Anak Genius - The Heirs

Anak Genius - The Heirs
45. Karyawan Biasa?


__ADS_3

Liana sudah siap dengan gaun sederhananya. Sementara Gideon juga sudah siap dengan setelan jas yang tampak sederhana dari kebiasaannya ia pakai.


Sebenarnya Gideon ingin protes dengan apa yang mereka kenakan saat ini karena tidak seperti mereka. Terlebih lagi Liana. Gaun itu terlalu sederhana untuknya. Kesederhanaan itu membuatnya tampak seperti remaja polos.


“Ayo kita berangkat,” ajak Gideon.


“Tunggi, sebaiknya kita naik taksi.”


“Kenapa kita naik taksi?” tanya Gideon bingung. Pria itu mempunyai mobil lalu untuk apa naik taksi?


“Karena mobilmu sport.”


“Lalu kenapa?”


“Itu menunjukkan status yang tinggi.”


“Lalu mengapa kamu begitu menghindari fakta itu.”


Liana mengibarkan kelopak matanya. Kilatan kerumitan muncul di matanya.


“Saat aku kuliah, aku pernah difitnah menjadi ayam kampus. Meskipun aku tidak terlalu memedulikan pandangan dan pikiran orang lain tapi sungguh aku sangat memikirkannya dan tersinggung dengan gosip-gosip itu. Jadi aku ingin menjadi orang yang bersahaja, untuk tidak menarik gosip lagi.”


Gideon terkejut. Pria itu pantas mengulurkan tangan untuk mengusap pucuk kepala Liana.


“Sekarang berbeda. Aku ada di sampingmu.”


Gideon tersenyum lembut pada Liana. Matanya dipenuhi dengan cinta.


Mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil Gideon. Saat mereka dalam perjalanan tiba-tiba nomor baru menelepon Liana.


Liana mengerutkan keningnya menatap layar ponselnya.


“Kenapa?” tanya Gideon saat melihat Liana tak kunjung mengangkat panggilannya.


“Ada nomor baru yang meneleponku,” ucap Liana sambil menunjukkan layar ponselnya.


“Angkat saja.”


Liana mengangguk dan mengangkat panggilan tersebut.


“Halo, apakah ini nomor Liana?”


“Ya,” ucap Liana ragu.


“Syukurlah. Halo Liana aku Lili, aku dapat nomormu dari Suah. Apakah kamu datang untuk reuni malam ini?”


“Ya, aku datang.”


“Waw, semua teman kita pasti akan heboh. Kapan kamu akan berangkat?”


“Aku dalam perjalanan.”


“Lalu, bisakah kamu menjemputku? Kebetulan mobilku di bawa bengkel hari ini dan belum selesai.”


“Maaf, kendaraanku hanya memiliki dua kursi.”


“Ah, kamu menaiki motor. Tidak apa-apa. Aku bisa memanggil taksi. Apakah suamimu mengantarkanmu?”


Liana menelan salivanya dan enggan menjawab pertanyaan Lili.


“Lili, sampai jumpa di sana.”


“Oh, baik.”


Gideon menyetir dengan tenang dan sampai ke tempat tujuan. Ia memberikan kunci mobilnya kepada petugas di sana. Tak lupa pria itu juga memberikan tips.

__ADS_1


Saat mereka sampai ke dalam. Liana begitu takjub. Ia merasa ini bukan acara reuni melainkan acara pesta. Reuni tampak sangat mewah seperti bukan acara reuni pada umumnya.


Liana mengedarkan matanya ke penjuru ruangan. Ia tampak mengenali teman-temannya tapi terkadang ia juga pangling dengan temannya sendiri.


“Lia.”


Wanita yang dipanggil Lia langsung menoleh. Ia langsung tersenyum dan ingin menyapa. Di saat yang bersamaan Gideon datang dan melangkah maju.


Tatapan Lia langsung tertuju pada pria itu.


“Pria yang sangat tampan.”


Pria tampan yang berdiri di samping Liana. Ia mengenakan kemeja hitam yang sederhana namun auranya begitu luhur. Sepasang mata yang layaknya seperti elang. Begitu tanam yang memancarkan rasa dingin yang mematikan.


Hidungnya mancung dengan bibir tipis yang begitu seksi.


Saat Lia mendekatinya, pria itu tetap diam. Diamnya memancarkan aura raja. Lia bisa menebak bahwa dia adalah pria kaya.


Lia melihat pria itu berdiri di samping Liana dan memeluk bahunya.


“Halo Liana. Dia suamimu?”


Liana hendak menjawab namun Lia sudah terlebih memotongnya.


“Halo,” sapa Lia pada Gideon. “Liana, suamimu sangat tampan.”


Memikirkan pria di samping Liana. Lia senang bahwa ia tidak membawa suaminya. Jika dibanding suami Liana, Lia sudah malu.


“Apakah kamu baru saja datang?”


“Ya. Liana, aku baru pertama kali datang ke sini. Ini terlihat sangat berkelas.”


Liana tersenyum. “Ini juga pertama kalinya aku datang ke sini.”


“Aku tidak tahu mengapa Lili mengadakan reuni di tempat ini. Ini membuatku sedikit gugup.”


“Siapa dia?”


“Dia sangat cantik. Apakah dia teman sekelas kita?”


“Apakah pria di sana seorang idol?”


“Pria tampan itu berdiri di samping Liana. Apakah dia...”


Begitu semua orang mengetahui keberadaan Liana. Liana langsung dikerumuni oleh teman-temannya.


“Liana, apakah kamu mengingatku?”


“Akhirnya kamu ada di sini! Kamu selalu absen saat diajak reuni.”


Liana hanya mampu memasang senyum palsu saat ia bertukar salam dengan teman-temannya. Ia bahkan merasa canggung sebenarnya. Setelah bertukar kabar, semua orang langsung mengubah topik mereka.


“Liana, dia...”


Semua pandangan tertuju pada pria yang berdiri di samping Liana. Liana bertukar pandang dengan Gideon. Ia tidak yakin bagaimana memperkenalkan Gideon.


Pacar? Suami?


Gideon menunggu reaksi Liana. Ia ingin tahu bagaimana Liana akan memperkenalkannya.


“Liana!”


Seorang wanita cantik menghampiri Liana. Ia berjalan dengan anggun. Seorang primadona kampus di masa lalu.


Banyak orang yang membandingkannya dengan Liana.

__ADS_1


Sebenarnya Liana selalu menghindari acara reuni kelas karena dia, Lili. Liana mengetahui bahwa sejak dulu Lili tidak menyukainya. Itu semua karena satu alasan. Mereka berdua terlibat cinta dengan pria yang sama.


“Liana, sudah lama kita tidak bertemu.”


Lili tersenyum dan merangkul Liana seolah mereka adalah sahabat lama yang terpisah jarak dan baru bertemu.


Liana tersenyum tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit akibat cengkeraman Lili yang terlalu erat.


Lili melengkungkan senyuman manisnya dan melepaskan pelukannya. Lalu matanya beralih pada pria tampan yang berada di samping Liana.


“Ini?”


“Oh..dia...”


“Senang bertemu denganmu. Aku suami Liana, Gideon.”


Sebenarnya Gideon ingin memperkenalkan dirinya dengan nama lengkapnya namun mengingat pesan Liana bahwa ia tidak ingin menarik perhatian semua orang.


Liana langsung mendongak menatap Gideon. Liana memberikan kode bahwa yang dibicarakan Gideon dapat memberinya masalah namun Gideon hanya memberikan kedipan mata seolah mengatakan ‘semua akan baik-baik saja.’


“Suamimu sangat tampan.”


“Kamu dan suamimu terlihat sangat serasi.”


“Kapan kalian menikah? Kenapa kalian tidak mengundang kamu?”


“Oh itu, kami hanya mengundang kerabat dekat.”


“Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa bertemu?”


“Apa pekerjaannya?”


“Seorang karyawan perusahaan.”


“Karyawan?” ucap Lili.


Tiba-tiba Lili tertawa. Kerumunan pun menjadi hening. Awalnya mereka menilai bahwa pria yang dibawa Liana adalah orang yang berasal dari orang kaya.


Dia hanya pegawai perusahaan biasa. Ha ha ha.


Lili berhenti tertawa saat ia baru saja menyadari bahwa semua orang terdiam. Suasananya pun menjadi canggung.


“Pacarku dulu juga seorang karyawan. Sekarang dia menjadi manajer.”


“Lili, pacarmu sejak dulu kaya. Perusahaan itu adalah perusahaan keluarganya.”


“Benar, aku sangar iri denganmu.”


“Lili kita akan menjadi nyonya kaya.”


Dalam sekejap semua perhatian tertuju pada Lili dan Lili sangat menyukai perhatian ini. Rasanya sangat puas.


“Tapi Lili, aku tidak melihat pacarmu?”


“Dia sibuk, tapi dia akan ke sini nanti.”


Tak berselang lama, Suah dan pacarnya datang. Suah langsung heboh melihat Liana.


Suah dan Jinan langsung bergabung dalam kerumuan.


“Oh, apa yang aku lewatkan di sini?” tanya Suah.


Jinan menatap Gideon yang berdiri di samping Liana. Ia tidak bisa menyembunyikan tanda tanya besar.


Gideon menangkap Jinan yang selalu menatap Liana. Ia merasakan alarm tanda bahaya. Gideon tahu betul arti dari tatapan Jinan.

__ADS_1


Gideon langsung mengangkat tangannya dan memeluk bahu Liana. Ia menyatakan kekuatannya dan tanda kepemilikannya.


__ADS_2