Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)

Anak Sultan (The Stupid Man To Be Smart Man)
Bab 53.


__ADS_3

“Nao, kau tak apa kan?” Rex sangat mencemaskan Naomi.


Ahmed yang jatuh tadi tersungkur di tanah pun segera bangkit. Ia mendekati Rex dan Naomi. Di lihat sepertinya Naomi pingsan. Rex segera mengendong Naomi ala style bridal. Suara sirene pun berbunyi. Sekitar helikopter dua buah datang mendekat. Di tengah lapangan turunlah dua heli tersebut.


Sekitar 10 peserta di nyatakan telah lulus dan bisa lanjut ke tahap selanjutnya. Peserta yang lainnya yang tak nampak sudah di pastikan telah mati, jika tidak mati karena serangan para pihak lawan lain, bisa jadi mati karena terkena jebakan yang sudah banyak di pasang. Rex, Naomi dan Ahmed satu tim jadi dihitung satu peserta. Mereka pun segera menuju helikopter. Semua peserta pun di jemput dan pulang dengan heli tersebut.


Semuanya kembali ke hotel. Rex segera merebahkan Naomi di ranjang dan tim dokter telah di siapkan untuk memeriksa Naomi dan mengobatinya sekaligus mengobati Ahmed. Rex pun di periksa.  Usai diperiksa, semuanya pun beristirahat.


Malam harinya, setiap kamar peserta yang masih bertahan sampai sekarang langsung di kirimkan makanan dan minuman dengan kualitas terbaik serta makanan yang enak-enak. Semuanya di siapkan oleh para chef terkenal di Jepang. Para pelayan hotel mengantarkan ke setiap kamar para peserta. Lou Han sengaja menjamu mereka dengan sangat baik.


Begitu juga di kamar Rex, Ahmed dan Naomi mereka juga mendapatkan pelayanan tersebut. Kini Ahmed menghadap pada makanan yang enak-enak. Ia sangatlah lapar. Ahmed langsung saja makan. Sedangkan Rex, masih melihat keadaan Naomi. Ia belum juga bangun. Ahmed mengajak makan, namun Rex masih belum mau makan. Ia menunggui Naomi di samping ranjangnya.


Dua jam kemudian, Ahmed telah tertidur. Ia banyak makan. Sedangkan Rex tertidur di samping ranjang Naomi. Naomi perlahan bangun. Ia merasakan badannya sangatlah sakit. Saat bangun hal pertama yang di lihat oleh Naomi adalah Rex. Naomi bangkit dan duduk. Ia melihat wajah Rex yang tenang dalam tidurnya. Syukurlah mereka sekarang selamat.


Naomi bangkit dan hendak mandi saja. Rasanya ia perlu mandi. Naomi melihat Ahmed tertidur pulas di sofa dan Rex di kursi di sebelah ranjangnya. Baik Rex dan Ahmed, sama-sama sudah bersih dan sudah berganti pakaian. Hanya Naomi yang belum. Tadinya Rex hendak memanggil pelayan wanita untuk membantu Naomi berganti pakaian, namun ia malah kelupaan. Jadi Naomi yang sudah sadar merasa badannya lengket. Ia langsung ke kamar mandi. Naomi pun mandi.


Rex terbangun. Dan dilihatnya tak ada Naomi. Sebuah suara terdengar dari arah kamar mandi. Rex pun segera berlari ke arah kamar mandi. Ia mencemaskan Naomi. Saat masuk, ia melihat Naomi terjatuh. Sepertinya Naomi terpeleset saat mandi.


“Maaf. Kau tak apa Nao?” Rex segera berbalik dan wajahnya menghadap arah lain. Pintu kamar mandi tak di kunci jadi ia menerobos masuk. Saat masuk malah melihat Naomi jatuh tanpa ada sehelai pakaian pun. Naomi polos tanpa ada yang menutupi tubuhnya. Rex jadi segera berpaling wajah. Naomi sangatlah malu, namun sudah terjadi ya sudah lah.


“Aku tak apa. Cuma jatuh terpeleset saja.” Naomi berusaha bangun namun tak bisa, kakinya keseleo. Ia baru saja hendak mandi malah jatuh. Dan Rex melihatnya, sungguh memalukan. Begitulah pikir Naomi.


“Kau bisa bangun Nao?”


“Aku susah bangkit. Kaki ku sepertinya ter kilir.”


“Aku bantu ya. Namun sudah malam begini. Mungkin para pelayan sudah istirahat. Aku yang bantu boleh kan?”


Naomi mengigit bibir bawahnya. Ia jadi ragu. Keningnya berkerut dalam.


“Tapi bagaimana? Aku kan tak pakai apa pun. Bergerak pun susah.”


“Aku akan menutup mata. Percayakan padaku.”


“Baiklah. Aku percaya.” Naomi hanya bisa percaya pada Rex sekarang.


Rex mencari sebuah kain dan menutupkan ke matanya. Kemudian ia mulai berbalik arah ke Naomi.


“Arahkan aku ya Naomi.”


“Ya.”


Rex mulai membantu mengangkat Naomi. Naomi pun menghidupkan air, ia kembali mandi. Rex berdiri di sampingnya Naomi membantunya mandi. Setelah itu Naomi mengambil sabun dan sampo. Mandilah ia di bawah guyuran air shower. Rex hanya diam mematung di samping.


Selesai mandi, Rex kembali memapah Naomi. Kemudian mengambil sebuah kimono handuk yang tak jauh dari gantungan yang ada di dalam kamar mandi. Ia bantu ambilkan dan di berikan ke Naomi. Selesai di pakaikan barulah Rex membuka penutup matanya.

__ADS_1


Rex pun membantu Naomi memapahnya sampai ke arah ranjang. Kemudian mendudukkannya. Rex bantu mengelapkan rambut Naomi yang masih basah. Ia bantu keringkan. Naomi melihat setiap gerak gerik Rex dan semua hal yang di lakukan Rex untuknya. Naomi tersenyum bahagia. Rex melihat ke arah Naomi.


“Kenapa?”


“Tak ada. Cuma makasih ya Rex.”


“Hem ... sama-sama. Tapi bukannya aku di sini menggantikan mu. Kenapa kau juga ikut dalam hal The Death Battle ini? Seharusnya tak perlu. Cukup aku dan Ahmed saja. Jika kau terluka, bagaimana dengan Mamamu Nao? Apa Tante Yuki sudah mengizinkanmu kemari?” Rex sudah lama ingin tahu.


“Mama tahu. Karena aku yang bersikeras hendak pergi.”


“Lalu aku bagaimana? Kan aku sudah menggantikan mu di sini. Lah, malah kau juga ikutan kemari. Aku jadi bingung. Katanya kau kemari hanya memberikan ku arahan namun kau juga ikut masuk.” Rex selesai mengeringkan rambut Naomi. Ia duduk di sebelah Naomi.


“Maafkan aku Rex. Aku membuatmu cemas ya.”


“Sudahlah. Sudah terjadi. Sekarang kita hanya perlu selesaikan dan pulang. Liburan kita juga tak lama kan.”


“Hem ... baiklah.”


“Oh iya. Yang mana yang sakit.”


“Sebelah kanan kakinya.”


Rex bangkit dan berlutut di hadapan Naomi, ia melihat kakinya Naomi. Rex periksa dan mulai mengurutnya.


Naomi pun menganggukkan kepalanya. Rex mulai mengurut kaki Naomi dan lalu kretek. Suara kaki Naomi berbunyi dan betapa hebatnya Naomi kesakitan namun ia tahan dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Tapi anehnya, setelah itu kakinya hilang sakitnya. Bahkan bisa digerakkan. Naomi heran dan menatap Rex.


“Bagaimana? Sudah baikan kan?” Rex memandang Naomi.


“Iya. Kau hebat.”


“Baguslah. Ayo makan. Aku menunggumu. Semoga tak di habiskan oleh Ahmed semuanya.”


Naomi tertawa kecil dan ia pun mengikuti Rex keluar kamar. Mereka ke arah sofa dan mejanya. Di sana banyak makanan yang masih ada. Walau pun Ahmed sudah makan banyak namun ternyata tak bisa ia habiskan. Kini Rex dan Naomi makan bersama.


***


Esoknya.


Semuanya di bawa berkumpul di aula pertemuan di mana pertama kali mereka di kumpulkan. Namun kini tinggal sedikit yang ada. Lou Han dan Aiko maju ke depan para peserta. Setelah sarapan bersama, kini semuanya berkumpul. Lou Han kemudian seperti biasa akan memulai kata-kata yang akan ia ucapkan.


“Selamat bagi yang masih  bertahan di babak putaran ketiga dan yang terakhir ini kalian ikuti, akan di adakan pertarungan satu lawan satu. Dan hanya akan menyisakan satu pemenang saja. Jadi persiapkan diri kalian. Semoga berhasil.” Usai berkata Lou Han pun pergi di ikuti oleh para ninja nya.


Sedangkan Aiko memberikan kartu ke setiap peserta. Di saat terakhir ia memberikan kartu terakhir ke Rex, Aiko tersenyum.

__ADS_1


“Hebat kalian bisa selamat. Apa lagi dengan ular beracun yang raksasa di pulau itu, ternyata bisa kalian bunuh monster tersebut. Padahal banyak peserta yang mati karena ular itu. Selamat. Tuan Lou Han mengatakan kalian silahkan lanjutkan, tapi di anggap kalian satu nyawa dan satu tim. Jika ada salah satu di antara kalian nanti kalah maka di anggap kalian semua yang kalah. Good luck.” Aiko pun pergi setelah memberikan kartu ke Rex.


Rex hanya tersenyum kecil menatap Aiko dan tak merespon apa yang di ucapkan oleh Aiko.


Aiko pun pergi dan meninggalkan semua peserta.


Setiap peserta membaca instruksi atau pun pesan yang ada di kartu tersebut. Namun aneh hanya bertuliskan sebuah nama. Nama sebuah marga/keluarga. Jadi mereka akan melawan satu lawan satu. Di tangan Rex juga tertulis sebuah nama keluarga seseorang. Naomi dan Ahmed ikut membacanya juga.


“Martinez....” Ucap Rex bersamaan dengan Naomi dan Ahmed menyebutkannya.


Seorang pria yang kekar dan berotot bernama Diego Martinez mendengar nama keluarganya di sebut. Ia menoleh ke arah Rex.


“Kalian dari Yamaguchi. Kartuku bertuliskan Yamaguchi.” Diego tersenyum.


Naomi melihat seorang pria tampan dan kekar serta berotot. Pria itu tentu saja Diego Martinez.


“Iya. Kami dari keluarga Yamaguchi.” Ucap Rex menjawab.


“Aku Diego Martinez. Aku lah lawan kalian.” Diego pun mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Rex.


Keduanya saling menatap satu sama lain.


Bersambung....


Yuhu ... mau putaran akhir The Death Battle. Semoga berhasil ya Rex. :D


Saksikan terus kelanjutannya ya kakak reader semua 🤗😊 :D


Kakak reader semuanya, klik like dan kasi komennya jangan di lewatkan ya. Langsung aja di klik dulu like nya. Terus kasi vote sebanyak-banyak ya kak plus kasi bintang/rate 5 nya ya di tampilan dekat sinopsisnya loh. Bentuk hati favoritnya di klik kak, biarkan berwarna merah ya kak sebagai apresiasi ke karya ini.


Semoga selalu mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir ya kak. Jangan di skip ya kak. Semoga suka :D


Dan katakan tidak pada plagiat ya kak. Karena plagiat itu adalah tindakan tercemar dan tidak baik kak. Say no plagiat. Dukung terus karya ini dengan kasi hadiah-hadiah dukungannya ya kak. Karena itu akan sangat berarti pada Author. Begitu juga like dan komennya sangatlah berarti buat Author.


Makasih buat semua pembaca yang setia menunggu dan membaca karya ini ya kak. Love you all. Thanks a lot :D


Kakak pembaca semuanya dukung terus ya kak karya ini karena akan sangat berarti sekali buat Author. Karya ini sedang mengikuti lomba Mengubah Takdir, jadi mohon dukungannya ya kak. Dengan cara like dan komen ya kak. Terus vote juga sebanyaknya ya hehe :D Thank you.


Jangan lupa kasi bintang/rate 5 nya ya plus hadiah-hadiahnya ya :)


Klik like, klik vote, klik favorit dan kasi komennya ya :D


Thanks. Love you all :D


No plagiat ya. :D

__ADS_1


__ADS_2