
Dokter segera memeriksa tubuh si wanita tersebut. Kini semuanya ada di vila. Naomi menatap ke arah Rex. Ada rasa cemas sekali di hati Naomi. Dia tak tahu bakal begini. Sedangkan Rex, dia terdiam dari tadi semenjak kembali ke Vila.
“Rex ....” panggil Naomi tapi Rex tak bergeming.
Dokter keluar dari kamar dimana si wanita dibaringkan. Dokter baru saja selesai memeriksa dan memberikan obat.
“Bagaimana keadaan Rere, Dok?” Rex terlihat cemas. Naomi bisa melihat jelas.
Iya. Benar sekali. Wanita yang ditemukan para pengawal dan yang di tolong serta di bawa Rex kembali ke Vila adalah Rere. Rere teman mereka di sekolah SMA dahulu dan sekaligus mantan kekasihnya Rex. Cinta pertamanya yang gagal dan telah tinggal kenangan. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa Rere ada di Turki sekarang? Lalu apa yang terjadi dengannya?
“Keadaannya sudah lebih baik. Tadi sudah ku periksa dan ku suntik. Dia juga sudah ku obati. Hamba juga meninggalkan beberapa obat yang di letakan di dekat nakas. Jika di perlukan berikan obat padanya.
“Jadi sudah tak apa-apa kan dok?”
“Iya. Yang mulia.”
“Baiklah. Terima kasih. Silahkan Anda kembali dan istirahat.”
“Terima kasih Yang mulia.” Dokter pun pamitan.
Kini Rex masuk ke dalam kamar dan melihat wajah Rere. Dia membelai lembut wajahnya Rere. Pakaian Rere sudah diganti oleh para pelayan perempuan dan Rere penampilannya sudah lebih baik. Rex tak sangka bakal bertemu dengan Rere kembali.
“Apa yang terjadi padamu, Re?” gumam Rex sendirian.
Entah kenapa Naomi menjadi sedih. Dia melihat ke arah Rex yang lembut membelai Rere. Naomi sedih dan sakit hati. Tapi Naomi tak dapat berkata apa pun. Karena dia tahu seperti apa Rere bagi Rex. Dari dulu dia sudah tahu.
Dan Naomi mengira kalau Rex sudah melupakanya. Tapi nyatanya Rex masih care sama Rere.
Naomi meninggalkan Rex bersama Rere.
Dua jam kemudian, Rere bangun dan saat bangun dia cukup kaget melihat Rex ada di sampingnya sedang tertidur.
Rex bisa merasakan kalau Rere bergerak. Oleh sebab itu, Rex bangun dan matanya langsung melihat Rere yang sudah sadar. Rex pun memegang tangannya Rere.
“Kau sudah sadar Re? Kenapa kau bisa kemari? Apa yang terjadi padamu?”
“Aku ... aku tak tahu siapa kau?” ucap Rere yang membuat Rex semakin bingung.
“Kau kenapa Re? Ini aku Rex.” Rex merasa ada yang beda dan salah.
“Aku? Aku siapa?” Rere mengucapkan hal tersebut malah membuat Rex syok bukan main.
“ Kau tak ingat siapa dirimu ya, Rere?” Rex masih terheran-heran.
“Rere itu siapa?”
Kembali Rere keliatan sangat bingung. Akhirnya Rex meminta Rere untuk kembali berbaring dan istirahat saja. Rere pun menurutinya. Rex membiarkan Rere di kamar dahulu. Di luar kamar Rex berpikir keras.
Naomi datang dan mendekati Rex.
“Bagaimana Rere?”
Rex melihat ke arah Naomi yang baru saja bertanya.
“Rere sepertinya sedang hilang ingatannya. Tadi dia tak mengenaliku dan tak tahu namanya.” Rex masih memikirkan hal yang apa yang menimpa dengan Rere.
“Hah?” Naomi sendiri malah bingung.
Rex menjelaskan pada Naomi dengan secara singkat saja. Dan Naomi mendengarkan dengan penuh perhatian. Saat semuanya sudah diketahuinya Naomi begitu kaget. Walau singkat tapi padat dan jelas yang dijelaskan Rex, serta mudah dipahami oleh Naomi.
“Jadi kini Rere hilang ingatan, ya?”
“Iya Nao. Aku akan meminta dokter memeriksanya lagi dengan seksama.”
__ADS_1
“Tapi kenapa Rere ada disini, Rex?”
“Aku pun tak tahu. Dan jika kita tanyakan ke Rere pun akan percuma karena dia sendiri sudah hilang ingatan.”
Rex dan Naomi pun memutuskan kembali ke istana. Rere juga ikut serta dengan mereka.
Sampailah mereka di istana Turki. Rere menatap kagum ke bangunan istana yang begitu megah. Tak dapat di bayangkan kalau sekarang dia ada di istana. Naomi membawa Rere ke sebuah kamar yang di sediakan untuk di tempati Rere.
“Kau istirahatlah di sini Rere. Jika ada yang di butuhkan katakan saja pada pelayan dan dayang yang ditempatkan di dekat kamarmu.” Naomi menunjukan kamar Rere. Rere menatap kagum dengan kamarnya yang sungguh indah tersebut.
“Baiklah. Terima kasih.” Rere tersenyum.
“Aku pergi dahulu kembali ke kamarku.” Ucap Naomi dan di angguki oleh Rere.
Naomi keluar kamarnya Rere, dia kembali ke kamarnya sediri. Di dalam kamar, Rere begitu senang. Dia naik ke atas ranjang dan melompat-lompat senang sekali. kemudian berbaring dan menarik selimut yang harum dan begitu lembut.
“Wah ... nyaman dan enak sekali. Sepertinya aku bakalan betah di sini.” Ucap Rere sendirian sambil tersenyum.
Di lain tempat.
Rex meminta Ahmed agar menyelidiki kasus Rere, sebelumnya Rex menceritakan semua yang dia tahu ke Ahmed. Ahmed pun segera melaksanakan perintah agar segera anak buahnya bergerak mencari tahu.
Kemudian dokter istana di bawa Rex kembali untuk memeriksa Rere. Rere hanya diam saja dan menurut ketika diperiksa. Rex menanyakan bagaimana? dokter berkata dia belum tahu pasti tapi dia akan terus melakukan pemeriksaan. Rex pun meminta agar dokter bertindak dan bekerja dengan sebaik mungkin. Dokter pun mengiyakan dan pamit pergi.
Rex menatap ke arah Rere, dia duduk di sebelah Rere.
“Rere ... benar kau tak ingat aku?” Rex kembali memastikan.
“Iya. Aku tak tahu kau siapa? Namaku saja tak ingat. Oh iya. Istana ini apakah milikmu. Soalnya semua begitu menghormatimu dan patuh padamu. Hebat sekali.” Rere menatap Rex dengan berbinar-binar.
“Iya. Aku sultan di sini.”
“Wah, hebat sekali.”
“Baiklah. Kalau ada apa-apa katakan saja. Aku kembali ke kamar ku ya, Re.”
Rere tersenyum saat Rex pergi dan keluarlah Rex dari kamarnya Rere.
Rex berjalan menuju kamarnya tapi malah berjalan ke arah kamarnya Naomi.
“Kenapa aku malah kemari?” Rex hendak memutar arah ke arah kamarnya tapi Naomi memanggil.
“Rex ....”
Rex menoleh dan melihat Naomi.
Kemudian keduanya duduk berdua di dalam ruangan Naomi.
“Apa kau masih memikirkan Rere?”
“Iya. Begitulah.”
“Semoga Rere kembali sembuh ya ingatannya, agar kita tahu apa yang terjadi.”
“Ya semoga saja. Aku sudah meminta Ahmed menyelidikinya juga.”
“Menyelidkinya?”
“Iya. Sama seperti waktu itu aku menyelidiki Al.”
“Al juga?”
“Iya. Dia orang asing. Kita tak kenal tapi kau malah membawa Al masuk istana. Aku tentu harus mencari tahu dahulu siapa dia.”
__ADS_1
“Tapi dia orang baik, Rex. Al menolongku dan dia sudah seperti seorang teman bagi ku. Bilang saja kau cemburu.” Naomi memutar kedua matanya dengan malas.
“Pria cemburu itu wajar.”
“Lalu apa yang kau ketahui tentang Al?”
“Tak ada satu info pun di temukan. Dia sepertinya bukan dari sini. Sangat aneh. Tapi untunglah dia sudah pergi dari sini. Kelihatannya dia orang baik.”
“Dia dari tempat yang jauh Rex. Dia memang baik, kau saja yang terlalu curiga. Sudahlah, lagian Al sudah pergi dan syukurlah kau dan dia tak terus berkelahi.”
“Hanya pelatihan saja.”
“Pelatihan atau hendak menghajarnya. Kau sangat serius begitu waktu itu. Syukur saja tak ada yang terluka di antara kalian berdua.”
“Sudahlah lupakan. Sudah berlalu. Ah ... Andai ada Ailen di sini.” Rex menghela napas panjang.
Naomi mengerutkan keningnya.
“Kok Ailen pula?”
“Kalau ada Ailen, dia bisa bantu kita menyembuhkan Rere. Dengan kekuatan Ailen semua pasti bisa. Waktu itu kan Ailen yang menolongmu. Drone nya pun masih ku simpan dan ku bawa kemari.”
“Oh ... jadi aku selamat karena Ailen.”
“Iya. Saat kau terbaring lama di rumah sakit. Ailen yang menolongmu. Jika tidak bagaimana kau bisa terbangun dan sekarang bersama ku. Cuma Ailen tak sempat menolong Kakek Dicky. Beliau malah meninggal dahulu sebelum Ailen sempat menolongnya. Tiga hari setelah kematian kakek Dicky, Ailen menemuiku melalui hologram dari Dronenya. Aku mengatakan kalau sudah terlambat ke Ailen karena kakek sudah meninggal. Ailen juga bersedih dan meminta maaf padaku karena tak sempat menolong kakek. Aku bilang tak perlu menyalahkan diri, karena itu bukan salah Ailen juga.” Rex kembali teringat sang kakek dan membuatnya sedih.
Naomi segera memeluk Rex. Dan mengusap punggung belakangnya.
“Sabar dan ikhlaskan Rex.” Bisik Naomi ke telinga Rex dan Rex mengangguk.
Kemudian sebuah ide terlintas di kepala Rex dan Naomi secara bersamaan.
“Rex, kau bilang dronenya masih ada padamu, kan?”
“Iya. Apa kita panggil saja Ailen?”
Rex dan Naomi melepaskan pelukannya dan saling menatap.
“Iya. kita panggil saja.” Usul Naomi.
“Benar. Mungkin saja Ailen bisa menyembuhkan Rere.” Rex pun setuju. Keduanya tersenyum bersamaan.
Di kamar Rere.
Rere keluar perlahan dari kamarnya dan menyelinap ke ruangan yang jauh dan sunyi. Di tempat yang gelap seseorang datang menemui Rere.
“Bagaimana?” ucap seseorang tersebut.
“Aku berhasil dan mereka percaya.” Rere tersenyum jahat.
Bersambung....
Waduh ... siapa lagi tuh sosok yang muncul di kegelapan. Musuh kah?
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
No plagiat ya :D
__ADS_1
Kasi komen yang positif ya kak :D Komentarnya mana komentarnya hehehe :D
Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D