
“Hari itu di kamarmu apa yang terjadi? Kenapa aku dan dirimu berakhir di satu ranjang tanpa busana?” Rex penasaran dan dia pikir apa Rere tahu sesuatu.
Rere terdiam.
Rere tak langsung menjawab. Dia hanya diam. Tapi penampilannya sangat santai dan tak gugup. Rex memperhatikan wajah Rere yang tak berubah saat dia bertanya membuat Rex berpikir, apa mungkin benar Rere hamil dan itu anak ku?
Rere tersenyum.
“Waktu itu kau bilang masih sayang padaku dan mengajakku untuk melakukannya berdua denganmu. Aku yang masih mencintaimu akhirnya setuju saja. Dan kita berakhir di satu ranjang selanjutnya kau pasti pahamkan Rex.” Rere berkata dengan santai. Rex seperti tak menemukan cela. Rex memegang kepalanya. Dia serasa stres.
“Baiklah. kembali lah ke kamarmu, Re. Aku akan menyiapkan pernikahan kita.” Rex pun duduk akhirnya di kursinya. Rere pun pamitan dan keluar dari ruangan Rex.
Rex memanggil pelayan agar segera memanggil Ahmed. Pergilah pelayan mencari Ahmed. Tak lama kemudian Ahmed pun muncul di hadapan Rex.
“Anda memanggil hamba Tuanku?” Ahmed membungkuk hormat dan bertanya.
“Aku ingin kau mencari tahu apakah Rere hamil atau tidak?” Rex menatap tajam ke Ahmed.
Ahmed mengerutkan keningnya. Dia nampak bingung.
“Maksudnya?”
“Dia bilang kalau dia sedang hamil. Kau coba selidiki. Dan satu lagi masalah Rere sudah ada kabar yang ku suruh cari tahu?”
“Oh itu masih belum. Aku menugaskan Tommy pergi ke Kanada. Karena semua komunikasi kita untuk Rere tak ada dan Anda juga tak bisa menghubungi nomor lama Rere jadi aku menugaskan Tommy pergi ke kanada. Aku bermaksud mencari dengan bantuan pemerintah dan para staf ahli IT tapi takut akan dikira perang pula antara negara kita dan negara Kanada. Jadi Tommy yang ditugaskan kesana.” Ahmed menjelaskan dengan panjang lebar.
“Baguslah. Semoga segera mendengar kabar baik. Karena kita perlu memastikan saja. Dia Rere asli apa palsu. Karena semua tentang diriku, dirinya dan orang tuanya dikatakan olehnya tidak ingat tapi hasil analisa Ailen dan dokter menyatakan kalau dia baik-baik saja.” Rex masih curiga sebenarnya.
“Kalau Anda tak percaya jadi kenapa kita tak tangkap saja dan introgasi?”
“Karena aku takut jika salah. Bagaimana kalau dia memang Rere? Dia asli atau bukan aku sudah tak tahu? Karena wajahnya tentu saja wajahnya Rere.”
“Lalu apa perlu hamba mencari tahu kehamilannya?”
“Iya. Cari tahulah. Aku sangat pusing sekarang, Ahmed.” Rex memegang kepalanya yang terasa pusing.
“Kalau benaran hamil lalu bagaimana? apa menikahinya? Lalu Nona Naomi bagaimana?” Ahmed banyak bertanya.
“Ahmed, aku sudah pusing jangan kau tambah pusing. Sudah kerjakan saja yang ku suruh kerjakan.”
“Baik. Laksanakan. Hamba permisi dahulu.” Ahmed pun undur diri pamit keluar.
Rex menghela napas panjang.
“Bikin pusing saja. Masalah Almira? Rere? Dan Naomi?” keluh Rex sendirian di ruangannya.
Waktu terus berlalu. Beberapa hari kemudian. Rere kembali mencari Rex. Dia mau tahu bagaimana kelanjutan rencana pernikahan mereka. Tapi karena Rex terlalu sibuk dengan kuliah dan tugas negara jadi Rere tak punya kesempatan bertemu Rex.
Rere semakin kesal. Jika begini maka akan diulur terus. Jika terus begini maka dia akan lama menikah dengan Rex dan rencana selanjutnya akan susah dilaksanakan. Rere pun akhirnya nekat saja. Kalau hanya diam dan menunggu belum ada juga hasilnya.
Rex dan Naomi kebetulan baru saja pulang kuliah. Keduanya berjalan bersama memasuki istana. Saat baru saja tiba di istana, Rere segera menghambur ke arah Rex. Dia memeluknya. Padahal ada Naomi dan para pelayan dan penjaga di setiap sudut istana tapi Rere malah main peluk saja.
“Hey ....” Rex yang terdiam segera melepaskan pelukan Rere. Dia tak enak hati kepada Naomi. Dari samping Naomi melihat saja. Padahal Naomi baru mulai melunak kembali ke Rex tapi kini malah melihat adegan tersebut membuat Naomi jadi malas melihatnya.
“Kenapa seh Rex? Kan gak masalah. Kita juga mau nikah kok.” Rere sengaja mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
“Hah? Menikah?” Naomi kaget dan langsung melihat ke Rex.
Rex langsung menatap Rere.
“Rere!!! Apa yang kau katakan?” Rex terlihat marah.
“Loh ... kan kau sudah janji karena anakmu yang ku kandung ini.” Rere menunjuk ke arah perutnya.
Naomi dan Rex pun mengikuti arah tunjukan Rere ke perutnya. Kemudian Naomi melihat ke Rex kembali.
“Benarkah itu? Kau keterlaluan sekali Rex.” Naomi hendak pergi tapi segera di cegah Rex.
“Tunggu Nao. Aku bisa jelaskan.”
“Gak perlu. Kau nikahi saja dia. kita berpisah. Aku akan pergi ke jepang dan mengurus kepindahan kuliahku.” Naomi yang kesal langsung ambil langkah dan pergi meninggalkan Rex. Rex meraih lengannya tapi segera di tepisnya.
“Nao ... tunggu!!” Rex merasa kesal juga.
“Sial.” Umpat Rex. Di sangatlah kesal. Rere hanya diam dan menatap Rex dengan senyumannya.
“Rasakan. Itu akibatnya kau membuatku menunggu.” Rere berucap dalam hatinya.
Rex melihat ke arah Rere dan menarik kasar tangannya Rere. Dia membawanya masuk ke ruangan lain yang menjauh dari semua orang.
“Kenapa kau berkata begitu, Re.” Rex terlihat marah.
“Loh ... aku hanya mengatakan sebenarnya. Lagian kenapa harus di tutupi, kan nanti Naomi harus tahu juga kalau kita menikah. Kalau dia tak mau jadi permaisurimu maka biar aku saja. Kan aku sudah hamil juga.” ucap Rere ke Rex.
Rex merasa tak mengenal Rere lagi. Bukan seperti ini Rere yang di kenalnya. Dia menatap Rere serasa tak percaya.
“A-apa maksudmu Rex? Ini aku Rere. Kau sendiri yang bilang kan.” Rere berkata dengan sedikit bergetar.
“Rere yang ku kenal tak seperti ini. Kau berbeda dari dirinya. siapa kau?”
“Aku jelas Rere, kenapa kau tanya lagi. Hiks.” Rere menggunakan air matanya kembali untuk meluluhkan Rex.
Rex menatap dingin. Dia pun lalu berujar. “ Aku akan mencari Naomi. Sebaiknya berhati-hatilah beritndak di istana Re.” Setelah berucap Rex langsung pergi meninggalkan Rere. Dia hendak mencari Naomi dan berbicara dengan Naomi.
Rere menghela napas panjang.
“Sialan. Dia mulai curiga. Aku harus bertemu dengan Jevin.” Rere segera bergegas.
Di lain tempat.
Naomi sangat kesal. Dia bahkan tak bisa menangis lagi sudah.
“Brengsek!!!” Naomi marah. Tapi kemudian Naomi melihat kancing baju yang selama ini dia selidiki. Naomi pegang dan tatap kancing baju tersebut.
Saat Naomi melihat kancing baju tersebut, dia teringat dengan baju yang di pakai oleh Rere tadi. corak dan warna serta model sama cocok dengan model kancing yang ada di tangannya.
“Apa mungkin kah??? Tapi gak mungkin ....” gumam Naomi sendirian. Naomi berniat untuk memeriksanya sekali lagi.
Tapi di luar sudah ada Rex yang mencari Naomi. Rex hendak menemui Naomi. Tapi Naomi sudah berpesan pada penjaga di depan kamarnya agar siapa pun tak boleh masuk.
“Maaf, Yang Mulia. Nona Naomi berpesan agar siapa pun tak boleh masuk.” Ucap salah satu penjaga.
__ADS_1
“Lalu aku tak boleh kah? Aku siapa hah?” Rex berujar kepenjaga dan marah.
Naomi mendengar dari dalam kamarnya. Dia kesal rasanya tapi tak mau menemui Rex juga. Naomi pun akhirnya keluar karena Rex malah ribut dengan para penjaga.
Saat Naomi keluar Rex langsung meraih tangannya Naomi.
“Nao ... kita harus bicara.”
“Lepas. Aku mau menemnui Rere.”
“Lupakan Rere. Ini hanya antara kita.”
“Aku perlu mencari Rere. Sudah jangan ganggu aku.” Naomi berlalu pergi dan Rex malah segera mengikuti.
Di lain pihak.
Saat ini Rere keluar istana. Dia menaiki taksi dan pergi ke suatu tempat. Saat sampai di sebuah motel, Rere langsung masuk ke ruangan no.32. di dalam ruangan ada seorang pemuda tinggi jangkung dan perawakan yang sangat tampan.
Rere mendekati pria tersebut.
“Ada apa?” ucap si pria.
“Javin ... gawat!! Aku mulai di curigai.” Ucap Rere.
“Kenapa begitu?” pria yang bernama Javin Miller menatap ke arah Rere.
“Rex sudah mencurigaiku. Dia tak percaya kalau aku adalah Rere. Dan dia susah percaya kalau aku hamil.” Rere berucap ke javin.
“Ayolah. Kita sudah menyusun rencana, jangan sampai gagal. Kau harus bisa menaklukkan Rex dan menikah dengannya terus berkuasa. Dengan begitu kita memerintah negara turki ini dan uang serta harta bisa kita kuasai.” Javin sangat berambisi.
“Aku tahu. Tapi sudah di curigai. Kau juga kenapa tak di kubur atau bakar saja mayat putri Almira. Mereka menemukannya. Jika ketahuan aku yang membununhnya bagaimana?” Rere sudah cemas sekali.
“Tak perlu cemas. Buktinya sampai sekarang mereka tak menemukan jejak apa pun, aku membuangnya ke sumur tua dan mereka tak akan bisa menemukan jejak apalagi jasad sudah mulai rusak begitu. Hehehe.” Javin terkekeh senang.
“Apa sebaiknya kita bunuh saja Rex tanpa aku harus menikahinya?”
“Jangan begitu. Jika begitu malah nyawa kita taruhannya, Rena.” Tatap Javin ke Rena. Ya betul nama sebetulnya adalah Rena. Dia menyamar menjadi Rere selama ini.
Bersambung....
Hola ... ketahuan ya kalau dia bukan Rere tapi malah Rena yang sengkokol dengan Javin. Tapi siapa seh mereka berdua?
Saksikan terus kelanjutannya ya kakak readers semua :) :D
Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)
Klik like, klik vote, klik favorite dan kasi komennya ya :D
Thanks. Love you all :D
No plagiat ya :D
Kasi komen yang positif ya kak :D Komentarnya mana komentarnya hehehe :D
Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D
__ADS_1