
“Jadi kau rela menggantikan Papamu disini, Ana. Aku tahu Papamu hendak meracuniku, kan?” tatap Rex dengan tajam dan sebelah alis matanya naik. Ana kaget dan menatap heran ke arah Rex. Matanya membulat sempurna karena saking kagetnya mendengar perkataan Rex barusan.
Anastasya masih terdiam dan tak berkedip. Ia bingung dan heran, bagaimana Rex tahu semuanya padahal ia sendiri hanya diam. Anastasya tak dapat berkata apa-apa. Reaksi yang di lihat oleh Rex sudah sesuai dugaannya. Jadi benar Paul hendak meracuni dirinya. walau Anastasya tak berkata apa pun tapi terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
“Oh ... jadi benar rupanya. Kalau begitu esok pagi akan ku pancung kepala Papamu.” Rex sudah hendak berbalik pergi tapi Anastasya memanggilnya.
“Tidak ... jangan Yang mulia. Ampuni Papaku. Aku mohon, aku bersedia menggantikan Papaku. Tolong ampuni dirinya. Please.” Ana sudah menangis.
Rex kembali menatap Anastasya.
“Ana, aku tahu kau orang baik. Tapi Papamu adalah pelaku kejahatan maka harus di hukum.”
“Ada orang lain yang menyuruh Papaku. Dia di balik ini semua. Please, jangan hukum Papaku.” Ana sudah semakin menangis deras. Rex menaikan sebelah alisnya.
“Orang di balik Papamu? Siapa dia? apa dia yang membunuh para keturunan raja? Jadi Paul tidak bergerak sendirian....” Rex menatap tajam. Ana pun menyadari kalau ia telah berterus terang dan keceplosan. Itu artinya ia telah mengadukan Papanya dan orang itu. Andai Ana tahu maka dia akan tetap diam dan menerima semua hukuman. Namun kini Ana sudah terlanjur berkata. Ia menyesali dirinya sendiri. Ia telah membuat Papanya dalam bahaya.
“Maafkan Papa ku, ku mohon Yang mulia.” Ana berlutut dan Rex bisa melihat kalau Ana hanya seorang gadis biasa yang rapuh dan hanya sayang pada Papanya.
“Kita lihat saja nanti.” Rex pun pergi dari ruangan bawah tanah tersebut. Setelah keluar, Rex bertemu Ahmed. Ahmed segera mendekat saat melihat Rex. Ia membungkuk hormat.
“Tuanku, apa yang terjadi? Hamba mendengar ada insiden kejadian kembali.”
“Ikut aku sekalian kita bertemu dokter istana, aku menyuruh dokter istana memeriksa sesuatu tadi. kalau kau mau tahu ikut aku, akan ku ceritakan sambil jalan menuju menemui dokter.” Ajak Rex.
“Baiklah Tuanku.”
Rex dan Ahmed pun berjalan bersisian. Mereka berdua akan menemui dokter yang di perintahkan memeriksa bekas gelas yang pecah di dekat taman. Hasil pertemuan dengan dokter diketahui kalau ada kandungan racun di dalam air yang terdapat pada gelas pecah milik Rex. Rex dan Ahmed pun sekarang tahu. Bahkan tebakan Rex benar kalau si Paul pelakunya, lagian Anastasya juga sudah mengatakannya.
Jadi Rex hendak membuat jebakan. Ia ingin menjebak Paul agar mereka bisa meringkusnya.
Di rumahnya Paul merasa gelisah terus, dalam bayangannya kalau Anastasya (putri kandunganya) sedang mengalami siksaan. Paul tak akan bisa menerima hal buruk akan menimpa putrinya satu-satunya. Ia harus menolongnya. Namun Paul bingung harus bagaimana.
Ia pun menelepon sekutunya dan menceritakan semuanya. Namun sayang sekutunya yaitu madam Mariana sama sekali tak peduli akan nasib Anastasya. Karena itu Mariana hanya berkata mohon sabar lah. Sedangkan hati dan pikirannya Pual sangatlah dilema. Paul hanya punya Ana, jadi mana mungkin Paul merelakan Ana dalam bahaya. Paul memikirkan nasib buruk anaknya.
Esoknya.
Paul yang susah tidur dan terus kepikiran Ana, membuatnya ia segera bergegas ke istana demi melihat putrinya. Dan Paul tak tahu ada kejutan yang di buat oleh Rex untuk diri Paul.
Paul sampai ke istana, ia ke ruang bawah tanah, namun seoarang penjaga berkata kalau gadis yang di tahan saat ini berada di tengah lapangan istana. Di sana lah Ana di ikat kedua tangannya di dekat sebuah tiangan. Ia layahnya yang hendak di pancung. Rex dan Ahmed melihat dari tempat duduknya. Dengan dua orang pelayan melayani Rex menghidangkan makanan dan minuman.
__ADS_1
Saat Paul tiba, Anastasya sudah terikat, Paul menatap sedih untuk putrinya. Ia mendekatin Rex.
“Aku mohon Pangeran, lepaskan putri hamba.” Saking cemasnya pada Ana, Pual bahkan lupa memberi hormat kepada Rex.
Rex melihat ke arah paul dengan tatapan tajam.
“Dia bersalah maka akan ku hukum saja.”
“Tolong jangan Tuanku.” Paul menatap ke arah Anastasya yang tangan di ikat dan mulutnya di tutup sehingga tak dapat berkata apa pun.
“Lepaskan putri ku, ku mohon.” Paul kembali bersuara.
Rex berdiri dan memandang ke arah Paul.
“Terlambat, ia akan segera di hukum mati saja.” Rex menunjuk kearah Ana. Paul menggeleng. Ia tak mau kehilangan putrinya.
Rex pun melihat para algojonya yang bersiap enebas kepalanya Anastasya.
“Bunuh dia!!!” teriak Rex pada algojonya. Dua orang algojo pun segera bersiap. Paul menatap tak karuan, ia langsung berlutut di ahadapan Rex.
“Tolong jangan, please. Bukan Ana pelakunya, tapi hamba. Gelas minuman Anda, hamba taburi dengan racun. Jika bukan Ana yang mencegah Anda minumnya maka Anda tak ada disini sekarang, tolong lepaskan Ana. Dia sudah menolong Anda Yang mulia.” Paul sudah pasrah dan akhirnya ia mengakuinya. Rex tersenyum dengan penuh kemenangan. Rencananya berhasil.
Rex berbalik melihat ke arah Paul.
“Papa!”
“Anastasya.”
Rex hanya menyaksikan adengan ayah dan putrinya. Ahmed berdiri di dekat tempat duduk Rex.
“Sebagai gantinya maka, kau akan di hukum Tuan Paul.” Ucap Rex dengan dingin.
Ana dan paul saling memandang.
“Ingat, kau sudah mengakui kejahatanmu. Bahkan semua yang ada di sini mendengarnya. Jika kau ingin bebas maka segera katakan siapa saja orang yang ada di balik layar? Siapa yang ada di belakang mu?” Rex menatap tajam seperti elang dan dingin seperti es batu.
Ana memeluk Papanya, Paul melepaskan pelukannya. setidaknya, ia dan putrinya akan di ampuni maka ia mengambil pilihan untuk mengatakan semuanya.
“Aku selama ini membantu seseorang dalam aksi pemberontakan dan pembunuhan para pangeran dan keturunan sultan seluruhnya. Namun seseorang lah yang ada di balik semua aksiku.” Paul menjelaskan, ia sampai tak berani melihat ke arah Rex.
__ADS_1
“Siapa dia?” Rex menaikan alis matanya sebelah.
“Dia adalah....” Sebuah anak panah melesat dan tepat mengenai kepala Paul dan tepat mengenai otak Paul. Paul pun jatuh tersungkur bersimbah darah di kepalanya. Ana terkejut bukan main. Bahkan Ahmed dan Rex pun sama terkejutnya.
“Papa!!! Tidak!!!” Ana memeluk tubuh Papanya.
Rex merasa kasian, ia datang ke arah Ana dan memberikannya simpatinya.
“Sabar Ana.” Ucap Rex.
“Ahmed!!! Cari pelakunya sekarang!” Rex memerintahkan Ahmed sambil berteriak. Ia nampak kesal juga.
Namun Paul sudah tewas di tempat. Ia sudah tak bernyawa lagi. Ana menangis sambil memeluk Papanya. Rex pun memegang pundak Ana.
Ana menoleh ke Rex.
“Papaku....” ucap Ana di selingi dengan isak tangisnya.
“Tenang Ana.” Rex mencoba hendak memeluknya dan Ana menerima pelukannya. tapi Ana kemudian melihat seseorang datang dari arah belakang Rex dan mengeluarka sebuah pedang.
Ia bersiap hendak menebas Rex dengan pedangnya.
“Tidak! jangan!” Ana segera bergerak ke arah belakang Rex dan Rex tergeser sehingga tusukan pedang malah menginai perut Ana. Pedang tersebut menembus ke perut Ana. Ana bersimbah darah. Rex kaget bukan main.
Bersambung....
Huhuhu ... banyak yang mati nampaknya.
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
No plagiat ya :D
Kakak-kakak pembaca semua yang baik hati dan selalu setia, yuk dukung karya ini, lomba akan segera berakhir tinggal meghitung hari jadi yuk dukung dengan caranya gampang. Yaitu, like, komen, vote dan favorite serta kasi bintang/ rate 5 ya kak.
__ADS_1
Jangan lupa kasi dukuangannya dengan hadiah-hadiahnya ya kak.
Lomba mau berkahir jadi, Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D