
“Hem....” Rex mengambil gelas minumannya dan hendak menyeruputnya. Dan Paul menatap bahagia dengan senyuman jahatnya.
Namun suara Anastasya malah terdengar.
“Yang mulia!!!” Seru Anastasya melihat ke arah Rex. Ia hendak menghentikan Rex meminum minumannya. Rex menatap ke arah Anastasya. Ia tak jadi minum. Paul menatap kesal pada putrinya.
Sebelumnya, Anastasya kembali ke kantor Papanya lagi namun tak melihat papanya. Bergegas Anastasya menuju istana, ia berpikir kalau Papanya akan ke istana dan melaksanakan rencana jahatnya. Ia tak mau terjadi sesuatu pada Rex. Saat sampai istana, Anastasya melihat papanya sedang berbincang dengan Rex. Bahkan Ia melihat Papanya sengaja menyentuh bagian bahu Rex dengan berpura-pura cemas dan memeriksa keadaan Rex padahal tangan yang satunya menaburkan sesuatu ke minuman Rex. Dan tak ada yang menyadari apa yang dilakukan oleh Paul, hanya Ana yang melihat semuanya.
Oleh sebab itu, Ana segera bergegas berjalan menuju Rex dan Papanya. Saat di lihatnya Rex hendak meminum minumannya, maka Anastasya segera memanggil Rex untuk menghentikannya meminumnya.
Rex menoleh ke Ana dan meletakkan minumannya. Paul jadi geram melotot melihat ke arah Ana.
“Sialan. Dasar putri tak berbakti.” Keluh Paul dalam hatinya.
“Ada apa Ana?” Rex bertanya ke Anastasya. Anastasya langsung mendekati Rex.
“Ana, kau tak sopan tiba-tiba memanggil begitu di depan Pangeran.” Paul menegur Ana.
Ana segera membungkuk hormat.
“Tak apa. Namun ada apa gerangan? Aku pikir putrimu datang bersama dengan mu Tuan Paul.”
“Ah, bukan begitu.” Paul jadi bingung.
Ana melihat ke arah Rex setelah membungkuk namun menatap ragu-ragu. Lidahnya sudah hendak mengatakan sesuatu namun tertahan. Karena ia takut, takut akan membahayakan Papanya. Tapi tak mau juga Rex terluka.
“Aku....” Anastasya bingung hendak mengatakan apa.
Rex dan Paul menatap ke arah Anastasya.
“Sial. Jangan sampai kau berkata apa pun, Ana.” Ucap Paul dalam hatinya sambil memandang Ana tajam dan memberikan isyarat dengan matanya ke Ana.
“Ada apa nona Ana?” Rex kini menatap heran ke Ana.
“Itu....” Ana kebingungan dalam memilih kata yang tepat. “ Gawat, apa yang harus ku katakan, tak mungkin aku mencelakai Papaku sendiri dan tak mau juga Pangeran terluka.” Keluh Ana dalam hatinya.
Paul segera berjalan menuju putrinya, ia hendak menarik paksa Ana pergi.
“Ana, ayo pulang saja. Kau sangat tidak sopan hari ini.” Alasan Paul saat ini. Ana menggeleng. Ia tak mau pergi.
“Tak apa.” Ucap Rex.
__ADS_1
“Maafkan putri saya. Kami berdua akan mohon diri.” Paul menarik tangannya Ana. Namun Ana meronta.
Rex menatap heran, Paul dan Ana mulai berjalan jauh tapi saat Rex kembali hendak minum, Ana segera menepis tangan Papanya dan berlari kembali ke arah Rex kemudian melarang Rex minum. Ana segera menyenggol tangan Rex, hingga gelas jatuh dan pecah. Bahkan airnya tumpah ke bawah dengan pecahan yang berserak.
Rex kaget dan Paul pun kaget dengan sikap Ana yang spontan tersebut. Bahkan Ana terdiam mematung sekarang. Ia tak dapat berkata apa pun. Semua melihat ke arah Ana, bahkan para pelayan dan pengawal juga menatap dan mengarahkan senjata ke arah Ana.
Paul menatap kesal putrinya. Ana segera bersimpuh dan berlutut.
“Maafkan hamba Yang mulia.” Ana tertunduk dan tak berani menatap. Rex merasa heran. Kembali Paul datang dan menghampiri.
“Maafkan putri saya, dia hari ini bersikap kurang ajar dan tidak baik. Saya akan menghukumnya dan memberi pelajaran.” Ucap Paul menatap Ana kesal. Ana masih saja tertunduk tak berani menatap.
Rex merasa ada yang aneh. Lalu ia kembali melihat pecahan gelas yang sudah tertumpah airnya. Melihat kelakuan Ana dan Paul. Seketika Rex terpikir sesuatu. Ia datang mendekati Ana.
“Kenapa kau melakukan itu Ana?” tatapan tajam Rex terasa menusuk ke Ana. Walau Ana tak melihat namun bisa merasakannya.
“Tatap aku Ana.” Perintah Rex. Ana pun memberanikan diri melihat ke arah Rex. Ia mengangkat wajahnya dan kedua mata tajam Rex menatap tajam Ana.
“Katakan ada apa Ana?” Kembali Rex bertanya. Ana tak berani berucap dan di sebelahnya ada Paul sudah menatap cemas.
“Maafkan putri saya Pangeran, mungkin hari ini Ana sedang dalam kondisi tak baik.” Paul memakai alasan saja.
Rex tak memedulikan perkataan Paul. Ia masih menatap tajam ke arah Ana. Ana masih terdiam dan menatap takut. Ia ketakutan.
Paul sudah nampak ketakutan, keringat dingin bercucuran di keningnya. Ia berharap agar Ana tak salah bicara.
Namun Ana tak bergeming, ia tetap diam. Rex akhirnya memanggil pengawal untuk membawa Ana masuk ke penjara.
“Bawa dia masuk ke dalam penjara!!” ucap Rex ke pengawal dan mereka melaksanakan tugasnya.
Ana di seret oleh para pengawal dan dibawa pergi, Paul menatap cemas. Ia memohon ampun untuk Ana. Bagaimana pun Ana adalah putri kandungnya. Paul bersujud di hadapan Rex.
“Yang mulia, ampuni putri hamba. Dia mungkin hanya sedang stress karena anda menolak perjodohan. Ketahuilah Ana benar-benar menyukai Anda Pangeran, oleh sebab itu Ana bertingkah tak menentu begini. Maafkan lah dia, Pangeran.” Paul memohon pada Rex.
Rex menatap tajam ke Paul.
“Kalau begitu katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang tindakan aneh Ana tadi? Kenapa dia begitu? Apa benar hanya karena perjodohan?” Rex menaikan alisnya sebelah. Ia menatap tajam Paul.
Paul mulai panik. Ia bingung hendak mengatakan apa lagi.
“Bisa kau katakan sesuatu Tuan, Paul? Jika tidak ada maka Ana putri kesayanganmu akan di hukum dengan keras. Menurutmu hukuman apa yang pantas?” Rex hanya menakut-nakuti saja tapi wajah Paul terlihat berubah.
__ADS_1
Paul menggeleng.
“Biar hamba yang menggantikan Ana. Dia masih muda dan tak tahu apa yang ia lakukan. Hamba saja menggantikannya.” Paul akhirnya pasrah. Sungguh sial ucap Paul dalam hatinya.
Rex menatap sekilas ke Paul, kemudian nampak berpikir.
“Akan ku pikirkan, kembali lah pulang Tuan Paul.” Rex menyuruhnya pulang. Paul masih belum mau pulang tapi karena sudah diperintahkan Rex, maka pulanglah Paul dengan hati dongkol.
Sedangkan Rex segera ke penjara bawah tanah. Namun sebelumnya, ia menyuruh pengawal untuk memanggil dokter istana dan menyuruhnya memeriksa pecahan gelas tersebut. Masih ada sisa air di gelas, ia menyuruh agar siapa pun jangan menyentuhnya dan hanya dokter yang boleh.
Kemudian Rex menuju penjara bawah tanah. Ahmed mendengar insiden tersebut pun segera menyusul Rex ke penjara bawah tanah. Di penjara bawah tanah tersebut, Rex mendekati bilik jeruji besi tempat Ana di sekap. Rex mendekat.
“Nona Ana....” panggil Rex dan Ana segera berdiri setelah tadi duduk meringkuk di lantai kotor penjara. Ana mendekati Rex.
“Iya Yang mulia.”
“Apa yang kau ketahui katakan saja padaku? Aku berjanji akan bersikap adil sebaik mungkin.” Rex memandang ke arah Anastasya. Ia tahu gadis itu baik. Jika bukan karena Ana mungkin saja sesuatu buruk terjadi padanya. Begitulah pikir Rex.
“Maaf.” Ana kembali menunduk.
“Katakan saja sejujurnya.”
Ana menggeleng, ia tak mau Papanya kenak hukuman. Ia rela berkorban. Rex melihat kalau Ana tak akan mau mengaku. Sehingga Rex memutar otaknya untuk mencari cara lain.
“Jangan melindunginya, dia belum tentu akan melindungi mu, Ana.”
Ana masih diam. Ana menundukkan kepalanya.
“Jadi kau rela menggantikan Papamu disini, Ana. Aku tahu Papamu hendak meracuniku, kan?” tatap Rex dengan tajam dan sebelah alis matanya naik. Ana kaget dan menatap heran ke arah Rex. Matanya membulat sempurna karena saking kagetnya mendengar perkataan Rex barusan.
Bersambung....
Ana jujur saja lah ... tapi Ana pasti pusing harus memilih Papanya apa Rex? Ana jelas suka Rex, namun Rex tidak mungkin membalas cintanya, kan. Dan Ana juga tak mau Papanya celaka, sungguh dilema.
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
__ADS_1
No plagiat ya :D