
“Itu apakah kalung mu? Benar punya mu? Siapa kau sebenarnya?” Tanya Ahmed. Ya pria tersebut adalah Ahmed namanya.
Rex bingung dan Naomi pun sama. Rex dan Naomi jadi kebingungan dan heran dengan pertanyaan Ahmed tersebut.
Dilihat Ahmed, kedua remaja tersebut hanya diam dan memandanginya dengan heran. Di lihat dari ujung kaki hingga kepala kalau kedua remaja tersebut memakai seragam SMA. Jadi bisa dipastikan kalau mereka masih sekolah. Rex yang bingung dengan pertanyaan si pria dewasa hanya bisa mengerutkan keningnya. Sedangkan Naomi menatap curiga.
“Eh, Paman atau Tuan ah siapa pun dirimu. Kami tak mengenalmu. Mungkin saja anda salah orang” Ucap Naomi.
Rex dan Naomi sudah hendak pergi meninggalkan Ahmed. Namun Ahmed memegang lengannya Rex.
“Namamu siapa?”
“Aku Rex.”
“Itu benar kalungmu?”
“Iya. Benar. Kenapa rupanya?”
“Ya Tuanku. Jungjunganku” Ahmed lalu membungkuk hormat di hadapan Rex.
Rex dan Naomi tentu saja kaget dan heran. Naomi menyikut lengannya Rex lalu menarik Rex kabur. Keduanya langsung pergi meninggalkan Ahmed yang masih membungkuk hormat. Setelah itu ia kembali berdiri tegak. Namun Rex sudah hilang dari hadapannya.
“Eloh, kemana dia?” Ahmed tepok jidat. Ia lalu berlari kesana kemari mencari Rex namun sayang sudah kehilangan jejaknya Rex. Ahmed menghela nafas panjangnya.
“Waduh, kemana aku harus mencarinya. Jika begini tugas pencarianku tak akan selesai. Apa yang harus ku jawab pada tuanku.” Ahmed menjadi gelisah. Tadi ia sudah senang bertemu Rex eh sekarang malah orangnya hilang. Namun Ahmed tak putus asa. Karena jelas dari seragamnya kalau itu seragam anak SMA. Bahkan Ahmed melihat simbol sekolahnya. Jadi ia akan mencari ke sekolahnya esok.
Ahmed pun mencari sebuah hotel atau penginapan saja. Ia baru tiba di kota tersebut dan berkeliling. Karena itu sekarang ia harus mencari hotel untuk menginap di kota tersebut. Ahmed berasal dari Turki. Ia di utus untuk mencari keturunan sultan. Ahmed sudah berkeliling banyak negara demi tugas yang di embannya. Ia sudah ke Amerika, Eropa, Italia, Spanyol, Paris, Cina, Korea, Jepang, Rumania dan sekarang berada di kota ini. Sudah hampir bertahun-tahun lamanya ia mencari demi titah dan tugas dari tuannya.
Dan kali ini sepertinya akan membuahkan hasil. Ia tak sangka bakal di kota inilah, ia akan bertemu keturunan sultan tuannya. Namun kenapa anak muda itu malah kabur. Apa penampilanku sangatlah seram. Begitulah pikir Ahmed. Tapi karena sekarang mulai terlihat titik terang maka Ahmed menjadi lebih semangat. Esok ia akan mencari dan menyelidiki Rex. Kini ia harus istirahat dan mencari sebuah hotel.
Di lain sisi, Rex dan Naomi yang terus berlari akhirnya sampai di daerah rumah mereka. Naomi masuk ke rumahnya dan Rex juga masuk ke rumahnya. Sampai dirumah, Rex mengganti seragamnya dan memakai pakaian rumah biasa. Lalu pergi makan dan setelah selesai makan, maka ia duduk di dekat ranjangnya sambil melihat kalungnya. Selama ini tak terlalu ia pikirkan atau pun ia perhatikan. Hanya ia pakai saja dilehernya. Rex ingat kalau kakeknya pernah berkata, bahwa kalung ini adalah peninggalan kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Tapi Rex tak pernah tahu wajah kedua orang tuanya. Bahkan makamnya saja tak tahu. Kakek bilang kedua orang tuanya hanyut ke sungai lalu dibawa arus lautan sehingga jasadnya tak di ketahui dan tak ditemukan. Oleh sebab itulah tak ada kuburannya. Apa lagi mereka miskin makan hal hanya batu nisan untuk dibuatkan pun tak bisa. Bahkan karena miskin maka tak punya foto kenangan. Itulah jawab sang kakek. Karena itu Rex tak pernah tau jadi ia tak bisa membayangkan wajah kedua orang tuanya.
Tapi ia teringat pria dewasa yang ia temui tadi. Siapa orang itu? Kenapa dia begitu heran dan kaget melihat kalungnya? Apa dia mengetahui dan mengenali diriku? Begitulah keluh Rex dalam hatinya.
__ADS_1
Rex menghela nafas panjang. Dipikirkan pun percuma. Ia tak tahu. Ia tadi hanya sibuk berlari bersama Naomi. Karena kata Naomi, kalau ia curiga dengan pria dewasa tadi. oleh sebab itulah mereka kabur. Naomi berpikir mungkin orang jahat atau penipuan.
Rex pun tak mengerti. Ia lalu melangkah mendekatin kakeknya yang seperti biasa sedang duduk di kursi goyangnya. Ingin sekali Rex bertanya, namun kakeknya ya seperti biasa ketiduran kalau lagi di kursi goyangnya.
Dicky Han merasa kalau Rex berada di dekatnya, ia pun menoleh dan membuka matanya.
“Ada apa cucu kakek yang sangat tampan ini sekarang” kelakar sang kakek.
Rex hanya terkekeh.
“Kakek ini. Jadi dulu Rex sangat jelek begitu”
“Bukan begitu. Dulu pun sebenarnya sudah tampan. Tapi tak pernah diperhatikan. Sekarang kau lebih peduli dengan penampilanmu jadi penampilan sekarang lebih baik Rex. Apalagi kau selalu menunjukakn nilai mu yang selalu bagus sekarang. Kakek senang dan bangga” Kakek tersenyum pada Rex.
Rex pun tersenyum.
“Kakek, Rex mau bertanya. Mungkin kakek pun masih ingat”
“Siapa sebenarnya kedua orang tuaku??? Benarkah tak ada fotonya sama sekali” Rex mengharapkan sebuah jawaban yang kebih pasti dari pada jawaban yang seperti dahulu.
Dicky Han mengerutkan keningnya. Ia pikir Rex sudah melupakan pertanyaan itu. Namun nyatanya Rex masih mempertanyakannya. Dicky Han menghela nafas beratnya. Ia ingat terakhir kali Rex bertanya itu sewaktu masih SD. Setelah SMP dan SMA tak pernah bertanya lagi tapi kenapa sekarang bertanya lagi. Walau Dicky Han saat ini berumur 70 tahun dan sekarang kakek-kakek namun semuanya ia masih ingat dengan jelas.
“Kek....” Rex membuyarkan lamunan si kakek.
Kakeknya kembali melihat ke arah Rex.
“Kenapa kau bertanya hal ini kembali Rex?”
“Karena tadi sewaktu aku pulang, aku bertemu seseorang, dia melihat kalungku dan mengenaliku” Jawab Rex. Dan seketika raut wajah Dicky Han menegang. Ia menoleh ke arah Rex dengan pandangan serius.
“Siapa dia?” Tanya Kakeknya.
“Gak tahu Kek, cuma dia kaget melihat kalung ku ini. Dia bertanya tentang Rex. Karena Naomi keburu menarik tangannya Rex akhirnya kami malah kabur dari pria dewasa tersebut.” Jawab Rex yang kini menyesali kenapa tadi dia kabur. Seharusnya ia bertanya saja dengan pria asing tersebut.
__ADS_1
Dicky Han terdiam. Ia lalu berpikir. Apa sebaiknya sekarang ku ceritakan semuanya ya? Tapi harus mulai dari mana? Dan apa Rex bisa menerimanya nanti ya? begitulah keluh hati Dicky Han. Begitu banyak pertimbangan dan keraguan di hatinya. Haruskah jujur sekarang atau diam saja selamanya.?? Dicky Han kembali menghela nafas panjangnya yang terasa berat rasanya.
Ia menatap langit-langit dan kembali menoleh ke arah cucunya yaitu Rex. Rex dari tadi hanya diam dan menunggu jawaban sang kakek. Dicky Han mengusap lembut rambut Rex dan menepuk pelan pundaknya Rex.
“Kau percaya kan kalau aku ini kakekmu Rex?”
“Iya Kek. Tentu saja Rex percaya.”
“Maka yakinilah itu selamanya. Aku tetap kakekmu dan kau Rex tetap cucuku” Dicky Han memeluk cucunya dengan erat, ia seakan takut kehilangan Rex. Karena sekarang yang dia punya hanya Rex seorang di dunia ini. Sedangkan Rex merasa ada yang menganjal hatinya. Tapi ia tentu tak mau menyakiti hati kakeknya yang selama ini hidup dengannya. Rex pun hanya diam saja.
Bersambung....
Halo ... Halo ... Kira-kira ada rahasia apa ya yang di simpan oleh Kakeknya Rex? Lalu kalung Rex itu apakah benar yang sesuai dikenali oleh Ahmed sebagai keturunan Sultan. Yuk saksikan kisah lanjutannya nanti ya. :D
Alon-alon nih UP-nya. Berhubung Author juga banyak yang dikerjakan jadi harap bersabar menunggu UP-nya selalu dengan setia ya. Maaf kalau masih banyak typo hehehe.
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
__ADS_1