Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 61.


__ADS_3

Rex menoleh ke David, ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada David. David masih terduduk, ia menatap ke arah Rex. Melihat uluran tangannya Rex kemudian menerimanya. Rex menarik David dan kini keduanya sama-sama berdiri.


“Titip dan jaga Naomi ya. Aku tak tahu apa bisa kembali cepat atau tidak. Atau mungkin tak bernyawa, aku belum tahu.” Rex menghela nafasnya yang terasa berat. Sejujurnya ia tak mau pergi namun harus pergi.


David semakin tak mengerti. Rex kembali menoleh ke David.


“Bisa kita berbaikan saja David. Kalau Naomi bisa berteman dengan mu maka mau kah kau juga berteman denganku? Aku ingin kita berdamai.” Rex berharap permusuhan mereka hilang.


“Entahlah. Aku tak tahu bisa atau enggak menjadi temanmu.” David mengangkat kedua bahunya.


Keduanya kini saling menatap. Tapi bukan tatapan intens yak, karena itu hanya cocok antara pria dan wanita saja.


“Kau mau pergi, apa Naomi sudah tahu? Masalah Naomi aman, aku pasti selalu ada untuknya dan menjaganya. Stay disampingnya juga.”


“Thanks.” Rex pun tersenyum begitu juga David yang ikut tersenyum. Yang awalnya keduanya saling berantem dan sekarang mulai berdamai.


“Eh, apa kau sudah bilang ke Naomi?” kembali David bertanya.


“Belum. Nanti akan ku katakan.”


“Apa kau sudah menyukai Naomi? Lalu si Rere sudah kau lupakan kah Rex?” David serius sekali menatap Rex. David tak mau kalau Naomi di sakiti nantinya. Jadi ia menanyakannya.


“Aku belum tahu. Namun perasaanku pada Naomi sudah berubah. Aku mulai merasakan sesuatu padanya.” Rex kemudian tersenyum mengingat kiss yang terjadi antara dirinya dengan Naomi.


Seketika David memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia bisa menebak, kalau Rex pasti memikirkan sesuatu antara dirinya dan Naomi.


“Stop senyuman aneh mu.” Ujar David.


“Kenapa? Kau cemburu bro. Hehehe. Aku hanya teringat kiss antara diriku dengan Naomi.” Rex malah sengaja mengucapkannya.


“Sialan kau. Malah diperjelas.” David mengumpat.


Hahaha ... Rex malah tertawa keras melihat sikap David.


“Ayo masuk. Oh iya. Aku sudah dua kali berciuman dengan Naomi. Dah....” ucap Rex kemudian kabur.


David mengumpat tak jelas.


“Dasar kau, kemari....” David pun bergegas berlari mengejar Rex yang sudah kabur duluan.


Nampaknya David dan Rex mulai akur.


Kelas di mulai, namun Naomi rupanya tak pindah dari tempat duduknya. Ia masih duduk di sebelah Rex. Karena David ternyata tak jadi bertukar tempat duduk.  Rex sesekali memanggil Naomi, dan Naomi menoleh sesekali. Mereka belajar dengan fokus karena sudah kelas 3 jadi tak boleh main-main lagi.


Hingga waktu terus berlalu dan jam istirahat tiba. Rex menarik tangan Naomi untuk berbicara berdua. Rere menatap ke arah Rex dan Naomi. Ia masih selalu bersedih jika setiap kali mengingat tentang Rex. Namun Brian tak mau melepaskan Rere. Brian pun membawa Rere agar ikut bergabung dengan Jerry dan Jenny. Sedangkan David ia hanya menyendiri sekarang.


Rex membawa Naomi ke tempat mereka biasa duduk. Di dekat kursi panjang yang ada di dekat taman sekolah.


“Aku mau bicara serius Naomi.” Rex menatap serius ke Naomi.


“Apa?” jantung Naomi sudah tak karuan. Ia mengira kalau Rex akan membahas tentang ciuman mereka namun sebenarnya Rex ingin mengatakan hal lain lagi.


“Aku memutuskan akan pergi, jadi tolong perhatikan kakekku Dicky Han ya, Nao.”


Seketika Naomi merasa sedih. Ia pikir Rex mau membahas apa. Ternyata ia mau pamitan.


“Kau mau ke Turki ikut Ahmed. Apakah akan kembali kemari?”


“Aku belum tahu Nao. Tapi yang jelas aku akan pergi ke Turki. Ahmed bilang kalau esok penerbangan kami ke Turki.”


Naomi malah menangis. Bulir-bulir air bening membasahi pipi mulusnya. Rex lalu memeluk Naomi. Ia tak tahan melihat air mata Naomi. Dan Naomi sendiri memeluk Rex juga dengan erat.


“Aku berjanji akan segera kembali. Doakan aku kembali selamat. Tolong jangan menangis ya. Kau adalah Naomi ku yang kuat.”


Rex melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya Naomi. Naomi hanya mengangguk saja. Kemudian Rex mengecup puncak kening Naomi dan Naomi kembali menangis mengingat ini pertemuan terakhir mereka sebelum Rex pergi.

__ADS_1


Hati Naomi seakan tak rela jika melihat Rex harus pergi. Naomi menatap Rex.


“Jam berapa esok kau berangkat Rex?”


“Pagi hari jam 7 pagi. Kau tak perlu mengantarku. Fokuslah belajar. Jaga dirimu baik-baik dan kakekku juga ya, aku titip padamu.” Rex tersenyum.


Naomi menganggukkan kepalanya.


“Ingatlah selalu memberikan kabar padaku walau kau sibuk atau apa pun itu.” Pinta Naomi.


“Iya.” Rex mengangguk.


“Sudah. Jangan nangis lagi. Nanti cantiknya hilang loh.” Rex menggoda.


“Mana ada. Aku kan gak cantik.”


“Tapi di mataku, Naomi gadis manis yang cantik.”


Rex menarik kuncir rambut Naomi. Naomi selalu berpenampilan tomboi. Dan ia selalu terlihat bar-bar. Hanya ke Rex maka Naomi terlihat beda. Saat ini rambut Naomi yang selalu diikat ekor kuda di tarik oleh Rex ikat rambutnya hingga rambut panjang Naomi tergerai indah. Rex merapikan rambut  Naomi.


“Nah, terlihat lebih cantik. Tu kan cantik kok.” Rex memuji Naomi. Naomi malah bersemu merah.


Rex tak tahan melihat wajah yang bersemu merah tersebut. Ia merengkuh wajah Naomi dan mengecup bibir manis Naomi kembali. Naomi terkejut dan hendak protes namun lama kelamaan malah mata Naomi terpejam dan menikmati ciuman dari Rex. Mereka seakan lupa kalau sedang dimana sekarang.


Rex melepaskan ciumannya. Karena mereka masih di sekolah. Hal ini sama sekali tak boleh. Jika kepergok mereka berdua bisa kena hukuman. Rex dan Naomi tersenyum bersamaan.


“Tunggu aku dan kita akan bersama kembali. Saat aku kembali maka jadilah gadisku, kekasihku Nao?” Rex menatap lembut ke arah Naomi.


Naomi mengangguk. Hatinya sudah diberikan ke Rex jadi sekarang tentu pasti sama juga. Hanya untuk Rex seorang.


Namun kemudian Naomi kembali melihat ke arah Rex.


“Tunggu, kenapa nanti?” Naomi menatap berkerut ke arah Rex.


“Karena kalau ternyata aku tak bisa kembali jadi kau akan bisa dengan yang lain. Namun untuk antisipasi jadi ku katakan seperti itu agar kau mau menungguku setidaknya saat aku kembali kau masih sendiri.”


“Pokoknya kau harus kembali Rex. Aku menunggu mu.”


Rex dan Naomi tersenyum bersamaan. Keduanya kemudian ke kantin dan makan bersama di kantin.


***


Rex sudah pamitan pada Kakeknya dan Naomi juga. Dan masalah sekolah sudah di urus oleh Ahmed pula. Kini Rex dan Ahmed naik pesawat ke Turki di penerbangan pagi hari. Berjam-jam mereka mengudara naik pesawat.


Setelah perjalanan yang cukup panjang dan lama, akhirnya Rex dan Ahmed sampai di turki. Mereka kemudian sambung menaiki taksi. Hanya sebuah ransel yang dibawa oleh Rex. Ia hanya membawa seperlunya saja. Dan Ahmed juga hanya membawa satu buah koper miliknya. Ahmed juga sudah menempatkan orang-orang yang sudah dipercayanya untuk menjaga kakek Dicky Han dan Naomi juga.


Cukup lama juga mereka naik taksi hingga akhirnya sampai di sebuah gerbang istana. Mereka turun, dan Ahmed langsung berjalan ke arah penjaga, gerbang istana yang menjulang tinggi layaknya setinggi menara Eiffel saja.


Ahmed memang tak minta di jemput karena mereka memang harus datang secara rahasia. Setelah menunjukkan sebuah platnya sebagai seorang salah satu prajurit Turki, para penjaga kemudian membukakan pintu gerbang tersebut. Masuklah Ahmed dan Rex.


Saat gerbang terbuka, rupanya mereka harus berjalan kembali cukup jauh menuju ruangan istana. Karena masih terlihat halaman luas saja yang terlihat. Ahmed dan Rex pun masuk dan mulai berjalan menuju istana.


Singkat cerita, saat ini Rex dan Ahmed sudah masuk ke dalam kediaman istana. Mereka masuk ke kamar kakek raja. Di dalam kamar, sang kakek raja sedang terbaring lemah di kamarnya. Semua ukiran istana masihlah bergaya kuno bahkan tempat tidurnya masih bergaya kuno. Beberapa bagian istana ada juga yang di rehab dengan bagian yang lebih modern namun tak meninggalkan kesan mewah dan megahnya.


Ahmed mendekati tempat tidur kakek baginda raja.


“Tuan ku Sultan Hasan Mustapa. Maafkan kalau hamba baru sekarang kembali. Hamba telah menyelesaikan misi dan membawa keturunan Sultan. Satu-satunya keturunan anak sultan yang masih hidup yang mulia.” Ahmed melapor dan membungkukkan badannya.


Hasan Mustapa melihat ke arah Ahmed kemudian ke arah Rex. Ahmed memberitahukan untuk memberi hormat pada kakeknya.


“Tuanku, silahkan memberi hormat pada kakek Anda.” Ucap Ahmed dan Rex langsung mendekat dan membungkuk kan badannya.


Hasan Mustapa duduk dan meminta Rex mendekat.


“Kemari lah Pangeran. Duduklah di dekat ranjang.”

__ADS_1


Rex pun menurut. Ia duduk di dekat ranjang Hasan Mustapa dan mencium tangan kakeknya tersebut. Hasan Mustapa terlihat pucat dan agak lemah. Hasan Mustapa memeluk Rex. Ia senang.


“Akhirnya kau pulang Pangeran. Tapi kau terlihat lebih seperti orang cina hehe.”


“Mungkin terlalu lama di asuh oleh Kakek ku yang jelasnya orang bermarga Han disana.”


“Oh ... orang yang selama ini merawat dan membesarkan mu Rex. Namamu Rex kan.”


“Iya Kek. Rex Royce Han.”


“Kali ini akan ku beri nama Pangeran Rex Mustapa. Karena kau adalah keturunan kami.”


Rex hanya mengangguk dan mengiyakan saja.


“Ahmed, kau bimbing Rex dan jadikan ia penerus kerajaan yang kuat dan hebat. Adakan pertemuan dan perkenalkan Rex segera.” Perintah dari Hasan Mustapa.


“Baik yang mulia.”


Rex memandang ke arah kakeknya.


“Maaf kalau aku menyela. Apa sebaiknya di tunda saja dahulu? Karena aku baru saja tiba di sini.”


“Lebih cepat lebih baik Rex. Mengingat keadaanku yang sangat sudah tak bisa bertahan lama-lama.”


Akhirnya Rex menurut saja.


Ahmed pun segera melaksanakan tugas dari yang mulia Hasan Mustapa. Rex hanya mengikuti saja. Rex di tempatkan di sebuah kamar yang luas dan megah tentunya. Ukuran tempat tidurnya saja sudah king size. Rex meletakan tas ranselnya dan berbaring di ranjang empuknya. Ia pun terlelap.


Malam harinya seorang pelayan wanita membangunkannya dan mengatakan air untuk mandi sudah di siapkan, Rex pun bersiap mandi. Saat tiba di tempat pemandian, ia mandi di sebuah kolam yang berbentuk oval dan sangatlah luas bahkan ada taburan bunga dan wewangian. Rex pun mandi dengan segala fasilitas dan pelayanan. Tapi Rex meminta untuk dibiarkan mandi sendiri.


Usai mandi dan berpakaian, Rex di bawa masuk kesebuah ruangan yang sudah terhidang bermacam aneka makanan yang sungguh enak semua. Jadi beginilah kehidupan sultan benar-benar kelas atas.


Rex duduk di depan meja bundar yang banyak makanan tersaji. Beberapa pelayan wanita melayaninya saat makan. Kemudian iringan musik dan para penari pun di tampilkan untuk menghibur Rex yang sedang makan.


Setelah makan Rex di datangi Ahmed. Kini Ahmed berpakaian rapi sekali. Ahmed membawa Rex berkeliling istana dan memperkenalkan istana sekalian mengabarkan esok adalah hari dimana Rex akan di kenalkan ke para pejabat dan para pasha-pasha di istana Turki. Ahmed pun menjelaskan dengan panjang lebar sambil mereka berkeliling di istana.


Beberapa para dayang dan pelayan istana saling bergosip menceritakan kedatangan Rex. Bahkan sampai ke tempat kediaman para putri. Kakek raja membiarkan para putri keturunan raja agar  ditempat kan di istana bagian selatan. Disana lah para putri raja berdiam. Sekitar ada 20 putri yang masih ada.


Karena gosip para dayang dan pelayan yang cepat menyebar hingga sampai ke kediaman para putri pun mendengar kedatangan sang pewaris tahta. Terlihat diantara para putri hanya tiga orang putri yang paling menonjol. Yaitu putri Sonia, putri Amira dan putri Miranda.


Ketiga putri pun pada kepo.


“Kak Sonia, tahukah kakak kalau seorang pangeran telah datang ke istana?” Amira berkata pada Sonia yang lebih tertua.


“Tidak.” Sonia menggeleng.


“Lalu apakah kau tahu gosipnya?” Miranda meminta Amira menjelaskan.


“Namanya Rex, kakek baginda raja sudah bertemu dengannya. Istana bilik timur sudah heboh para pelayan disana. Katanya Ahmed yang membawanya ke istana.” Amira menjelaskan yang dia ketahui.


“Ahmed kan sudah bertahun-tahun tak ada di istana. Pantas saja, dia pasti di tugaskan sebuah misi dari kakek raja.” Miranda pun membenarkan.


“Lalu apakah pangeran kita ini tampan? Berarti dia pangeran satu-satunya dan penerus raja selanjutnya.” Sonia bertanya ke Amira.


“Katanya tampan Kak.” Amira mengangguk pasti padahal dia sendiri belum bertemu dengan Rex.


Karena ketiga putri begitu penasaran akhirnya ketiganya secara diam-diam melangkah ke istana bilik timur. Mereka hendak melihat pangeran.


Istana begitu luas dan banyak ruangan tapi dengan segera para putri akhirnya sampai di tempat ruangan Rex.


Ahmed dan Rex baru saja selesai berkeliling istana sekalian menjelaskan apa saja yang nanti akan mereka lakukan. Karena sudah larut malam maka Ahmed undur diri pamitan, dan Rex kembali ke kamarnya. Ia berjalan menuju kamar, di setiap sudut sudah ada para pengawal yang ditugaskan berjaga keliling. Jika mereka berpapasan dengan Rex maka akan segera membungkuk. Dan Rex telah sampai di depan pintu kamarnya.


Ketiga putri berdesakan ingin melihat, mereka sembunyi di balik tanaman hias.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa kasi Vote, Like, Komen, Favorit, Rate 5 dan giftnya ya kak reader semua. Makasih :D


__ADS_2