Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 71.


__ADS_3

“Tidak! jangan!” Ana  segera  bergerak ke arah belakang Rex dan Rex tergeser sehingga tusukan pedang malah mengenai perut Ana. Pedang tersebut menembus ke perut Ana. Ana bersimbah darah. Rex kaget bukan main.


“Ana!!! Anastasya!!!” Rex berseru memanggil nama Anastasya.


Orang yang menusuk dengan pedang tadi segera hendak menikam Rex. Dan Rex segera bergerak cepat pula menghindarinya. Semua penjaga yang melihat penyerangan tersebut segera datang mendekat. Begitu juga Ahmed segera kembali menuju arah Rex.


Tubuh Anastasya jatuh ke tanah. Rex yang berhasil menghindar malah terus di teror hingga mereka akhirnya berkelahi. Rex pun menendang dan memukul, yang terakhir ia rebut senjata penjahat tersebut dan menikamnya lalu menendangnya. Penjahat pun jatuh tersungkur dan tewas.


Semua penjaga serta Ahmed mendekati Rex dan melihat keadaan Rex.


“Anda tak apa-apa Tuanku?” Ahmed buru-buru menanyakan.


“Aku tak apa. Sial. Mereka berhasil membunuh dua orang.” Rex menatap ke arah Anastasya. Rex dekati tubuh Ana yang sudah bersimbah darah. Ia peluk tubuh Ana tersebut.


“Bertahanlah, Ana. Aku akan memanggil dokter untuk menolong mu.” Ucap Rex kepada Anastasya yang sudah sekarat. Ana menggeleng.


“Tak perlu Yang mulia. Hamba akan menyusul Papaku. Mohon makamkan kami dengan layak saja. Maafkan Papaku Yang mulia.” Ana berucap dan kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal di pelukan Rex.


Ahmed menatap haru. Gadis yang malang. Di usia muda malah sudah tewas dengan mengenaskan.


Rex melepaskan tubuh Ana. Ia menatap ke arah Ahmed.


“Urus jenazah mereka berdua dan makamkan dengan layak.” Perintah Rex.


“Baik Tuanku.” Jawab Ahmed.


“Sekalian. Makin perketat penjagaan, penyusup bisa saja kembali bertindak. Yang satu sudah ku bunuh. Yang satunya kau kejar tadi yang bawa panah bagaimana?”


“Sudah kabur Yang mulia. Maafkan hamba.” Ahmed menunduk.


Rex menghela nafas.


“Baiklah. Urus dengan baik jenazah Anastasya dan papanya. Aku mau kembali ke kamar.”


“Baik.”


Ahmed segera menjalankan perintah Rex.


Rex sendiri diiringi para pengawal untuk segera kembali ke kamarnya.


Dikediaman istana dimana para putri tinggal.


Tiga putri paling menonjol saling berkumpul. Amira seperti biasa akan membawa bahan cerita.


“Kak Sonia dan Kak Miranda, kalian tahu kabar baru?” Amira tersenyum.


“Tak tahu.” Jawab Sonia.


“Aku lebih tak tahu, kan biasanya kau Amira yang bawa cerita heboh di istana ini.” Miranda melirik ke arah Amira.

__ADS_1


“Hehe ... Pangeran Rex di jodohkan oleh kakek kita dengan putrinya Tuan Paul.”


“Si Anastasya kah?”


“Iya.”


“Namun tentu saja Rex menolak. Tapi sepertinya Tuan Paul dan Ana masih berharap. Dan yang bikin heboh sekarang adalah Ana malah di tahan karena ketahuan dan di curigai yang telah memberi racun pada minuman Rex, lalu Ana di tahan dan di penjara bawah tanah. Kini malah ketahuan kalau Paul lah yang bersalah. Bukan Ana, tapi Papanya. Dan tadi ada penyerangan, yang terbunuh adalah Tuan Paul dan Ana.” Amira menjelaskan dengan versi dia sendiri.


Sonia menjitak kepala Amira.


“Aduh kak.” Amira cemberut. “Apa salahku?”


Miranda yang awalnya syok mendengar berita dari Amira malah terkekeh melihat Sonia menjitak Amira.


“Jelas saja, kau ini memanggil Yang Mulia dengan hanya namanya saja. Jika kakek tahu maka kau bisa di hukum. Bagaimanapun dia adalah pewaris dan penerus kerajaan kita.” Sonia menjelaskan.


Barulah Amira menyadarinya.


“Maafkan aku.” Wajah Amira berubah sedih.


“Lalu selanjutnya bagaimana?” Miranda sudah kepo.


“Ya apa lagi, sudah tewas lah.”


“Penjahat yang melakukan penyerangan lah?” Miranda jadi kesal dan kepo.


“Oh, yang satu kabur dan satunya sudah tewas katanya.”


“Sepertinya istana makin tak aman. Musuh ada dimana pun kayaknya.” Sonia berkata dengan tanpa memikirkan kalau kedua adiknya nampak ketakutan mendengarnya.


“Jadi kita udah gak aman lagi kah kak?” Amira takut.


“Lalu bagaimana?” Miranda pun sama takutnya.


“Kalian ini, sasarannya sudah jelas para pangeran, dan kita hanya para putri kan. Jadi kita aman. Namun begitu aku tetap cemas akan ada pertumpahan darah sepertinya.” Ucap Sonia pada kedua adik-adiknya.


Dari kejauhan Ahmed memandang ke arah ketiga putri tersebut. Ahmed baru saja selesai melaksanakan perintah dari Rex tadi. Mayat Ana dan Papanya sudah di urus dengan baik dan di kuburkan dengan layak. Kini Rex menatap ke tiga putri yang cantik rupawan.


Sejujurnya Ahmed menyukai Sonia. Ia melihat Sonia lebih lembut dan lebih dewasa dari pada Amira yang kekanakan dan Miranda yang kadang kecentilan. Sonia lebih persis seperti wanita anggun yang sangat cantik bagi Ahmed. Namun ia sadar akan dirinya yang hanya seorang bawahan. Tak pantas jika memiliki perasaan apa lagi dengan seorang putri. Padahal beberapa waktu lalu, ia sempat ditanyakan oleh Rex, namun jawabannya sama kalau ia tak selevel dengan para putri atau gadis lainnya yang bangsawan. Ia cocok hanya dengan gadis atau wanita biasa atau dari kalangan dayang dan pelayan. Maka itu Ahmed hanya berani menatap Sonia dari kejauhan. Itu saja pun sudah membuatnya puas menatap Sonia yang manis dan lembut tersebut.


Ketiga putri kemudian saling bercandaan dan tertawa bersama. Sonia tak sengaja melihat juga ke arah Ahmed yang dari jauh menatapnya. Saat Sonia melihat ke arah Ahmed, Ahmed langsung pergi dan melarikan dirinya. Sonia sampai berpikir, itu bukannya Ahmed? Kenapa ia sampai kemari? Pikir oleh Sonia.


Sonia pun bangkit dan berdiri, ia lalu meninggalkan kedua adiknya dan berjalan ke arah tempat Ahmed tadi. ia berusaha mencari sosok Ahmed kembali dan ingin bertanya.


Namun saat sampai, ia tak melihat Ahmed kembali.


“Kemana dia?” gumam Sonia. Karena tak melihat Ahmed, akhirnya Sonia kembali ke tempat adik-adiknya tadi.


Sedangkan Ahmed berlari-lari. Ia berjalan setelah sudah cukup jauh. Kemudian mulai bernafas lega setelah sudah jauh dari tempat semula.

__ADS_1


Seorang penjaga datang mendekat.


“Anda dipanggil Yang mulia di kamarnya, Tuan.” Ucap penjaga tersebut, karena pangkat Ahmed lebih tinggi jadi ia dipanggil Tuan oleh penjaga biasa tersebut.


“Yang mulia, maksudmu pangeran Rex?” Ahmed menatap penjaga dan penjaga mengangguk.


“Baiklah.”


Ahmed segera menuju kamarnya Rex. Saat sampai kamarnya Rex, Ahmed mengetuk dan kemudian masuk dan memberi hormat ke Rex.


“Anda mencari hamba Tuanku.”


“Iya.”


“Ada perintah apa?”


“Karena kita gagal mendapatkan saksi bahkan sudah tewas, harga yang cukup mahal Ahmed, dua orang telah tewas. Bahkan bukti hilang bersama kematian Paul. Siapa di belakangnya kita tak tahu dan kehilangan petunjuk.”


“Iya Tuanku.”


“Jadi sebaiknya bagaimana menurutmu? Mereka pasti akan menyerang kembali.” Rex yakin mereka akan menyerang. Sedangkan dia belum tahu siapa saja mereka itu.


“Saya tak tahu Tuanku.” Nafas Ahmed masih belum teratur. Rex melihat peluh keringat yang ada pada kening Ahmed bahkan nafas yang tak beraturan.


“Kau kenapa Ahmed? Apakah tadi kau lari-lari?” Rex berkerut menatap Ahmed.


Ahmed terdiam.


“Kau dari mana tadi Ahmed?” tatap Rex dengan tajam. Yang di tatap malah berusaha tetap tenang dan menelan salivanya. Ia agak gugup.


Melihat Ahmed tak langsung menjawab dan nampak berbeda dari biasanya, kembali Rex bertanya.


“Ada yang kau sembunyikan kah?” mata Rex menatap tajam melihat ke arah Ahmed.


Bersambung....


Ternyata Ahmed telah jatuh cinta kepada Sonia pula yang seorang putri. Cinta bertepuk sebelah tangan kah? atau cinta bersambut kah??


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua :)  :D


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya :D


Kakak-kakak pembaca semua yang baik hati dan selalu setia, yuk dukung karya ini, lomba akan segera berakhir, jadi yuk dukung caranya mudah dan gampang kok, yaitu like, komen, vote dan favorit serta kasi bintang/ rate 5 ya kak.

__ADS_1


Jangan lupa kasi dukungannya dengan hadiah-hadiahnya ya kak.


Like sebanyaknya dan Vote sebanyaknya ya kak. Makasih kak. :D 😘🥰😍🤗


__ADS_2