
Hari-hari di istana kembali damai. Sudah seminggu setelah kejadian tragedi Rena dan Jarvin. Mayat kedua penipu tersebut pun sudah disingkirkan. Kini Rex dan Naomi kembali membaik hubungannya. Mereka kembali ke aktifitasnya masing-masing seperti biasanya.
Rex dan Naomi kembali kuliah lagi bersama. setelah selesai kuliah maka Rex melanjutkan tugas negaranya dibantu oleh Ahmed. Dan Naomi akan sibuk bersama dengan Sonia dan Miranda jika Naomi sudah pulang kuliah. Dan saat malam maka Sonia akan bersama suaminya yaitu Ahmed bercengkrama layaknya suami istri yang saling menyayangi.
Begitu juga Rex dan Naomi akan menghabiskan waktu bersama-samanya. Hanya Miranda yang merasa sendirian kini. Dulu ada Almira yang menemaninya tapi kini Almira tak ada. Sehingga Miranda merasa kesepian.
Saat ini siang hari, Miranda sedang duduk sendirian.
“Hem gini amat ya nasib jomblo. Kak Sonia sibuk dengan rumah tangganya bersama Ahmed. Putri Naomi sudah punya Yang mulia Rex. Lah aku cuma sendirian kalau saat seperti ini. So sad for me.” Miranda mengeluhkan sendirian.
Miranda jadi tak tentu arahnya. Dia mondar mandir sendirian di taman istana para putri. Sebenarnya banyak putri lainnya, tapi Miranda hanya dekat dengan Sonia dan Almira. Dan saat seprti ini tak ada siapa pun lagi di dekatnya membuatnya kesepian sekarang.
“Mau juga punya kekasih gitu atau suami gitu. Tahun ini aku akan lulus SMA. Mau menikah saja pun tak punya calon apa lagi pacar pun tak punya. Haisss.” Miranda menghela napas panjang. Dia pun terduduk termenung.
Tommy baru saja melewati tempat putri Miranda. Dia sempat melihat tingkah Miranda yang kelihatan lucu dimatanya. Sebentar terlihat sedih, sebentar terlihat kesal, sebentar terlihat hendak menangis. Sungguh lucu menurut Tommy.
Tapi Tommy tak berani mendekat. Dia berlalu pergi.
Sore hari Naomi sudah pulang kuliah dan Rex langsung mencari Ahmed untuk melanjutkan tugas negara. Miranda kebetulan sedang bosan dan bertemu Naomi. Dia pun mendekatinya.
“Putri ....” Miranda tersenyum dan mendekati Naomi.
“Putri? Aku? Panggil Naomi saja lah.”
“Baiklah. Jika ada yang lain tak berani. Panggil aku juga Miranda ya.” pinta Miranda.
“Oke. Baiklah. Ada apa ? mencari ku kah?” Naomi melirik ke Miranda.
“Aku sedang bosan sekali. Kak Sonia sudah bersama Ahmed. Almira tak ada lagi. Dan Anda bersama yang mulia. Sedangkan aku sendirian.” Mata puppy eyes pun terlihat di mata Miranda. Naomi menjadi kasian.
“Lalu mau bagaimana? kesepian gitu?”
“Iya. Jadi mau minta cari kan saja jodoh untuk ku ya.” Miranda memohon ke Naomi.
“Tapi kau kan masih sekolah Miranda. Dan saat ini tingkat akhir kan? Tahun ini kau lulus SMA kan?”
“Iya.”
“Apa tak kemudaan? Masih terlalu muda bagimu mencari pasangan Miranda.”
“Aku kesepian.”
“Hem, baiklah. Aku akan coba katakan pada Rex nanti ya.” Naomi pun akhirnya mau membantu.
“Makasih.” Miranda langsung memeluk Naomi.
Hal tersebut pun langsung Naomi katakan pada Rex saat dia sedang di ruang baca Rex. Di lihatnya Rex tengah sibuk membaca banyak berkas. Naomi mendekat. Rex melihat ada yang mau Naomi katakan. Dia pun segera meletakan semuanya dan menutupnya. Kemudian mendekati Naomi dan duduk di samping Naomi.
“Ada apa? Ada yang mau dikatakan kah?”
“Soal Miranda.”
“Kenapa Miranda?”
“Dia minta di carikan pasangan.”
“What? Pasangan? Dia kan masih sekolah.”
“Aku tahu. Tapi dia tetap menginginkannya. Kau carikan ya pasangan untuknya.”
“Tapi kali ini tak ada kekasih gelap kan?”
“Hey, ini bukan Ahmed dan Sonia. Hehe.”
“Hahaha. Aku hanya teringat kisah mereka berdua.”
“Hem, dan itu gara-gara dirimu.”
“Iya sayang. Maafkan.”
__ADS_1
“Aku tak marah. Hanya saja kau pun hampir kembali melakukan kesalahan.”
“Hah? Lagi? Apa itu?”
“Menikahi wanita penipu itu dan percaya kalau dia Rere. Bahkan tidur dengannya.” Naomi menyindir.
“Eits. Rena yang nyamar jadi Rere begitu. Aku hanya terpeda karena wajahnya mirip Rere tapi dia bukan. Dan aku tak tidur dengannya, dia hanya penipu.” Rex membela dirinya.
“Hem. Iyalah iyalah. Iyain aja. Jadi kau masin terkenang cinta pertama dulu kah?” Naomi menaikan alis matanya sebelah memandang ke arah Rex.
“Tentu saja tidak. Kan ada kamu sayang.” Rex memeluk Naomi.
“Eleh, gombal. Laki-laki kan banyak gombalnya.”
“Seriuslah. Kan seriusnya cuma samamu Naomi sayang.”
“Hem.” Naomi hanya memberikan isyarat tanpa kata apa pun.
“Oh iya jadi masalah Miranda tadi bagaimana kalau di jodohkan saja dengan Tommy. Setahuku Tommy juga masih single.”
“Tommy yang anak buahnya Ahmed itu kan?” Naomi mencoba mengingat tentang Tommy.
“Iya. Semoga saja mereka cocok ya.”
“Iya semoga saja.”
Rex dan Naomi sepakat menjodohkan Miranda dengan Tommy.
Esoknya Tommy dipanggil oleh Rex dan mereka bertemu di taman di dekat istana utama. Tommy pun datang menghadap Rex. Rex duduk sambil menatap Tommy dan Tommy duduk dengan tegak di hadapan Rex.
“Kau tahu kenapa di panggil Tom?”
“Tidak tahu Yang mulia.”
“Kau punya kekasih?”
“Pacar gelap. Hubungan rahasia atau lainnya bagaimana?”
“Tidak ada Tuanku. Hamba hanya sendiri saja. Kekasih tak punya dan sanak sodara tak punya, orang tua tak punya. Semuanya yang ada tanyakan hamba gak punya.” Tommy berkata dengan serius dan berkata dengan mantap.
Rex tersenyum puas dengan jawaban Tommy.
“Kalau ku jodohkan dengan seseorang kau mau kan Tom?”
“Di jodohkan dengan siapa Yang mulia?”
“Dengan Putri Miranda, bagaimana kau mau kan?”
Tommy kaget mendengarnya. Gak salahkah ini dia dijodohkan dengan putri Miranda. Saat ini Tommy akan berusia 20 tahun dan Miranda mungkin sekitar 17 atau 18 tahun. Miranda juga masih sekolah dan Tommy merasa dia adalah pengawal biasa maka rasanya sungguh tak cocok.
“Bukan hamba tak mau Tuanku, tapi putri dan hamba sangat jauh berbeda. Hamba hanya pengawal biasa dan putri Miranda adalah seorang putri. Apa dia mau nanti dengan hamba ini?” Tommy merasa ragu.
“Kau tenang saja. Miranda pasti mau. Kau cukup tampan dan bukan hanya pengawal biasa tapi juga pengawal terbaik Tom. Kau pernah menemani ku kembali ke tempat lama ku dulu membantuku dalam menolong Naomi dan memberantas para musuhku. Kemudian mencari kebenaran tentang Rere. Jadi kau sudah banyak berjasa Tom.” Rex menjelaskan.
“Tapi ... hamba takut putri tidak mau dengan hamba Tuanku.” Tommy menunduk. Dia sadar siapa dirinya jadi tak mau berharap.
“Jika kau punya seseorang maka aku tak akan memaksa Tom. Tapi jika tak punya maka coba lah dahulu dekat dengan Miranda.”
“Baiklah Tuanku.” Tommy pun menurut.
Di lain tempat Naomi sedang berada di tempat Miranda. Naomi menjelaskan tentang Tommy ke Miranda.
“Bagaimana Miranda kalau Tommy kau mau tidak? dia cukup tampan loh.” Naomi melihat ke arah Miranda yang terdiam.
“Tommy? Dia kan pengawal biasa.”
“Coba saja dahulu dekat. Jika suka maka lanjutkan jika tidak ya tak perlu di paksakan.”
“Kalau dia punya kekasih bagaimana? nanti seperti kejadian Ahmed dulu.” Miranda agak was-was juga. Takut terulang kembali kejadian seperti dahulu.
__ADS_1
“Tidak. Tommy single. Aku dan Rex sudah memastikan.”
“Baiklah. Aku akan mencobanya.”
“Bagus.”
Keduanya tersenyum.
Kebetulan hari week end. Rex dan Naomi sengaja mengajak Miranda dan Tommy ikut serta dengan mereka. Tujuan mereka kali ini adalah ke pantai. Perjalanan yang cukup lama dan panjang. Mereka satu mobil. di dalam mobil yang masih cukup luas di dalam nya mereka berempat duduk di dalamnya. Dia buah mobil hitam menemani dalam menjaga perjalanan mereka.
Setelah dua jam perjalanan sampailah di sebuah resort hotel yang tempatnya menghadap ke arah pantai. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Mereka pun masuk ke hotel dan check in kamar masing-masing. Naomi dan Miranda memilih satu kamar dan Tommy dan Rex juga satu kamar. Para penjaga lain berada di kamar lainnya.
Kini Naomi dan Miranda main air di kolam berenang di hotel tersebut. Airnya sangat jernih dan kolam berenangnya juga sangatlah luas. Kedua gadis tersebut mandi bersama. Rex dan Tommy hanya melihat dari tempat duduk mereka. sedangkan para penjaga lainnya hanya berjaga di sekitar tempat mereka berada. Mereka harus selalu stand by. Kali ini Ahmed dan Sonia tak ikut. Karena Sonia sudah mulai kelihatan tanda-tanda hamil. Jadi mereka memilih tak ikut.
Lagi pula misi kali ini selain liburan juga hendak mendekatkan Miranda dan Tommy.
Puas berenang di kolam berenang, Naomi mengajak Rex main ke pantai. Miranda dan Tommy pun ikut serta. Mereka pun kini bermain di pantai. Rex dan Naomi sibuk main speed boat sedangkan Miranda dan Tommy duduk berdua di dekat pasir putih sambil melihat ke arah Naomi dan Rex.
“Tom ....” Miranda memulai perbincangan. Karena dari tadi mereka hanya diam saja. Rasanya sangatlah kaku.
“Iya putri.” Tommy menjawab sekedar saja.
“Panggil lah aku Miranda saja. Bukankah kau sudah tahu, kalau Naomi dan Yang mulia menjodohkan kita?” Miranda bertanya dan melihat ke arah Tommy.
“Iya Putri. Hamba tahu tapi kalau putri menolak maka hamba tak apa-apa kok Putri.” Tommy sadar diri dan tahu tempatnya.
“Apa aku tak menarik Tom?”
“Bukan begitu. Putri sangat cantik hanya saja hamba yang tak pantas untuk Putri.” Tommy merendah tapi itulah kenyataannnya.
Miranda terdiam. Sejujurnya Miranda berharap seseorang yang pangkatnya lebih tinggi. Anak menteri atau anak para pejabat atau anak para bangsawan gitu. Tapi malah Tommy pengawal biasa bahkan anak buahnya Ahmed. Miranda masih tak terima rasanya.
“Mari bermain speed boat juga yuk. Aku mulai bosan jika kita hanya diam melihat mereka main.” Miranda mengajak Tommy.
Tommy pun mengiyakan. Mereka kemudian main speed boat. Miranda menaiki speed boat sendiri dan tommy sendiri. Keduanya melajukan speed boatnya. Tapi saat melaju tiba-tiba saja Miranda malah jatuh dan terpental. Dia pun terjatuh dari speed boatnya dan hampir tenggelam. Tommy yang melhat langsung menolongnya.
Saat di dalam air, Tommy menyelam dan menarik tubuhnya Miranda. Saat sudah sampai darah dia segera mengendong Miranda ala style bridal dan meletakkannya di atas pasir putih. Tommy melakukan pertolongan pertama tanpa pikir panjang. Oksigen pun di lakukan dari mulutnya Tommy ke mulutnya Miranda. Istilahnya memberikan napas buatan
Rex dan Naomi segera mendekat setelah mengetahuinya. Mereka melihat Tommy bolak balik memberikan napas buatan untuk Miranda.
“Terlihat seperti sedang kiss tapi dalam versi yang berbeda ya sayang?” Lirik Rex ke Naomi. Sebelah alisnya Rex naik keatas
“Kau ini. Tommy sedang menyelamatkan Miranda.” Naomi sedikit cemas.
“Tenang saja. Pasti selamat.”
Dan benar saja. Setelah berkali-kali Tommy memberikan napas buatan, Miranda terbatuk dan mengeluarkan air, Miranda selamat. Dia bangun dan duduk serta melihat Tommy yang ada di hadapannya.
“Kau? Kau memberikan ku napas buatan?” Miranda mengerutkan keningnya.
“Iya Putri.” Tommy langsung mengiyakan dan Miranda terlhat syok.
Bersambung....
Mendekati mau tamat nih. Hehehe.
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
No plagiat ya :D
Kasi komen yang positif ya kak :D Komentarnya mana komentarnya hehehe :D
Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D
__ADS_1