Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 79.


__ADS_3

Sudah dua hari semenjak Naomi sadar dan sembuh. Bahkan luka dalam pun tak ada. Naomi benar-benar sehat. Saat ini Rex menemani Naomi berjalan-jalan sekitar taman di rumah sakit. Rex rasa Naomi perlu menghirup udara segar. Rex dan Naomi kemudian duduk di dekat bangku dekat taman rumah sakit. Sedangkan Tommy saat ini berada di sekitar Rex dan Naomi. Tommy mengawasi dari kejauhan.


Yuki, Mamanya Naomi sedang bekerja jadi Rex yang menemani Naomi di rumah sakit. Tanpa mereka tahu kalau seseorang sedang menyamar menjadi seorang dokter dan masuk ke ruangan kamar pasien di mana kakek Rex sedang di rawat. Pria tersebut menyuntikkan sesuatu ke saluran infusnya Dicky Han. Usai melakukannya, ia pun bermaksud hendak pergi dari tempat tersebut. Akan tetapi, Mamanya Naomi telah masuk ke kamar pasien tersebut. Ia singgah sebentar saat jam makan siang bermaksud hendak melihat Naomi sebentar.


Namun, saat baru masuk Yuki malah melihat pria asing. Awalnya Yuki mengira kalau itu dokter, tapi saat berbalik lagi melihat ke arah pria asing tersebut di tangannya ada tato ular yang aneh. Yuki pun curiga.


“Siapa kau?” Yuki menatap curiga.


Si pria berhenti tapi ia segera hendak keluar kamar, dan Yuki mencegahnya dengan menarik tangannya. Sebuah suntikan jatuh. Yuki masih memegang lengan si pria asing. Bahkan Yuki berteriak.


“Tolong ... tolong.” ucap Yuki dengan keras.


Si pria asing panik dan mengeluarkan sebuah pisau dan menusuk berkali-kali ke perutnya Yuki. Yuki terjatuh. Dan si pria langsung lari. Tepat saat si pria asing kabur, Naomi dan Rex serta Tommy baru saja kembali ke ruangan kamar pasien. Mereka heran dengan yang lari barusan siapa. Tapi Rex sudah curiga, Rex segera memerintahkan Tommy.


“Siapa dia? Tom, cepat kejar orang itu.” Perintah Rex.


“Baik.” Tommy segera berlari mengejar.


Naomi dan Rex segera masuk ke dalam ruangan pasien. Saat masuk betapa kagetnya Naomi melihat Yuki terkapar di lantai dengan darah yang keluar dari perutnya.


“Mama!!!” Naomi segera memeluk tubuh Mamanya. Sedangkan Rex segera berlari keluar memanggil dokter dan suster.


“Naomi ... anak Mama. Jaga dirimu baik-baik ya sayang.” Yuki berucap untuk terakhir kalinya.


“Mama ... jangan tinggalin Naomi Ma, please.” Naomi sudah terisak.


Dokter dan suster pun akhirnya datang setelah Rex memanggil mereka, tapi sayang, Yuki tak sempat di tolong lagi. Yuki sudah meninggal dunia. Naomi menangis histeris.


Dokter dan suster hanya bisa diam melihat dari samping. Rex datang mendekat. Dan memeluk Naomi dari belakang.


“Sabar Nao.” Rex hanya bisa mengatakan hal tersebut.


Kemudian, suara denyut jantung Dicky Han juga tak beraturan. Suara peringatan pun terdengar. Suster dan dokter segera memeriksa. Dicky Han nampak kesusahan bernapas dan terlihat kejang-kejang.


Rex melihat dari samping nampak bingung. Rex lalu melihat jarum suntik yang ada di lantai. Rex ambil dan melihatnya.


Dokter dan suster memberikan kejut listrik ke tubuh Dicky Han tapi sayang, Dicky Han tak tertolong. Rex mendekat ke tempat kakeknya yang terbaring. Dokter berbalik arah menatap Rex dengan pandangan yang takut. Dokter takut kalau Rex akan marah jika tahu kakeknya tak selamat.


“Maafkan saya.” Dokter menundukkan kepalanya.


Rex langsung mengguncang tubuh kakeknya.


“Kek, bangun Kek. Jangan tinggalkan Rex. Kakek!!!” Rex menangis karena kakeknya yang telah tiada.


Naomi menangis karena Mamanya dan Rex menangisi kakeknya yang tak tertolong juga.


Rex melihat ke arah dokter.


“Coba periksa di jarum suntik ini? Apa yang terkandung di dalamnya? Aku mau hari ini juga sudah keluar hasilnya.” Rex memberikan jarum suntik tersebut ke dokter. Dokter menerimanya dan pamit keluar bersama suster.


Rex kemudian memandang ke arah Naomi dan Mama Naomi. Rex membantu menggendong Yuki dan menidurkannya di ranjang tempat Naomi terbaring sebelumnya. Rex memegang pundaknya Naomi.


“Aku akan menyuruh orang mengurus Mamamu Nao serta kakekku. Mereka akan di urus jenazahnya dan akan di kuburkan segera. Masalah lainnya biar aku yang bereskan. Kau di sinilah, aku akan tempatkan para penjaga di depan pintu kamar ini.” Rex kemudian pergi keluar kamar. Rex meminta beberapa sekuriti untuk berjaga di depan kamar pasien. Rex juga meminta para pihak rumah sakit untuk mengurus jenazah kakeknya dan mamanya Naomi.

__ADS_1


Semua beres saat Rex mengeluarkan semua uangnya untuk membayar semuanya. Rex kemudian keluar mencari Tommy. Seingat Rex, kalau Tommy di perintahkan mengejar orang tersebut. Rex pun menelepon Tommy.


“Dimana?”


“Aku telah berhasil menangkapnya Tuanku. Aku bawa dia ke gudang belakang rumah sakit. Ia sedang ku sekap Tuanku.” Tommy melapor.


“Tunggu aku disana. Jaga dia, jangan sampai lepas.”


“Baik.”


Rex segera menuju tempat yang di katakan oleh Tommy. Saat sampai di tempat, Rex melihat kalau pria tersebut sudah babak belur di hajar oleh Tommy. Rex mendekat dan berbicara ke orang asing tersebut.


“Siapa yang menyuruhmu hah?” tanya Rex dengan sangat dingin.


“Hahaha ....” ia hanya tertawa.


Rex tak tahan langsung menghajarnya dan membenturkan kepalanya ke tembok. Ia mengadu kesakitan.


“Jika kau tak mau mati, maka katakan saja. Siapa?” tatap Rex dengan sangat menakutkan.


“Alvin ... Alvin Wu yang memerintahkan aku, dia memberikan sejumlah uang agar misi ku membunuh kakekmu berhasil. Tapi malah dua orang yang ku bunuh. Dia bilang, ini karena kau mengganggu anaknya dan membuat anaknya cacat lumpuh.”


Rex semakin geram. Rex tendang pria asing tersebut hingga ia muntah darah. Rex kemudian meminta Tommy membereskannya.


“Bereskan dia, Tom.”


“Baik.”


Rex pergi keluar dan suara tembakan pun terdengar. Tommy menembak mati si pria asing tersebut tepat mengenai otaknya. Ia pun langsung tewas. Tommy keluar dan menemui Rex.


“Bagus. Bereskan juga mayatnya. Aku akan menemui dokter.” usai berkata tersebut Rex pun pergi dan Tommy melaksanakan perintah Rex.


Rex menemui dokter dan bertanya apa hasil pemeriksaannya. Hasilnya di jarum suntik tersebut terdapat racun yang mematikan dan darah Dicky Han juga telah di periksa, hasilnya kalau di dalam tubuh Dicky Han sudah tersebar racun tersebut. Sepertinya di suntikkan oleh penjahat tersebut melalui infus dan racun pun masuk ke dalam tubuh yang mengakibatkan kematian. Rex pun pamit setelah mengetahui kebenarannya.


Tommy datang mendekati Rex. Dia melaporkan kalau telah selesai melaksanakan perintah dari Rex. Rex lalu mengajak Tommy untuk ikut serta dengannya. Mereka akan mencari Alvin Wu. Ternyata membereskan Brian tak cukup. Papanya sama seperti Brian yang musti dilenyapkan juga.


“Sepertinya kita terlalu baik, Tom. Seharusnya ayah dan anak brengsek itu mati saja. Kita habisi mereka berdua sekarang.”


“Baik Tuanku.” Tommy menganggukkan kepalanya.


Rex dan Tommy segera pergi dan mencari keberadaan Alvin Wu sekarang.


Di tempat lain.


Brian baru saja sadar kembali. Brian merasa hidupnya tak ada artinya lagi jika masih hidup. Brian memutuskan untuk mati saja. Brian tak sanggup bila hidup dengan cacat. Ia memilih mati saja.


Seorang suster datang untuk memeriksa keadaan Brian.


“Bagaimana keadaannya? Saya periksa dahulu ya.” ucap si suster. Ia memeriksa Brian dan mencatat kondisi Brian saat ini. Akan tetapi tatapan Brian nampak lain.


“Sus ... aku mau makan buah itu. Tolong ambilkan pisaunya.” Pinta Brian.


“Baik. Sebentar ya. Mau saya bantu kupas gak?"

__ADS_1


“Tak perlu. Saya bisa.”


“Tapi bukannya tangan sebelahnya itu tidak bisa ....” Suster tak jadi meneruskan perkataannya karena Brian terlihat marah.


“Ambilkan saja Sus, tangan sebelah ku masih berfungsi baik.”


“Baiklah. Maafkan saya.”


Suster pun mengambilkan buah di piring dan pisaunya, kemudian ia pamit keluar kamar pasien. Usai suster pergi, barulah Brian memegang pisau tersebut dengan tangan kanannya yang masih berfungsi.


“Lebih baik mati dari pada hidup sebagai orang cacat.” Brian memegang pisau dan mulai menggorok lehernya sendiri. Brian pun tewas mengenaskan di tempat karena lehernya terus mengeluarkan darah tiada henti bahkan luka tersebut sangatlah dalam dan lebar. Tak ada yang tahu kalau Brian telah tewas.


Beberapa saat kemudian, Alvin masuk ke kamar rawat inap Brian. Dan betapa kagetnya Alvin melihat Brian sudah mati mengenaskan.


“Brian .... Tidak!!!” jerit Alvin tak menerima kondisi Brian yang sudah tewas saat ini. Alvin menangisi keadaan putranya sekarang ini.


Beberapa orang suster masuk mendengar suara Alvin dan semuanya berteriak saat melihat Brian telah tewas. Alvin segera mendekati para suster.


“Tolong urus jenazah putraku, dia baru saja bunuh diri. Aku hendak keluar sebentar.” Alvin pun keluar.


“Baik.” ucap para suster dan mereka segera mencari bala bantuan.


Alvin keluar karena hendak menuntut balas pada Rex. Membunuh kakek Rex tidak lah cukup. Rex harus dihabisinya. Alvin menelepon orang suruhannya, dia mau tahu apakah sudah berhasil.


“Halo ... bagaimana? kau sudah berhasil apa belum?” tanya Alvin dengan sangat menahan amarahnya.


Kebetulan saat ini telepon tersebut di pegang oleh Rex. Rex dan Tommy ada di taksi sekarang hendak mencari Alvin. Tadi Tommy sempat melihat sebuah hape di saku baju penjahat yang membunuh kakeknya Rex. Ia serahkan pada Rex. Dan bingo, tepat saat ini di taksi menuju mencari Alvin, saat itulah Alvin menelepon dan kebetulan hape ada di tangannya Rex. Rex pun menerimanya. Rex tersenyum mendengar suara Alvin di ujung telepon sana.


“Kau mau tahu? Kalau begitu ayo kita bertemu ....” Rex mengajak Alvin bertemu.


Alvin tertegun, ini suara orang lain.


“Kau?”


“Aku Rex.” Rex menaikan alis matanya sebelah.


“Hahahaha ... bagus. Kebetulan aku mau mencarimu. Ayo kita bertemu.” Alvin pun menyetujuinya.


Keduanya sepakat hendak bertemu.


Bersambung....


Bakal ada perang antara Rex dan Alvin nih nampaknya. Go Rex!!!


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :) :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D

__ADS_1


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D


__ADS_2