
Gideon langsung menandaskan minumannya dan suara pecahan gelar terdengar di ruang dapur.
Gideon melampiaskan kemarahannya yang tak berujung pada gelas yang tak bersalah.
“SIALAN.”
Gideon berkacak pinggang dan langsung pergi ke kamarnya kembali.
Ia duduk di pinggiran ranjang sambil menatap pintu kamar mandi. Cukup lama ia menunggu di sana berharap seseorang yang berada di dalamnya segera keluar.
Ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang sambil menutup matanya dengan lengannya. Ia mengatur napasnya di sana dan masih menunggu.
Tanpa terasa ia berbaring di sana dan melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Sudah satu jam penuh Gideon berbaring di sana dan satu jam penuh juga Liana berada di dalam kamar mandi.
Sepintas pemikiran tiba-tiba muncul di benaknya. Jantung Gideon langsung jungkir balik. Ia dengan segera bangkit dan berlari untuk membuka kamar mandi.
Gideon melihat Liana terkubur di dalam bak mandi yang penuh dengan busa. Wanita itu memejamkan matanya.
Saat Gideon akan lebih mendekat mata yang semula terpejam itu langsung membuka.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Liana.
“Apa kamu belum selesai?”
“Belum,” jawab Liana.
“Berdiri dari sana dan cepat pakai pakaianmu.”
“Sudah aku katakan aku belum selesai. Aku sangat kotor sehingga butuh banyak waktu untuk membersihkannya.”
“Apa yang kamu katakan?”
Jelas Liana juga marah padanya. Ia membungkuk dan menyingkirkan busa itu lalu tatapannya langsung berubah dingin.
“Apa kamu sudah gila!”
Jelas Liana menggunakan semua kekuatannya untuk menggosok tubuhnya, seolah-olah ingin mengelupasnya. Itu tampak nyata.
Karena kulit Liana sekarang menjadi kemerah-merahan akibat gosokkan yang terlalu kuat.
Gideon langsung mengambil handuk dan menyerahkannya pada Liana.
“Cepat berdiri dari sana.”
Liana apatis dan tidak menjawab. Merasa tak digubris. Gideon langsung berusaha menggendong Liana.
“Jangan sentuh aku. Aku masih kotor. Kamu tidak suka kalau aku menjadi kotor karena sentuhan orang lain. Bagaimana denganmu? Aku juga tidak suka kamu kotor karena sentuhan orang lain. Jadi tolong tubuhmu juga harus dipastikan bersih menyentuhku.”
“Apa maksudmu?”
Melihat Liana yang tak kunjung menjawab. Gideon kehilangan kesabarannya. Ia langsung menyalakan pancuran untuk membersihkan sisa-sisa busa sebelum menggendong Liana keluar dari kamar mandi.
Gideon menekan Liana sehingga wanita itu tak bisa menolaknya dan hanya menjadi penurut.
Melihat Liana yang masih terdiam membuat Gideon frustrasi.
“Apakah kamu marah?” tanya Gideon.
Tak kembali direspons, Gideon menghela napas kasar. Ia segera membuka satu-satu demi satu kancing kemejanya. Lalu membuang kemejanya dengan asal dan langsung menekan tubuh Liana.
__ADS_1
Liana memejamkan matanya dan tidak ingin melihat Gideon.
“Buka matamu dan tatap aku.”
Liana membuka matanya, melihat Gideon yang sedang menatapnya tajam dan dalam.
Jari-jari Gideon menelusuri setiap senti wajah Liana sampai Klavikula sambil berkata, “Ini milikku. Liana setiap senti tubuhmu adalah milikku.”
“Lalu bagaimana denganmu? Apakah setiap senti tubuhmu adalah milikku.”
Gideon menatap wanita yang ada di bawahnya dengan bingung.
“Ya, semuanya adalah milikmu.”
Liana langsung memalingkan wajahnya.
Jika kamu bisa cemburu, apakah aku tidak bisa cemburu juga. Aku terjebak dalam hubungan yang tidak adil denganmu. Atas dasar apa kamu menuntutku untuk menjadi milikmu.
“Apakah kamu mengatakan kata-kata itu juga pada Ruona? Jika kamu milikku, bagaimana dengan Ruona?"
Gideon langsung meraih tangan Liana dan mengarahkannya pada dadanya.
“Sudah aku katakan semuanya adalah milikmu.”
“Pembohong.”
.........
Liana berteriak kencang merasakan pedih yang teramat ketika Gideon menggerakkan tubuhnya.
Gideon begitu besar dan kuat, mencekiknya hingga ia tak bisa bernapas.
Gideon lebih agresif di tempat tidur dari biasanya. Pria itu semakin tak terkendali.
.........
Jika ada yang lebih dipandang maka Gideon akan sibuk mencarinya. Namun Gideon tak perlu repot-repot mencari keindahan itu. Karena keindahan itu ada di depan matanya.
Pria itu sibuk memandangi wanita yang tengah terlelap di dekapannya.
Gideon mengulurkan jemarinya untuk menyentuh bibir Liana lalu ia berhenti di sana saat ucapan Liana berdering di kepalanya.
Berdasarkan intuisinya, Gideon menduga sesuatu terjadi pada Liana saat dirinya tidak ada.
“Ruona? Mungkin kah dia mengatakan sesuatu padanya.”
Gideon langsung bangun dan mencari ponselnya. Ia menelepon Alan.
“Perpanjang hari kamp anak-anak sampai lusa. Dan juga bawa beberapa pengawal serta pelayan untuk Liana.”
Gideon lalu menutup sambungan. Sebelum ia beranjak dari tempatnya. Ia melirik ke arah Liana.
.........
Gideon menatap rumah yang menjadi tempat tinggalnya sejak kecil. Itu adalah kediaman Cross.
Gideon melangkah dengan mantap. Langkah kakinya begitu ringan dan pembawaannya begitu wibawa.
Saat Ia berada di ruang tengah. Ia melihat kakeknya dan Ruona sedang duduk di sana. Bibir Gideon tersenyum.
__ADS_1
“Kakek.”
Wajah Simon Cross langsung tenggelam saat ia melihat cucunya. Matanya menatap pria muda itu dengan marah. Wajahnya berubah keras.
“Kamu masih berani memanggilku kakek. Aku dengar kamu sudah pulang sejak semalam tapi kamu baru pulang sekarang. Kamu pergi kemana?”
“Kakek, aku datang ke sini untuk memberitahukan sesuatu.”
“Sebelum kamu memberitahukan sesuatu. Aku ingin bertanya padamu. Siapa wanita ini?”
Simon Cross melemparkan majalah yang berisi sampul Liana dan Kingston beberapa waktu lalu.
“Kakek Jangan marah.”
“Ruona aku kasihan padamu. Di saat seperti ini kamu masih membelanya.” Simon Cross kembali melihat ke arah Gideon. “Jika kamu memberitahu ku sesuatu tentang kabar hubunganmu dengan wanita ini. Wanita ini tidak mempunyai kualifikasi untuk masuk ke dalam keluarga Cross. Tidak ada yang bisa menggantikan Ruona sebagai calon istri sahmu.”
Gideon tersenyum mengejek.
“Jika kamu menyukai wanita lain. Kamu bisa menikahinya sebagai istri kedua tapi kamu harus tahu dari mana wanita itu berasal. Jika itu dari wanita kalangan biasa, keluarga Cross tidak bisa menerimanya.”
“Kakek wanita yang kakek anggap dari kalangan biasa itu akan menjadi istriku. Wanita yang sudah aku tetapkan menjadi Nyonya Muda Keluarga Cross,” ucap Gideon tenang.
Ruona yang mendengar deklarasi dari Gideon menganga sementara Simon Cross merasa terkejut. Ia paham betul sifat cucunya karena ia yang membesarkannya sampai dia tumbuh dewasa.
Cucunya bahkan dulu selalu menghindar jika ada lawan jenis yang mendekatinya. Ia kira saat ini Gideon hanya bermain-main dengan wanita itu. Begitu dia bosan, dia akan meninggalkannya tapi siapa sangka ia malah menyatakan bahwa wanita itu akan menjadi Nyonya Muda Keluarga Cross.
“Beraninya kamu membantahku! Apa kamu tidak mendengar apa yang aku katakan!”
“Kakek Jangan marah. Kesehatanmu lebih penting. Kakek, jika Gideon menginginkan wanita itu. Aku tidak keberatan jika Gideon menikahinya menjadi istri kedua.”
“Apa yang kamu bicarakan Ruona? Wanita itu akan merebut statusmu. Bagaimana bisa kamu menyerahkannya?”
“Gideon tidak menyukaiku. Dia menyukai wanita itu. Tentu saja aku sangat berharap bahwa Gideon menyukaiku tapi perasaan tidak bisa dipaksakan.”
Mata elang Gideon langsung menatap tajam ke arah Ruona. Jelas saja Ruona sangat ingin merebut hati kakeknya.
Tidak heran jika Simon sangat menyayangi Ruona karena setiap hari wanita itu selalu berada di sisinya.
Gideon sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Daniel tidak sayang lagi pada Simon karena suatu hal. Ini dimanfaatkan Ruona.
Wanita itu akan setia berada di sampingnya dan akan menjadi penurut.
“Apa yang kamu ketahui tentang perasaan? Bisakah pernikahan hanya tergantung pada perasaan? Ruona selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan wanita lain datang ke rumah ini. Aku akan mendukungmu.”
“Kakek tapi--”
“Kakek aku akan memberitahukan sesuatu padamu,” ucap Gideon memotong ucapan Ruona.
“Apa itu?”
Gideon tampak mendekat sofa dan duduk di sana bagaikan Putera mahkota. Ia mempertahankan kepribadiannya yang dingin dan tak tersentuh.
“Aku akan membatalkan pertunanganku dengan Ruona.”
“Apa?” Simon marah sekarang. Kemarahannya sampai puncak. “Apa yang ada di pikiranmu sekarang? Bagaimana bisa kamu memperlakukan Ruona seperti itu?”
“Kakek jika kakek menyukai Ruona, kenapa tidak kakek saja yang menikahi Ruona?”
“Omong kosong apa yang kamu ucapkan!”
__ADS_1
“Kakek memaksaku menikahi wanita yang aku tidak sukai. Dari dulu aku selalu menuruti kata kakek. Untuk kali ini, aku tidak bisa.”
“Apakah kamu memberontak sekarang? Kamu sekarang berani melawan kakekmu sendiri! Pernikahan itu adalah keinginanku sendiri dan tak seorang pun bisa membatalkannya termasuk dirimu sendiri.”