
Klik.
Damian langsung mengunci pintunya. Pria kecil itu juga menutup gordennya. Ia langsung melihat jamnya dan mengganti menu menjadi memanggil seseorang.
Panggilan langsung terhubung.
“Direktur Kecil. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Damian dengan sabar menceritakan seluruh masalah yang terjadi dan memberitahunya bahwa Damian saat ini berada di kediaman Cross.
“Kita akan ke sana bersama pengawal khusus.”
“Tidak! Jangan. Tunggu saja di Tk Liyan jam delapan lebih tiga puluh menit, besok.”
“Baik.”
Damian mengakhiri panggilannya. Damian berjalan ke meja belajar Damian dan membuka laci.
Ia diberitahu bahwa di dalam laci ada laptop. Damian mengeluarkan laptop. Jari-jari kecilnya dengan indah menari-nari di atas papan ketik.
Dia memasukkan serangkaikan kode dan melihat sebuah akses.
Damian ingin mengetahui lokasi ibunya saat ini. Keningnya mengerut saat sistem menampilkan arah dan posisi tempat yang berbeda.
Jantungnya berdetak. Ketenangannya yang biasa di wajahnya kini berubah cemas. Damian berpikir sampai nyaris gila.
Damian menggigit bibirnya dengan keras saat matanya terus berkedip.
Damian langsung mengambil napasnya. Ia menutup matanya dan detik berikutnya membuka dan jatuh pada layar.
Jari-jari kecilnya kembali menembak sebuah kode dan mencoba meretas jaringan monitor keamanan.
Gambaran yang ada di layar diperkecil dan di pertajam. Dan Damian menemukan sebuah plat mobil. Damian kembali mempersempit dan memperkecil gambar.
Dan ada tampilan di dalam mobil itu ada seorang wanita yang tak sadarkan diri di dalamnya.
Dari penampilan sosoknya, Damian sudah bisa melihat bahwa wanita itu adalah ibunya.
Setelah meretas sistem keamanan, ia langsung memasukkan plat mobil. Ia terus melihat semua rekaman yang ada di jalan.
Di layar monitor mobil itu menuju ke utara dengan melintasi jembatan sebelum berkendara langsung ke kediaman Cross.
Mobil berhenti dan Damian berhenti merekam namun ia sama sekali tidak melihat ibunya.
“Ibu jelas-jelas masuk ke dalam mobil itu tapi kenapa sekarang ibu tidak ada?”
Damian kembali memeriksa setiap sudut rekaman keamanan. Matanya yang kecil, sangat jeli dan cermat.
Baru saat itu mobil tersebut berhenti dan ada mobil lainnya.
Damian menyipitkan matanya.
“Apakah ibu sudah dipindah di mobil itu?”
Damian kembali memperbesar gambar mobil itu untuk melihat plat nomor mobil tersebut.
Setelah Damian mendapatkan nomor plat nomor tersebut. Damian kembali melacak. Namun hasil tidak ditemukan karena mobil itu memakai plat nomor palsu.
__ADS_1
Damian sangat kesal, tanpa ada plat nomor. Ia tidak dapat menemukan lokasi yang valid. Alhasil ia hanya menerka-nerka tempat terakhir mobil itu berhenti.
Damian langsung menutup laptopnya dan mengembalikan laptop kembali ke laci.
...♡♡♡...
Setelah Gideon menyelesaikan pekerjaannya yang sungguh menyita waktu dan tenaganya. Saat ini ia sudah dapat menghela napas lega. Segala urusannya sudah hampir selesai.
Tepat ketika Gideon duduk di sofa, Alan dari lantai bawah bergegas ke arahnya dengan tangan membawa ponsel.
“Presdir, kamu melewatkan panggilan.”
Gideon langsung mengambil ponselnya dan membuka kunci layar. Baru saat itu, ia melihat banyak panggilan tak terjawab.
Diantaranya adalah panggilan dari Daniel. Putranya jarang meneleponnya kecuali ada hal yang mendesak.
Teleponnya tiba-tiba berdering. Itu adalah panggilan dari asisten rumah tangganya.
“Tuan Muda.”
“Apa?”
“Tuan Muda, Nyonya Muda hilang.”
“Apa?”
Kegelisahan dan suara Gideon yang tinggi menarik perhatian Alan dan seseorang yang sedari tadi berbicara dengannya.
Gideon langsung melihat mereka dan berdiri berjalan ke jendela.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Alis Gideon langsung merajut karena marah. “Pengawal khusus?”
Gideon langsung mematikan ponselnya dan berbalik menatap Alan.
“Atur penerbangan untukku, aku akan kembali.”
“Baik,” ucap Alan.
“Kenapa terburu-buru kembali? Apa yang ingin kamu lakukan di rumah?”
“Ada masalah penting.”
“Apa itu terkait dengan wanita itu? Tapi kamu masih ada jamuan makan besok.”
“Aku minta maaf paman. Aku tidak bisa menghadirinya,” ucap Gideon yang berjalan ke arah pintu.
“Kamu tidak diizinkan untuk pergi!”
Langkah Gideon terhenti tapi pria itu tidak berbalik.
“Aku harus pulang segera.”
Pamannya sangat marah dan menyalahkan Liana. Liana membuatnya sangat terobsesi dengannya sehingga Gideon menjadi tak masuk akal.
“Wanita itu memang berbahaya.”
__ADS_1
...♡♡♡...
Dalam cahaya remang dan udara yang lembap. Kinara mencoba menggerakkan anggota tubuhnya. Sayangnya seluruh tubuhnya mati rasa karena terlalu lama diikat dalam posisi yang sama.
Memindai sekelilingnya dengan perasaan takut, ia berharap ini semua hanya lah mimpi.
Namun saat menunduk dan melihat kakinya yang berdarah dengan kering. Apa yang terjadi bukanlah mimpi. Itu nyata, ia terjebak di tempat yang mengerikan.
Suara sepatu terdengar di sana, namun Liana masih menunduk. Saat matanya melihat sepasang sepatu kulit, barulah ia mendongak untuk melihat orang itu.
“Kamu sudah bangun rupanya?”
Ia dapat melihat wajah seorang pria yang seumuran dengan Gideon. Mengenakan setelan hitam, ia berdiri angkuh.
“Siapa kamu?”
“Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Tapi aku akui kamu cukup berani. Apakah kamu tidak takut padaku?”
Kevin tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya karena kehadirannya yang angkuh dan seperti diktator sangat diabaikan oleh Liana.
“Apa yang harus ditakuti? Kita sama-sama manusia.”
Bohong, sebenarnya Liana sangat takut. Namun, Liana menolak untuk menunjukkan. Sedikit pun kelemahan dan rasa ketakutan di depan pria itu.
“Wah, kamu satu-satunya wanita yang tak takut padaku. Bahkan Ruona takut padaku tapi kamu tidak.”
Kevin tertawa dengan suara yang rendah seakan ia takjub dengan keberanian Liana.
“Kenapa kamu menculikku? Bahkan aku tidak mengenalmu, dan aku rasa aku tidak pernah menyinggungmu?”
“Ya, kamu tidak pernah menyinggungku tapi kehadiranmu berguna untukku.”
Lalu, seorang pengawal datang membawa kamera.
Semburan cahaya flash langsung menyinara seluruh tubuh Liana. Pria itu mengambil beberapa foto Liana dari penampilan yang acak-acakan.
“Apa yang kamu lakukan?”
Kevin mendekatinya dan tangannya meraih wajah Liana. Kevin menatap wajahnya untuk waktu yang lama.
Kevin seakan tersihir oleh mata bulatnya itu. Ia masih sulit mempercayai bahwa ia baru merasakan perasaan yang sulit untuk dilukiskan.
Kevin tersentak dari imajinasi sendiri.
Sialan wanita ini. Ia sudah keterlaluan.
Kevin langsung terkesiap dan menjauh dari Liana.
“Apakah kamu dari keluarga Cross?” tanya Liana.
Wajah Kevin membeku dan bibirnya menegang. “Terkadang mengetahui hal banyak tidaklah baik.”
“Aku sekarang ada di tanganmu, jadi mengetahui semuanya itu sama saja karena tidak akan ada hal baik yang terjadi padaku.”
“Liana...” Kevin melirik bawahannya. “Kirim foto ke perusahaan Gideon.”
“Apakah kamu memeras posisi dan kekuasaannya menggunakanku?”
__ADS_1
“Menurutmu?”
Kevin berdiri dan berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi.