Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 36.


__ADS_3

“Ahmed!!!” Seru Rex.


Semua melihat ke arah Rex. Rex mendekat ke arah Ahmed. Ia menatap ke arah Ahmed kemudian ke Brian, Jerry dan Jenny.


Rex menarik Ahmed dan menjauhi yang lainnya. Ia berbisik ke Ahmed dan Ahmed mengangukan kepalanya. Setelah itu Ahmed pun pamitan dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Sedangkan Rex segera menghampiri Brian, Jerry dan Jenny.


“Ada apa kalian bertemu dengan Ahmed? Kalau ada perlu denganku, tanya saja pada ku?” Rex menatap Brian. Brian menatap nyalang ke Rex. Namun Jerry segera menarik tangannya Brian. Pergilah Jerry, Jenny dan Brian bersama. Rex menatap mereka sampai jauh dan menghilang dari pandangannya.


Kemudian Rex masuk ke mobil dan mengajak Ahmed berbicara. Tadi Rex membisikan agar Ahmed tak perlu meladenin Brian dan yang lainnya. Masuk saja kedalam mobil. Itulah yang di ucapkan Rex ke Ahmed.


Kini di dalam mobil Rex melihat ke arah Ahmed. Ahmed sedikit agak bingung. Namun akhirnya ia bertanya pada Rex.


“Kenapa aku disuruh masuk ke mobil dan tak perlu hiraukan mereka?”


“Ahmed. Brian dan yang lainnya itu tak pernah akur padaku. Dari dulu ia membenciku. Bahkan dulu ia selalu membuliku dan meremehkan ku. Sekarang saja ia tak lagi begitu karena aku yang sudah berbeda dari diriku yang dulu.”


“Oh begitu rupanya”


“Aku ingin rahasiakan saja jati diriku yang seorang keturunan anak sultan. Lagian bukannya kau pernah bilang, kalau para pangeran di incar dan di bunuh. Pelaku saja tak tahu siapa. Jadi ada baiknya rahasiakan saja. Kalau ada yang tanya, bilang saja kau pamanku yang mewarisi semua harta kekayaannya padaku”


“Tapi akan aneh kalau begitu. Kan aku bawahanmu. Bahkan aku menyupirkan mobil untuk mu”


“Oh iya. Bilang saja kau ini bawahan dari almarhum kedua orang tuaku yang mewarisi semua kekayaan ku yang ada.”


“Oke lah”


Ahmed menurut saja. Karena benar juga kata Rex. Bahaya juga kalau identitasnya diketahui. Jika pelaku pembunuh para pangeran sampai ke tempat mereka atau mengetahui jejak dan jati diri Rex akan berbahaya nantinya. Jadi bagusnya di rahasiakan saja.


Karena dilihat Rex, Ahmed sudah paham situasinya, maka Rex kembali ke kelasnya sebentar lagi jam istirahat selesai dan pelajaran akan di mulai kembali. Rex pun segera kembali ke kelasnya.


***


Waktu terus berlalu, hari demi hari dan minggu demi minggu. Dan kebetulan sekolah akan mengirimkan siswa-siswanya berprestasi agar mewakili sekolah mengikuti lomba kecerdasan. Di pilihlah beberapa anak yang menurut sekolah cocok. Dan yang paling menonjol tentu saja Rex, Rere, Brian. Dan untuk tempat ke empat diberikan pada Agung saja.


Mereka berempat di panggil ke ruangan kepala sekolah agar di tunjuk mengikutinya. Masuklah ke empatnya ke ruangan Pak Donny. Pak Donny selaku kepala sekolah di sekolah tersebut. Pak Donny pun menyampaikan perihal tersebut dan ke empatnya di emban tugas tersebut. Namun Brian nampak tak suka kalau harus satu tim dengan Rex. Bagaimana pun mereka tak akur.


Namun karena ini perintah pak kepala sekolah, akhirnya semua menurut. Dan dimulailah waktu mereka untuk belajar bersama. Sehabis pulang sekolah Rere dan Rex sengaja akan belajar bersama. mereka pun mengajak Brian dan Angung.


Namun Brian nampak enggan. Tapi Rere membujuk akhirnya Brian mau juga.


Namun mereka bingung hendak kemana untuk belajar bersama. Rere minta di tempat yang tenang saja. Akhirnya Rex membawa semuanya ke rumahnya. Rumah yang sudah dibelikan Ahmed tentunya. Sebuah apartemen bagus dan mewah. Kesanalah mereka belajar bersama.


Kini ke empatnya berada di dalam aparteman tersebut. Rex sudah meminta Ahmed membuka kan pintu rumah saat mereka akan tiba. Dan kini semuanya duduk di sofa ruang tamunya. Semua memandang takjub kearah ruangan yang luas, mewah dan elegan tersebut.


Ahmed berdiri di dekat Rex.


“Aku harus gimana?” Tatap Ahmed.


“Terserah saja. Kami mau belajar”


Ke empatnya mulai belajar. Ahmed hanya menghidangkan beberapa buah, camilan, snack, dan minuman untuk ke empat remaja tersebut. Kemudian Ahmed bergeser ke arah ruangan lain. Kini ke empatnya serius belajar.


Diselingi belajar tak hentinya Rex dan Rere saling pandang dan terkadang tersenyum. Membuat Brian muak. Sedangkan Agung hanya fokus belajar.


“Rex, tempat ini bagus sekali. Rumah siapa? Aparteman siapa?” Rere bertanya.


“Punyaku. Biasanya Ahmed yang mengurusinya.”


“Jadi sekarang kau tinggal disini kah?”


“Bukan. Aku masih bersama kakekku. Namun ini rumahku juga.”

__ADS_1


“Oh”


Kembali mereka belajar bersama hingga sore menjelang. Ketiga nya hendak pamitan pulang.


“Aku pulang ya. Sudah sore. Lagian masih ada kursus.” Agung pamitan.


“Re, pulang bareng ku. Kita kan searah” Ajak Brian. Namun Rere melihat ke arah Rex.


“Tidak Brian. Aku akan mengantar Rere” Jawab Rex.


“Kau mau apa seh? Biar aku dan Rere. Kami searah.”


“Rere pacarku. Jadi biar aku yang antar” Ucap Rex.


Brian menatap ke arah Rere. Ia tak tahu kalau Rex dan Rere sudah pacaran. Rere pun berkata agar Brian duluan saja. Akhirnya dengan hati yang dongkol, Brian pulang.


Kini hanya ada Rex dan Rere.


“Aku antar sekarang ya Re....” Ajak Rex sambil meraih tangannya Rere.


Rere malah tersenyum dan memeluk Rex.


“Aku kangen” Ucap Rere.


“Aku selalu kangen. Love you” Rex berkata sambil memeluk hangat Rere. Keduanya tersenyum bahagia.


Rere mengalungkan tangannya di lehernya Rex. Ia memandang Rex dengan tatapan manis yang memabukan. Rex tersentuh hatinya. Keduanya makin mendekat dan cup. Keduanya saling mengecup dengan mesranya. Saling mengulum dan menikmatin manisnya kemesraan kecupan tersebut.


Lama keduanya melakukan kissnya hingga suara langkah kaki Ahmed mulai menyadarkan keduanya. Rex dan Rere melepaskan kecupannya dan melepaskan pelukannya. keduanya tersenyum manis saat saling memandang.


Ahmed tiba di hadapan Rex.


“Kalian sudah selesai belajarnya. Maaf, aku ketiduran di kamar tamu tadi.” Ucap Ahmed yang tahu situasi apa yang terjadi barusan tadi.


“Baik” Ahmed pun melaksanakan tugasnya.


Mereka pun pergi mengantarkan Rere pulang ke rumahnya.


Di lain tempat.


Brian sudah sampai di rumahnya. Ia sangat kesal belakangan ini. Dilihat nya Papanya dan Tante Mia baru saja keluar dari ruangan baca papanya. Tante Mia melihat Brian di ruang tamu yang ia lewatin. Menyapa sebentar dan pamitan pulang ke Brian dan Papanya. Setelah Mia pergi. Alvin Papanya Brian, duduk di sebelah putranya.


“Kenapa kau Brian? Belakangan ini nampak tak baik” Alvin memeperhatikan putranya.


“Aku hanya kesal Pa”


“Tentang apa?”


“Tentang Rex. Rex dan Rere sekarang pacaran. Bagaimana bisa Rere suka padanya? Dan kenapa juga sekarang Rex bisa berubah begini nasibnya”


“Rex?” Alvin memadang putrannya.


“Iya Pa. Rex. Oh iya. Brian baru ingat bukankah Papa hendak menangkap kawan Rex makhluk asing tersebut. Apakah tertangkap Pa? Bagaimana kelanjutannya? Brian tak tahu lagi selanjutnya”


“Alien itu ya. Dia sudah kabur kembali ke planet asalnya.”


“Oh ... jadi usaha Papa dan Om Scoot tak berhasil dong”


“Hem” setiap mengingatnya Alvin pun kesal. Namun apa di kata. Memang mereka gagal.


“Brian....” Alvin kembali berkata sambil melirik Brian

__ADS_1


“Iya Pa.”


“Tadi kau bilang Rex yang temannya alien itu dan Rex yang sekarang pacaran dengan Rere adalah orang yang sama kah?”


“Iya Pa. Rex yang sama.”


“Hem. Bagaimana bisa Rere pacaran dengannya ? Bukankah dia miskin. Scoot tak akan menerimanya jika tahu” Alvin merasa aneh.


Akhirnya Brian menceritakan apa yang dia tahu ke Papanya. Semuanya. Alvin mengangguk tanda ia paham.


“Kau tenang saja Brian. Gadis yang disukai putra Papa tak akan bisa dimiliki oleh orang lain. Kau tahu Scoot itu bawahan Papa dan teman baik Papa. Kau tenang saja. Rere pasti menjadi milik mu. Lagian kita kaya raya. Pasti bisa mengalahkan Rex” Ucap Alvin ke Brian putranya setelah mendengarkan semua cerita dan keluhan putranya.


“Baik Pa. Terima kasih Pa.”


“Hem.”


“Pa, Tante Mia sedang apa kemari Pa? Kok sesekali suka sekali kemari?”


“Bicara bisnis lah. Kan Mia punya saham dengan perusahaan Papa. Sudahlah. Dunia orang dewsa tak perlu kau tahu. Sekarang ganti bajumu Brian lalu makan lah” Perintah Alvin.


“Baiklah Pa” Brian pun bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia pun melangkah pergi mematuhi perkataan Papanya.


Setelah Brian pergi, Alvin mengeluarkan hapenya yang ada disakunya. Ia menelepon Scoot.


“Halo Scoot”


“Hai. Ada apa?”


“Kau ingat pemuda yang dekat dengan alien yang tak berhasil kita tangkap”


“Oh iya. Kenapa?”


“Pemuda itu bernama Rex. Dan ku dengar sekarang ia berpacaran dengan putrimu Rere”


“Benarkah?”


“Iya. Aku punya sesuatu yang ingin ku bahas dan ku rencanakan bersama mu Scoot. Kau mau dan setuju kan?”


“Baiklah”


Alvin tersenyum licik. Senyuman jahat yang menghiasi wajah tampan Alvin.


Bersambung....


Waduh. Apa lagi lah ulah si Alvin ini???? Dan apalah rencananya itu ???


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2