pergi ke kantor. Beristirahatlah dan tunggu aku pulang.”
“Apakah ada sesuatu yang sangat penting?” Liana agak tidak puas begitu mendengar kata-kata Gideon.
“Ya.”
“Lalu kapan kamu akan kembali?”
“Aku akan segera kembali begitu aku selesai.”
Liana langsung cemberut. Meskipun begitu ia menganggukkan kepalanya lalu memandang Gideon.
“Baiklah, aku akan menunggumu.”
Setelah Gideon mendaratkan ciumannya, Gideon berbalik pergi.
...♡♡♡...
Gideon sudah tiba di kantornya, pemindahan kekuasaan seharusnya dimulai pukul dua belas soang. Namun Kevin terus saja menundanya.
Di dalam kantor CEO, Gideon duduk di meja kebesarannya sambil memainkan pulpen yang ada di tangannya.
Sementara dewan yang lainnya duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Sebelum Gideon datang ke kantornya, desas-desus bahwa pria itu akan memberikan sebagian kekuasaannya dengan sukarela demi seorang wanita menyebar.
Banyak dewan direksi yang tidak percaya karena mereka melihat apa yang Gideon lalui untuk naik ke kursi itu di dalam keluarga Cross.
Kehidupan orang kaya itu rumit, apalagi jika mengenai dengan kekuasaan. Namun banyak yang menyerah ketika harus berhadapan dengan Gideon Cross. Karena pria itu yang paling menonjol.
Itulah sebabnya mengapa pria itu dapat dukungan dari dua tokoh penting dari keluarga Cross.
Simon Cross, kakenya dan juga pamannya.
Jika mengubah CEO berarti itu sangat berdampak pada keuntungan perusahaan.
__ADS_1
“Apakah kamu benar-benar akan memberikan sahammu pada bocah itu.”