Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
39. Terjebak di Dalam Lift


__ADS_3

Liana berjalan melewati beberapa orang yang berlalu lalang di depannya. Ia sedikit mendongak ketika ia sudah berada di tempat tujuannya.


“Oh? Apakah ini tempatnya?”


Liana langsung masuk ke hotel itu. Ia lantas melihat ponselnya kembali. Entah takdir atau bukan saat akan memasuki pintu lift. Ia bertemu dengan Kingston.


Liana sedikit canggung.


“Kamu tidak masuk?” tanya Kingston saat Liana tak kunjung masuk ke dalam.


“Ah, ya.”


Liana lantas masuk ke dalam lift. Hanya mereka berdua yang berada di lift.


“Sudah lama kita tidak bertemu,” ucap Kingston.


“Ah ya.”


“Bagaimana kabarmu?” tanya Kingston.


“Kabarku baik. Bagaimana kabarmu?”


“Seperti yang kamu lihat.”


Saat Kingston ingin membuka obrolan kembali. Suara nada pesan dari ponsel Liana berbunyi. Liana kembali memusatkan perhatiannya pada layar ponselnya.


Setelah menjawab pesan. Tiba-tiba pintu lift berkedip beberapa kali dan lift tiba-tiba turun mengikuti gravitasi.


Kingston lantas langsung meraih lengan Liana dan menyentaknya ke dalam pelukannya. Ponsel Liana jatuh ke lantai.


Lift itu meluncur bebas membuat Liana ketakutan. Mereka berdua terguncang hebat dan langsung terjatuh.


“Apa yang terjadi?” tanya Liana.


Liana tidak bisa bereaksi saat lift terjatuh begitu keras. Keadaan begitu sunyi. Wajahnya pucat dan ketakutan. Ketakutannya melahapnya dari dalam.


“Kingston...”


“Jangan takut, aku di sini.”


Luna menutup matanya. Kingston lantas langsung menenangkannya.


“Apakah kita akan terjebak di sini selamanya?” tanya Liana.


“Tidak. Kita akan keluar segera.”


“Kamu bisa berdiri?”


Liana mengangguk dan ia berdiri. Ia memperhatikan Kingston yang sedang menekan bel alarm tetapi setelah menekan begitu lama tidak ada jawaban sama sekali.


“Kenapa tidak ada yang menjawabnya?”


“Apakah itu tidak berfungsi?”


“Seharusnya berfungsi.”


Liana langsung melihat ponselnya yang terjatuh dan segera mengambilnya. Ia buru-buru menelepon Gideon namun sia-sia saja karena tidak ada jaringan sama sekali. Liana mulai panik.


“Tidak ada sinyal di ponselku.”


Tidak ada sinyal, dan alarm tidak ada yang menjawab. Liana mulai tersesat dalam pikirannya. Ia terjebak dalam ruang sempit dan ketakutannya.


Kingston mengerutkan kening saat ia dengan tidak sabar menekan bel alarm berulang kali. Setengah jam kemudian, tidak ada yang menjawab. Karena frustrasi ia meninju pintu logam lift dan akhirnya menyerah.


“Kingston, aku pernah membaca berita. Seseorang mati karena terjebak dalam lift.”

__ADS_1


“Liana, apakah kamu percaya padaku?”


“Ya.”


“Jangan takut. Petugas lift akan datang. Kita hanya perlu menunggunya.”


“Hmm.”


Liana sedikit tenang.


Udara begitu dingin dan sunyi dan Liana berdiri di pojokkan sambil menunduk. Ia tak tahan lagi jika terus berdiri lantas ia duduk disusul Kingston yang duduk di sampingnya.


Kingston mengambil ponselnya yang ada di saku dan membuka aplikasi musik dan memainkan satu dari album terbarunya.


Musik yang indah menghilangkan kegelisahan yang disebabkan oleh keheningan di dalam lift.


“Kamu kedinginan?”


Kingston buru-buru berjongkok. Ia meletakkan tangannya dengan hati-hati di bahu Liana.


Liana menggeleng dan mengeratkan pelukannya sendiri saat lagu berhenti dan bersiap ke lagu sebelumnya.


Khawatir dengan Liana. Kingston langsung melepas jasnya untuk Liana. Kingston kembali menekan tombol alarm. Ia bahkan menendang pintu lift dengan keras dan mencoba berteriak minta tolong.


Kingston memandang ponselnya untuk melihat jam. Ia lantas menghentikan musik untuk menghemat baterai.


Kingston melihat Liana dan semakin cemas. Ruang sempit akan terasa mencekik bagi siapa pun setelah beberapa saat.


.........


Suah terus menggerutu di kamarnya karena terlalu lama menunggu Liana. Ia mengambil ponselnya untuk melihat ponselnya.


“Satu jam sudah berlalu dan dia belum datang. Awas saja begitu dia datang.”


Suah langsung menelepon namun hanya yang terdengar suara operator.


Saat ia pergi ke lift. Ia memencet tombol beberapa kali namun pintu lift itu tak terbuka.


“Apakah liftnya rusak?”


Alhasil Suah pergi turun dengan tangga darurat. Ia melihat keluar hotel namun orang yang ia tunggu tak ia lihat.


Saat ia ingin kembali ke kamar, dering ponsel yang keras membuatnya terlonjak kaget.


“Halo.”


“Bibi, suruh ibuku segera pulang. Ini sudah malam. Tadi ibu memberiku pesan tidak pulang malam.”


“Damian, ibumu tidak pergi menemui bibi.”


Damian langsung membuka alat pelacaknya. Saat terakhir ibunya memberi pesan. Lokasi terlihat di daerah hotel.


“Tapi dia...bibi kamu ada dimana?”


“Hotel A.”


Damian langsung menutup sambungan teleponnya dan langsung menghubungi nomor lainnya.


“Ayah, pulang sekarang! Ini keadaan darurat.”


Di tempat lain, Suah menjadi bingung dengan keadaan yang terjadi. Ia melihat sebuah mobil sport berhenti tepat di depan lobi.


Mereka adalah Gideon dan Damian. Mereka langsung pergi ke resepsionis. Sementara Suah masih linglung.


“Aku ingin mendapatkan rekaman cctv untuk sore ini,” ucap Gideon.

__ADS_1


Resepsionis menatap dengan tak percaya pada pria tampan yang ada di depannya. Sosok tinggi dan kehadirannya yang luar biasa.


Resepsionis harus menelan salivanya untuk beberapa kali.


“Maaf Pak, peraturan kami. Jika tidak ada hal yang mendesak. Rekaman cctv tidak boleh di lihat oleh siapa pun.”


Gideon langsung menatap tajam.


“Ini hal mendesak, ibuku hilang di hotel tempatmu bekerja,” ucap Damian.


“Maaf seharusnya anda melaporkannya ke polisi. Kami tidak bisa mengambil rekaman keamanan kecuali jika polisi yang meminta.”


Mata Gideon langsung menyipit dan berjalan ke sudut dengan putranya. Ia melakukan panggilan dsn dengan singkat memberikan perintah.


Setelah beberapa menit , lima pria berpakaian polisi muncul. Saat kepala polisi melihat Gideon, dia langsung pergi ke arah Gideon.


“Pak, lama tidak bertemu. Apa yang bisa kami bantu?”


Aku ingin melihat kamera keamanan di hotel ini, tapi staf hotel mengatakan bahwa aku tidak mempunyai wewenang untuk melakukannya,” ucap Gideon.


“Jadi pak Gideon ingin melihat rekaman keamanan.”


Gideon mengangguk lalu kepala polisi tersebut langsung berjalan ke meja depan dan semua beres.


Mereka dipersilahkan untuk menuju ke ruang kontrol. Ketika mereka melewati lift, para staf terheran.


“Apakah liftnya rusak? Suruh seseorang untuk memperbaikinya.”


“Ayah, apakah ibu terjebak di dalam?”


“Tidak mungkin nak, bagaimana bisa itu terjadi? Jika seseorang terjebak di dalam lift. Staf kami akan melihatnya,” ucap manajer Hotel.


“Mungkin mereka tertidur,” ucap Damian.


“Ayo kita ke sana segera.”


Di ruang kontrol ternyata keempat staf sedang tertidur. Damian menghiraukan manajer hotel yang memarahi staf tersebut.


Damian langsung ke arah monitor dan langsung teriak. “Ini ibu!”


Semua berbalik untuk melihat ke arah yang Damian tunjuk. Di monitor terlihat Liana yang meringkuk bersama Kingston.


Gideon langsung berjalan ke arah monitor. Bibirnya yang tipis di tekan ke garis paling dingin ketika matanya menyapu orang-orang yang berada di belakangnya.


“Pak Gideon, maafkan kelalaian saya.” Manajer meminta maaf.


“Mengapa kamu tidak segera menghubungi tim penyelamat!”


“Ya.”


Gideon menatap kembali ke layar monitor. Matanya menyipit saat ia berdiri di depan layar. Ia memperhatikan bagaimana Kingston memeluk Liana dengan erat.


Suah yang melihat aura dingin dari Gideon langsung berseru. “Kingston pasti takut Liana kedinginan jadi dia memeluknya.”


“Ayah, ayo kita ke lantai bawah.”


Damian dan Gideon langsung ke bawah bersama staf dan juga Suah. Saat mereka sudah sampai mereka semua terkejut karena banyaknya wartawan.


“Reporter?” alis Gideon mengerutkan kening tidak senang.


.


.


.

__ADS_1


Ada yang masih ingat Kingston?


__ADS_2